Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Quality Time


__ADS_3

Air mata Sania kian deras mengalir mendengar suara lirih Alexander yang lebih mirip dengan suara orang memohon. Dan Alexander hanya bisa menarik nafas panjang melihat Sania yang kian menangis tertunduk


“Jangan menangis, kamu tahu aku tidak suka melihat air mata kamu” ucap Alexander sambil membuang wajahnya


Ingin sekali rasanya saat itu dia merengkuh bahu Sania, dan menenggelamkan kepala Sania di dadanya agar wanita itu tenang


“Maafkan aku Alexander” lirih Sania tak jelas


Alexander menoleh dan mendapati Sania mengusap wajahnya yang sembab dengan mata merah dan hidung berair


“Kamu tidak bersalah, yang bersalah disini adalah aku. Jika aku tidak memperkosamu malam itu, aku yakin nasib mu tidak akan seburuk dan setragis ini”


Kembali Sania tertunduk dan terisak, dan kembali hal itu harus harus membuat Alexander menarik nafas panjang


“Tidak ada wanita di dunia ini yang ingin menjadi pelacur Lex, begitu juga dengan aku. Tapi aku telah berjanji akan membalas jasa mami yang telah menerima dan merawat aku dan Junior. Selain itu juga karena aku harus mencari biaya untuk operasi Junior. Maka dari itu aku harus merelakan diri aku dicicipi oleh setiap lelaki hidung belang”


Tangan Alexander terkepal kuat, giginya gemeletuk, dan rahangnya mengeras mendengar ucapan Sania. Entah ada magnet apa di ucapan wanita itu, tiap kali Sania mengatakan alasannya menjadi wanita malam, maka sudut hati Alexander akan terasa sakit dan seperti ada ribuan jarum menghujam ulu hatinya


“Masalah Junior kamu jangan jadi pikiran, aku telah sering mengatakan sama kamu, jika aku yang akan membawa anakku ke luar negeri. Bahkan jika kamu izinkan hari ini, maka hari ini juga aku akan membawa terbang anakku tersebut. Akan aku cari dokter mata terbaik seluruh dunia ini agar bisa membuat mata anakku melihat”


Tangis Sania kian pecah dan itu semakin membuat hati Alexander trenyuh. Dengan nekad direngkuhnya bahu Sania dan dibawanya ke dadanya. Sania bukannya menghentikan tangisannya, melainkan makin menangis terisak


“Jangan menangis Sania. Kamu wanita terhebat dan terkuat yang pernah aku temui di muka bumi ini. Aku yakin masalah ini akan cepat selesai. Pengacara ku sudah di jalan. Dan bisa aku yakinkan, jika dua orang lelaki kurang ajar tadi akan menerima balasan setimpal atas pelecehan mereka sama kamu”


Sania tidak menggubris ucapan Alexander, dia terus saja terisak.


“Bos…..”


Dengan cepat Alexander menoleh ke belakang, kearah beberapa orang lelaki besar yang berjalan kearahnya dengan seorang lelaki yang berpakaian rapih.


Sania dengan cepat menarik kepalanya dari dada Alexander dan mengusap kasar wajahnya. Diikutinya gerakan Alexander yang berdiri menyambut kedatangan bodyguard dan pengacara pribadinya tersebut. Dan dengan ragu Sania juga mengulurkan tangannya ketika lelaki yang dikenalkan Alexander sebagai pengacaranya itu mengulurkan tangannya kearah dirinya


“Jadi ini orangnya?” tanya pengacara tersebut ketika Sania menyebutkan namanya


“Iya, dia ibu dari anakku” jawab Alexander dengan sikap gentle. Yang membuat dada Sania kembali berdegup kencang dan merasa terharu


“Kamu selesaikan semuanya dengan baik. Pastikan jika ibu dari anakku tidak akan mengalami pelecehan lagi. Aku tidak suka ada orang yang merendahkannya”


Sania langsung mendongakkan kepalanya, menatap wajah serius Alexander ketika dia mengucapkan kalimat tersebut. Dan kembali dia merasakan ada debaran aneh dalam dadanya. Ada rasa haru yang menyelimuti hatinya ketika mendengar Alexander mengucapkan kalimat tersebut, dan Alexander yang menyadari jika Sania menatapnya, menoleh dan kembali dia melakukan aksi yang tak terduga dengan mengusap pelan kepala Sania


Pengacara pribadi Alexander tersenyum segaris melihat perhatian yang diberikan Alexander pada Sania dan senyumnya hanya sedetik karena wajahnya kembali berubah serius ketika Alexander menatapnya


“Dan kalian, kalian pergi ke hotel tempatku bermalam, kalian jaga dulu anakku di sana. Karena aku telah berjanji pada anakku akan membawanya ke pantai” lalu Alexander menyebutkan nama hotel dan pantai tempat tujuan yang akan dijadikannya quality time dengan anaknya tersebut


Sementara tiga orang bodyguard pergi, Alexander dan pengacara beserta Sania kembali masuk kedalam ruang pemeriksaan


Pengacara pribadi Alexander mengulurkan tangannya kearah seorang anggota polisi yang tadi bertugas memintai keterangan pada Alexander. Dan Alexander kini hanya diam, duduk agak menjauh, menyerahkan semuanya pada pengacaranya untuk menyelesaikan semua masalah ini. Dan kembali dia duduk di sebelah Sania yang saat ini kembali berwajah tegang


“Santai saja Sania, kamu aman”


Sania menoleh, kemudian dia menatap wajah Alexander dengan serius


“Yang aku khawatirkan itu kamu Lex, bagaimana jika kamu dipenjara juga”


Alexander menggeleng.


“Tidak akan, kamu yakin saja dengan omonganku”


Keduanya lalu kembali fokus dengan pikiran mereka masing-masing. Dan Sania segera mengeluarkan handphone nya dan segera mengirimi Dhea pesan.

__ADS_1


Dhe, bilang ke pacar bule kamu, hari ini anak aku sama Alexander ingin kesana


Terkirim, tapi belum dibaca. Sania yakin jika Dhea sedang bekerja. Sementara Alexander yang juga menatap handphone nya segera menempelkan benda tersebut ke telinganya ketika Arya meneleponnya


“Kenapa?” tanya Alexander dengan nada dingin


“Papa……”


Alexander langsung menoleh kearah Sania begitu mendengar suara anaknya berteriak memanggil namanya dengan lantang


“Ya sayang?”


Sania langsung menoleh cepat kearah Alexander ketika mendengar pria di sebelahnya itu menyebut kata sayang


“Papa masih ada keperluan nak. Tunggu sebentar ya….”


Sania menarik nafas lega ketika mengetahui jika yang dipanggil sayang oleh Alexander adalah Junior. Sania membuang wajahnya dengan cepat karena khawatir diketahui oleh Alexander jika dia menarik nafas lega


“Papa sama mama sekarang”


Kembali Sania menoleh kearah Alexander dan menatap serius ke wajah lelaki tampan itu. Kemudian Sania mendekat karena Alexander yang mengarahkan handphone padanya


“Sebentar lagi mama pulang nak, tunggu ya…..” ucap Sania


“Cepat, jangan lama. Papa sudah janji jika papa mau ngajak aku naik jet ski”


Alexander tersenyum lalu kembali dia membujuk Junior untuk sabar menunggunya. Kemudian Alexander menoleh kearah pengacaranya yang sekarang tengah menjabat tangan polisi yang tadi mengobrol dengannya


“Ayo bos” ucap pengacara tersebut kearah Alexander yang segera menganggukkan kepalanya dan memasukkan hp kedalam saku celananya


“Kami harap anda kooperatif” ucap polisi tersebut ketika Alexander menjabat tangannya


“Karena tugas saya sudah selesai, saya harap tuan mengizinkan saya untuk kembali ke ibukota lagi”


Alexander menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah pengacaranya


“Apa ada urusan yang lebih penting dari pada tugas dari saya?”


Pengacara tersebut terdiam dan Sania hanya berani melihat kearah keduanya dengan takut. Terlebih ketika didengarnya suara dingin Alexander


“Jika tuan meminta saya stay disini, maka saya akan menurut tuan”


Alexander lalu kembali melanjutkan langkahnya kearah sebuah mobil yang telah menunggu di luar. Ternyata di dalam mobil tersebut telah ada dua orang pengawal lagi. Perawakan mereka sama besarnya dengan tiga orang yang tadi diperintahkan oleh Alexander untuk ke hotel menjaga anaknya


Lalu Alexander menyebutkan nama sebuah hotel, sehingga bodyguard yang duduk di belakang kemudi langsung menjalankan mobilnya dengan cepat. Dan segera berlalu dari halaman kantor polisi tersebut


Sampai di hotel, security yang tadi melerai perkelahian Alexander dan dua lelaki paruh baya kurang ajar tadi hanya bisa menelan ludahnya. Terlebih ketika dilihatnya dua orang bodyguard yang berjalan di belakang Alexander


“Kamu berjalan di sebelah saya!” ucap Alexander menghentikan langkahnya dan menoleh kearah pengacaranya yang saat ini berjalan di belakang bersama Sania


Lelaki tampan, berkaca mata jernih dengan tatapan tajam dan hidung mancung tersebut tersenyum sekilas ketika mendengar perintah dari Alexander. Lalu dia segera berjalan maju selangkah, dan Sania ikut-ikutan melangkah maju pula, sehingga sekarang Sania juga berada di sebelah Alexander


Melihat Sania berdiri di sebelah Alexander, pengacara tadi langsung mundur selangkah kembali, dan dengan segera Alexander langsung berjalan, yang menyebabkan Sania segera mensejajarkan langkahnya


Wajah Alexander kembali terlihat dingin ketika dia berjalan masuk, dan tidak memperdulikan tatapan heran para orang-orang yang ada di luar hotel tersebut yang sejak kedatangannya telah memperhatikannya dengan seksama


“Bos…?” sapa tiga bodyguard yang berdiri di depan pintu kamar Alexander


Alexander hanya menganggukkan kepalanya sedikit menjawab sapaan orang suruhannya tersebut, lalu dia segera mendorong pintu yang membuat Junior langsung menggerakkan kepalanya

__ADS_1


“Papa…..” teriaknya turun dari sofa. Arya cepat menangkap tangan Junior ketika anak kecil tersebut nyaris terjerembab jatuh karena dia membentur kursi


Sania yang berteriak tertahan segera berlari masuk dan langsung mengambil tangan Junior


“Papa mana?”


Sania menelan kecewa karena Junior lebih menanyakan papanya ketimbang dirinya


“Papa disini, dan papa tidak akan meninggalkanmu…..”


Sania menelan ludahnya ketika wajah Alexander begitu dekat dengan wajahnya, saat lelaki itu berjongkok mengambil Junior dari dalam dekapannya


“Bersiap, kita semua pergi” ucap Alexander lagi sambil menggendong Junior


Lalu masih dengan gaya dinginnya, Alexander keluar dari dalam kamarnya dengan diiringi oleh para anak buahnya dan juga Arya


“Sania…?” ucap Alexander


Sania segera maju, lalu berjalan di sampingnya kembali. Tanpa sepengatahuan Alexander, pengacara yang berjalan di belakangnya, mengabadikan momen tersebut di kamera video ponselnya lalu mengirimnya pada tuan Anton


Kenapa kamu bisa bersama anak dan cucu saya?


Jawaban tuan Anton ketika pengacara tersebut telah duduk di dalam mobil bersama dengan lima orang bodyguard


Pengacara tersebut tersenyum simpul, kemudian dia langsung mengetik balasan


Apa yang bisa saya lakukan tuan, disaat tuan muda sudah berkehendak?


Jaga dan lindungi mereka bertiga, kamu tidak sendirian kan? Pastikan ada bodyguard bersama kalian


Siap tuan. Bersama saya telah ada lima orang bodyguard


Lalu obrolan terputus, dan mobil terus melaju, mengikuti mobil di depan yang dikemudikan oleh Arya, dimana didalam mobil tersebut berisikan Alexander dengan anaknya dan juga Sania


Benar-benar potret keluarga yang sempurna jika saja mereka sungguhan sebuah keluarga. Sayangnya mereka hanyalah orang tua dari anak mereka, bukan sebagai pasangan suami istri, sehingga kebahagiaan itu rasanya belum terasa lengkap


Sania dibantu oleh seorang guide ketika dia mengenakan pelampung untuk keselamatannya. Sementara Alexander saat ini sedang memasangkan pelampung ke tubuh anaknya


“Kalian cepatlah bersiap, dan ikut kami!” teriak Alexander yang dijawab anggukan kepala dari para bodyguard dan juga pengacaranya


Tak lama, telah ada delapan buah jet ski yang disewa Alexander terparkir di bibir pantai. Dengan sigap para bodyguard yang pengacara serta Arya melompat ke jet ski mereka masing-masing


“Ayo……” Alexander mengulurkan tangannya kearah Sania ketika wanita itu tampak kebingungan akan naik jet ski mana


Wajah Sania menegang tapi karena tangan Alexander masih saja terulur, mau tak mau dia menyambut uluran tangan lelaki tersebut


“Pegangin Junior!” perintah Alexander ketika Sania telah duduk di belakang


Sania hanya menganggukkan kepalanya, wajahnya masih menegang karena dia khawatir sekaligus deg-degan


Alexander segera ngegas jet ski sehingga membuat jet ski tersebut langsung melesat ke tengah laut. Para bodyguard dan yang lainnya segera menyusul. Dan Junior yang berada di tengah-tengah kedua orang tuanya tampak kegirangan


Berkali-kali dia berteriak kencang yang membuat Alexander semakin melajukan jet ski dengan kencang


“Kamu suka sayang…..?” teriak Alexander


“Suka papa…….” Jawab Junior tak kalah kencangnya


Sania yang memeluk Junior ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Walau seluruh tubuhnya telah basah kuyup, tapi itu tidak mengendurkan semangatnya karena kebahagiaan yang baru kali ini dia rasakan. Dia sudah lupa kapan terakhir kali dia berteriak sebebas dan tertawa selepas sekarang. Rasanya itu sudah sangat lama sekali

__ADS_1


__ADS_2