
Sania bangun dan mengusap kasar wajahnya lalu berjalan keluar kamar.
Para gadis yang masih duduk termangu di ruang tamu begitu melihat Sania keluar langsung menatap kearah gadis muda itu
"Mau kemana dek?" tanya mereka
"Ngambil Junior kak" lirih Sania sambil mengusap kasar wajahnya dan segera naik ketangga
Tatapan sedih dari para gadis mengiringi Sania yang berjalan naik di tangga
Sampai di depan kamar mami Ajeng, Sania menarik nafas panjang lalu mulai mengetuk pintu
"Iya?"
"Sania mi..."
Mami kembali menepuk pantat Junior yang tiba-tiba tubuhnya bergerak karena suara mami Ajeng yang cukup kencang tadi
"Masuk aja San"
Pintu terbuka, dan muncullah wajah sembab Sania
Sania langsung menghambur ke pelukan mami Ajeng dan kembali menangis pilu
Mami Ajeng pun tak kuasa menahan air matanya ketika memeluk Sania, lama keduanya tak bersuara dan hanya isak tangis yang terdengar di dalam ruangan besar ini
Sania melepaskan dekapannya pada mami Ajeng lalu beralih mendekap Junior
Lama Sania menenggelamkan wajahnya ditubuh anak semata wayangnya itu, sampai bahunya berguncang dan tangannya meremas kuat seprai
Mami Ajeng membuang wajahnya karena tak tahan melihat kesedihan Sania
Air matanya yang juga mengalir deras dibiarkannya membanjiri wajah cantiknya
Tubuh Junior menggeliat dan Sania masih saja menenggelamkan wajahnya di belakang tubuh Junior seakan tak menyadari jika bayi montok itu menggeliat
Suara rengekan dari bibir mungil Junior menyadarkan kewarasan Sania jika anaknya merasa keberatan
Masih dengan berlinang air mata Sania segera mengangkat tubuh anaknya, mendekapnya dengan haru
Berkali-kali diciuminya wajah dan tangan Junior, seakan tiada puas hatinya menciumi buah hatinya
Kembali rengekan terdengar dari Junior, semula pelan tapi akhirnya berubah menjadi tangisan
"San, kata orang ikatan batin antara anak dan ibu itu kuat, mami yakin Junior menangis karena dia tahu suasana hati kamu sedang tidak baik"
__ADS_1
Sania masih saja menangis seolah tak mendengarkan ucapan mami Ajeng
Sementara Junior kian menangis kencang
"Sini Juniornya biar mami yang gendong" ucap mami Ajeng sambil segera mengambil Junior dari pangkuan Sania dan membawanya berdiri
Badan mami Ajeng sampai digoyang-goyangkannya dan berkali-kali beliau membujuk agar Junior kembali tenang
Sania yang melihat Junior kian menangis kencang, makin ikut menangis kencang pula
Mami Ajeng yang melihat ibu dan anak menangis tak urung kembali membuatnya menangis
Helen dan gadis-gadis yang lain yang mendengar suara keras tangisan Junior segera berdiri dan bergegas naik ke kamar mami Ajeng
Helen mengetuk pintu lalu mereka bergerombolan segera masuk dan kembali terhenyak ketika menyaksikan bagaimana mami Ajeng dan Sania sedang menangis
Helen dan seorang gadis segera mendekap Sania, dan kembali mereka menangis
"Yang kuat dek...." hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Helen selebihnya dia sudah terisak pula
Karena Sania, mami Ajeng dan Junior masih menangis, salah satu dari mereka berinisiatif mengambil Junior dan membawanya turun lalu dibawanya keluar
Deno yang ada diluar dengan teman-temannya segera berdiri begitu dilihat dan didengarnya suara tangisan Junior
"Junior kenapa?"
Deno menarik nafas dalam lalu segera mengambil Junior
"Sini ikut oom"
Segera dibawanya Junior masuk kedalam mobil, dan yang lain hanya memandang melongo melihat Deno keluar membawa Junior dan memasukkannya kedalam mobil
"Biarkan Deno membawanya keluar, kita semua tahu, jika Junior kesayangan kita disini"
Gadis itu mengangguk dan hanya menatap ke mobil yang menjauh
Setelah mobil keluar pagar, gadis tersebut kembali masuk. Dan pada yang ada di atas dikatakannya jika Junior dibawa Deno jalan-jalan
...----------------...
Sania yang hancur berusaha untuk tegar, walau bagaimanapun dia harus kuat karena kekuatannya adalah Junior, dan bila Junior sehat maka mental dan badannya pun akan sehat
Sambil mengasuh Junior, Sania mulai membaca artikel di internet tentang mata, bagaimana prosedur transplantasi mata dan tentu saja biayanya
Kembali Sania harus menarik nafas dalam ketika dibacanya jika transplantasi mata pada bayi agak sulit karena kornea mata bayi masih lentur dan ketebalan kornea pada bayi hanya separuh dari tebalnya kornea mata orang dewasa
__ADS_1
Dan yang paling sulit adalah mencari pendonor kornea yang bersedia mendonorkan.
Tak terasa air mata Sania kembali mengalir ketika diingatnya bahwa dia tak ada pilihan lain selain menerima takdir
Tapi dia tak menyerah, apapun akan di lakukannya asalkan Junior sembuh dan bisa melihat, walaupun dia harus mengorbankan korneanya sendiri
Masalah biaya memang menjadi beban pikirannya, tapi karena dia sudah bertekad akan terjun ke dunia malam, maka urusan biaya tak terlalu dirisaukan nya.
Dia telah bertekad jika dia akan terjun ke dunia malam demi mengumpulkan uang untuk membiayai operasi transplantasi mata Junior
"Apapun demi kamu nak, nyawa mama pertaruhkan" bisik Sania sendu sambil mengecup pipi Junior
Bak faham dengan penderitaan mamanya, Junior menggumam tak jelas sambil menggerak-gerakkan tangannya
Satu minggu selanjutnya Sania dengan ditemani mami Ajeng dan Helen kembali menemui dokter spesialis mata yang kemarin memeriksa mata Junior
"Kecanggihan alat kesehatan di negara kita tidak jauh berbeda dengan negara lain, tapi yang jadi kendalanya adalah, di bank mata, stok persediaan mata untuk transplantasi itu jarang sekali ada"
"Karena tidak semua orang itu bersedia mendonorkan kornea mereka, selama ini bank mata negara kita banyak mendapatkan sumber donor berasal dari Srilanka, Philipina, Nepal, Belanda dan Amerika Serikat"
"Dulu transplantasi kornea harus menunggu usia anak sampai 5 tahun, tapi sekarang bisa dilakukan kapan saja, bahkan pada bayi, selama kornea donornya siap,” tambah dokter tersebut
"Transplantasi kornea anak, haruslah bersumber dari kornea donor anak-anak pula. Pasalnya kornea anak jauh lebih tipis dibanding orang dewasa. Proses pencangkokan nya pun memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibanding pada dewasa"
“Karena korneanya tipis, saat dilepas lebih gampang menggulung. Setelah operasi pun masih ada penyulit, seperti kepatuhan memakai obat tetes, atau menjaga agar anak atau bayi tidak mengucek mata"
“Namun secara umum operasi transplantasi kornea adalah tindakan cangkok yang tingkat keberhasilannya paling tinggi. Risiko penolakan oleh tubuh pun minimal,”
"Setelah transplantasi, biasanya anak atau bayi bisa melihat dengan lebih terang, walau ketajamannya belum optimal. Membutuhkan terapi tambahan, berupa terapi mata malas (amblyopia) untuk mengembalikan fungsi penglihatan"
“Menggunakan teknik baru (lamellar keratoplasty), obat tetes (berisi antiperadangan dan mencegah penolakan organ) hanya perlu dipakai 3-6 bulan, dibandingkan 1 tahun jika memakai teknik yang lama (penetrating keratoplasty),” *)
"Tapi yang seperti sudah saya jelaskan diawal kita kesulitan untuk menemukan orang yang bersedia mendonorkan kornea mereka, apalagi di kasus anak ibu yang masih kecil"
"Saran saya, nanti tunggu agak besar sedikit barulah kita lakukan transplantasi"
Dengan sedih Sania mengusap kepala Junior, begitupun dengan mami Ajeng dan Helen, mereka juga tampak sedih
"Jadi selama kita menunggu ada yang bersedia mendonorkan korneanya, ibu dan keluarga bisa mengumpulkan dulu biayanya"
Mami Ajeng mengangguk setuju. Sambil mengusap punggung Sania yang hanya diam terpaku, Mami Ajeng sekalian berpamitan dengan dokter
Sesampainya mereka di mobil yang dikemudikan Helen, Sania mulai mengutarakan niatnya demi mencari biaya pengobatan Junior
"Mami, carikan orang yang mau membayar mahal tubuhku, aku akan menjual tubuhku untuk mengumpulkan biaya operasi Junior"
__ADS_1
*) sumber otcadm