
Mark segera mendekat kearah Dhea yang wajahnya tampak memucat berusaha menepuk bahu gadis itu
"Serahkan semuanya sama saya, bisa saya pastikan jika nanti para bodyguard itu tidak akan menyakiti Sania, apalagi Junior"
Dhea hanya mengangguk cepat dan kembali duduk dengan lemas
"Apa saya boleh pulang tuan Mark?"
Mark melihat jam di pergelangan tangannya kemudian mengangguk
"Maaf nyonya, saya izin pulang" ucap Dhea takut-takut kearah maminya Alexander yang wajahnya masih tampak suram
"Oh, terima kasih ya karena kamu telah mau menunggui anak saya" jawab nyonya Emma sambil memegang lengan Dhea
Dhea mengangguk dan berusaha tersenyum, dan tuan Anton juga melakukan hal yang sama seperti istrinya, dia ikut menjabat tangan Dhea walau tidak mengucapkan kata sedikitpun karena beliau masih menahan amarahnya
"Mark, kamu antar gadis ini, ini sudah malam" ucap pak Anton ketika dilihatnya Mark bergeming ditempatnya
Mark mengangguk cepat lalu berjalan bersebelahan dengan Dhea. Setelah keluar dari dalam rumah sakit, Dhea dengan cepat mengambil hp dalam tasnya dan berniat menghubungi Sania
"Pesanlah dulu taksi online, nanti nelpon Sania nya" ucap Mark yang membuat Dhea kaget karena bule di depannya ini faham apa yang akan dilakukannya
Dhea tak menjawab melainkan tampak menelepon
"Bli, jemput saya di rumah sakit pusat ya, sekarang" ucap Dhea
"Taksi online?"
Dhea menggeleng
"Ojek langganan saya"
"Kenapa tidak pakai mobil saja, ini kan sudah malam"
"Pakai ojek jauh lebih cepat ketimbang naik mobil" jawab Dhea yang membuat Mark mengangkat bahunya
Karena ojek yang ditunggu masih diperjalanan, Dhea dan Mark memilih duduk di kursi yang ada di luar rumah sakit ini
"Apa sampai saat ini anda belum tahu tempat tinggal Sania?"
Dhea kembali menggeleng
"Sania sama sekali tidak memberitahuku dimana dia tinggal, mungkin karena dia tak ingin aku tahu pekerjaannya"
"Tapi kan kamu sudah tahu pekerjaannya" jawab Mark cepat
"Iya saya tahunya kan belum lama ini, tapi walau saya sudah tahu, tetapi Sania masih tidak mau memberitahu saya tuan"
__ADS_1
Mark hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban Dhea, lalu keduanya diam sampai akhirnya Dhea berdiri karena ojek jemputannya datang
"Tolong jangan sakiti Sania lagi...." ucap Dhea sendu sebelum dia naik keatas motor
Mark mengangguk
"Saya janji, saya nanti akan ikut para bodyguard itu"
Dhea menarik nafas panjang lalu dia naik keatas motor dan motor pun segera melaju
Setelah jauh dari rumah sakit, Dhea segera mengambil hpnya dan menghubungi Sania
Berkali-kali dia menelepon nomor sahabatnya itu, tapi nomor Sania tidak aktif
Akhirnya Dhea mengetik sebuah pesan
Gawat San, orang tuanya Alexander ada di sini, dan dia sekarang menyuruh bodyguard bayaran dari ibukota untuk kesini dan mencari orang yang telah menghajar Alexander
Lalu pesan tersebut segera dikirimnya tapi masih centang satu, dan itu artinya belum terkirim apalagi terbaca oleh Sania
Sekitar tiga puluh menit barulah ojek yang membawa Dhea sampai di mess tempatnya bekerja.
Begitu sampai di kamarnya kembali Dhea berusaha menghubungi Sania, dan dia menggeram kesal karena nomor Sania masih juga tak aktif
"Ya ampun San, kamu dimana sih?, tahu nggak sih kamu kalau kamu itu sedang dalam bahaya....." gumam Dhea sambil menggigit kukunya dan berjalan mondar mandir dengan gelisah
...----------------...
Nyonya Emma menatap penuh harap pada mereka semua ketika suaminya memberi arahan
"Saya tidak mau tahu, malam ini juga kalian bawa orang yang telah memukuli anak saya, baik dalam keadaan hidup maupun mati"
Mark menelan ludahnya mendengar ucapan marah tuan Anton. Sedangkan kesembilan bodyguard berbadan tinggi besar itu mengangguk pasti
"Mark, bawa supir sewaan kalian, karena dia yang tahu tempatnya"
Mark hanya bisa mengangguk dan segera berjalan kearah ruangan Arya dimana pria itu tampak pulas tertidur
Mark jadi bingung sendiri, tak mungkin dia membawa Arya dalam keadaan begini, tapi jika dia tidak membawanya siapa yang akan tahu dimana keberadaan Sania
Dengan pelan Mark berjalan kearah brankar dimana Arya tampak sedikitpun tidak terganggu dengan kehadirannya
"Arya.... Arya....." bisik Mark pelan
Arya membuka matanya dan tampak kaget ketika dilihatnya Mark berada di dalam kamarnya
"Kenapa tuan, apa ada hal buruk menimpa tuan Alexander?"
__ADS_1
Mark menggeleng
"Bodyguard bayaran tuan Anton telah sampai dan sekarang mereka sedang dibriefing oleh tuan Anton, bisa tidak kamu menunjukkan lokasi rumah bordil tempat Sania?"
Arya mengangguk cepat
"Bisa tuan, saya hafal jalannya karena saya dua kali kesana"
"Kamu cukup sebutkan saja alamatnya, saya akan menggunakan Google map untuk melacaknya" jawab Mark
Arya lalu menyebutkan nama jalan tempat Sania tinggal lalu dengan cepat Mark mengetikkan alamat tersebut di hpnya yang tak lama setelah itu langsung muncul peta alamat tujuan yang tadi diketik Mark
Lalu Mark menunjukkan pada Arya
"Benar tuan, di sini alamatnya, saya masih ingat nama warung yang ada di sebelah jalan menuju lorong tempat Sania" jawab Arya sambil menunjuk nama sebuah tempat yang terdeteksi di google map tersebut
"Terima kasih, dan kamu bisa istirahat kembali" ucap Mark sambil menepuk pelan punggung Arya
Secepatnya Mark keluar dari ruangan perawatan Arya dan langsung berjalan kearah tuan Anton yang masih memberi instruksi pada para bodyguard tersebut
"Bagaimana, supir itu bisa?" tanya tuan Anton cepat ketika dilihatnya Mark hanya berjalan sendiri
"Saya sudah mendapatkan alamatnya dari Arya, tuan" jawab Mark sambil menunjukkan hpnya pada tuan Anton
"Tunggu apalagi?, segera bergerak kalian!!" ucap tuan Anton pada kesembilan bodyguard tersebut
"Siap bos!!!" jawab mereka dengan suara berat
Mark langsung berjalan bersama kesembilan pria besar itu, berjalan masuk kedalam lift dan dengan cepat sudah sampai di halaman parkir rumah sakit dimana telah ada dua buah mobil menunggu mereka
"Thanks bro" ucap salah satu dari bodyguard itu sambil meninju pelan lengan seorang pria yang keluar dari dalam mobil hitam yang akan membawa kesembilan bodyguard itu
"Berbagi, kita langsung bergerak!" ucap lelaki besar tadi yang sepertinya adalah ketuanya
Segera Mark bersama kedelapan bodyguard yang lain berbagi masuk kedalam dua buah mobil yang supirnya segera melajukan mobil menembus jalan raya yang mulai sepi
Mark yang duduk di sebelah supir yang juga tampak berwajah angker menyebutkan nama sebuah jalan dan menyebutkan sebuah tempat yang dijawab pria itu dengan anggukan kepala
"Itu rumah bordil, serius kita mau kesana?" tanya pria itu heran
Mark mengangguk tanpa memberikan alasan mengapa rumah bordil yang akan mereka datangi
Mobil yang membawa Mark melaju cepat begitu juga mobil yang ada di belakangnya, sehingga satu jam berikutnya mobil telah sampai di depan gerbang rumah mami Ajeng
"Biar saya yang turun!" ucap pria tadi yang langsung turun dan tampak membunyikan bel yang ada di sebelah tembok tinggi
Pengawal mami Ajeng yang berjaga tidak menaruh curiga sedikitpun, karena dia telah biasa membukakan gerbang ketika para wanita malam rumah bordil ini pulang
__ADS_1
Ketika pintu gerbang dibuka sedikit, lelaki tadi tampak berbicara dan masih tanpa curiga penjaga itu segera melebarkan gerbang
Setelah gerbang terbuka lebar, dengan cepat lelaki tadi melajukan mobilnya diikuti dengan mobil dibelakangnya