Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Lari


__ADS_3

Sania yang telah selesai membereskan meja lalu segera naik lagi ke kamarnya, mandi.


Setelah memakai piyama dan menyisir rambutnya Sania berjalan menuruni tangga hendak menemui Mami Ajeng


"Hei, sudah mandi rupanya, sini sayang..." panggil Mami Ajeng sambil menepuk kursi panjang yang didudukinya


Sania menganggukkan kepalanya pada seorang lelaki paruh baya yang memakai jas yang sejak dia muncul terus memperhatikannya


"Ini Pak Handoyo, anak saya yang saya beritahu tadi sama bapak"


Lelaki paruh baya yang dipanggil dengan nama Handoyo langsung mengulurkan tangannya pada Sania. Dengan canggung Sania menyambut tangan lelaki tua itu


"Handoyo.."


"Sania..."


Mami Ajeng tersenyum melihat keduanya


"Begini sayang, malam ini pak Handoyo mau ngajak kamu jalan-jalan, kamu temani beliau ya?"


Wajah Sania langsung berubah bengong mendengar ucapan Mami Ajeng


Dia langsung melirik kearah jam besar yang tergantung di tembok


"Hampir jam sepuluh malam, mau jalan kemana malam-malam begini??" batinnya


"Ah, maaf pak Handoyo, Sania baru disini, jadi dia belum tahu cara kerjanya, maklum baru.." sambung Mami Ajeng sambil tertawa pada pak Handoyo


"Tak apa Mi, saya suka yang baru-baru, masih polos...."


Sania langsung bergidik mendengar ucapan pak Handoyo. Pikiran buruk langsung melintas di kepalanya


"Ayo sayang, mami sudah siapkan baju yang cantik untuk kamu pakai malam ini" kembali Mami Ajeng melanjutkan sambil mengajak Sania berdiri


Dengan wajah masih kebingungan, Sania berdiri mengikuti Mami Ajeng masuk kesebuah kamar besar


Mami Ajeng meminta Sania melepas seluruh pakaiannya, dan dengan malu Sania melucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Lalu dengan terampil Mami Ajeng mulai memakaikan Sania sebuah dress warna gold dengan belahan dada rendah dan belahan kaki yang juga tinggi


Sania sampai risih sendiri ketika baju itu menempel di tubuhnya


"Wow!! Perfect, kamu cantik sekali.." ucap Mami Ajeng setelah dia selesai mendandani Sania


Kembali dengan anggunnya Mami Ajeng mengajak Sania turun. Rambut Sania yang dibuat bergelombang sedikit bergerak ketika dia menuruni tangga


Pak Handoyo yang melihat Sania setelah di make over langsung bangkit dari kursinya


Matanya kian menatap Sania dengan nanar.


"Wow...!!!" kalimat pertama yang keluar dari mulutnya ketika melihat Sania


Mami Ajeng tersenyum senang ketika melihat pak Handoyo takjub dengan karyanya


"Ready?"


Sania kembali menoleh pada Mami Ajeng yang terus memamerkan gigi putihnya


"Temani oom minum, cuma itu kok" ucap Mami Ajeng sambil membelai kepala Sania


Dengan gugup Sania mengangguk.


Lalu keduanya pergi keluar dari rumah Mami Ajeng.


Diiringi lambaian tangan Mami Ajeng, pak Handoyo membuka pintu mobil, mempersilahkan Sania masuk


Degup jantung Sania kian berpacu cepat ketika pak Handoyo duduk di sebelahnya


Tangan Sania kian terasa dingin ketika jemarinya diremas oleh pak Handoyo

__ADS_1


"Kamu gugup?"


Sania tak menjawab, dia hanya tersenyum kaku. Dalam hati pak Handoyo makin gemas melihat sikap Sania


Akhirnya mobil berhenti disebuah bangunan mewah. Kembali Sania dibukakan pintu oleh pak Handoyo, dengan mesra beliau menggandeng Sania masuk


Kembali Sania merasa risih ketika tangan pak Handoyo melingkar di pinggangnya


Mereka naik ke roof top, dimana di sana telah tersedia sebuah meja dengan makan malam di atasnya


Kembali pak Handoyo memperlakukan Sania dengan manis, ditariknya sebuah kursi dan Sania duduk


Pak Handoyo segera menuangkan minuman pada dua buah gelas, dan memberikannya pada Sania yang dibalas Sania dengan gelengan kepala


"Maaf pak, saya tidak biasa minum"


Pak Handoyo tersenyum, dan dia langsung menenggak minuman di gelasnya hingga tandas


Lalu dia berdiri, berjalan kearah Sania yang masih tampak gugup, sedikit berjongkok di pinggir telinga Sania


"Kamu makin membuat oom gemas" lirihnya tepat di telinga Sania yang membuat bulu kuduk Sania langsung meremang


Dengan cepat pak Handoyo menarik tengkuk Sania dan ******* bibir tipis Sania


Sania yang tak menyadari gerakan cepat pak Handoyo segera mendorong kasar tubuh pak Handoyo


Mendapati perlawanan Sania, pak Handoyo tersenyum menyeringai


"Hei, aku sudah membayar mahal dirimu untuk menemaniku malam ini. Jadi malam ini tubuh dan ragamu milikku"


Mata Sania terbelalak mendengar ucapan pak Handoyo


"Aku bukan wanita murahan, jadi bapak jangan beranggapan jika aku melacur"


Pak Handoyo tertawa menyeringai mendengar jawaban Sania


Kembali Sania bergidik mendengar ucapan pak Handoyo


"Maaf pak, anda salah orang kalau begitu. Aku bukan pelacur, aku di tempat Mami Ajeng karena aku ditawari kerja, bukan untuk jadi pelacur"


Tawa pak Handoyo makin keras, Sania membuang mukanya dengan marah mendengar tawa cemooh pak Handoyo


"Semua yang ada di rumah bordil itu semuanya pelacur, termasuk kamu, jadi kamu jangan sok suci"


Sania langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya mendengar ucapan pak Handoyo


"Jadi...?" ucapnya tercekat sambil terduduk dengan lemas


Melihat Sania tercekat, kembali pak Handoyo mengambil kesempatan dengan menariknya


Sania yang kaget ketika pak Handoyo menarik tangannya segera berusaha kuat menarik kembali tangannya


"Kamu pikir, kamu bisa pergi dari sini tanpa melayaniku, hemmm?"


Mata Sania langsung berembun, sekuat tenaga dia berusaha melepaskan cengkraman kuat pak Handoyo yang saat ini telah memeluknya paksa dari belakang


Tapi Sania kalah kuat dengan pak Handoyo, sekali hentakan Sania berhasil dibuatnya terhuyung.


Kembali dengan cepat pak Handoyo membopong tubuh Sania di pundaknya, membawanya paksa masuk kedalam


Sania menjerit dan terus memukul-mukul belakang pak Handoyo.


Tapi pak Handoyo tak perduli, dia terus saja membawa Sania yang berteriak histeris masuk kedalam kamar


Dengan kasar pak Handoyo menghempaskan tubuh Sania keatas sebuah kasur empuk


Sania yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya segera bangkit dan mundur ke sudut ranjang

__ADS_1


Pak Handoyo makin tersenyum menyeringai melihat Sania ketakutan dan menutupi bagian dadanya


Pak Handoyo merangkak, dan menarik kaki Sania sehingga dress yang dikenakannya yang belahannya sangat tinggi makin mengekspos kaki jenjang Sania


Dengan birahi yang sudah di ubun-ubun pak Handoyo menciumi kaki Sania


Sania terus berusaha menarik kakinya, tapi pak Handoyo telah mengunci kaki tersebut


Sania menangis menjerit, bayangan kelam ketika dia dirudapaksa Alexander melintas di kepalanya kembali


"Tolong jangan pak, tolong...."


Jeritan Sania semakin membuat birahi pak Handoyo naik


"Aku suka sekali dengan perempuan yang menjerit, karena jeritan lantangnya akan berubah menjadi rintihan ketika sudah melayang" lirihnya yang membuat Sania makin merasa jijik


Pak Handoyo semakin merangkak naik, dan sekali tarikan, belahan baju Sania semakin turun


Kembali dengan kalap pak Handoyo meremas dada Sania. Sania menjerit dan terus berusaha melepaskan tangan pak Handoyo yang terus bergerak liar di area dadanya


"Tidak mauuu... tolong lepaaasss" teriak Sania


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Sania menjambak rambut pak Handoyo dengan kuat yang membuat lelaki itu menjerit kesakitan


Cengkraman tangan pak Handoyo melemah yang membuat Sania bergerak cepat mendorong tubuh tersebut


Dengan cepat Sania berlari turun dari ranjang, dan segera berlari keluar dari kamar


Pak Handoyo yang menyadari jika Sania berusaha kabur segera bangkit dan memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit oleh jambakan Sania tadi


Sania dengan cepat berlari di lorong kamar, berjalan kearah meja dimana tasnya tertinggal


Segera dia menarik tas tersebut, dan masih dengan berlari terburu-buru dia menuruni tangga.


Pak Handoyo terus mengejar Sania sambil terus berteriak-teriak memanggil nama gadis itu


"Kembali kamu Sania, kamu belum menyelesaikan tugas kamu, heiii..."


Sania makin mempercepat larinya, sampai di pintu utama bangunan mewah tersebut, segera dia mengambil kunci yang masih menempel di pintu, membukanya dengan cepat dan menutupnya dengan cepat pula, lalu dia menguncinya dari luar


Menyadari jika Sania mengurungnya di dalam, pak Handoyo berteriak marah dan memaki-maki


Berkali-kali dia membuka paksa pintu dan menarik-narik gerendel pintu


Sania yang telah berhasil mengunci pak Handoyo segera melemparkan kunci tersebut ke semak-semak bunga lalu dia berlari keluar dari halaman luas bangunan tersebut


Dress yang menghalangi larinya diangkatnya tinggi, masih sambil menoleh terus kebelakang dia berlari kencang


Nafasnya ngos-ngosan, tapi dia terus berlari, dia tak ingin pak Handoyo atau anak buahnya menemukannya dan membawanya kembali kebangunan itu


Sebuah motor melaju cepat ketika dilihatnya Sania berlari, Sania yang ketakutan makin mempercepat larinya ketika disadarinya sebuah motor mengikutinya dari belakang


"Mbak Sania... mbak Sania, berhenti mbak..."


Sania tidak memperdulikan panggilan pemotor tersebut sampai akhirnya motor tersebut ngebut dan menyalip laju lari Sania dan berhenti tepat di depan Sania


Dengan ketakutan Sania menghentikan larinya, terbungkuk-bungkuk dengan nafas yang ngos-ngosan, dadanya turun naik


Pemotor yang tadi menyalip Sania turun dari motornya, dan membuka helm


"Mas Rangga?" ucap Sania kaget sekaligus senang karena ternyata yang berdiri di depannya adalah supir ojol langganannya


"Cepat naik mbak, kita pergi dari sini!"


Tanpa pikir panjang Sania segera menarik kembali dress nya tinggi-tinggi dan duduk di boncengan


Dan Rangga, supir ojol langganan Sania langsung melajukan motor dengan ngebut meninggalkan tempat itu

__ADS_1


__ADS_2