Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Memecat Sandra


__ADS_3

"Pulang?" tanya nyonya Emma tercekat


Sania tidak memperdulikan bagaimana perubahan raut wajah wanita cantik itu, dia terus saja memegang tangan dan bahu Junior dengan kencang


"Tapi pengobatan mata Junior baru akan di mulai San" tambah nyonya Emma


"Tidak nyonya, Junior anak saya. Jadi sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mengobatinya"


Alexander dan tuan Anton menggeleng mendengar ucapan Sania. Sementara dokter hanya berdiri mematung dengan raut wajah bingung


"Kita pulang nak"


Sambil berkata begitu Sania memutar tubuh Junior dan membawanya keluar dari dalam ruangan tersebut


Nyonya Emma segera berjalan menyusul, tapi tangannya dengan cepat ditarik oleh Alexander


"Biarkan mi, jangan dihalangi"


Nyonya Emma menggeleng


"Tapi Lex?"


"Sania adalah satu-satunya orang yang paling berhak terhadap Junior"


Tuan Anton tidak setuju dengan ucapan Alexander, segera dia menarik gerendel pintu lalu berlari menyusul Sania yang saat ini berjalan dengan tetap merengkuh bahu Junior


"Sania...?!"


Sania tidak menghentikan langkahnya, dia terus mempercepat langkahnya sehingga Junior kesulitan mengimbangi langkahnya


"Sania berhenti!, Junior!"


Junior menarik tangan Sania dan setengah merengek


Sementara di ruangan dokter, Alexander segera terduduk lemas di sofa. Menunduk dalam dengan wajah sedih


"Sania!!!!" Tuan Anton menarik kasar bahu Sania sehingga membuat gadis itu berhenti dan menoleh kearah tuan Anton


"Tolong jangan halangi kami tuan Anton, saya tahu anda sangat menyayangi Junior seperti cucu anda sendiri, tapi cukup tuan. Tugas kami sudah selesai"


"Anak anda sudah sadar dan sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala, jadi tidak ada alasan bagi anda untuk menghalangi kami lagi"


Tuan Anton menggeleng


"Saya tidak akan pernah menghalangi kamu dan Junior untuk kembali ke rumah nyonya Ajeng, tapi saya mohon nanti kalian kembali setelah Junior sembuh"


Sania menggeleng


"Saya sudah bilang tadi tuan, Junior anak saya dan akan menjadi tanggung jawab saya. Terima kasih atas kebaikan tuan, tapi saya minta maaf, saya tidak bisa menerima kebaikan tuan"


Nyonya Emma dan Alexander yang juga telah sampai di dekat Sania hanya bisa memandang dengan wajah sedih


"Junior anak saya San. Kamu harus ingat itu" lirih Alexander


Sania melengos mendengar ucapan Alexander sambil tersenyum getir

__ADS_1


"Anak?, itulah yang selama ini aku sesalkan Alexander"


"Maafkan saya Nyonya, tuan. Saya harus pulang sekarang. Penerbangan saya dua jam lagi dan saya tidak ingin ketinggalan pesawat, jadi saya sekarang juga harus pergi dari sini"


Tuan Anton hanya bisa mengusap wajahnya dan menarik nafas panjang dengan wajah sedih melihat Sania kembali membawa Junior menjauh


"Kamu tidak akan sanggup membawanya keluar negeri!!!" teriak nyonya Emma yang membuat Sania sontak menghentikan langkahnya dan memutar kembali badannya


"Saya memang tidak kaya raya seperti anda nyonya, tapi saya punya uang untuk membawa Junior keluar negeri" jawab Sania yakin


"Jika memang kamu mampu, kenapa tidak selama ini kamu membawa Junior berobat, mengapa sampai Junior sebesar ini Junior masih buta?"


Sania menelan ludahnya mendengar jawaban menohok nyonya Emma


"Itu karena memang aku yang tidak mau Oma" jawab Junior membela mamanya


Alexander terkesiap mendengar jawaban Junior


"Sekecil ini tapi dia sudah membela mamanya dan menunjukkan betapa sayangnya dia dengan mamanya" batin Alexander dengan hati trenyuh


"Anda benar nyonya, saya memang tidak mampu, karena itulah hingga sebesar ini Junior masih belum juga saya bawa operasi, tapi kalian tidak usah khawatir, sepeser pun saya tidak akan meminta bantuan dari kalian"


"Ayo nak, kita tinggalkan mereka. Oma Ajeng dan aunty Helen sudah menunggu kita di rumah" ucap Sania sambil mengusap kepala Junior


Junior mengangguk, lalu ikut melangkah bersama mamanya


"Alexander hentikan mereka!, Junior itu anak kamu!!!" teriak nyonya Emma


Alexander bergeming, begitu juga dengan tuan Anton. Dan nyonya Emma yang melihat suami dan anaknya hanya berdiri mematung hanya bisa menarik nafas panjang


Sementara Sania yang telah berada di luar rumah sakit, segera menghentikan sebuah taksi dan meminta diantar ke bandara


"Kenapa kita pergi ma?"


Sania tidak menjawab melainkan hanya menarik nafas panjang


"Papa bilang, aku adalah anak papa. Darah daging papa. Papa bilang jika papa tidak akan pernah meninggalkan kita lagi, tapi kenapa malah papa tidak ikut dengan kita ma?"


Kembali Sania tidak menjawab melainkan terus mengusap kepala Junior


"Opa juga bilang, jika opa sangat menyayangi aku, tapi kenapa kita malah meninggalkan opa, ma?"


Kali ini Sania bereaksi mendengar kalimat Junior


"Tidak ada manusia di dunia ini yang sangat menyayangi kamu kecuali mama nak"


Junior diam mendengar ucapan mamanya. Dia kembali menempelkan kepalanya di dada Sania


"Mama sangat menyayangimu nak, apapun akan mama lakukan untukmu, kamu adalah kekuatan mama. jadi tolong jangan pernah berfikir untuk meninggalkan mama"


Junior mengangkat kepalanya kemudian menggeleng


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mama, sampai kapanpun"


Sania segera merengkuh kembali Junior kedalam dekapannya. Dan air mata langsung mengalir di wajahnya, sementara Alexander yang melihat dari balik tiang hanya bisa menarik nafas panjang dengan wajah sedih

__ADS_1


"Aku biarkan kamu pergi hari ini Sania. Tapi tidak suatu hari nanti. Aku bersumpah, aku akan membawa kamu dan Junior ke rumah kita"


Sementara announcement yang berbunyi membuat Sania berdiri dengan kembali memegang bahu dan tangan Junior


Hati Alexander seketika langsung hancur berkeping-keping ketika Sania dengan pasti berjalan meninggalkan waiting room


Alexander segera berlari kearah jendela kaca untuk melihat bagaimana Sania yang saat ini sudah berada di landasan pesawat


Dan hatinya kian remuk redam ketika pesawat mulai merangkak naik.


Cukup lama Alexander terduduk di waiting room dengan wajah sedih. Sampai akhirnya dia segera berdiri dan berjalan cepat menuju parkiran


Dilarikannya mobil suv mewahnya dengan kecepatan tinggi. Dan ketika sampai di perusahaan yang nyaris satu bulan ini ditinggalkannya, Alexander segera turun


Seluruh karyawan yang sedang beristirahatlah segera menghentikan aktifitas obrolan mereka ketika melihat Alexander masuk


Segera mereka berdiri dan sedikit menundukkan kepala mereka ketika Alexander melewati mereka


Sedikitpun Alexander tidak melirik kearah mereka apalagi menoleh. Dia hanya fokus berjalan cepat kearah lift


Dan langsung menekan angka lantai ruangannya. Yang tak berapa lama berselang pintu lift terbuka dan kembali Alexander berjalan cepat


Sepanjang berjalan menuju ruangannya, Alexander melepas dasinya kemudian membuangnya ke sembarang tempat, kemudian dia juga melepas jasnya dan menentengnya


BRAKKKK!!!


Mark yang sedang fokus bekerja kaget bukan kepalang ketika pintu ruangannya di dorong kasar seseorang


"Hei, what's wrong?"


Mark segera berdiri lalu merengkuh Alexander. Menepuk-nepuk bahu anak bos nya tersebut


Diluar prediksi Mark, Alexander yang saat ini sedang didekapnya terisak.


Mark yang semula menepuk-nepuk bahu Alexander menghentikan gerakan tangannya, kemudian membawa Alexander duduk


Dibiarkannya untuk beberapa saat Alexander meluapkan emosinya. Sampai akhirnya botol mineral yang tadi diletakkannya diraih oleh Alexander


"Anakku hari ini pulang" lirih Alexander dengan nada tercekat


Mark diam menantikan kelanjutan cerita Alexander. Dan dia tampak sangat serius mendengarkan semua cerita Alexander


"Aku harus menemui Sandra!" geramnya sambil berdiri


Mark bergeming melihat Alexander keluar dari ruangannya dan hanya bisa menarik nafas panjang


BRAKKK!!!


Sandra yang sedang mengobrol dengan seseorang melalui panggilan video segera memutar kursinya begitu pintu ruangannya didorong dengan kasar


"Tuan.....?" ucapnya tercekat


Segera hp diletakkannya di atas meja dan dia langsung menelan ludahnya dengan ketakutan


Karena dilihatnya dengan jelas jika wajah Alexander sangat angker menatap kearahnya

__ADS_1


"Keluar kamu dari kantor saya detik ini juga!!!!" teriak Alexander


Mata Sandra serasa hendak keluar mendengar teriakan kencang Alexander yang memerintahkannya untuk keluar dari kantor saat itu juga


__ADS_2