Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Berdamai Demi Junior


__ADS_3

Alexander yang faham jika Sania masih marah dan kecewa padanya hanya bisa menelan ludah dan kembali mengusap kepala Junior yang masih di dekap nya


"Kenapa uncle yang datang?, kan aku maunya Opa".


"Opa di sini sayang" ucap Tuan Anton yang berjalan tergesa masuk ke dalam rumahnya.


Junior segera mendorong pelan tubuh Alexander yang sejak tadi mendekapnya. Dan langsung berjalan menuju sumber suara.


Tuan Anton dengan cepat segera menangkap tubuh Junior dan dengan sekuat tenaga digendongnya tubuh besar tersebut.


Tuan Anton langsung membawa Junior naik ke lantai atas diiringi oleh nyonya Emma yang mengekor di belakang. Sementara Sania dan Alexander hanya bisa mendongakkan kepala mereka melihat tiga orang tersebut meninggalkan mereka tanpa permisi .


Alexander dengan wajah penuh keheranan hanya bisa mengangkat kedua tangannya, lalu menoleh ke arah Sania yang juga sama-sama menoleh kearahnya.


Kembali suasana canggung menyergap mereka berdua, sehingga keduanya langsung gugup.


"Sania.....!" panggil Alexander


Sania tidak menjawab sapaan Alexander melainkan dia segera berlalu meninggalkan Alexander, dan berjalan menuju kamar tempatnya tidur semalam.


Kembali Alexander hanya bisa menelan ludah melihat Sania yang masih saja tidak peduli terhadapnya.


"Hei tuan muda Arogan, Anda mau ke mana?" ucap satu sumber suara yang membuat Alexander yang tadinya hendak berjalan naik menuju kamarnya langsung berhenti.


Alexander langsung mendecak ketika dilihatnya dokter yang beberapa hari ini merawatnya di rumah sakit tersenyum penuh arti kepadanya.


"Saya sudah sembuh dokter, jadi untuk apa dokter masih ke sini?"


"Siapa bilang anda sudah sembuh? anda itu masih dalam pasca pemulihan. Dan tadi papi anda yang meminta saya untuk merawat anda di rumah ini sesuai dengan permintaan anda. Bukankah anda ingin dirawat jalan? atau anda ingin kembali lagi ke rumah sakit?" ucap dokter yang kembali membuat Alexander harus menurut.


"Dasar dokter sialan" gumam Alexander kesal.


"Telinga saya masih berfungsi dengan sempurna loh Tuan muda arogan" jawab sang dokter yang membuat Alexander kembali harus mendecak kesal.


"Iya dokter Saya minta maaf. Memang saya yang meminta Papi untuk meminta kepada dokter merawat jalan saya, terus sekarang Dokter mau apa?".


"Mau saya sekarang adalah memasang kembali infus ke tangan anda" ucap dokter yang kembali harus membuat Alexander tercekat dan refleks memegang nadinya .


"Nggak mau dokter, sakit!" jawab Alexander sambil menggelengkan kepalanya.


"Ini demi Anda bisa bermain dengan anak Anda lho"


Kembali Alexander harus menggeram mendengar alasan dokter tersebut.


"Anda bisa sekali ya dokter menyebutkan kelemahan saya. Oke oke, Ayo naik ke kamar saya. Dan sekarang dokter segera pasang infus ke tangan saya, puas dokter?!".


Dokter tersebut hanya tersenyum menyeringai mendengar jawaban ketus Alexander.


Dengan segera dokter langsung mengekor di belakang Alexander yang telah berjalan duluan.

__ADS_1


Dan ketika Alexander telah merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, segera dokter menarik dan menekan nadi Alexander dan langsung menusukkan jarum infus ke tangan tersebut. Yang membuat Alexander harus meringis tertahan.


"Jangan banyak bergerak, usahakan Anda tetap tenang dan beristirahat. Agar Anda cepat sembuh" ucap dokter ketika selesai memeriksa Alexander.


Alexander tidak menjawab perkataan dokter tersebut melainkan dia segera memejamkan matanya.


"Uncle?" ucap sebuah suara yang membuat Alexander langsung membuka matanya.


Senyum seketika langsung terkembang di wajah Alexander dan dia langsung mengulurkan tangannya di mana dilihatnya di depan pintu Tuan Anton berdiri bersama Junior.


Tuan Anton segera masuk bersama Junior dan dengan cepat Alexander duduk kemudian langsung menarik tangan Junior.


Sementara Alexander duduk dengan memangku Junior, dokter mengajak Tuan Anton menjauh dari mereka berdua


"Sesuai dengan perintah anda, saya sudah menghubungi teman saya dokter spesialis mata yang ada di luar negeri. Dan teman saya tersebut mengatakan, Jika dia siap membantu operasi cucu Anda" ucap dokter pelan ke arah Tuan Anton sambil menatap ke arah Junior yang saat ini sedang menggerakkan tangannya di wajah Alexander.


"Kapan dokter tersebut bersedia mengoperasi cucu saya?".


"Kapanpun dia bersedia Tuan. Semuanya tergantung dengan anda, Kapan anda akan membawa cucu anda ke luar negeri"


Tuan Anton mengangguk-angguk mendengar ucapan dokter tersebut


"Secepatnya Saya akan menghubungi anda dokter. Terima kasih karena Anda sudah cepat tanggap dan langsung merespon permintaan saya"


Dokter tersebut mengangguk lalu kembali berjalan mendekat ke arah Alexander.


"Besok pagi saya akan datang ke sini lagi tuan muda. Saya harap anda tidak banyak bergerak seperti yang saya bilang tadi. Dan jika memang Anda ingin bermain dengan anak Anda, usahakan tangan anda yang terpasang infus itu tidak terlalu banyak melakukan pergerakan"


Sementara dilain tempat, tepatnya di kamar tamu, Sania yang sedang duduk berusaha untuk merebahkan tubuhnya kembali. Entah sudah berapa kali dia duduk rebah berdiri berjalan di kamar tersebut.


"Sedang apa Junior di atas sana?, Jika terus-terusan begini, Aku Makin susah untuk melepaskan Junior dari Tuan Anton" gumamnya dengan gelisah.


Untuk membunuh kegelisahan dan kekhawatirannya, Sania segera menghubungi Mama Ajeng.


Tak Butuh waktu lama panggilan Sania langsung diangkat oleh Mami Ajeng. Dan begitu panggilan terhubung, saat itu juga dia langsung menceritakan semuanya bagaimana Junior yang semakin tidak bisa lepas jauh dari Tuan Anton. Dan itu semakin membuatnya bingung tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Biarkan Junior dekat dulu sama Alexander. Karena kamu tahu sendiri Sania, Alexander itu adalah Ayah kandungnya Junior"


Sania hanya bisa menghempas nafas panjang mendengar nasehat Mami Ajeng. Karena sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak ingin Junior dekat dengan Alexander.


"Kamu harus berdamai dengan keadaan demi Junior, Sania. Apa kamu tidak kasihan bagaimana Junior yang tidak pernah mengenal sosok Ayah. Bahkan kamu sendiri mendengar langsung bahwa Junior tidak mengerti papa itu apa. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk kamu menjelaskan sama Junior, bahwa Alexander itu adalah Papanya, dan papa itu apa" kembali mami Ajeng memberi wejangan kepada Sania.


Dan bukannya merasa lega setelah mendengar nasehat dari mami Ajeng, Sania semakin gelisah.


Hingga akhirnya beberapa hari ke depan, Sania membiarkan Junior selalu dekat dengan Alexander.


Dan Alexander juga sekarang kondisinya semakin sehat tidak lagi diinfus walaupun dokter setiap hari datang ke rumah untuk memeriksa keadaannya.


Alexander benar-benar menikmati quality time nya bersama Junior yang selama ini tidak pernah bisa dinikmatinya.

__ADS_1


Hingga hari ini adalah hari kelima di mana Alexander sudah kembali ke rumah.


Dan dengan pelan Alexander mulai menjelaskan pada Junior Jika dia adalah Papanya.


"Papa itu apa?" kembali Junior mengulangi pertanyaan yang pernah beberapa hari yang lalu dilontarkannya.


Alexander menelan ludahnya kemudian menoleh ke arah Tuan Anton dan Nyonya Emma yang berwajah tegang menatap ke arah mereka.


"Papa itu adalah ayah" jawab Alexander.


Junior menggerakkan sebentar matanya kemudian dia menggeleng


"Aku tidak mengerti".


Alexander lalu mengangkat kedua tangannya kemudian memutar-mutar jarinya seperti hendak menjelaskan sesuatu kepada Junior tetapi kalimat yang mau diucapkan itu terasa sangat sulit untuk keluar dari mulutnya.


"Papa itu adalah suaminya mama. Jadi Mama itu menikah dengan seorang laki-laki, Nah dari pernikahan mereka itu lahirlah seorang anak, Nah nanti anaknya itu memanggil suami dari mamanya itu dengan sebutan Papa. Seperti itu kira-kira papa itu Nak" ucap Alexander.


"Jadi Uncle ini suaminya Mama aku?" tanya Junior polos.


Wajah Tuan Anton dan nyonya Emma kembali menegang mendengar ucapan polos Junior.


Dan Alexander yang mendapatkan pertanyaan tersebut dari Junior hanya bisa menggaruk keningnya sebentar dan terlihat sangat gugup.


Tuan Anton dan nyonya Emma sangat menantikan jawaban tersebut karena mereka juga penasaran.


"Kenapa uncle diam dan tidak menjawab pertanyaan aku? tadi uncle bilang bahwa papa itu adalah suaminya mama, itu artinya uncle sama mama aku menikah?".


Sania yang kebetulan baru keluar dari kamar tamu sontak menghentikan langkahnya mendengar ucapan Junior.


Lalu dia menatap ke arah Alexander yang juga menatap ke arahnya.


"Iya sayang, Uncle memang menikah sama mama kamu. Oleh karena itulah makanya kamu lahir" jawab Alexander sambil menatap dalam pada Sania yang berdiri mematung melihat kearahnya.


Mulut Sania langsung menganga, tampak ingin protes dengan jawaban Alexander. Tapi Alexander langsung menggeleng cepat.


Tuan Anton dan nyonya Emma langsung menoleh ke arah samping begitu melihat Alexander menggelengkan kepalanya.


Tapi berbeda halnya dengan Junior, dia langsung berdiri dan langsung memeluk erat Alexander


"Berarti uncle papa aku?"


"Iya nak, uncle adalah papa kamu" jawab Alexander sambil membalas dekapan Junior dan terus menatap dalam pada Sania


Tuan Anton menarik nafas panjang kemudian kembali menoleh ke arah Sania.


Beliau tersenyum dengan wajah sedih, Kemudian beliau tampak mengangguk pelan ke arah Sania.


Dan Sania yang melihat kode dari tuan Anton hanya bisa menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Mungkin inilah yang dikatakan oleh Mami Ajeng, bahwa aku harus berdamai dengan hati aku demi kebahagiaan Junior" batin Sania.


__ADS_2