
"Bukan!!!, dia bukan anak Alexander, bukan cucu Anda, tapi Junior adalah anak saya. Bukan cucu Anda apalagi anaknya Alexander!!!" teriak Sania dengan marah.
Tuan Anton yang shock tidak menggubris teriakan Sania melainkan segera terduduk lemas di lantai.
Dan Junior yang mendengar mamanya berteriak marah-marah hanya bisa mendekap pinggang mamanya dengan erat.
"Sudah ma, jangan marah-marah kan Junior sudah bilang bahwa Junior anak mama bukan anak orang lain"
Sania menunduk dan mengusap kepala Junior dan mencium kening Junior dengan dalam
"Iya bak, kamu memang anak mama bukan anak orang lain. Jadi jangan pernah dengarkan perkataan bohong uncle Mark"
"Tidak ada yang bohong di sini Sania dan kau yang paling jelas mengerti siapa sebenarnya ayah dari Junior" ucap Junior sambil menarik pundak Sania menghadapnya
Stop kau mengatakan bahwa Junior adalah anaknya Alexander. Bukan, dia bukan anak Alexander dan kau tahu sendiri bagaimana selama ini aku sendiri yang menghidupi Junior!!" bentak Sania dengan wajah basah
"Saya paham betul dengan penderitaan yang kau rasakan San, oleh karena itulah sekarang adalah waktu yang tepat untuk kau mengatakan pada Tuan Anton bahwa Junior adalah anaknya Alexander"
"Tidak!!, tidak ada satu orang pun manusia di muka bumi ini yang tahu penderitaanku Mark, kau tahu sendiri bagaimana malam terkutuk terjadi. Bagaimana malam jahanam itu Alexander menghancurkan hidupku.
"Kau tahu sendiri Mark, Kau pasti mendengar jelas teriakanku malam itu tapi kau kemana Mark? apa ada kau menolongku? tidak!!, kau malah membiarkan Alexander si Penjahat Kelamin itu merusak dan menghancurkan masa depanku!!!"
Dan tuan Anton makin terlihat syok dan mengusap wajahnya berkali-kali dan matanya kian nanar menatap Sania yang terus berteriak histeris sambil menangis.
"Dan kalian baru datang beberapa hari ini dan telah ingin mengakui bahwa Junior anak kalian terutama Alexander tega-teganya dia ingin mengambil dan ingin merebut Junior dari tanganku. Tidak, tidak tuan Mark dan tuan Anton yang terhormat, tidak akan aku biarkan kalian membawa pergi anakku"
Selesai berkata seperti itu Sania langsung menjatuhkan dirinya di lantai sambil menangis tersedu.
Dan Junior yang mendengar bahwa Mama yang menangis pilu, segera memeluk Mamanya dan berusaha menenangkannya
"Jika kau ingin menyalahkan orang, yang paling bersalah di sini adalah saya Sania. Karena saya yang tidak menyuruh Alexander untuk kembali ke kota ini padahal waktu itu Alexander sangat ingin kembali lagi ke kota ini dan dia ingin sekali menemui mu tapi aku selalu melarangnya dan selalu memotivasinya untuk berhasil dulu"
"Kami tidak tahu Sania jika saat itu kau hamil jika kami tahu bahwa kamu hamil tentulah kami akan kembali"
Sania yang terisak menoleh ke arah Mark lalu dia berdiri.
"Aku datang ke ibukota menemui Alexander, tapi apa Yang kulihat di sana?, di sana Aku melihat dia bermain gila dengan banyak perempuan, Dan itu membuatku sadar bahwa Alexander memang sudah terbiasa mempermainkan perempuan"
__ADS_1
Setelah agak tenang Tuan Anton berdiri lalu kembali berjalan pelan ke arah Sania.
Dan kembali Sania langsung siaga dengan berdiri di depan Junior.
"Anda Jangan mendekat. Anda stop di tempat anda, jangan berani Anda maju selangkah lagi!" ancam Sania.
Tapi tuan Anton tidak menggubris perkataan Sania dia terus berjalan dan dengan mudahnya dia menyentak tangan Sania.
Lalu tanpa diduga Dia segera berjongkok di depan Junior dan memeluk erat Junior.
Sania menggeleng keras, lalu kembali dia berusaha menarik paksa tubuh Junior yang sekarang di dalam dekapan Tuan Anton.
"Lepaskan anak saya, sudah saya bilang dia anak saya bukan anak Alexander apalagi cucu Anda!!, dia bukan cucu Anda. Dia anak saya Lepaskan, lepaskan anak saya!!!" teriak Sania kalap
Hingga terjadilah dua orang itu saling tarik-menarik tangan Junior melihat hal ini Mark akhirnya berteriak
"Berhenti!!, tidakkah kalian sadar jika kalian menyakiti Junior?!"
Para bodyguard tersentak mendengar Mark membentak Tuan Anton.
Dan secara refleks baik Sania dan Tuan Anton sama-sama melepaskan tangan Junior
"Junior Sayang, uncle ini temannya papa kamu. Apa kamu tahu jika kamu memiliki seorang Papa?" tanya Mark dengan pelan ke arah Junior.
Junior menggelengkan kepalanya
"Tidak, Aku tidak pernah mengenal kata papa. Papa itu apa? seperti apa?"
Air mata Sania kian mengalir deras mendengar jawaban polos Junior. Begitu juga dengan Tuan Anton, hatinya langsung terasa sakit mendengar jawaban lugu yang sangat diyakininya adalah anaknya Alexander, karena wajah Junior betul-betul mengingatkannya pada Alexander kecil
"Anda dengar sendiri kan apa jawaban Junior tuan Mark?, dia tidak pernah mengenal kata papa, karena yang dia kenal hanyalah Mama, Aunty, uncle serta Oma"
"Walaupun dia tidak mengenal papa, tapi secara fisik dia adalah anaknya Alexander dan aku sangat yakin bahwa dia 100% Anaknya Alexander kamu tidak bisa menyangkal itu Sania" ucap Tuan Anton.
Tangis Sania kembali pecah dan dia menunduk dalam.
"Junior memang anaknya Alexander, darah dagingnya Alexander tapi itu hanyalah sebatas benih. Alexander memang telah menanamkan benih di rahimku. Tapi lebih dari itu bukan. Junior adalah anakku tolong mengertilah Tuan Anton" lirih Sania pilu
__ADS_1
"Bertahun-tahun aku hidup berdua dengan Junior, jauh dari Alexander dan kami hidup tenang, jadi saya mohon tuan Anton, jangan ambil Junior dari tanganku" ucap Sania sambil menangkupkan kedua tangan dari depan dadanya sambil terisak.
"Tolong jangan ambil Junior dari tangan saya"
Tuan Anton menggeleng
"Tidak, tidak ada orang yang akan mengambil Junior dari tanganmu. Aku hanya ingin memeluk cucuku"
Air mata Sania kian mengalir deras dan dia mengangguk
Cepat Tuan Anton berjongkok di depan Junior lalu mendekap erat tubuh Junior.
"Entah kesalahan apa yang telah aku perbuat selama ini Tuhan sehingga aku baru hari ini bisa bertemu dengan cucuku". lirih Tuan Anton dengan suara tercekat
Junior yang didekap oleh Tuan Anton hanya bergeming.
"Junior, kenapa kamu hanya diam nak. Ini opa, kakek kamu" ucap Tuan Anton dengan nada bahagia.
"Saya tidak bisa melihat Opa, jadi apa yang harus saya lihat?" jawab Junior polos.
Tuan Anton langsung melihat ke arah Sania dan dia menggeleng cepat.
Dan Sania yang terisak kian tergugu sampai bahunya berguncang.
Nafas Tuan Anton langsung terasa sesak dan dia langsung terduduk di lantai.
Dan kembali para Bodyguard saling toleh dan mereka akhirnya sadar dengan apa yang terjadi, mengapa tadi Junior memukul sembarang arah pada tuan Anton
"Sepahit inikah nasib yang kau alami karena kejahatan anakku Sania?" ucap tuan Anton dengan getir.
Sania tak bisa menjawab. Dia hanya terus terisak dan tersedu-sedu dan Mark yang melihatnya ikut merasa sedih dan bersalah
"Mama, mama....." kembali Junior berjalan kearah Sania dan langsung mendekap erat pinggang Sania
"Mama jangan nangis, kan Junior sudah bilang Junior tidak apa-apa. Junior rela Junior buta, asal mama tidak nangis lagi"
Tuan Anton langsung menangis tertahan mendengar Jawaban polos Junior yang menohok hatinya.
__ADS_1
"Tidak nak, kamu akan Opa bawa ke luar negeri hari ini juga, Opa akan pasti akan membawamu ke rumah sakit tercanggih di dunia ini untuk mengoperasi matamu agar kamu bisa melihat" ucap Tuan Anton tercekat.
"Tidak Tuan Anton aku sudah bilang pada anda, kalau anda tidak boleh membawa Junior" jawab Sania cepat