Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Opa Anton


__ADS_3

Mami Ajeng hanya melihat bagaimana Tuan Anton mengedarkan seluruh pandangannya ke seluruh ruangan.


Setelah selesai mengitari seluruh ruangan lalu pandangan tuan Anton kembali tertumbuk pada mami Ajeng yang sejak tadi menatap ke arahnya.


"Apakah kita akan berbicara dalam posisi berdiri seperti ini?" tanya Tuan Anton dingin.


Mami Ajeng tergagap dan segera dia mengajak tuan Anton berjalan ke arah sofa.


Setelah itu Mami Ajeng langsung mempersilakan tuan Anton untuk duduk. Sementara Tuan Anton duduk, keempat Bodyguard yang masuk bersama Tuan Anton berdiri di samping dan belakang Tuan Anton.


Dan Sania yang sejak tadi belum masuk ke dalam kamar menyusul Junior, ikut bergabung bersama Tuan Anton dan Mami Ajeng.


Sania duduk di sebelah mami Ajeng, lalu mereka berdua saling toleh.


Suasana masih belum kondusif karena di antara mereka belum ada satu orang pun yang bersuara.


Sampai akhirnya Sania memberanikan dirinya membuka mulut.


"Tuan Anton, perkenalkan ini adalah mami Ajeng wanita baik yang telah menerima dan merawat saya dan Junior selama ini"


Tuan Anton bergeming dan hanya menatap tajam ke arah Mami Ajeng secara seksama.


Dan Mami Ajeng yang ditatap dingin oleh Tuan Anton jadi gelisah.


"Saya ingin bertanya sama anda, apakah anda yang memerintahkan anak buah anda untuk memukuli Putra kesayangan saya?" tanya Tuan Anton kembali masih dengan suara dingin.


Dan lagi-lagi Mami Ajeng hanya bisa menelan ludahnya dan kian tampak gelisah.


Lalu tatapan Tuan Anton berpindah kepada Sania.


"Dan kamu Sania jelas kamu tahu jika pengawal di rumah ini memukuli anak saya".


Sekarang giliran Sania yang tampak gelisah dan memandang takut ke arah Tuan Anton.


"Dan Saya yakin jika kamu membiarkan pengawal itu memukuli anak saya, benarkan Sania?".


Kembali Sania hanya bisa menelan ludahnya dan bergerak gelisah.


"Saya tidak menyalahkan jika kamu marah sama anak saya, jika kamu kecewa sama anak saya. Tapi yang saya sesalkan mengapa kamu membiarkan para pengawal di rumah ini memukuli anak Saya bahkan terkesan sengaja membiarkan".


"Itu saya lakukan karena saya tidak ingin Alexander mengambil Junior dari tangan saya, karena saat Alexander datang ke rumah ini saat itu Alexander bersikukuh ingin bertemu dengan dengan Junior dan Tuan tahu sendiri Saya tidak ingin Junior bertemu sama Alexander" jawab Sania ragu


"Kamu kan tahu dengan pasti mengapa anak saya ingin menemui Junior, karena Junior itu adalah anaknya".


Tatapan mata Sania langsung berubah tajam yang semula tatapannya takut sekarang berubah menjadi tajam ke arah Tuan Anton.


Dan Sania tersenyum sinis.

__ADS_1


"Apa perlu saya tekankan sekali lagi Tuan Anton yang terhormat jika Junior itu anak saya?, Anak saya bukan anak Alexander" jawab Sania berani


Tuan Anton tersenyum sinis mendengar jawaban Sania, dalam hati dia memuji keberanian perempuan itu.


"Junior memang anak kamu Sania, karena kamu yang melahirkannya. Tapi kamu jangan lupa, darah yang mengalir di dalam tubuh Junior itu adalah darah anak saya, jadi kamu tidak bisa memungkiri jika Junior itu adalah anaknya Alexander".


Mata Sania berubah menjadi panas dan langsung berkaca-kaca.


"Itulah yang saya sesalkan Tuan Anton. Mengapa Junior itu anaknya Alexander, Mengapa harus anaknya Alexander. Mengapa bukan anak orang lain!".


Sambil berkata begitu, suara Sania sudah tersendat-sendat.


"Oleh karena itu, maka kamu tidak punya alasan lagi untuk melarang anak saya menemui Junior".


Sania langsung menggeleng cepat.


"Tidak, tidak bisa. Sudah saya katakan bahwa Alexander tidak bisa menemui Junior, dan Anda harus menepati perkataan Anda tuan Anton anda tadi berkata bahwa anda tidak akan pernah memisahkan saya sama Junior. Jadi saya mohon agar anda bisa memegang ucapan Anda".


Kembali tuan Anton tersenyum sinis.


"Saya bukanlah seorang pecundang Sania. Jadi apa yang saya katakan itu pasti akan saya tepati. Saya tidak akan pernah memisahkan kamu dari Junior. Yang saya inginkan adalah kamu memberi kesempatan kepada anak saya untuk bertemu dengan anaknya sendiri. Itu saja!".


Mami Ajeng yang melihat bagaimana Sania mulai terisak hanya bisa mengusap punggung Sania berkali-kali.


"Saya akan kasih kesempatan untuk kamu berpikir, terlebih karena saat ini anak saya dalam keadaan koma, kamu telah jadi orang tua Sania, kamu pasti tahu bagaimana rasanya ketika melihat anak kamu sakit, begitu juga yang saat ini Saya dan istri saya rasakan".


"Jadi saya memohon kesediaan kamu Sania untuk membawa Junior ke rumah sakit untuk menemui Alexander. Siapa tahu dengan kehadiran Junior di sisi Alexander, Alexander segera sadar".


Sania tidak menjawab permohonan Tuan Anton melainkan dia terus terisak.


"Dan untuk Anda nyonya Ajeng, secara pribadi saya meminta maaf karena kelakuan para Bodyguard saya, tetapi sebagai naluri saya sebagai seorang ayah, Saya memang harus melakukan ini".


Mami Ajeng segera menoleh dan menatap ke arah Tuan Anton dan hanya bisa mengangguk pelan.


"Anda bisa bilang apa saja yang harus saya ganti rugi jika ada kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan para Bodyguard saya dan juga biaya pengobatan para pengawal Anda yang sudah anak buah saya bikin babak belur".


Mami Ajeng hanya mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum.


"Tidak ada yang perlu diganti rugi tuan, dan untuk para pengawal saya, mereka sudah saya panggilkan dokter, dan untuk yang parah-parah saat ini sedang di rawat di rumah sakit".


Tuan Anton menganggukkan kepalanya.


"Ya jika memang itu yang Nyonya anggap lebih baik saya ucapkan terima kasih, tapi jika ada yang harus saya ganti, nyonya jangan sungkan untuk memberitahu saya"


"Jika suatu hari nanti Nyonya butuh bantuan saya, Nyonya jangan sungkan juga untuk memberitahu saya, karena saya tidak bisa membalas jasa besar Nyonya karena telah merawat dan melindungi cucu saya selama ini" .


Sania segera mengangkat kepalanya mendengar ucapan tuan Anton dan menatap dalam pada mata Tuan Anton dengan wajah basah.

__ADS_1


Dan kembali Mami Ajeng hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Tuan Anton.


"Saya rasa, cukup sekian nyonya, Saya akan pergi kembali ke rumah sakit untuk menunggui anak saya


Dan kamu Sania, saya pamit, ya?".


Sania menganggukkan kepalanya dan mengusap kasar wajahnya lalu ikut berdiri bersama mami Ajeng Ketika tuan Anton berdiri dari kursinya.


Dan Tuan Anton mengulurkan tangannya ke arah Mami Ajeng yang segera menyambutnya dengan hangat, lalu bergantian dengan Sania yang juga menjabat hangat tangan Tuan Anton dan Sania mencium takzim punggung tangan lelaki besar itu.


Tuan Anton tersenyum hangat ketika punggung tangannya dicium oleh Sania dan secara refleks dia mengusap kepala Sania.


Dan Ketika tuan Anton akan keluar dari rumah bordil milik Mami Ajeng Tuan Anton kembali memutar tubuhnya kearah dalam.


Dan Sania sepertinya sadar jika Tuan Anton mencari sosok Junior.


"Tunggulah di sini sebentar Tuan. Saya akan memanggil Junior.". Lirih Sania yang membuat wajah Tuan Anton berseri.


Sania langsung berlari masuk ke dalam rumah dan tak lama berselang dia telah berjalan bergandengan dengan Junior.


Senyum di wajah Tuan Anton Kian lebar ketika dilihatnya Junior berjalan ke arahnya.


Ketika Junior tepat berhenti di hadapannya, tuan Anton langsung berjongkok dan mendekap erat tubuh Junior.


Mami Ajeng dan Sania hanya bisa saling toleh melihat bagaimana Tuan Anton ketika mendekap Junior.


"Anak hebat, Saya pulang dulu ya. Saya janji, saya akan sering datang ke sini mengunjungi kamu. Apakah kamu mau jika saya datang mengunjungi kamu?" tanya Tuan Anton sambil mengacak rambut Junior.


Junior diam dan tak lama dan bersuara


"Mama bilang, anda opa saya, tapi mengapa anda menyebut diri anda dengan kata saya?" tanya Junior polos .


Tak terasa air mata Tuan Anton langsung mengalir mendengar ucapan polos Junior dan refleks kembali dia mendekap erat Junior.


"Iya nak saya adalah Opa kamu, Opa kamu. Benar yang Mama kamu bilang saya adalah Opa kamu" ucap Tuan Anton dengan suara tercekat.


Dengan pelan Junior melepaskan dekapan Tuan Anton lalu tangannya bergerak di wajah Tuan Anton dan meraba-raba wajah tersebut.


Kemudian Junior tersenyum


"Hidung opa sama seperti hidungku, hidung kita sama-sama tinggi".


Tangis Tuan Anton kembali pecah dan kembali dia mendekap erat tubuh Junior dan mengusap-usap kepala Junior.


"Iya nak, kita memiliki banyak kesamaan karena kamu adalah cucu Opa. Anaknya anak kesayangannya opa".


Sekali lagi Sania hanya bisa menarik nafas panjang mendengar ucapan Tuan Anton.

__ADS_1


__ADS_2