Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Serangan


__ADS_3

Tanpa disangka, ketika mobil berhenti, seluruh yang ada di dalam segera turun dan membuat penjaga yang membuka gerbang tadi kaget bukan kepalang


"Hei kalian mau apa?" ucapnya tercekat ketika melihat sepuluh orang berbadan kekar berjalan menuju rumah mami Ajeng


Pertanyaan lelaki tersebut tak dihiraukan mereka, mereka terus berjalan menaiki tangga


Penjaga tadi berusaha menghalangi sambil berteriak memanggil teman-temannya yang berlari kearahnya


"Berhenti!!!" teriak mereka


Diantara enam orang pengawal rumah mami Ajeng ada Deno, dan Deno yang mencium bau peperangan segera berusaha semampunya berlari cepat menuju depan pintu rumah mami Ajeng dan dengan kedua tangannya dia menghalangi pintu tersebut


"Arrggghh...." hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Deno ketika sebuah tangan besar menyambar lehernya


Lima penjaga yang lain yang juga berusaha menghalangi saat ini telah baku hantam dengan para bodyguard yang dengan mudahnya membuat mereka tumbang


Bahkan tiga orang pengawal mami Ajeng yang berbadan besar yang kemarin memukuli Alexander kini telah berada di atas tanah dengan leher yang diinjak kasar oleh tiga bodyguard


"Saya yakin, kalianlah orang yang telah menganiaya anak bos kami" ucap ketua bodyguard tersebut sambil mengangkat salah satu penjaga mami Ajeng yang nyaris mati karena lehernya diinjak keras


"Cepat buka pintu ini!" bentaknya


Deno dan kawan-kawannya bergeming, mereka ketakutan dan gamang


Jika pintu ini dibuka, bisa dipastikan jika rumah mami Ajeng akan hancur oleh mereka, tapi jika tidak maka nyawa merekalah taruhannya


Karena keenamnya hanya bergeming, emosi kesepuluh bodyguard tersebut kembali tersulut. Kembali dengan membabi buta mereka memukuli Deno dan teman-temannya


Deno dan yang lain hanya bisa berteriak gaduh dan meraung kesakitan dan meneriakkan agar mami Ajeng jangan membuka pintu ini


"Mami jangan buka pintunya!!!" teriak mereka lantang tepat disaat mami Ajeng dan penghuni bordil berlarian ke arah pintu karena mereka penasaran mendengar suara gaduh di depan


Sania yang saat itu tengah terlelap pun terlonjak kaget demi mendengar suara teriakan amarah dan gedoran keras di depan pintu


"Buka pintunya, jika tidak rumah ini akan kami bakar!!!!"


Mami Ajeng dan kelima perempuan wanita malam termasuk Sania kaget dan menggigil ketakutan


"Buka atau kalau tidak enam pengawal yang saat ini sedang bersama kami akan mati semua!!!" kembali terdengar suara teriakan keras


"Bro, tidak begini caranya, kita bisa selesaikan baik-baik!!" teriak Mark yang jelas didengar oleh Sania


"Persetan dengan omongan anda, anda bukan bos kami, bos kami adalah Tuan Anton Louise!!!"


Mata Sania langsung terbelalak


"Anton Louise?" gumamnya dengan bibir gemetar


"Berarti orang di depan adalah suruhannya keluarga Alexander!" gumamnya lagi dengan tercekat


Mami Ajeng kian panik, begitu juga dengan empat gadis yang lain

__ADS_1


"Bagaimana ini mi?" tanya Hellen dengan kaki gemetar saking ketakutannya


Mami Ajeng diam tak menjawab karena dia sendiri bingung harus berbuat apa


DORRR!!!!


"Awwwww.....!!!" refleks semua wanita yang ada di dalam berteriak kencang ketika mendengar suara letusan di depan


Junior yang tengah terlelap sampai terbangun mendengar suara teriakan kencang, dia terlonjak dan segera turun dari atas ranjang


"Mamaaa...." teriaknya


Refleks Sania berlari kearahnya dan mendekapnya dengan kaki bergetar ketakutan


Junior langsung meletakkan tangannya di dada Sania


"Degup jantung Mama berdetak sangat kencang, begitu juga dengan aliran nafas mama, terdengar memburu dan ketakutan, denyut nadi mama juga berdenyut sangat cepat"


Sania tak memperdulikan ocehan Junior, segera dia kembali membawa Junior masuk ke kamar mereka


"Kamu tetap disini sayang ya, jangan keluar apapun yang terjadi. Pokoknya kamu harus tetap di dalam!"


Junior menggeleng dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh Sania


"Tapi apa yang terjadi diluar Ma?"


Sania kembali tak menjawab, nafasnya kian memburu panik ketika kembali terdengar suara letusan tembakan di luar dan kali ini diikuti oleh teriakan histeris di luar, bukan hanya dari sesama temannya dan mami tapi juga suara teriakan kesakitan dari orang yang ada di luar


"Mama siapa itu?, kenapa dia berteriak marah?"


Sania kembali tak menjawab dan dia tidak punya pilihan lain selain mengurung Junior di kamar sendirian


"Mama.....!!!!!" Junior berteriak histeris ketika mengetahui jika mamanya mengurung dirinya di dalam


Suara gedoran di pintu telah berubah menjadi semacam tendangan


Dan mami Ajeng kian panik, sementara gadis-gadis yang lain


mulai menangis


"Biar saya yang menemui mereka mi, mereka mencari saya" ucap Sania kembali dengan suara yang masih bergetar karena ketakutan


Mami Ajeng menggeleng


"Mi, jika aku tidak keluar maka rumah ini akan hancur, dan pengawal diluar pasti akan semakin tertekan"


DORRRR.....!!!"


"ARRGGGHHH......!!!


Kembali terdengar teriakan kencang seperti kesakitan di luar yang membuat seluruh yang di dalam kembali ikut berteriak histeris penuh ketakutan

__ADS_1


"Jangan sakiti yang lain, aku akan keluar!!!!" teriak Sania lantang


Tangannya yang gemetar tampak susah payah ketika membuka kunci pintu


Dan masih dengan gemetar dibukanya pintu. Mami Ajeng dan empat gadis yang lain telah menjauhi pintu dan melihat takut-takut kearah pintu dimana mereka lihat dengan jelas ada empat lelaki besar berdiri di depan pintu


"Jangan ada satupun yang menyakiti perempuan di dalam!!!!" teriak Mark yang berusaha berdiri di depan pintu


Bughhh!!!


Sebuah pukulan melayang tepat ke wajah Mark yang membuat pria bule itu langsung tersungkur


"Aku yang kalian cari!!!" ucap Sania lantang dengan suara bergetar


Empat pria yang masuk mematung, mereka mengedarkan pandangan pada ruangan yang temaram


"Hidupkan lampu!!!!" bentak salah satu dari mereka yang membuat mami Ajeng terlonjak dan berjalan cepat kearah saklar lampu


Setelah ruangan terang benderang, dapat mereka lihat jika di dalam ruangan ini ada enam orang wanita


"Siapa diantara kalian yang bernama Sania?" kembali salah satu dari mereka bersuara


"Tidak seperti itu perintah tuan


Anton!!!!" teriak Mark lantang dan menarik bahu pria yang tadi bertanya


Kembali dengan mudahnya tangan Mark bisa dicekal oleh orang tersebut dan sekarang dipelintir nya


"Jangan kacau kan tugas kami!!!" geram lelaki angker tersebut


Sania yang berdiri ketakutan kian menggigil ketika dilihatnya Mark tak bisa berbuat apa-apa kecuali meringis kesakitan


"Anda yang bernama Sania?!" kembali lelaki itu berbicara dan berjalan mendekat kearah Sania


"Tolong jangan sakiti mereka, mereka tidak bersalah!!!" kembali Mark berteriak dan berusaha melindungi Sania yang hampir saja dapat dicekal oleh lelaki itu


"Anda lihat sendirikan bagaimana keadaan anak tuan Anton, masih anda bilang jangan sakiti mereka???! lelaki itu membentak keras Mark


"Kamu ikut kami!!!" ucap lelaki itu kembali dengan langsung menarik paksa Sania yang tak mampu berbuat apa-apa


"Lepaskan dia!!!!" kembali Mark berusaha melepaskan tangan Sania dari cengkraman lelaki itu


Langkah Mark sontak terhenti ketika sebuah pistol langsung mengarah kearahnya dari bodyguard yang lain


"Tetap di tempat atau anda akan mati!!!"


Sania yang mati ketakutan menoleh kearah Mark


"Ini urusan saya, akan saya selesaikan sendiri"


Lelaki yang tadi mencengkeram tangannya tersenyum menyeringai dan kembali menarik kasar Sania keluar dari dalam rumah bordil tersebut

__ADS_1


__ADS_2