
Esoknya ketika Sania duduk sendirian di teras belakang, Deno menghampirinya
"San, semalaman ini aku berfikir keras bagaimana caranya agar kamu bisa keluar dari rumah bordil ini"
Sania tercenung mendengar kata lirih dari mulut Deno
Kepalanya menggeleng setelah cukup lama diam
"Nggak Den, aku tak ada tempat lain selain disini, siapa yang akan menampungku?, aku tidak punya uang untuk membiayai hidup ku"
Deno menggeleng
"Aku, aku yang akan membiayai kamu"
Sania terkekeh dengan raut wajah sedih, tampak sekali kepiluan dalam matanya
"Deno, Deno untuk bertahan hidup saja kamu jadi anak buah mami, lah kok ya mau nanggung hidup aku juga?"
Kembali dia terkekeh, tapi kali ini dengan air mata yang mengalir
Deno makin iba melihat Sania menangis, walau wanita itu terkekeh
"Terima kasih ya Den untuk niat baik kamu, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya, karena aku tahu akan jadi apa kamu jika ketahuan sama mami"
"Bisa habis kamu oleh mami, anak buah mami tak akan membiarkan kamu ataupun aku selamat dari mereka"
"Sudahlah Den, aku pasrah dengan apa yang terjadi padaku saat ini. Setidaknya aku bersyukur ada mami dan kakak-kakak lain yang menyayangi dan melindungi ku"
"Mamaku sendiri saja mengusirku, begitu juga dengan teman-temanku, mereka semua tidak ada yang bisa menerimaku, cuma mami dan orang-orang baik di sini yang menerimaku"
"Tapi kamu masih muda dan sangat disayangkan jika masa muda mu hancur dengan menjadi wanita malam"
Sania menarik nafas panjang, dan kembali menggeleng
"Sudah Den, aku terima takdirku, mungkin inilah jalan hidupku"
Deno kembali memandang iba pada perempuan yang hanya beberapa hari dikenalnya ketika dia di rumah kakaknya
Dan sekarang mereka bertemu lagi, tapi dalam kondisi yang berbeda. Sania diketahuinya hamil dan sudah barang tentu nantinya akan menjadi wanita malam ketika dia selesai melahirkan
"Kenapa kamu tidak pulang saja ke rumah keluargamu Den?, toh papamu orang berada, dan aku yakin, semarah-marahnya orang tua pada anaknya, suatu hari mereka akan menyadari dan memaafkan"
Deno menatap lekat mata Sania
"Apa ini harapanmu terhadap mamamu?"
Sania tersenyum getir
"Aku tak tahu, karena aku telah sangat mengecewakan mama"
Kedua sama-sama menarik nafas panjang dan menatap kosong ke depan
...****************...
Alexander berada di dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke Indonesia
Secara tak sengaja dia satu pesawat dengan tuan Jeremy. Ketika di dalam pesawat keduanya masih tak saling tegur sapa
Kekesalan tuan Jeremy pada Alexander karena kolega dam investor memuji kerjanya masih membuat dada tuan Jeremy kesal
Terlebih ketika Alexander secara terang-terangan men skak mat nya dengan keberhasilan
Alexander hanya tersenyum segaris ketika diingatnya bagaimana kesalnya wajah tuan Jeremy padanya
__ADS_1
Beberapa jam kemudian pesawat landing dan Tuan Jeremy segera bergegas keluar dari bandara ketika dilihatnya Milena melambaikan tangan kearahnya
Tuan Jeremy tersenyum dan mencium puncak kepala Milena ketika gadis itu memeluknya
Tujuan Milena bukan semata-mata menjemput papanya melainkan dia juga ingin melihat Alexander
Alexander yang keluar dari pintu vip pesawat segera menangkap keberadaan Milena yang sedang memeluk tuan Jeremy
Alexander berlagak seakan tak melihat dan terus saja berjalan di sebelah Milena dengan tatapan lurus ke depan
Milena melirik Alexander dengan ekor matanya ketika lelaki pujaan hatinya itu berjalan cuek
Dan melihat kearah papanya yang wajahnya langsung berubah kesal ketika melihat Alexander
Milena segera menggandeng lengan papanya dan mengajaknya berjalan menuju mobil karena dilihatnya wajah papanya makin murka
Dan Alexander yang berjalan dengan gaya cool nya segera masuk kedalam mobil yang sengaja dikirim tuan Anton untuk menjemputnya
Milena hanya menarik nafas dalam ketika Alexander sama sekali tak melirik kearahnya ketika mobil yang dinaiki Alexander melaju di depan matanya
"Anak angkuh" geram tuan Jeremy
Milena hanya mengelus lengan papanya berharap kekesalan papanya mereda
"Kamu tidak tahu apa yang anak Anton itu lakukan pada papa"
Milena menoleh sekilas karena dia fokus menyetir
"Sudahlah pa, Mil akan antar papa ke rumah dulu, papa istirahat, biar papa rileks"
Pak Jeremy tak menjawab, dadanya masih diliputi kesal atas keberhasilan Alexander
"Kantor bagaimana selama papa tinggal?"
Milena tersenyum sumringah
Pak Jeremy tersenyum sambil mengusap bangga kepala Milena
"Bagus Mil, biar kamu bisa menyaingi anak Anton yang angkuh itu"
Deg!
Degup jantung Milena berdebar tak karuan ketika mendengar kalimat papanya
"Tunjukkan pada Anton dan Gio Group, bahwa perusahaan kita jauh lebih unggul di atas mereka"
Milena tak menjawab, dia hanya mengangguk pelan
"Jika sudah begini, bagaimana aku bisa mengajak papa bekerja sama dengan Alexander? gumamnya bingung
Karena terjebak kemacetan, perjalanan yang harusnya bisa ditempuh satu jam sampai rumah akhirnya harus molor di jalan
Dan Milena kembali melirik melalui kaca jendela ketika di sebelahnya ada mobil Alexander
Dan Alexander yang mengetahui jika di sebelah mobilnya adalah mobil Milena masih bersikap acuh
"Ini pasti gara-gara papa" batin Milena
Akhirnya mobilnya dan mobil Alexander berjalan bersebelahan, keduanya tanpa menoleh dan terus fokus menatap ke depan
Hiburan akhirnya mobil dapat berjalan lancar dan keduanya berpisah karena tujuan dan arah mereka berlawanan
Milena ikut masuk kedalam rumah ketika papanya turun, dan duduk di ruang keluarga mendengarkan papanya yang bercerita dengan wajah kesal
__ADS_1
"Anak Anton mempermalukan ku di depan semua rekan bisnis" bukanya dengan kesal
Nyonya Inne dan Milena diam tak menjawab dan hanya mendengarkan bagaimana Tuan Jeremy menceritakan semua yang terjadi di Singapore
"Semua rekan bisnis memuji Alexander, dan mengatakan jika adalah pemuda yang hebat"
Hati Milena sedikit lega, setidaknya ketika papanya menolak kembali tawaran kerja sama yang ditawarkan Gio Group, Milena ada jawaban pembelaan
"Sabar pa, nanti Mil yang akan balas"
Tuan Jeremy menatap wajah Milena dengan tajam, meyakinkan diri jika perkataan putrinya bisa dipegang
"Mil akan membuat perusahaan kita setara bahkan di atas perusahaan Gio Group"
Tuan Jeremy mengangguk pasti dan menepuk pundak Milena
"Buktikan omonganmu sama papa"
Milena menatap mata papanya dan mengangguk meyakinkan sang papa
"Ya sudah pa, papa istirahat dulu di rumah, biar Mil kembali lagi kekantor"
Tuan Jeremy mengangguk dan mengecup kening Milena ketika gadis itu memeluknya. Begitu juga dengan nyonya Inne, diapun melakukan hal yang sama seperti suaminya
"Semoga Milena tidak membohongiku" gumam tuan Jeremy yang membuat sang istri menatapnya heran
"Memangnya kenapa pa?"
Tuan Jeremy menarik nafas panjang
"Mena mencintai pria itu"
Mulut nyonya Inne ternganga dan masih ternganga ketika suaminya berlalu dari hadapannya
...----------------...
Di tengah perjalanan menuju kantor, Milena segera memasang headset bluetooth ke telinganya dan mendial nomor Alexander
Alexander yang memilih kembali kekantor hanya melihat sekilas pada hpnya yang menyala
Dan mendecak ketika mengetahui siapa yang meneleponnya
"Kenapa?" hanya itu jawabannya
"Kamu dimana?"
"Mau apa kamu bertanya aku dimana?"
Milena menarik nafas panjang, rupanya Alexander masih kesal padanya karena sampai saat ini dia belum berhasil membujuk papanya untuk mau diajak berkerja sama dengan perusahaan Gio Group
"Bisa kita ketemu?"
"Aku capek, kamu tahu sendiri saya baru pulang dari Singapore"
Milena menarik nafas panjang karena sebenarnya dia sudah tahu penolakan Alexander
"Temui aku jika papamu yang angkuh itu bersedia bekerja sama denganku, jika tidak jangan pernah temui aku"
Lalu Alexander mematikan telepon dan meminta Sandra ke ruangannya
Sandra dengan senang hati langsung masuk keruangan Alexander dan segera menutup rapat pintu
Alexander tersenyum menyeringai ketika Sandra berjalan kearahnya. Dengan segera ditariknya sekretarisnya yang seksi itu dan langsung melabuhkan ciuman ganas
__ADS_1
Sementara Mark yang akan masuk keruangan Alexander hanya memukul keras pintu ketika dia tak bisa mendorong pintu itu
"Alex, Alex..." geramnya kesal karena dia sudah menebak apa yang sedang terjadi di dalam