Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Galau


__ADS_3

"Apa kau membuka hp ku ketika hp ku ketinggalan di mobilmu?"


Mark yang telah menatap laptopnya mengangkat wajahnya kembali


"Memangnya ada ada di hp mu?" tanya Mark pura-pura tak tahu


Alexander membuang mukanya untuk menutupi gugup


"Saat itu hpmu dalam keadaan mati, bagaimana aku bisa melihat isinya?" sambung Mark yang kembali menatap layar laptop


Alexander menghembuskan nafas lega, dan Mark melihat jelas itu dari lirikan matanya. Mark tersenyum segaris dan dia makin yakin, jika memang Alexander mempunyai filling pada gadis itu


"Sudahlah jangan bengong, kembalilah bekerja bukankah proyek ini harus cepat selesai?"


Alexander tergagap karena dia sedang bengong dan dengan cepat dia kembali ke mejanya


Sampai di meja kerjanya, Alexander tak langsung melanjutkan pekerjaannya dia segera mengambil hpnya dan melihat story WhatsApp, berharap jika ada status yang dibagikan Sania


Tidak ada status dari Sania, bahkan ketika dilihatnya kontak Sania aktif terakhir kali tiga setengah bulan yang lalu


Dengan gelisah Alexander meletakkan hpnya, dan berusaha untuk fokus bekerja lagi, melupakan kegelisahannya tentang Sania yang mendadak hadir


Berkali-kali dia berusaha fokus, tetapi wajah Sania kembali mengisi benaknya


Dengan menarik nafas panjang dia segera berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruangan tanpa pamit pada Mark


Mark yang sejak tadi melihat kegelisahan Alexander hanya tersenyum segaris


"Gadis sederhana itu mampu mengacaukan otak dan pikiran seorang bad boys macam Alexander" lirihnya


Sandra yang berjalan keruangan Alexander hanya melihat selintas siluet tubuh tinggi pria itu yang berbelok ke lorong berlawanan arah dengannya


Sandra mempercepat langkahnya menyusul Alexander yang sudah tak terlihat. Sandra berdiri mematung di bawah tangga dan mendongakkan kepalanya ke atas


"Apa tuan Alexander di atas?" gumamnya


Sandra menggigit bibirnya dengan berjalan mondar-mandir kebingungan sendiri


"Apa aku harus naik ya?" gumamnya


"Ah tidak-tidak. Jika nanti tuan Alexander tahu jika aku mengikutinya dan dia marah padaku, kan bahaya. Oke kalau dia marah, kalau dia melahap ku di atas?, hiii..." dia bergidik ngeri dan meninggalkan tempat itu


Berjalan cepat menuju ruangan Alexander. Ketika tiba di depan ruangan bosnya itu, dengan segera Sandra mendorong pintu dan kembali dia harus menghentikan langkahnya ketika dilihatnya Mark memandang dingin padanya


"Maaf tuan..." lirihnya gugup


Mark tak bereaksi dan kembali menatap layar laptop


Sandra yang membawa beberapa map segera meletakkan map tersebut ke meja Alexander lalu kembali menganggukkan kepalanya ketika melewati Mark


Sampai diluar ruangan Alexander, Sandra langsung menghentakkan kakinya dengan kesal


"Ihhh... sudah seperti gunung es saja dia, awas saja jika nanti dia berbalik menyukaiku" gumamnya kesal sambil berjalan meninggalkan depan ruangan CEO dan kembali ke ruangannya


...----------------...


"Papa, Mil mau membicarakan mengenai proposal kerja sama dari perusahaan Gio Group"


Tuan Jeremy yang sedang makan siang dengan Milena langsung meletakkan pisaun dan menatap putrinya dengan dingin


Milena sudah menduga akan seperti ini reaksi papanya, tapi dia bersikap biasa saja agar sang papa tak curiga dan tak marah


"Kenapa papa tidak mau menerima tawaran dari mereka?" tanya Milena sambil terus memasukkan makanan kedalam mulutnya


Tuan Jeremy kembali meraih pisau yang tadi diletakkannya dan kembali memotong daging tanpa menjawab pertanyaan Milena


Milena tahu jika papanya tidak tertarik dengan obrolan ini, oleh karena itulah Milena tidak melanjutkan pertanyaannya dan memilih meneruskan makan siang mereka


"Jika sudah selesai kita kembali ke kantor" ucap pak Jeremy yang telah lebih dulu menyelesaikan makannya

__ADS_1


Milena masih terus menyantap makanannya dengan pelan dan mengakhirinya dengan meminum jus


"Yuk pa"


Pak Jeremy segera merangkul pundak putri cantiknya dan membawanya masuk kedalam mobil dan langsung menuju kantor


Sampai di kantor, Milena langsung melanjutkan pekerjaan tanpa sedikitpun membahas masalah proposal dari Alexander


"Belum waktunya, dan aku harus bersabar" batinnya


Sama halnya dengan Milena, pak Jeremy tampak lebih sibuk lagi


"Mil, besok papa akan ke Singapore, kamu bisa kan papa lepas kerja sendiri?"


Milena hanya menoleh dan mengangguk kepalanya


"Lama pa?"


"Nggak, tiga hari"


Milena kembali mengangguk


"Jika kamu bisa papa tinggal, papa akan meminta wakil papa untuk mengontrol kerja kamu dan kamu bisa bertanya sama beliau jika ada yang kamu belum faham"


"Iya pa..."


Tuan Jeremy tersenyum dan segera mempersiapkan materi meeting yang akan berlangsung nanti


Milena melirik hpnya, ketika benda tersebut menyala


Diambilnya dan dilihatnya jika itu pesan singkat dari Alexander


Bisa ketemu nanti malam?


Mata Milena langsung membesar dan langsung cerah


Bisa


Alexander segera memasukkan hp kedalam jasnya, lalu turun dari atas roof top, kembali lagi ke ruangan kerjanya


Mark tidak menoleh sedikitpun saat dilihatnya Alexander masuk, karena dia yakin, pikiran Alexander pasti sedang kacau


"Mark....?" panggil Alexander setelah dia duduk


"Hemmm...?"


"Apa perlu saya kembali ke kota dimana dulu kita meninggalkan Sania?"


Mark langsung menutup laptopnya dan menatap Alexander dengan wajah datar


"Kenapa anda tiba-tiba ingin kesana?, apa karena anda termakan dengan omongan saya tadi?"


Alexander menarik nafas panjang


"Jujur saja, saya sering terfikir gadis itu"


Mark tersenyum


"Apa yang menyebabkan anda sering terfikir gadis itu?"


Alexander diam sejenak dan kembali menarik nafas panjang, lalu dia menggelengkan kepalanya


"Sudahlah, fokus saja bekerja dulu, baru nanti setelah semua proyek kita selesai dan tuan Anton benar-benar mengakui jika anda layak berada di posisi ini, maka mudah untuk anda meminta ijin pada beliau untuk pergi kesana"


Alexander memiringkan kepala dan bibirnya sejenak


"Okey...." jawabnya


Sambil menarik nafas dalam Alexander kembali mencoba fokus bekerja memeriksa berkas yang tadi diletakkan Sandra

__ADS_1


"Mark, bisakah besok kamu saja yang menggantikan saya ke Singapore?"


Mark yang kembali membuka laptopnya kembali menoleh pada Alexander


"Kenapa harus saya?, justru ini adalah kesempatan untuk anda menunjukkan pada tuan Jeremy bahwa investor asing saja percaya untuk mengajak anda bekerja sama"


Kembali Alexander tampak berfikir keras


"Benar yang kamu katakan, saya harus berangkat, karena di sana nanti akan ada tuan Jeremy"


"Tunjukkan kemampuan anda di sana, buat tuan Jeremy mempertimbangkan kembali tawaran kita, yakinkan jika setelah dari Singapore tuan Jeremy lah yang menghubungi kita mengajak kerja sama, bukan kita"


Senyum Alexander mengembang


"Thanks Mark kamu memang benar-benar bisa mengembalikan bad mood ku menjadi good mood lagi"


Mark tersenyum segaris


...----------------...


Sementara di tempat mami Ajeng, Sania sedang bersantai di belakang rumah bersama Helen sambil menikmati buah segar yang dibawa Helen semalam


"Kamu kok bisa bunting sih dek?"


Sania hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Helen


"Ini bagian terberat dalam hidup aku kak, dunia ku serasa berhenti berputar"


Helen mengusap pundak Sania


"Kamu belum bercerita apapun tentang kamu sama kakak, karena keburu kamu kabur"


Sania terkekeh


"Tidak ada yang menyangka ya kak jika akhirnya aku akan kembali ke rumah ini" jawabnya sendu


Helen menganggukkan kepalanya


"Tidak ada wanita di dunia ini yang ingin jadi wanita malam, termasuk kakak. Tapi karena tidak ada pilihan lain, akhirnya kakak dan yang lainnya terjun ke dunia kelam ini"


Sania memandang serius wajah Helen


"Kakak terjun ke dunia ini karena himpitan ekonomi"


Lalu Helen bercerita bagaimana awalnya dia sampai menjadi wanita malam. Kehidupan ekonomi yang sulit ditambah juga dia yang berasal dari keluarga broken home akhirnya memaksanya pergi dari rumah dan memilih hidup menjadi wanita malam


"Berat awalnya untuk kakak San, tapi hanya ini yang bisa kakak lakukan, karena kedua orang tua kakak sudah tidak mengurusi kakak lagi"


"Dan kamu kenapa bisa hamil?, sama pacar kamu?"


Sania menggeleng


"Bukan kak, pacarku sama sekali tidak tahu jika aku hamil, nomornya telah aku blokir dan aku juga sudah mengganti nomorku"


Tanpa diminta Sania menceritakan malam kelam yang dialaminya di cottage


"Berarti pria itu diberi obat perangsang" gumam Helen


"Obat perangsang kak?"


"Iya, kalau kakak tidak salah menyimpulkan dari cerita kamu tadi, karena ciri-ciri yang terjadi pada pria itu persis seperti orang yang dipengaruhi obat perangsang"


"Jadi dia memperkosaku bukan karena memang niat dia untuk memperkosa kak?"


Helen diam. Dan Sania kembali mengingat bagaimana saat itu Alexander meminta maaf padanya


Dan dia juga ingat bagaimana Alexander berteriak menahan hasratnya sampai akhirnya dia kembali melakukan hubungan terlarang pada Sania


Dan dia juga teringat bagaimana saat itu Alexander meminta maaf dan mengatakan dia terpaksa

__ADS_1


__ADS_2