
"Junior......" Dhea langsung berteriak kegirangan begitu melihat Junior yang masuk digandeng Sania
Alexander dan Mark yang ada di dalam mobil dapat melihat jelas bagaimana Dhea mendekap hangat Junior dan Sania
Jantung Alexander kembali berpacu cepat ketika dilihatnya Dhea memutar badan Junior dalam dekapannya, tampak sekali rasa sayang yang ditunjukkan oleh Dhea
"Mau aunty ajak bermain?"
Junior mengangguk, lalu tangannya yang sejak tadi di genggam Dhea kini makin mengeratkan genggamannya
"San, kalau kamu mau belanja, belanja aja, Kami di play ground" ucap Dhea
Sania mengangguk. Dan Alexander yang melihat Sania berjalan berpisah dengan Dhea dan Junior segera membuka pintu mobil
"Anda mau kemana?" cegah Mark yang langsung menarik pundaknya
"Itu anak aku Mark, dan aku harus menemuinya"
Mark kian kuat memegang bahu Alexander
"Salah sedikit saja, kacau rencana kita" Mark berkata lagi, berusaha mengembalikan logika Alexander
Alexander mengusap wajahnya dan kembali menutup pintu mobil
"Kita tunggu diluar saja, seperti janji kita pada Dhea"
Alexander terdiam, dan matanya kembali menatap kearah mall yang ramai dengan pengunjungnya itu
Sementara di dalam mall, Sania yang sedang memilih belanjaan dengan mendorong troli dikejutkan dengan seseorang yang menghentikan laju trolinya
Sania langsung terkesiap ketika melihat siapa yang menghentikan trolinya
"Nahla......"
Sania menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya tiba-tiba menegang, di depannya berdiri pak Handoyo dengan tersenyum menyeringai kearahnya
Sania menarik mundur troli yang didorongnya, berusaha menghindari pak Handoyo yang memandangnya dengan pandangan aneh
Pak Handoyo mengikuti Sania yang berjalan cepat menghindari bagian susu anak-anak, dan berjalan cepat kearah kasir
Saat Sania menoleh kebelakang, pak Handoyo masih terus mengikutinya dan itu membuat Sania kian panik, selesai membawa belanjaannya Sania segera berlari cepat keluar dari dalam mall
Gerak geriknya yang terlihat panik tertangkap jelas oleh Mark dan Alexander, sehingga membuat Alexander sekali lagi akan keluar dari dalam mobil ketika dilihatnya tangan Sania dicekal oleh lelaki paruh baya
"Aku harus keluar!!!" bentak Alexander marah pada Mark ketika kembali tangan Mark mencekal kuat bahunya
"Sudah ada security di sana!!" bentak Mark tak kalah sengitnya
"Biar saya yang keluar" akhirnya supir yang berinisiatif demi dilihatnya kedua bule yang menyewa jasanya saling bentak
Tak perlu menunggu jawaban dari Mark maupun Alexander, supir itu keluar dan berlari cepat kearah Mall dimana lelaki paruh baya sedang beradu argumen dengan security
"Anda bisa sopan tidak hah?, jika tidak saya akan melaporkan anda pada polisi" ucap supir dengan berani yang langsung menarik kerah baju pak Handoyo
Pak Handoyo berusaha keras mendorong badan supir sampai akhirnya supir pribadi pak Handoyo berlari menyelamatkan bos nya
"Awas kamu" teriak pak Handoyo marah kearah supir yang sekarang berdiri di depan Sania
Sania menarik nafas lega ketika dilihatnya pak Handoyo dan supirnya telah menjauh
"Anda tidak apa-apa?" tanya sang supir sewaan Alexander
Sania menggeleng dan mengucapkan terima kasih padanya
__ADS_1
"Perlu saya kawal?, saya khawatir pria tua bangka itu datang kembali"
Sania kembali menggeleng dan meyakinkan jika dia akan baik-baik saja
Setelah memastikan jika Sania aman, supir tadi kembali menyeberang jalan dan kembali masuk kedalam mobil
"Apa kata pria tua tadi?" Alexander segera bertanya ketika supir itu telah duduk
"Sepertinya dia pernah menjadi pelanggan wanita muda tadi"
Tangan Alexander langsung terkepal kuat
"Ikuti mobilnya dan aku akan meminta pada Dhea untuk lebih lama lagi di sana, agar aku bisa melihat anakku kembali"
Supir tadi menurut dan segera mengejar mobil yang membawa pak Handoyo. Tepat di jalan yang tidak terlalu ramai, supir tadi segera menyalip yang menyebabkan mobil yang membawa pak Handoyo ngerem mendadak
Pak Handoyo mengumpat pada supir pribadinya ketika tubuhnya nyaris jatuh
"Ada mobil yang berhenti mendadak di depan kita bos" ucap supir pribadi pak Handoyo
Supir tersebut langsung menelan ludahnya demi dilihatnya dua pemuda berpostur tinggi menjulang turun dari dalam mobil dan sekarang berjalan kearah mobil mereka
"Bagaimana ini bos?" tanya si supir dengan suara gemetar
Pak Handoyo bergeming ketika jendela kaca di sebelahnya duduk diketuk oleh Alexander
"Turun sebentar pak, ada yang ingin kami tanyakan" ucap Alexander menahan amarahnya
Dengan ragu pak Handoyo membuka sedikit kaca jendela mobil di sebelahnya duduk
"Bisa keluar sebentar pak, kami janji kami tidak akan menyakiti bapak"
Si supir menoleh ragu pada pak Handoyo
"Saya saja pak yang turun"
"Anda mengenal wanita di mall tadi?"
"Maksud bapak Nahla?"
"Nahla?"
Supir itu mengangguk
"Namanya Nahla, dia perempuan malam, dulu, dulu sekali saya pernah menjemputnya di rumah bordil mami Ajeng"
Mark dan Alexander saling toleh
"Panggilkan bos anda, saya ingin berbicara padanya" ucap Alexander
Supir tadi mendekat kejendela tempat bos nya duduk dan mengetuk pintu
Pak Handoyo membuka jendelanya lagi kemudian melongok kan kepalanya
"Mereka menanyakan tentang Nahla bos"
Pak Handoyo mengangguk lalu membuka pintu mobil dan turun
Dada Alexander seketika serasa terbakar ketika pak Handoyo berjalan kearah mereka
"Kendalikan emosi anda" gumam Mark
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Handoyo
__ADS_1
"Anda mengenal wanita di depan mall tadi?" kali ini Mark yang bertanya karena dia sudah meminta pad Alexander untuk diam dan menurutinya
Pak Handoyo tersenyum menyeringai
"Maksud anda Nahla..."
Kembali dada Alexander berdebar kencang ketika mendengar pak Handoyo menyebut nama Sania dengan nama Nahla dengan nada seperti orang horny
"Apa kalian berdua berniat membookingnya?"
Mark dan Alexander diam tidak menjawab pertanyaan pak Handoyo
"Saya adalah orang nomor dua yang memakainya" setelah berkata seperti itu pak Handoyo tertawa menyeringai
"Saat itu dia masih sangat amatiran dan berteriak ketakutan sampai saya harus membuatnya tidak sadar agar saya bisa memakainya"
Alexander kembali memejamkan matanya dan tangannya kembali terkepal kuat, tapi dia berusaha untuk tetap tenang agar pak Handoyo tidak curiga
"Setelah itu apakah anda ada membookingnya lagi?"
Pak Handoyo menggeleng
"Nahla hanya mau melayani satu orang sekali, walaupun saya berani membayar dua kali lipat tapi dia tidak pernah mau dan setelah itu dia membuat aturan bahwa dia hanya mau melayani pria di bawah umur lima puluh tahun, lebih dari itu dia tidak mau"
"Bisa kami minta alamatnya?"
Pak Handoyo menggeleng
"Nahla hanya bisa dipesan lewat aplikasi online"
Kembali Mark dan Alexander saling toleh, pantaslah mereka tidak pernah menemukannya mangkal atau di rumah bordil, rupanya dia mempromosikan dirinya lewat online
"Ini aplikasinya" tunjuk pak Handoyo tanpa menaruh curiga sedikitpun
Mark langsung mengunduh barcode yang ditunjukkan Pak Handoyo lalu setelahnya dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari hadapan pak Handoyo yang tersenyum menyeringai kearah dirinya dan Alexander
"Kita kembali ke mall tadi, dan tolong nanti kamu berhenti, kita beli topi dan masker dulu" ucap Alexander yang telah mempunyai rencana lain
Disebuah toko, supir menghentikan mobilnya dan Alexander segera turun tanpa dicegah oleh Mark. Tak lama dia telah kembali dengan memakai topi dan sebuah kacamata hitam
"Apa tidak aneh anda memakai kaca mata hitam anda pada malam hari seperti ini?" tanya Mark
"Terserahlah, yang penting Sania tidak mengenali aku"
Mark diam dan hanya menurut saja ketika mobil kembali ketempat semula, di seberang mall
Setelah mobil berhenti, Alexander turun dan merapikan topi dan mengangkat kerah jaketnya agar wajahnya tidak terlalu terlihat jelas tak lupa dia juga memakai masker di wajahnya agar dia bisa leluasa melihat anaknya tanpa dicurigai oleh Sania
Degup jantung Alexander kian berpacu cepat ketika dilihatnya Dhea bersama Junior sedang mandi bola, tak jauh dari sana berdiri Sania yang sibuk mengarahkan hpnya kearah Dhea dan Junior
Alexander berusaha mendekat dan mencoba melempar-lempar bola kearah Junior
Sania yang melihat segera mendekat dan menegurnya
"Jangan melempar bola kearah anak saya, anda bisa menyakitinya"
Alexander yang sedikit berjongkok menghentikan gerakan tangannya dan membetulkan posisi tubuhnya
"Saya hanya senang saja melihat anak anda dan tantenya" jawab Alexander dengan suara yang sengaja dibuatnya berat
Sania hanya tersenyum mendengar jawaban Alexander lalu dia segera melambaikan tangannya ketika Junior menoleh kearahnya
"Junior, sini lihat kearah mama nak"
__ADS_1
Junior menoleh, dan degup jantung Alexander kian berdegup kencang ketika untuk pertama kalinya dia melihat wajah Junior, darah dagingnya
"Junior....." lirihnya