Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Junior Sampai Di Rumah Mami Lagi


__ADS_3

"Keluar? maksudnya tuan?" tanya Sandra dengan nada takut.


"Kamu saya pecat!!!" teriak Alexander .


Kembali mata Sandra terbelalak mendengar perkataan Alexander yang mengatakan jika dirinya dipecat.


"Bawa semua barang kamu keluar dari sini. Saya tidak ingin melihat satupun barang kamu tersisa di kantor saya!!".


Sandra dengan wajah takut bercampur sedih hanya bisa mengangguk pasrah mendengar Alexander yang terus berteriak marah padanya.


Teriakan marah suara Alexander sampai juga di telinga karyawan bagian lain, sehingga membuat mereka saling toleh. Dan memberi kode saling bertanya


Sebagai jawaban atas ketidaktahuan mereka, mereka hanya bisa saling mengangkat bahu


Sandra sambil berlinang air mata segera membereskan semua barang miliknya dan memasukkannya kedalam kardus


Setelah semuanya beres, Sandra berdiri dan masih dengan wajah takut dia menatap kearah Alexander


"Apa kesalahan saya tuan sampai tuan memecat saya?" setelah bertanya begitu, Sandra menundukkan kepalanya


Alexander yang masih dikuasai emosi terus menatap benci pada Sandra


"Saya tanya sama kamu?, kenapa ada tamu tujuh tahun lalu yang ingin bertemu dengan saya malah tidak kamu bilang sama saya, kenapa? hah?"


Sandra mengangkat kepalanya


"Semua tamu dan kolega yang membuat janji sama tuan selalu saya sampaikan pada tuan, tuan tahu itu"


Alexander mendengus mendengar jawaban Sandra


"Saya tanya sekali lagi sama kamu, dulu ada seorang perempuan bernama Sania ingin bertemu dengan saya, kenapa kamu tidak memberitahu saya??!!"


Sandra langsung menelan ludahnya. Dan otaknya berusaha untuk berfikir keras siapa yang dimaksud oleh tuannya


Karena beberapa hari yang lalu Mark juga menanyakan hal yang sama padanya


"Sania??" gumam Sandra sambil berusaha mengingat-ingat dan berulang kali memejamkan matanya


Kemudian dia menggeleng yang membuat amarah Alexander kembali meledak


"Kamu buka catatan tamu tujuh tahun lalu, cepat!!!!" teriaknya lagi


Sandra dengan cepat kembali duduk di kursinya, lalu membuka layar komputer

__ADS_1


Dengan wajah panik dan tangan gemetar, Sandra mulai membuka komputer mencari file tamu tujuh tahun yang lalu.


"Siapa tadi Tuan namanya?" tanya Sandra takut-takut


"Sania!!!" jawab Alexander ketus


Sandra langsung mengetik nama yang disebutkan Alexander di kolom pencarian. Dan tak lama langsung tertera nama Sania pada daftar buku tamu yang dia entry tujuh tahun yang lalu.


Sandra langsung menelan ludahnya dan wajahnya kian menegang ketika melihat, memang benar ada tamu yang tadi dikatakan oleh Alexander tujuh tahun yang lalu.


"Bagaimana?, kamu menemukannya?" tanya Alexander masih dengan nada ketus.


Sandra tidak menjawab melainkan langsung menundukkan kepalanya, yang membuat Alexander langsung menarik layar komputer mengarah kepadanya.


Mata Alexander kian menatap marah ke arah Sandra ketika dia melihat memang benar ada nama Sania di sana.


"Kurang ajar kamu!!" geram Alexander dengan tangan terkepal.


"Sekarang juga, kamu segera tinggalkan kantor saya, dan jangan pernah kamu menunjukkan wajah kamu lagi di hadapan saya!!" teriak Alexander yang membuat Sandra langsung berdiri dan langsung keluar dari ruangan tersebut dengan terburu.


Mata seluruh pegawai kantor langsung tertuju kepada Sandra, ketika melihat gadis itu keluar dengan mengangkat kardus berisi segala barang-barang miliknya .


Dan Sandra hanya bisa menghindari tatapan seluruh karyawan tersebut ketika dia melewati mereka. Sandra benar-benar sangat malu atas perbuatan yang dilakukan oleh Alexander kepadanya.


Segera Sandra berjalan menuju ke depan dan menyetop sebuah taksi dan menyebutkan alamat apartemen tempatnya tinggal, sehingga taksi tersebut langsung melaju.


Sementara Alexander yang masih dikuasai emosi, kembali ke dalam ruangannya di mana Mark masih duduk fokus seperti semula.


Alexander segera duduk terhenyak dan memijit keningnya sambil berkali-kali menghembus nafas panjang.


"Bagaimana? sudah dapat hasilnya?" tanya Mark yang dijawab anggukan pelan oleh Alexander.


"Jadi memang benar, dua bulan setelah kejadian malam itu, Sania memang benar-benar datang ke kantor ini. Andai waktu bisa ku putar, tentu aku tidak akan kehilangan Sania dan juga Anakku" lirih Alexander dengan nada sedih.


"Hei, what you say guys?, masih ada waktu. Kamu masih bisa memperbaiki kesalahan kamu. Daerah pariwisata tidak jauh dari sini, kamu bisa datang kesana dan memperbaiki semuanya".


Alexander menggeleng pelan. Dan wajahnya kian terlihat sedih ketika mendengar semangat yang diberikan Mark kepadanya.


"Come on, mana jiwa Bad Boy yang kamu miliki?, Kenapa kamu jadi melow begini?, Ayo! kamu hanya menaklukkan seorang wanita dan juga anak kecil. Dan anak kecil tersebut adalah anakmu, bukan anak orang lain".


"Justru karena itu adalah anakku, dan Sania ibu dari anakku makanya aku lemah Mark. Aku tidak ingin menyakiti Sania dengan mengambil alih Junior dari tangannya. Dan aku juga tidak ingin memisahkan Junior dari Sania, karena Junior sangat mencintai Sania, begitupun juga sebaliknya, Sania sangat menyayangi Junior"


"Mengapa kamu tidak mengambil kedua-duanya?" tanya Mark yang membuat Alexander terdiam.

__ADS_1


"Aku tahu, di dalam hp mu, khususnya di Galeri itu ada banyak foto Sania. Jika dulu aku mengatakan tidak melihat hp-mu, itu bohong. Karena sebenarnya aku memeriksa hp-mu dan di dalam hp-mu itu, aku lihat ada banyak gambar Sania yang kamu simpan, bahkan kamu jadikan wallpaper. Aku yakin bahwa itu sengaja kamu ambil dari hp-nya, iya kan?"


Alexander terlihat agak kaget mendengar pengakuan Mark. Tapi itu hanya sedetik, karena berikutnya wajahnya kembali datar.


Segera diambilnya HP dari saku celananya, lalu meletakkannya di depan Mark.


"Bahkan di HP sekarang pun wallpaper nya tetap wajah Sania, tapi telah berubah berdua dengan wajah Junior" lirih Alexander sambil tersenyum getir


Mark yang meraih HP Alexander ikut tersenyum ketika melihat wallpaper HP anak bos besarnya tersebut.


"Alexander, kamu masih punya banyak waktu. Tunjukkan Jika kamu memang menyayangi mereka berdua. Tunjukkan Jika kamu memang benar-benar mencintai Sania. Jangan pernah kamu melepaskan Sania lagi, dan jangan pernah lagi kamu menyia-nyiakan anak kamu".


Alexander hanya bisa tertegun dan tertunduk dalam mendengar ucapan Mark.


Sementara di lain tempat, Sania yang pesawatnya telah landing sempurna di bandara di daerah pariwisata, segera mengajak Junior turun dari atas pesawat.


Di luar bandara, telah menunggu Deno dengan wajah yang tampak sumringah ketika melihat Sania yang berjalan bersama Junior.


Deno segera berlari ke arah Sania dan langsung mengangkat tubuh besar Junior, lalu memutar-mutarnya sambil tertawa bahagia.


"Akhirnya jagoan uncle pulang juga. Rumah sepi tanpa kamu Nak" ucap Deno sambil memeluk dan mencium kepala Junior dengan sayang.


Sania lalu mendekap sebentar Deno, dan Deno mengacak pelan kepala Sania layaknya pada adiknya sendiri .


"Ayo kita segera pulang, seluruh penghuni rumah sudah menantikan kalian berdua" ucap Deno yang segera di balas Sania dengan anggukan kepala.


Segera ketiganya masuk ke dalam mobil. Dan Deno langsung melajukan mobil menuju rumah Mami Ajeng.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Deno sampai di rumah Mami Ajeng.


Sehingga ketika mobil yang dikemudikan Deno masuk halaman rumah Mami Ajeng, seluruh penghuni rumah bordil langsung berhamburan keluar. Terlebih ketika mendengar klakson yang dibunyikan oleh Deno.


Dengan berebutan, seluruh Gadis Malam penghuni rumah bordil tersebut berebutan memeluk dan menciumi Junior.


"Kalian nggak kangen sama aku?" tanya Sania dengan nada merajuk karena seluruh temannya dari tadi hanya memeluk dan mencium Junior sama sekali tidak menyambutnya.


Mereka semua langsung terkekeh, lalu beralih merangkul Sania dan cipika cipiki dengan mengusap kepala Sania


Dan orang yang paling bahagia menyambut kedatangan Sania dan juga Junior adalah Mami Ajeng.


Mata perempuan paruh baya yang masih tampak cantik itu sampai berkaca-kaca.


"Ini adalah rumah kami, di sini juga keluarga kami. Jadi tentulah kami akan kembali ke sini lagi" lirih Sania ketika Mami Ajeng mendekapnya.

__ADS_1


__ADS_2