
"Kalian yakin jika itu rumah bordil?" tanya tuan Anton setelah cukup lama diam
"Benar Tuan itu memang rumah bordil. Kami tidak salah"
Tuan Anton kembali mengusap kasar wajahnya dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, pikirannya tiba-tiba menjadi kacau dia tidak menyangka jika yang melakukan pemukulan terhadap anaknya adalah orang dari rumah bordil.
"Terus kenapa saya tidak melihat Mark ada di antara kalian, ke mana dia? apa dia berjaga di markas?"
3 bodyguard yang sedang membawa tuan Anton menuju markas saling toleh, tidak ada satu pun menjawab diantara mereka yang semakin membuat Tuan Anton curiga dan kembali bertanya
"Kenapa kalian diam??! saya bertanya mana Mark? Mark itu adalah tangan kanan saya, orang kepercayaan saya, ke mana dia?!"
Salah satu bodyguard yang duduk disebelah Tuan Anton menarik nafas panjang dan berkata dengan pelan
"Itulah yang akan kami bicarakan pada tuan. Tapi sebaiknya Tuan melihat sendiri seperti apa Mark, Karena kami sendiri juga tidak percaya bahwa Mark bisa melakukan perbuatan yang tidak pernah kita sangka selama ini"
Tuan Anton kian penasaran dan menyuruh Bodyguard yang mengemudikan mobil melajukan cepat mobilnya agar cepat sampai ke markas.
Suara decit ban mobil yang berhenti di depan membuat Mark menoleh kearah luar
Di sudut ruangan, Sania masih mendekap Junior. Anak kecil itu tampak menempelkan kepalanya di dada Sania
Dan Sania mengusap-usap kepala Junior sambil sesekali menciumi puncak kepalanya
"Aku haus ma....." lirih Junior
Mark langsung menoleh dan segara berjalan cepat kearah pintu
"Buka!!!!!" teriaknya marah sambil menggedor keras pintu
Junior yang semula tampak lemah langsung menegakkan posisi badannya
"Uncle itu kenapa ma?"
Sania tak menjawab melainkan hanya menarik nafas panjang dan mencium puncak kepala Junior kembali
Dan Mark yang terus berteriak kencang tidak memperdulikan bagaimana tangannya sudah sakit karena yang ada di benaknya saat ini adalah meminta orang yang ada di luar membuka pintu karena dia tak tega mendengar Junior yang keharusan.
"Buka pintunya keparat, cepat buka pintunya atau aku hancurkan pintu ini!!!" teriak Mark berkali-kali.
Tuan Anton yang turun dari mobil langsung berjalan cepat ke arah pintu dan menoleh kepada para Bodyguard yang ada di belakangnya.
"Itu suara Mark, saya jelas mendengar suaranya. Kenapa dia ada di dalam? Mengapa kalian mengurungnya??!" tanya Tuan Anton dengan tatapan penuh marah
Para Bodyguard yang berhenti di depan pintu bersama Tuan Anton tidak menjawab pertanyaan tuan Anton melainkan mereka semua menarik nafas dalam
__ADS_1
"Tunggu apalagi secepat buka pintunya!!!" teriak Tuan Anton dengan marah
Lalu seorang bodyguard bergerak berdiri di depan tuan Anton, dan tuan Anton bergeser sedikit untuk memberi ruang kepada bodyguard tersebut untuk membuka pintu
Mark berada di dalam segera menyingkir begitu didengarnya suara kunci dibuka dari luar.
Ketika pintu dibuka lebar tampaklah oleh Tuan Anton, Mark berdiri dengan wajah babak belur dan masih ada sisa darah di sudut bibirnya.
"Kamu kenapa?, apa yang jadi sama kamu?" tanya tuan Anton dengan ada panik yang langsung menangkupkan kedua tangannya ke wajah Mark
Mark tampak meringis ketika tangan Tuan Anton menyentuh wajahnya.
Dan tulan Anton yang sadar dengan perbuatannya refleks melepaskan tangannya, lalu menoleh ke belakang ke arah para bodyguard yang melihat aksinya
"Apa yang kalian lakukan kepada Mark?, apa kalian sudah memukulinya?"
Para bodyguard itu tidak ada yang bersuara sedikitpun menjawab pertanyaan Tuan Anton. Sedangkan Mark segera menarik tangan Tuan Anton kemudian menggeleng
"Tidak tuan, mereka melakukan apa-apa pada saya, justru sayalah yang mengamuk pada mereka"
Kening Tuan Anton berkerut mendengar ucapan Mark
"Maksud kamu apa Mark?, kamu tidak mungkin berkhianat kan?"
Mata tuan Anton langsung membalas tatapan tajam Sania yang memandang ke arah mereka
"Jadi perempuan ini yang telah menyuruh para pengawal di rumah bordil untuk memukuli anak saya!!!" geramnya
Mark kembali menggeleng kemudian berkata
"Bukan, bukan dia yang saya maksud. Coba Anda lihat anak kecil yang ada di depan wanita itu. Anda pandang dengan seksama wajah anak kecil itu setelah Anda melihatnya. Saya yakin anda akan tahu apa sebenarnya yang telah terjadi"
Sania langsung mendekap kembali Junior ke dalam pelukannya dan menyembunyikan wajah Junior saat Tuan Anton berjalan mendekati mereka.
"Sania, tunjukkan kepada Tuan Anton wajah Junior. Saya yakin masalah ini akan cepat selesai. Tolong Sania, tolong kali ini kau mengertilah!" ucap Mark karena dilihatnya wanita itu sejak tadi terus berusaha menyembunyikan wajah Junior
Tuan Anton yang tidak mengerti apa-apa maksud dari perkataan Mark terus berjalan kearah Sania dan segera menarik kasar tangan
"Anda tidak boleh menyentuh anak saya, anda pergi !!!!" bentak Sania lantang
Tuan Anton yang seumur hidupnya tidak pernah dibentak oleh perempuan apalagi seorang perempuan muda, langsung marah.
Refleks tangannya langsung terayun ke atas dan langsung menampar wajah Sania dengan keras
Tubuh Sania langsung terjerembab ke samping dan otomatis Junior yang ada dalam dekapannya ikut terjerembab juga
__ADS_1
Mama teriak Junior panik yang segera membantu mamanya bangun dan mendekap kembali mamanya
"Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh mama Saya!!!, Tidak ada satu orang pada boleh menyakiti Mama saya!!! teriak Junior
Tubuh tuan Anton langsung oleng, dan dengan cepat tubuhnya langsung ditangkap oleh Bodyguard yang berada di belakangnya
Sedangkan Mark yang melihat Sania terjerembab langsung membantu wanita itu duduk Dan langsung memandang ke arah Tuan Anton dengan tatapan marah.
Sedangkan Junior yang saat ini telah berdiri berjalan cepat kearah tuan Anton yang dia tahu berada tak jauh dari tempatnya.
Anda harus membayar mahal karena anda telah memukul Mama saya!!! teriak Junior yang mengarahkan tinjunya ke tubuh tuan Anton.
Tuan Anton yang tadi tampak shock, dan sekarang sedang dipegangi oleh bodyguard hanya membiarkan tubuhnya dipukuli oleh anak kecil bertubuh tambun tersebut.
Junior terus memukuli tubuh tuan Anton tanpa berhenti, dan dia berteriak kencang sambil menangis.
"Junior, sudah Sayang. Sudah, jangan kotori tangan kamu dengan memukul orang yang tidak mempunyai hati" ucap Sania yang segera menarik kembali tubuh Junior
Junior berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Sania dan terus berteriak.
Sementara Tuan Anton langsung mengusap kasar wajahnya dan memandang ke arah Mark
"Kamu pasti tahu semuanya, beri tahu saya, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Mark menoleh ke arah Sania yang menggeleng
"Jangan, jangan anda beritahu apapun pada Tuan Arogan itu!!"
Mark menggeleng lalu dia meratap dalam wajah Tuan Anton.
"Bagaimana perasaan Anda tuan Anton, ketika anda melihat wajah anak kecil ini?"
Tuan Anton diam mendapatkan pertanyaan dari Mark, tak lama dia menarik nafas panjang.
"Wajahnya mengingatkan ku pada Alexander kecil dulu" jawab tuan Anton dengan lirih .
Sania menggeleng cepat tak terasa air matanya langsung mengalir sedangkan Mark hanya bisa tersenyum getir mendengar jawaban dari Tuan Anton.
"Anda benar Tuan Anton, anak kecil ini adalah anaknya Alexander, cucu anda"
Kembali tubuh Tuan Anton limbung dan lagi-lagi dengan cepat langsung ditangkap oleh Bodyguard.
"Anak Alexander?" ucapnya tercekat
Mark mengangguk. Sedangkan para Bodyguard tampak kaget dan saling toleh
__ADS_1