Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Berangkat Menuju Sasaran


__ADS_3

Semuanya serentak bergerak begitu mendengar teriakan lantang tuan Anton, tak terkecuali Mark dan juga Alexander. Beberapa bodyguard bahkan berlari turun melewati tangga ketika lift yang mereka nanti tak kunjung terbuka


Sebagian yang kebagian masuk lift tellah lebih dulu sampai di lantai dasar dan segera masuk kedalam mobil mereka masing-masing dan juga ada yang naik keatas motor. Bahkan bodyguard yang sengaja disewa tuan Anton dari luar negeri yang saat ini berada di luar begitu diberitahu kabar dari tuan Anton juga ikut bergerak


Dan sekarang yang tak kalah berpacu dengan waktu adalah bagian maskapai dan juga para kolega tuan Anton yang ditelepon oleh tuan Anton untuk mencarter helicopter mereka. Helicopter tuan Anton yang hanya ada satu diyakini olehnya tidak akan bisa menampung seluruh anak buahnya. Oleh karena itulah, beliau menelepon beberapa maskapai dan koleganya mengatakan jika dia membutuhkan carter helicopter sekarang juga


“Kamu pulang!. Nggak usah ikut dalam misi ini!!!”


Mark yang telah bersiap masuk kedalam mobil bersama tuan Anton menghentikan gerakan kakinya yang telah siap naik kedalam mobil. Mark mengangguk dan mundur, lalu mempersilahkan dua buah mobil mewah yang membawa tuan Anton bersama bodyguard pribadinya, dan satu buah mobil lagi yang membawa Alexander beserta ahli IT


Mark menarik nafas panjang ketika mobil sudah berlalu dari hadapannya. Kemudian dia menempelkan hp, meminta pada sekretaris Alexander untuk mereservasi tiket kepulangannya siang ini


Tak butuh waktu lama, sebuah notifikasi pesan masuk ke hp nya dari maskapai yang dipesan oleh sekretaris Alexander.


“Tiga jam lagi……” gumam Mark kesal ketika melihat bukti tiket yang dikirimkan ke hp nya


“Aku harus kemana sekarang? Tidak mungkin aku diam saja di hotel ini sementara yang lain sibuk” lanjutnya bergumam tak jelas


“Apa aku harus menemui Sania?” lirihnya sambil bergerak gelisah


Setelah diputuskan apa yang harus dilakukannya, Mark berjalan keluar dari halaman hotel bertepatan dengan sebuah taksi menghampirinya


Mark menyebutkan nama jalan menuju rumah mami Ajeng, kemudian taksi langsung meluncur sesuai dengan yang tadi dikatakan oleh Mark


Lima belas menit kemudian, taksi yang membawa Mark berhenti disebuah pagar tinggi yang tidak seorangpun akan mengira jika di balik tembok tinggi tersebut ada sebuah bangunan megah yang berisikan para gadis cantik yang setiap malam menjajakan kehangatan tubuh mereka untuk para lelaki hidung belang


Mark segera turun dari dalam mobil, dan langsung menekan bel yang ada di samping tembok. Anak buah mami Ajeng yang sedang bertugas, berlari kecil kearah depan, dan mengintip melalui kamera yang memang terpasang untuk mengintai siapa yang ada di luar


“Sepertinya lelaki itu temannya Alexander” gumam anak buah mami ketika melihat wajah Mark yang tampil di layar


Tanpa pikir panjang, dia langsung mendorong pagar besi yang juga tak kalah berat dan tingginya tersebut. Tampil wajah Mark ketika gerbang terbuka sedikit


“Bisa saya bertemu Sania. Saya Mark, anak buahnya tuan Anton” ucap Mark ketika muncul wajah penjaga yang membuka gerbang untuknya


Pria kurus tinggi itu menganggukkan kepalanya, dan memberi jalan pada Mark untuk masuk. Sania yang saat itu gelisah karena sejak tadi menunggu telepon dari tuan Anton begitu melihat melalui jendela kaca jika ada yang datang segera berdiri


“Itu tuan Mark….” Ucapnya dengan nada panik sambil berdiri

__ADS_1


Semua mata langsung bergerak menoleh keluar dan memang mereka melihat seorang pria bule berjalan di halaman


“Apa yang terjadi sehingga tuan yang datang?” songsong Sania sambil setengah berlari menuruni anak teras


Wajah Mark tetap datar tanpa senyum ketika Sania sudah berdiri di depannya. Pandangan Mark langsung menatap kearah teras dimana ada delapan wanita berdiri di sana termasuk mami Ajeng. Semua wanita itu memandang kearahnya dengan wajah tegang. Dan Mark yakin jika mereka semua juga ikut panik dengan yang terjadi


“Saya hanya ingin mampir sebentar” jawab Mark santai sambil berjalan menuju teras yang langkahnya langsung disejejari oleh Sania


“Mana tuan Anton dan Alexander?” Sania terus bertanya sambil menoleh kebelakang


Beberapa gadis yang tadi berdiri di teras sedikit menyingkir ketika Mark sudah berdiri di depan mereka


“Saya boleh duduk?” tanya Mark yang langsung dijawab mereka dengan anggukan kepala. Bahkan ada yang sampai menarikkan kursi dan mempersilahkan Mark duduk


“Tuan belum menjawab pertanyaan saya” cecar Sania ketika Mark sudah duduk


Mark menarik satu kakinya dan meletakkannya di atas pahanya lalu menarik nafas panjang ketika melihat kearah Sania. Sementara wajah Sania yang dipenuhi tanda tanya semakin tegang menanti jawaban Mark


“Mereka pergi” jawab Mark


“Kemana?”


Mark menggeleng


“Posisi Junior sudah diketahui. Dan sekarang tuan Anton beserta pasukan sedang menuju kesana. Jika kalian ada teropong, mungkin kalian bisa melihat akan ada banyak helicopter yang terbang hari ini di kota ini. Itu semua helicopter kiriman untuk pasukan yang akan menuju ke lokasi”


Sania terduduk, tubuhnya langsung di dekap dengan dua orang temannya yang segera mengusap-usap punggungnya


“Ya Tuhan, tolong selamatkan anakku. Apapun itu akan aku lakukan asal anakku selamat” lirihnya yang sudah terisak


Mark membuang wajahnya ketika melihat air mata Sania. Jujur dia sangat benci melihat air mata wanita, itu melemahkan sikap dinginnya yang selama ini terkenal dengan keangkuhan dan sikap dinginnya


“Kenapa tuan Anton tidak mengajak saya?” ucap Sania sambil mengusap kasar wajahnya


“Jangankan kamu. Saya saja tidak diajaknya” jawab Mark kesal


Para wanita malam saling toleh mendengar jawaban kesal dari Mark, terlebih wajah bulenya yang tampan juga berubah tak ramah

__ADS_1


“Kenapa?”


Sekali lagi Mark harus menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Sania


“Kantor tidak ada yang handle, oleh karena itulah saya dikirim pulang oleh tuan Anton. Tapi sialnya penerbangan saya masih lama” jawab Mark sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang membuat para wanita malam menelan ludah mereka ketika melihat jika jam tangan yang dikenakan oleh Mark seharga mobil mewah


“Terus bagaimana keadaan Junior?”


Mark menggeleng


“Tapi kalian semua yakin kan dengan kekuatan kami? Bahkan bukan bodyguard dari negeri ini saja yang dikerahkan oleh tuan Anton. Ada satu pasukan sekitar orang dua puluh sampai tiga puluh orang bodyguard bayaran internasional yang sengaja disewa oleh tuan Anton. Dan semalam mereka sudah terbang dari Amerika. Dan kemungkinan besar sekarang mereka sudah bergabung dengan yang lain.d an saya juga bisa menebak jika mereka saat ini sudah berada di dalam helicopter sewaan tuan Anton”


Kembali para wanita malam anak semang mami Ajeng saling toleh dan menelan ludah mereka. Sebagian memandang sedih bercampur khawatir tetapi di dalam hati mereka tetap ada rasa iri dengan keberuntungan yang didapat oleh Sania


Sania menggeleng mendengar ucapan Mark


“Bukannya aku tidak yakin dengan kemampuan besar yang dikerahkan oleh tuan Anton. Tapi selama beberapa hari ini, anak aku belum juga diketemukan. Dan itu semakin membuat aku khawatir. Tentu tuan sangat faham bagaimana Junior. Dia buta, dia tidak mengenal siapapun selain aku dan kami semua yang ada di rumah bordil ini. Tetapi sekarang dia harus bersama para penculik yang entah apa yang telah mereka lakukan pada anakku itu. Setiap detik itu sangat berbahaya untuk keselamatan Junior. Dan aku sangat ingin tahu siapa yang menculik anakku. Apa yang menyebabkan dia tega menculik anakku. Anakku masih kecil, dia tidak tahu apa-apa. Jika penculik itu memiliki dendam padaku, kenapa harus anakku yang dilibatkan. Dia bisa langsung menculikku dan membunuhku”


“Sania!!!” ucap mami Ajeng tercekat


Sania menoleh kearah mami Ajeng dan langsung masuk kedalam dekapan mami Ajeng dan kembali terisak


“Benar kan mi yang aku katakana. Junior tidak tahu apa-apa. Melihat saja dia tidak bisa. Jadi jika penculik itu ingin menghukumku, hukum saja aku. Jangan anakku”


Mark mendecak, niatnya kesini karena ingin bersantai dengan mengobrol dari hati ke hati dengan Sania jadi kacau dengan wanita ini yang terus menangis


Sementara di lain tempat, helicopter pribadi tuan Anton telah take off di helipad yang sudah ditentukan sebelumnya, sehingga begitu helicopter tersebut turun, Alexander besert tuan Anton dan juga ahli IT segera melompat naik


Sementara di udara, tampak puluhan helicopter terbang rendah dan siap untuk turun. Para bodyguard yang telah siap melompat naik tidak sampai menunggu helicopter tersebut menyentuh helipad, mereka langsung melompat naik dan saling mengulurkan tangan untuk membantu yang lain naik


Total telah ada lima belas helicopter yang mengudara, sehingga membuat pemandangan langit kota wisata hari ini dihiasi dengan banyaknya helicopter di udara. Tak ayal kembali hal tersebut menjadi trending topic berita local dan juga media online local


Dan seorang wanita paruh baya sejak melihat berita penculikan seorang anak di pusat perbelanjaan yang sejak beberapa lalu, setiap hari selalu duduk di depan televise dengan hp terus berada di tangannya. Tiap waktu dia selalu melihat update berita local di hp nya.


Bahkan video yang menampilkan Sania yang wajah dan kepalanya ditutupi oleh Alexander ketika mereka keluar sebentar dari dalam mall diputar-putarnya berulang kali


“Apa ini Sania. Kenapa wajahnya tidak boleh kelihatan?” sesalnya tiap kali dia melihat video tersebut

__ADS_1


Dan kembali degup jantungnya berdetak kencang ketika melihat berita televisi lokal yang menampilkan puluhan helicopter yang menghiasi kota siang ini. Segera dia belari keluar dari dalam rumahnya dan mendongakkan kepalanya ke atas langit ketika memang dilihatnya ada banyak helicopter di udara


“Siapa anak kecil tersebut. Mengapa hatiku mengatakan jika wanita di video itu adalah Sania” kembali wanita paruh baya tersebut bergumam dengan mengigit bibirnya dengan penuh rasa khawatir


__ADS_2