Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Pergi


__ADS_3

Setelah mendengarkan nasihat dan juga permintaan maaf dari pak Doni, Sania dengan sedih meninggalkan ruangan bosnya tersebut


Dhea yang sejak tadi menguping begitu Sania keluar langsung menyergah langkahnya


Sania langsung memeluk erat Dhea


"Hancur, aku hancur sekarang Dhe" ucapnya pilu


Dhea segera membawa Sania menjauh dari lingkungan kantor, membawanya ketaman kantor, duduk disebuah bangku taman


"Pak Doni mecat aku Dhe, terus sekarang aku harus tinggal dimana?, bagaimana caranya aku nyambung hidup?"


Dhea menarik nafas panjang, sedih dihatinya melihat sahabat satu kamarnya menjadi sangat hancur dan hidupnya jadi kacau seperti ini


"Aku tidak mungkin pulang Dhe, mama aku akan sangat shock jika tahu aku hamil diluar nikah, apalagi jika beliau tahu, jika calon ayah anak aku tak tahu rimbanya"


Dhea menggenggam erat tangan Sania, memberinya kekuatan semampunya


"Aku akan temui pak Doni, aku akan bicara semuanya pada beliau, aku akan jelaskan apa sebenarnya yang terjadi sama kamu"


Tangan Dhea cepat ditarik Sania, lalu dengan cepat Sania menggeleng


"Jangan korbankan masa depan kamu cuma karena aku Dhe, aku nggak ingin gara-gara kamu bela aku, kamu dipecat juga sama pak Doni"


Dhea kembali menarik nafas panjang, kembali duduk di sebelah Sania


"Tapi ini tidak adil untuk kamu San, kamu disini korban, bukan pelaku"


Sania mendongakkan sedikit kepalanya, menatap jauh sambil berurai air mata


"Sekarang itu sudah tidak penting San. Aku telah hancur"


Dhea kembali mengelus-elus pundak sahabatnya. Sania mengusap kasar wajahnya dan menghembus nafas kasar


"Aku harus pergi dari sini Dhe, tempatku bukan disini lagi" ujar Sania sambil bangkit


Dhea hanya bisa menatap kepergian sahabatnya dengan perasaan campur aduk dan wajah sedih


Sementara disudut lain ada sebuah senyum kemenangan ketika dilihatnya Sania menjauh


"Sekarang sudah tidak ada lagi sainganku untuk menjadi karyawan kesayangan pak Doni" ucapnya lirih dengan senyum penuh arti


...----------------...


Para turis yang seharusnya hari ini masih dipandu Sania, hari ini berpindah tugas menjadi kewajibannya Marsa


Kembali para turis harus beradaptasi dengan tour guide baru, padahal mereka telah merasa klik pada pembawaan luwes dan santun Sania


Sementara Sania yang pergi dari kantor segera kembali ke mess mengemasi seluruh barangnya.


Ditatapnya berkeliling kamar yang lebih setengah tahun ini menjadi tempatnya bernaung


Di susutnya air mata yang meleleh membasahi pipinya, dengan sisa ketegaran yang dimilikinya ditulisnya sebuah pesan untuk Dhea


*Dear Dhea sahabat terbaikku


Dhe, terima kasih ya atas semua kebaikan dan bimbingan kamu sama aku selama ini


Maaf aku tidak bisa membalas semua kebaikan dan jasa kamu sama aku.


Bahkan ketika aku tak disini lagi pun, kebaikan kamu satupun belum bisa aku balas


Aku cuma berdoa semoga hanya Tuhan yang bisa membalas jasa kebaikan kamu sama aku

__ADS_1


Maafin aku ya Dhe karena tidak bisa jadi sahabat yang baik untuk kamu


Maafkan aku karena telah mengecewakan kamu


Aku akan selalu mengingat kamu dimanapun aku berada


Jaga kesehatan dan jangan suka ngelayap sampai malam


Doaku selalu menyertaimu dimanapun kamu berada. Semoga cita-citamu yang ingin menikah dengan bule bisa terwujud


Jika nanti kamu telah sukses, dan bertemu denganku yang masih jadi orang biasa saja, jangan tegur aku ya Dhe


Aku nggak mau reputasi mu jadi jelek karena aku..


Karena rekam jejak masa kelamku sampai kapanpun tak akan bisa terhapus


Dhe, sebenarnya masih banyak yang ingin aku ucapkan dan sampaikan sama kamu. Tapi sepertinya kertas ini tak akan cukup menampung bagaimana rasa bahagianya aku memiliki sahabat sepertimu dan bagaimana sedihnya aku harus berpisah dengan kamu


Selamat tinggal Dhe, jangan lupa doakan aku dan calon anakku ya...


Semoga kami baik-baik saja dimanapun kami berada


Peluk cium dan sayang selalu


_Sania Permata*_


Setelah menarik nafas panjang, Sania lalu melipat kertas tersebut dan menyelipkannya di bawah bantal Dhea.


Dengan pelan ditariknya koper keluar dari kamar, menuruni tangga dan keluar dari dalam mess.


Ojol langganannya telah menunggu di luar, tepat ketika dia menutup pintu mess


Selesai memakai helm, Sania segera naik keboncengan, dan kembali menoleh kearah mess yang kian jauh tertinggal di belakang


Hari ini, dia harus merelakan pekerjaannya melayang dan juga hari ini dia harus ikhlas pergi dari tempatnya bernaung


Meninggalkan semua harapan dan mimpinya akan masa depan, mengubur semua cita-citanya, dan melupakan semua angan-angannya


...----------------...


Sementara di ibukota, Mark dan Alexander sedang mengadakan meeting dengan calon investor baru mereka


Semua berkas dan proposal yang telah disiapkan oleh Sandra sejak jauh-jauh hari tengah dibaca dan dipelajari oleh para investor asing tersebut


Sementara Sandra sibuk dengan segala berkasnya, Mark juga sibuk dengan laporan presentasinya, sedangkan Alexander sibuk mempelajari presentasi yang akan di jelaskannya pada para investor baru mereka


Mark yang melihat wajah tegang Alexander memberi kode dengan menekan telapak tangannya kebawah


"Calm down" kodenya dengan menggerakkan bibirnya


Alexander tersenyum kaku.


Setelah para calon investor selesai membaca dokumen kerja sama dan proposal yang tadi diberikan Sandra, tiba gilirannya Alexander melakukan presentasi


Yang awalnya Alexander masih nervous, dengan tatapan dan kode dari Mark akhirnya dia bisa percaya diri hingga akhirnya selesai menjelaskan secara detail kerja sama dengan baik


Applause dari para investor atas pencapaian Alexander dalam mempresentasikan langkah kerja sama membuat wajah Mark yang biasanya dingin tersenyum bangga


Begitu juga halnya dengan Alexander, ini adalah kali pertamanya dia terjun langsung dalam mempresentasikan langkah kerja kepada calon investor


Senyum lega dan bahagia mengembang di wajahnya, ditatapnya penuh dalam mata bening Mark yang menganggukkan kepala kearahnya


Dan diliriknya juga Sandra yang sejak tadi tersenyum manis padanya

__ADS_1


"Setelah ini kamu akan ku lahap" batinnya membalas tatapan Sandra


Jabat tangan hangat menandai hasil kontrak kerja sama berhasil mereka sepakati.


Kembali dengan tarikan nafas lega Alexander mengantarkan para investor asing tersebut sampai depan pintu, sedangkan Mark mengantarkan mereka sampai pintu mobil


Setelah para investor dan Mark berjalan menjauh, dengan cepat Alexander menarik Sandra


Dengan sekali tarikan, bibir ranum Sandra telah dilahapnya dengan rakus. Alexander yang sejak tadi menahan gejolak di dadanya kian kalap tatkala Sandra dengan berani menyentuh benda terlarangnya


Pintu yang dibuka oleh Mark menghentikan aksi keduanya. Mark langsung memasang wajah dingin ketika dilihatnya kelakuan gila anak bosnya itu.


Sementara Sandra dengan cepat merapihkan bajunya yang telah terangkat. Dan dengan cepat pula dia mengambil berkas dan segera keluar dari ruangan meeting tersebut


Mark mendengus kesal dan menatap marah pada Alexander yang tengah mengelap bibirnya


"Kendalikan nafsu anda, jangan sampai nafsu ini akan menghancurkan anda dikemudian hari"


Segera Mark meraih tablet yang tergeletak di meja, lalu berjalan keluar ruangan


Alexander hanya tersenyum segaris mendengar ucapan Mark. Segera diambilnya handphone miliknya yang sejak tadi tergeletak di atas meja


"Kembali keruang meeting sekarang, permainan kita baru dimulai, belum selesai"


Sandra yang baru saja masuk ke ruangannya kembali memutar tubuhnya berjalan keluar menuju ruang meeting, dimana Alexander telah siap menerkamnya


Dan dapat ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Ruangan meeting menjadi saksi bisu terjadinya pergumulan dua orang anak manusia yang tengah mereguk surga dunia.


Lenguhan dan guncangan hebat di ruangan itu mengalahkan semua kedahagaan mereka yang merasa sangat haus akan kenikmatan sesaat, sehingga mereka ingin mereguk lagi dan lagi candu cawan madu yang begitu memabukkan


...----------------...


"Kita kemana mbak?"


Sania diam saat supir ojol menanyakan tujuan mereka. Sania sendiri saja tidak tahu kemana arah dan tujuannya saat ini


Ojol berhenti di tepi jalan, dan Sania segera turun, melepas helm dan memandang celingak celinguk kanan kiri


"Atau saya antar ke terminal?"


"Terminal?" gumam Sania


Supir ojol terus memandang kearahnya dengan tatapan sama bingungnya seperti Sania.


"Kalau ke terminal, aku bisa pulang ke rumah, bertemu mama dan nggak akan bingung lagi kemana tujuanku, karena sudah pasti tujuanku adalah rumah" batinnya


"Boleh deh mas antar saya ke terminal"


Supir ojol itu mengangguk, lalu kembali memberikan helm pada Sania.


Lima belas menit berikutnya Sania telah sampai di terminal. Setelah membayar ongkos pada supir ojol, Sandra berjalan menuju loket, berniat membeli tiket untuk pulang ke rumah mamanya


Setelah tiket ada di tangannya, Sania duduk di kursi yang ada di loket, termenung sendiri bahkan tanpa sadar air matanya mengalir di pipi


Bus tujuan Sania akan berangkat pukul lima sore nanti, itu artinya, Sania memiliki waktu yang lama untuk menunggu


Diselanya menunggu, iseng Sania membuka handphone melihat foto dirinya dan juga teman-temannya semess


Dan kembali tanpa sadar air matanya jatuh ketika teringat bagaimana semua temannya itu mencemooh dan mengatainya


"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, tidak ada masalah yang tak ada solusinya"


Sania mengusap kasar wajahnya, lalu menoleh pada perempuan dewasa yang memiliki wajah cantik yang tiba-tiba telah berada di sebelahnya

__ADS_1


__ADS_2