Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Ancaman


__ADS_3

Dengan sedikit agak malas, Sania mengambil buket bunga yang diulurkan oleh Alexander ke arahnya


"Terima kasih" ucapnya masih dengan nada dingin dan mata malas. Kemudian Sania kembali membuang muka. Dan Alexander hanya bisa tersenyum mendengar ucapan terima kasih yang keluar dari mulut Sania walaupun wajahnya masih jutek


"Dan untuk anak Papa, Papa juga mau membawakan oleh-oleh untuk kamu" ucap Alexander lagi sambil mengambil sebuah kantong kresek yang juga diletakkannya di atas meja.


Langsung dia duduk di kursi dengan Junior yang ada di pangkuannya. Kemudian Alexander langsung membuka kantong kresek tersebut dan mengeluarkan mainan yang tadi dibelinya dan langsung menyerahkannya pada Junior


"Papa untuk apa beli mainan ini, kan aku nggak bisa mainkannya" jawab Junior dengan nada polos yang membuat jantung Alexander langsung berdenyut hebat


Alexander langsung melirik ke arah Mami Ajeng dan Sania yang menatap ke arahnya. Seketika Alexander langsung merasa gugup dan merasa bersalah karena niat baiknya untuk membawakan oleh-oleh untuk anaknya itu malah salah


"Tapi nggak apa-apa kok Pa, kan ada papa. jadi Papa bisa ngajarin aku main mainannya" jawab Junior cepat


Kembali Alexander menoleh kearah Sania


"Kecerdasan anak diwariskan dari ibunya, dan aku yakin kecerdasan anakku ini berasal dari Sania" batin Alexander sambil masih menatap kearah Sania


"Ayo papa kita masuk, aku mau mendengar cerita tentang opa"


Alexander kembali menoleh kearah mami Ajeng dan Sania yang masih berdiri di dekat pintu. Dan sejak tadi mami Ajeng sebagai tuan rumah belum sama sekali menyapa Alexander walau Alexander telah berusaha ramah terhadapnya


"Disini saja sayang" jawab Alexander karena tidak mendapatkan jawaban dari dua perempuan yang masih berwajah datar terhadapnya


"Nggak mau!, pokoknya nggak boleh!. Papa harus masuk. Papa dari jauh dan aku yakin papa pasti capek"


Sania menarik nafas panjang ketika mendengar Junior berkata dengan nada tinggi


"Papa tidak capek. Capek Papa hilang begitu ketemu kamu"


Junior tersenyum kemudian dia membalikkan tubuhnya dan kembali memeluk leher Alexander


"Sayang Papa...."


Alexander membalas dekapan Junior dan kembali dia menatap kearah Sania yang memandang tak suka kearahnya yang tengah mengusap-usap punggung Junior


"Papa, telpon opa. Aku mau ngomong sama opa" ucap Junior ketika dia melepas dekapannya


"Sayang, tadi kamu bilang papa capek. Jadi biarkan papa istirahat dulu, ya?"


Alexander langsung mengangkat kepalanya demi didengarnya suara mami Ajeng


"Kalau begitu papa masuk sama aku!" Junior yang merosot dari pangkuan Alexander segera menarik tangan Alexander yang terpaksa mengikuti langkah kaki anaknya tersebut


"Maaf...." lirih Alexander ketika akan melewati Sania dan juga mami Ajeng yang menyingkirkan pundak mereka ketika Junior menarik paksa papanya


"Sayang kita mau kemana?" tanya Alexander ketika terus ditarik Junior


Dan beberapa gadis malam yang sedang duduk santai di ruang tamu dan hanya mengenakan tank top dan hot pants segera menoleh ketika mendengar suara Alexander


"Sayang kamu narik siapa?"


Baik Junior ataupun Alexander menghentikan langkah mereka dan menoleh


"Ini papa aku aunty. Aku akan bawa papa ke kamar, karena papa aku capek"


Beberapa gadis malam yang memang belum pernah melihat Alexander menelan ludah mereka ketika melihat wajah Alexander, terlebih ketika mengetahui jika itu adalah ayahnya Alexander, orang yang selama ini hanya bisa mereka dengar namanya

__ADS_1


"Sayang jangan bawa ke kamar kita!!" Sania yang masuk terburu kembali menghentikan langkah Junior dan Alexander


"Terus papa dibawa kemana kalau bukan ke kamar kita?, kamar oma?, atau kamar aunty?"


"Boleh Sayang kalau mau dibawa ke kamar aunty" jawab salah seorang wanita malam dengan cepat yang membuat Helen langsung memukul pahanya


Gadis tersebut nyengir kemudian melambaikan tangannya sebentar kearah Alexander


"Boleh kan San?" tanya gadis tersebut


Sania melengos mendengar pertanyaan gadis tersebut, sedangkan Junior menggerakkan kepalanya dengan mata terpejam


"Good idea aunty"


Mata gadis-gadis yang mendengar ucapan Junior sontak terbelalak, begitu juga dengan Sania dan Alexander


"No, tidak sayang. Kan tadi papa sudah bilang papa tidak capek"


Junior terbahak, dan gadis yang semula menawarkan kamarnya pada Junior yang saat ini telah berdiri tak jadi melangkah


"Tapi aku ingin tidur sore ditemani sama papa"


Alexander tak bisa mengelak lagi mendengar alasan anaknya, dan Sania hanya bisa mengekor di belakang mereka


Dengan ragu Alexander masuk kesebuah kamar yang saat ini pintunya sudah terbuka


"Bagaimana kamu hafal semua ini nak?"


Junior tersenyum


Alexander mengusap kepala anaknya dengan haru ketika mendengar jawaban anaknya tersebut


Junior yang sejak tadi menarik tangan Alexander segera melepaskan tangan tersebut ketika dia duduk di atas ranjang


"Ayo papa duduk sebelah aku!"


Alexander menelan ludahnya dengan bingung sambil menoleh kearah Sania yang masih memasang wajah masam kearahnya


"Mama kalau nggak suka mama boleh keluar"


Mulut Sania langsung ternganga mendengar ucapan anaknya, rasanya dia tak yakin jika kalimat yang barusan terlontar itu dari mulut anaknya


"Junior, siapa yang ngajarin kamu ngomong kurang ajar seperti itu?!"


Refleks Alexander langsung menoleh kearah Sania yang berkata dengan nada tinggi kearah Junior


"Jangan marahin anakku, disini yang salah itu aku. Bukan dia"


Sania melengos dengan wajah marah mendengar ucapan dingin Alexander


"Come on ma, jangan kaku seperti itu. Aku hanya ingin saat ini aku dengan papa, jadi aku mohon mama jangan usir papa"


Sania bergeming, tidak bereaksi mendengar lanjutan ucapan anaknya. Wajahnya masih ditekuk. Buket bunga yang sejak tadi dipegangnya diletakkannya dengan kasar di atas meja hias, kemudian Sania langsung keluar dari dalam kamar dengan wajah kesal


Sepeninggalnya Sania, Alexander segera mendekap kepala Junior. Membawanya ke dadanya, kemudian menciumi puncak kepala Junior dengan dalam


"Jangan pernah berkata kasar pada mama mu lagi nak. Mama mu adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang sangat menyayangimu melebihi nyawanya sendiri"

__ADS_1


Sania yang masih berdiri di depan pintu yang tertutup rapat mendengar jelas ucapan Alexander


Seketika kemarahan dan kekesalan yang menggunung karena kelancangan Alexander langsung menguap entah kemana


Dirapatkan nya lagi tubuhnya ke tembok untuk sekian menit, berharap jika Alexander akan mengatakan kalimat lain. Tapi ternyata harapannya tak kesampaian. Karena dari dalam dia mendengar suara Junior yang tampak sumringah dengan menyebut-nyebut kalimat opa


Dengan tersenyum kecut akhirnya Sania pergi dari depan kamarnya. Dan berusaha membiarkan anaknya berdua dengan Alexander


...----------------...


"Malam ini kamu ada bookingan" ucap mami Ajeng ketika Sania menemuinya di atas


Sania menarik nafas panjang mendengar kalimat mami Ajeng


"Bisa cancel tidak mi?"


Mami Ajeng meletakkan rokok yang sedang dihisapnya


"Karena ada Alexander?"


Sania tidak menjawab, karena dia yakin mami Ajeng pasti tahu apa alasannya. Terlebih kemarin dia juga sudah bilang jika Alexander memintanya berhenti dari pekerjaannya itu


"Tidak bisa di cancel San. Kamu tahu sendiri, yg booking kamu ini sudah menunggu jadwal sejak seminggu yang lalu"


Sania hanya bisa menarik nafas panjang kembali


"Dan kemarin mami sudah bilang deal sama orang tersebut, dan menjadwalkan kamu malam ini menemaninya"


"Tolonglah mi... Kali ini saja"


Mami Ajeng menggeleng


"Mami ingin lihat bagaimana reaksi Alexander. Tidakkah kamu ingin melihat reaksinya?"


Sania bergeming, hanya bisa menarik nafas panjang dan gelisah


"Kamu cepatlah bersiap. Orang yang menjemput kamu sudah di jalan"


Sania dengan gontai berdiri dari kursinya lalu berjalan keluar dari dalam kamar mami Ajeng


Dan ketika berdiri di depan kamarnya, jantung Sania tiba-tiba berdebar tak karuan


Setelah menarik nafas panjang sambil mengusap dadanya berkali-kali, barulah Sania dengan pelan mendorong pintu kamar pribadinya


Alexander yang tengah memangku Junior langsung menoleh dan kembali Sania bersikap seolah tak mengenal Alexander


"Mama mau berangkat kerja?"


Tangan Sania yang hendak membuka pintu lemari pakaian seketika terhenti ketika mendengar suara Junior


"Mama kalau mau kerja, kerja saja. Aku nggak takut tidur sendirian. Kan malam ini ada papa yang tidur sama aku"


Sania memejamkan matanya dengan gugup dan tak jadi mengambil baju yang akan dikenakannya


Sementara itu, hp nya yang diletakkannya di atas meja hias terus berdering, tanda panggilan dari mami Ajeng


"Selangkah saja kamu keluar dari rumah ini dan pergi dengan lelaki lain, Junior akan aku bawa pulang!!!"

__ADS_1


__ADS_2