
Sania menggeram kesal karena panggilannya tak juga diangkat oleh Alexander. Tapi dia tak putus asa, diulanginya terus sampai puluhan kali, tapi tetap saja Alexander tidak mengangkat panggilannya
"Kurang ajar kamu Alexander..., kamu mau bermain-main ya sama aku?" geram Sania lagi
"Dia tadi bilang nggak Mi dia mau ke mana ?" tanya Sania dengan nada sedih bercampur panik ke arah mami Ajeng
"Kamu tidak usah khawatir, kan tadi Mami sudah bilang bahwa pengawal di rumah ini dua orang mami utus untuk mengikuti Alexander. Dan Mereka bilang, mereka melihat Alexander membawa Junior ke sebuah hotel. Dan sampai sekarang mereka berdua tidak keluar dari dalam hotel tersebut. Itu artinya Alexander membawa Junior menginap di sana, bukan membawanya pulang ke rumahnya"
"Mami tidak mengenal Alexander. Bisa saja kan mi dia berpura-pura menginap di hotel itu, tapi sebenarnya dia sudah membawa Junior terbang ke rumahnya"
Mami Ajeng menarik nafas panjang mendengar Sania yang masih saja tidak yakin dengan ucapannya
"Kamu diam dulu, Mami akan melakukan video call sama dua penjaga yang tadi mami suruh untuk mengikuti Alexander. Kamu bicara sendiri sama mereka, tanya sendiri langsung kepada mereka Apakah benar di dalam kamar itu ada Alexander dengan Junior atau tidak"
Sania yang matanya sudah basah hanya bisa terduduk dengan lemah di sofa sambil melihat ke arah mami Ajeng yang saat ini sedang melakukan video call
"Mereka ada di dalam mi. Apa perlu video mereka saya kirim ke HP mami untuk meyakinkan Sania ?"
Mami Ajeng langsung melirik kearah Sania ketika dua anak buahnya menjawab pertanyaannya
"Kirim langsung ke hp Sania, biar dia yakin"
"Baiklah mi, jika itu mau mami"
Lalu mami Ajeng langsung memutus obrolan, dan Sania langsung mengambil hp yang ada di dalam genggamannya ketika benda tersebut berdenting
Butuh waktu sekian detik untuk Sania membuka seutuhnya video yang dikirimkan oleh dua anak buah mami Ajeng, kemudian dia menarik nafas sedikit lega ketika melihat Junior dalam gendongan Alexander
Pastikan jika memang mereka ada di kamar, bukan fiktif
Balas Sania pada pesan yang masuk
"Kamu masuklah ke kamar kamu, istirahat. Besok pagi baru kita jemput Junior jika memang dia tidak dikembalikan oleh Alexander"
"Nggak mi, aku nggak bisa. Aku harus menemui Alexander saat ini juga. Kita tidak tahu jika dia akan pergi dengan penerbangan subuh nanti, iya kan?"
"Tapi San, kamu kan baru pulang, apa kamu tidak capek?, istirahat lah dulu, mami yakin Alexander tidak akan melakukan hal tersebut. Terlebih karena Junior sendiri yang mengatakan jika dia besok akan pulang lagi kesini"
Sania tetap menggeleng, dia masih tidak yakin. Ketakutannya karena Alexander akan membawa pergi anaknya jauh lebih besar ketimbang rasa capek dan lelah yang menderanya saat ini
"Aku harus pergi mi"
Setelah berkata seperti itu Sania langsung bangkit dari sofa dan langsung berjalan ke arah pintu
"Aku minta mas Deno buat nganter aku mi"
Mami Ajeng mengangguk dan ikut berjalan kearah luar menyusul Sania yang saat ini sudah tampak berbicara dengan Deno
"Antarkan Sania, dan jangan pergi sebelum dia bertemu dengan Alexander" ucap mami Ajeng saat Deno dan Sania sudah berada di dalam mobil
Deno menganggukkan kepalanya lalu memundurkan mobil dan segera menembus dinginnya malam yang mulai sunyi
"Maaf kan kami karena tidak bisa mencegah Alexander membawa Junior. Kami takut kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali. Tentu kamu masih ingat bagaimana kami babak belur dihajar oleh bodyguard keluarganya"
"Aku bahkan lebih seminggu terbaring di rumah sakit. Akibat luka tembakan yang para bodyguard itu tembuskan di badanku"
Sania menarik nafas panjang mendengar ucapan Deno. Dia menyadari bahwa Alexander dan keluarganya bukanlah tandingan baginya, tapi dia tetap saja tidak akan merelakan jika Junior dibawa Alexander pergi darinya
"Maafkan aku Den, tidak seharusnya aku melibatkan semua penghuni rumah dengan masalahku ini"
Deno mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Junior itu milik kita semua, karena itulah kami semua rela babak belur kemarin, juga karena kita semua menyayanginya"
Sania tersenyum getir mendengar ucapan tulus dari bibir Deno
__ADS_1
"Benar hotel ini?" tanya Alexander ketika dia akan berbelok masuk ke kawasan sebuah hotel bintang lima
"Benar, di hotel ini juga aku beberapa waktu lalu bertemu lagi dengan Alexander"
Deno memarkirkan mobilnya di area parkir, lalu menelepon dua temannya yang bertugas mengawasi Alexander
"Mereka di atas" ucap dua orang pengawal itu ketika berdiri di depan Sania dan Deno
"Biar aku yang masuk, apa kalian tahu nomor berapa kamar mereka?"
Kedua penjaga itu menggeleng.
"Serahkan sama aku, aku bisa mengatasinya" lanjut Sania lagi sambil melenggang pergi meninggalkan Deno dan dua temannya
Di depan penjaga lobi, Sania langsung melancarkan aksinya
"Aku diminta oleh tuan Alexander untuk ke kamarnya, tapi sayangnya aku tidak tahu dimana kamar beliau. Hp ku mati" ucap Sania sambil memamerkan hp nya yang telah dimatikannya terlebih dahulu ketika dia akan berjalan masuk menuju lobi
"Mereka ada di kamar nomor 254 nona. Nona bisa langsung kesana"
Sania tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu dia segera berlalu dari hadapan petugas lobi yang masih saja menatapnya dengan nanar
Tak butuh waktu lama untuk Sania bisa sampai di depan kamar yang dipakai oleh Alexander untuk membawa kabur anaknya tersebut
Sania langsung mengaktifkan kembali handphone nya, kemudian dengan cepat dia mendial nomor Alexander
Dan masih seperti tadi, Alexander tak juga menjawab panggilannya sehingga membuat Sania yang kesal segera menggedor kuat pintu tersebut
"Alexander buka!!!" teriak Sania cukup kencang
Hening, tak ada sahutan. Dan kembali Sania mengulangi berteriak memanggil nama Alexander
Alexander yang telah pulas membuka matanya dengan malas ketika dia mendengar suara teriakan di depan pintu kamarnya
"Alexander buka!!!"
Kembali Sania menggedor kencang pintu kamar, sehingga membuat Alexander bangkit dan turun dari ranjang, kemudian berjalan kearah pintu
Sania mundur selangkah dari depan pintu ketika mendengar bahwa pintu di buka dari dalam
"Kenapa malam-malam teriak di depan kamar orang, hah?, nggak ada kerjaan lain kamu?"
Sania tidak menggubris perkataan Alexander. Segera dia mendorong kasar dada Alexander dan dia langsung melesat masuk
Di dapatinya Junior tengah tertidur pulas dengan posisi miring
"Sayang, bangun nak.... Kita pulang" ucap Sania berusaha mengangkat tubuh besar Junior
Junior tampak menggeliat sebentar kemudian merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap
"Sayang, kita pulang nak. Ini mama...."
Alexander yang sekarang berdiri di samping ranjang hanya bisa menarik nafas panjang sambil membuang wajahnya melihat kelakukan Sania yang kembali memancing emosinya
"Kamu minggir!!!" bentak Sania ketika dia akan turun dari atas ranjang
Alexander menurut, dia segera minggir dan membiarkan Sania turun dari atas ranjang dan berjalan kearah kamar mandi
"Kamu mau apa?" tanya Alexander cepat ketika melihat Sania membawa kain basah
"Bukan urusan kamu!!!" kembali Sania menjawab sambil membentak
Tangan Sania yang telah siap dipakainya untuk mengusap wajah Junior segera ditarik kasar oleh Alexander
"Apa kamu buta?, Junior sedang tidur!!!" sambil membentak seperti itu, kain basah yang ada di tangan Sania langsung dibuang oleh Alexander ke sembarang arah
__ADS_1
"Silahkan kamu pergi sini, aku dan anakku ingin istirahat. Jangan ganggu kami berdua"
"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan anakku tidur bersama kamu malam ini"
Alexander mendengus sambil tersenyum sinis mendengar jawaban Sania
"Heh, apa kamu pikir aku akan membiarkan anak aku tidur dengan kamu juga, hah?"
"Kamu dalam keadaan kotor begini mau tidur didekat anakku?,. No way"
Mata Sania langsung melotot tajam mendengar ucapan Alexander
"Kamu....." geramnya
"Ada yang salah? Tidak kan?"
"Kurang ajar kamu Alexander!!" kembali Sania berteriak dengan nada marah
"Papa.....?"
Tangan Sania yang sudah siap dilayangkannya hendak memukul lengan Alexander sontak terhenti ketika mendengar suara Junior
"Sayang....?" ucap Sania cepat sambil kembali merangkak keatas ranjang
"Mama...?"
Sania memeluk kepala Junior yang sekarang telah duduk
"Kita pulang ya nak?"
Junior yang masih tampak sangat mengantuk kembali membuka dan menutup matanya dengan susah payah
"Apa kamu tidak lihat jika Junior sangat mengantuk?"
Secepat kilat Sania mengerling tajam kearah Alexander, kemudian dia melotot kan matanya
"Papa.... Aku mau tidur lagi" Junior mengulurkan tangannya yang segera ditangkap cepat oleh Alexander
Kemudian Junior langsung terlelap ketika kepalanya sudah menempel di dada Alexander
"Kamu lihat sendirikan?"
Sania membuang mukanya dengan kesal mendengar perkataan Alexander
"Minggir kamu!!" sekarang giliran Alexander yang memintanya untuk minggir
Masih dengan wajah masam, Sania beringsut minggir karena Alexander mau meletakkan Junior
"Tangan kamu lepas!" kembali Alexander berkata dingin ketika tangan Sania menghalanginya untuk meletakkan Junior
Sania berusaha melepaskan genggaman erat tangan Junior pada tangannya tapi sepertinya tangan Junior terlalu erat menggenggam jarinya
"Sayang, lepasin tangan mama, ya?"
Junior bukannya melepaskan genggamannya malah menggerakkan tubuhnya ke samping sehingga membuat Sania menubruk wajah Alexander secara tak sengaja sehingga membuat Alexander yang setengah jongkok karena masih memegangi tubuh Junior, ambruk kesamping dengan tubuh Sania berada di atasnya
"Ahhh....." pekik Junior tertahan karena keberatan akibat separuh tubuh mamanya menindihnya
Secepat kilat Sania bangkit dan langsung turun dari atas ranjang, begitu juga dengan Alexander, secepat kilat dia bangun dan ikut berdiri
Keduanya sama-sama menoleh kemudian kompak melengos
"Jangan ge er kamu...." ucap Sania dingin
"Kamu yang jangan ke geer an" balas Alexander tak kalah dinginnya
__ADS_1