
"Aku harus pulang!" ucap dokter Deri bergegas turun dari bukit
Dia berjalan cepat dan masuk kedalam rumah dinasnya dengan terburu, membuka lemari dan mengambil tas kecil dan memasukkan dompet
Segera dia menemui rumah kepala desa memberi tahukan jika dia ada keperluan keluarga yang tak bisa ditinggalkannya, dan berjanji akan secepatnya kembali ke desa ini
Setelah mendapat izin dari kepala desa, dokter Deri segera mencari warga yang bersedia mengantarnya keluar dari desa ini
Tak sulit untuk dokter Deri menemukan warga yang bersedia mengantarkannya
Setelah mendapatkan warga yang bersedia mengantarkannya, dokter Deri langsung naik ke boncengan dan motor langsung menembus jalan tebing dan berbatu
Medan jalan yang sulit tak menggentarkan hati dokter Deri untuk segera pulang kembali ke kota
Hingga nyaris empat jam barulah dokter Deri sampai di jalan raya dan langsung menuju terminal
Satu-satunya mobil yang akan mengantarnya ke kota ternyata telah pergi lima jam yang lalu, akhirnya pemuda yang mengantar dokter Deri mengantarkannya ke penginapan di sekitar terminal yang memang diperuntukkan bagi mereka yang datang jauh seperti mereka yang ketinggalan mobil
Dokter Deri mengucapkan banyak terima kasih pada pemuda tadi lalu masuk kedalam penginapan untuk beristirahat
Sepanjang malam dia sibuk mencari kontak teman-teman Sania bahkan melacak sosial media milik Sania yang juga sudah lama tidak aktif lagi
Dokter Deri makin frustasi, segala informasi yang dibutuhkannya untuk mengetahui keberadaan Sania seakan menemui jalan buntu
Barulah ketika menjelang dini hari, dokter Deri bisa memejamkan matanya, dan terbangun karena suara ramai terminal
Segera dokter Deri keluar dari dalam penginapannya dan berjalan menuju sebuah warung, hanya sekedar membeli kue dan kopi hangat
Tepat tengah hari, mobil yang akan membawa dokter Deri ke kota berangkat.
Enam jam selanjutnya, tepatnya saat akan menjelang malam barulah mobil memasuki terminal dan tanpa pikir lagi dokter Deri segera memanggil ojek dan minta diantar ke rumah mama Sania
Alangkah terkejutnya bu Liza ketika dia membuka pintu, telah berdiri dokter Deri di depan rumahnya
"Saya ingin mendengar langsung dari ibu" ucap dokter Deri setelah dia dipersilahkan masuk
Tak mudah bagi bu Liza untuk kembali memulai cerita tentang keadaan Sania
Kembali air matanya berlinang membasahi pipinya selama dia menceritakan tentang Sania
Dan dokter Deri makin tak percaya ketika dia melihat sendiri video yang dikirimkan pak Doni pada bu Liza
Berkali-kali dia mengusap wajahnya dan berkali-kali pula dia menarik nafas panjang
"Apa Sania bilang sama ibu, siapa lelaki yang menghamilinya?"
Bu Liza menggeleng
"Sania tak menyebutkan nama pria itu tapi Sania bilang bahwa dia sudah berusaha menemui laki-laki itu tapi tak berhasil"
Kembali dokter Deri menarik nafas panjang
"Bisakah ibu menghubungi Sania?, nomor saya diblokirnya"
Bu Liza langsung beranjak ke kamarnya, mengambil handphone lalu mendial nomor Sania
Tak lama dia menggeleng
"Tidak aktif"
Sekali lagi dokter Deri harus menelan kekecewaan.
__ADS_1
"Jika begitu aku harus pulang ke rumah sekarang, besok aku akan ke kantor pak Doni, bertanya pada beliau, siapa tahu beliau mengetahui keberadaan Sania"
Segera dokter Deri berpamitan dan langsung berjalan kejalan raya, menyetop sebuah delman yang lewat
Kurang lebih lima jam berikutnya dokter Doni telah sampai di rumahnya dan disambut bahagia dengan keluarga besarnya
Dokter Deri tidak memberitahukan pada keluarganya mengapa dia pulang mendadak, alasannya karena persediaan obat-obatannya telah menipis
...----------------...
Suasana kantor tour guide milik pak Doni sudah ramai dengan para tour guide ketika dokter Deri tiba di sana
Setelah bertanya di bagian depan, dokter Deri langsung diminta menunggu karena pak Doni sedang ada tamu
Baru setelah tamunya pergi, dokter Deri dipersilahkan masuk.
"Saya Deri, temannya Sania"
Wajah pak Doni langsung berubah kaget ketika dokter Deri memperkenalkan dirinya
"Apakah pria ini yang menghamili Sania?" batinnya
"Saya kesini mau mencari Sania, barangkali bapak mengetahui keberadaannya"
Pak Doni diam, beliau memandang lekat kearah dokter Deri
"Sania sudah hampir sebulan ini tidak bekerja di tempat kami lagi, dan saya tidak tahu dimana keberadaannya sekarang"
"Dan maaf jika saya lancang, apakah anda adalah orang yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Sania?"
Dokter Deri menarik nafas panjang, tentulah dia tahu kemana arah omongan pak Doni
"Bukan, justru saya ingin bertemu Sania karena saya ingin bertanya padanya, siapa lelaki yang telah menghamilinya"
"Mungkin karyawan saya yang lain tahu dimana keberadaan Sania, sambil berkata begitu, pak Doni telah menempelkan hp di telinganya
"Dhea kamu dimana sekarang?, bisa tidak temui bapak?"
Setelah panggilan singkat tersebut berakhir, pak Doni meletakkan hpnya
"Karyawan saya sebentar lagi kesini, dia teman akrab Sania"
Pintu diketuk dan muncullah wajah Dhea. Dhea segera mengenali Deri begitu dia melihat wajahnya
"Anda Deri kan?"
Deri mengangguk. Dhea mengulurkan tangannya, lalu mereka berkenalan
"Anda mau bertemu Sania?"
Deri kembali mengangguk dan memandang serius kearah wajah Dhea
"Beberapa hari yang lalu Sania ada menghubungi saya, tapi setelah itu saya tidak tahu lagi dimana keberadaannya karena hpnya nggak aktif saat saya hubungi lagi, bahkan kemarin saya telepon masih tidak aktif juga"
Lalu Dhea menceritakan bagaimana Sania menghubunginya karena dia diusir mamanya
Wajah pak Doni langsung berubah sedih begitu mendengar jika ibu Sania mengusirnya juga
"Semua gara-gara saya" gumamnya lirih
Dhea dan dokter Deri langsung menoleh kearah pak Doni
__ADS_1
"Sayalah yang memberitahu bu Liza jika Sania hamil, karena saat menelepon saya bu Liza mengucapkan terima kasih pada saya karena telah menaikkan jabatan Sania dan memindahkannya ke daerah lain sebagai kepala agent"
Dhea menarik nafas panjang dia yakin Sania terpaksa membohongi mamanya
Karena tak mendapatkan hasil apa-apa, akhirnya dokter Deri pergi dari kantor Pak Doni dan mencari ketempat lain, hingga ke beberapa rumah kosan yang ada di kota tersebut
Tapi hingga sore usahanya tak menemukan hasil juga. Sania masih belum bisa dia temukan
Sambil terduduk lesu di kursi di balkon rumah, dokter Deri hanya bisa menarik nafas panjang dan sesekali mengusap wajahnya
"Kamu dimana San...." lirihnya
...----------------...
Kehamilan Sania sudah makin membesar dan sekarang sudah memasuk minggu ke dua puluh empat
Berdasarkan hasil usg, kemungkinan empat belas minggu atau dua belas minggu lagi dia akan segera melahirkan
Dan sampai saat ini Sania masih tinggal di rumah dokter Anita, jarang melakukan kegiatan apa-apa, hanya melakukan pekerjaan ringan dan sesekali ikut ke rumah sakit
Tapi hari ini Sania kembali merasakan jika tubuhnya lemah dan merasakan sakit di bagian perutnya
Tapi Sania menyembunyikannya dari dokter Anita, dia tak ingin dokter Anita mengkhawatirkannya
Hingga akhirnya dokter Anita dan pak Danendra berangkat kekantor mereka masing-masing, dan tinggallah Sania sendirian
Untuk meredakan sakit di perutnya Sania memilih berbaring dan mencoba memejamkan matanya
"Belum waktunya nak kamu keluar" lirihnya sambil mengusap-usap perutnya
Kembali Sania rasakan jika janinnya menendang kuat dan itu makin membuat Sania bahagia dan tersenyum
Kembali Sania mencoba memejamkan matanya ketika dirasanya perutnya makin sakit.
Sania sudah beberapa kali meringis menahan sakit. Tapi rasa sakitnya kian menjadi
Dengan sekuat tenaga Sania mengambil hp yang terletak di dalam lemari, berniat menghubungi dokter Anita
Berkali-kali dia menelepon dokter Anita tetapi dokter Anita tak mengangkatnya, sambil terus menahan sakit Sania berpindah menelepon pak Danendra
Dia memberanikan diri menelepon lelaki itu karena sudah tak punya pilihan lain
Tersambung dan langsung diangkat
"Pak tolong aku...." hanya itu yang bisa dikatakan Sania karena setelahnya dia menjerit tertahan ketika sakit diperutnya kian menjadi
Pak Danendra yang mendengar suara Sania seperti kesakitan langsung keluar dari kantornya dan segera masuk kedalam mobil bergegas pulang
Dokter Anita yang kembali ke ruangannya tampak terkejut ketika melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Sania
Segera di teleponnya balik nomor Sania tetapi tak diangkat
Dengan panik dokter Anita segera memesan taksi online dan bergegas pulang kerumahnya
Sampai di rumah didapatinya mobilnya telah berada di garasi
"Mas Andra....?" gumamnya dengan dada yang berdegup kencang
Pikiran buruk langsung muncul di kepalanya, dengan cepat di dorongnya pintu yang tak terkunci
Dan dengan degup jantung yang kencang, dia berjalan kearah kamar tamu, kamar Sania selama ini
__ADS_1
Tas yang digenggamnya langsung terjatuh dan dokter Anita menutup mulutnya demi melihat apa yang terjadi di depan matanya