
Lima bodyguard yang tersisa di kota wisata, segera berbagi tugas. Ada yang menunggui Mark dan Arya di rumah sakit ada juga yang memantau keadaan rumah mami Ajeng sesuai dengan perintah tuan Anton.
Sementara setelah kejadian malam itu, keadaan di rumah Mami Ajeng kembali kondusif. Terlebih karena tuan Anton telah datang dan mami Ajeng juga telah memberikan keterangan.
Dan Sania langsung menelpon Dhea ketika tuan Anton pulang dari rumah Mami Ajeng untuk memberitahu pada Dhea tentang keadaan dia dan Junior.
"Syukurlah San kalau kamu dan Junior tidak apa-apa karena aku sudah sangat khawatir. Berkali-kali akan menelpon mu tapi nomormu tidak aktif".
Sania tersenyum mendengar jawaban Dhea.
"Orang tua Alexander memang mengirim banyak Bodyguard ke rumah mami Ajeng, para pengawal mami Ajeng sempat mereka lumpuhkan sampai aku dan Junior mereka bawa kabur".
Dhea serasa berhenti bernafas mendengar ucapan yang dikatakan Sania.
"Apakah mereka menyakiti kalian berdua?".
Sania menarik nafas panjang kemudian menggeleng
"Tidak Dhe, mereka memukulku ketika aku memaksa keluar dari dalam mobil ketika mereka membawa paksa Junior, tapi setelah aku dan Junior di bawa ke markas mereka, semuanya malah berubah diluar prediksiku".
"Maksudnya?" tanya Dhea.
Lalu Sania menceritakan semua Bagaimana perlakuan Tuan Anton kepadanya dan juga pada Junior ketika pertama kali mereka bertemu. Bahkan Sania juga menceritakan Bagaimana Tuan Anton menangis ketika melihat wajah Junior dan mengetahui jika Junior adalah anaknya Alexander.
Dhea sampai menitikkan air matanya mendengar semua cerita dari Sania dan dia menangis haru.
"Terus, apa yang akan kamu rencanakan selanjutnya San?" tanya Dhea.
Sania menarik nafas dalam kemudian menjawab pertanyaan Dhea
"Aku tidak merencanakan apapun Dhe, biarlah semua berjalan seperti biasanya".
"Dan Apakah kamu yakin dengan ucapan yang dikatakan tuan Anton?" tanya Dhea ragu.
Sania menggigit bibirnya mendengar pertanyaan dari Dhea, kembali pikirannya berkecamuk. Dan tiba-tiba rasa cemas kembali menyelimuti hatinya.
"Tapi aku lihat tatapan mata Tuan Anton sangat teduh ketika melihat Junior, aku yakin laki-laki seperti Tuan Anton tidak akan mengingkari apa yang dia katakan. Karena dia sendiri berkata bahwa aku bisa memegang semua ucapannya" jawab Sania berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Dhea menarik nafas panjang mendengar jawaban Sania
"Ya semoga saja ucapan Tuan Anton bukanlah kamuflase yang dia gunakan untuk membodohi kita semua".
Sania mengangguk setuju dan setelah cukup berbasa basi, akhirnya Sania mengakhiri obrolan mereka lalu kembali ke kamar menemui Junior.
__ADS_1
Berita kedatangan Tuan Anton ke rumah bordil yang ternyata adalah kakeknya Junior langsung tersebar cepat ke seluruh penghuni rumah bordil ini, bahkan sampai juga ke telinga Deno yang saat ini dirawat di rumah sakit.
"Jadi ayah biologisnya Junior itu bukan orang sembarangan San?" tanya para wanita malam pada Sania saat mereka berkumpul kembali di ruang tengah.
Sania menggeleng, lalu mengangkat bahunya
"Aku sendiri juga tidak tahu" jawab Sania berbohong.
"Tidak mungkin kamu tidak tahu San" sanggah mereka.
Sania menarik nafas panjang karena semua temannya termasuk mami Ajeng terus mendesaknya untuk menceritakan siapa sebenarnya Alexander.
"Mami sudah tahu siapa Alexander jadi saya rasa saya hanya mengulang kembali cerita saya yang pernah saya ceritakan sama mami" ucap Sania.
Lalu Sania menceritakan bagaimana awal mula kisah dia bisa bertemu dengan Alexander kepada semua teman-temannya.
Bahkan hingga malam kelam itu pun tak luput dari ceritanya hingga bagaimana dia menyusul Alexander ke kantor yang membuat semua teman-temannya kaget jika Alexander adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar.
"Tapi yang membuatku lebih syok lagi adalah ternyata Alexander adalah seorang Don Juan" ucap Sania mengakhiri ceritanya.
"Harusnya dari awal aku sudah menyadari bahwa orang seperti apa Alexander itu. Seorang lelaki yang suka permainkan banyak perempuan. Tapi di saat itu aku tidak berpikir sampai ke sana yang ada di benakku saat itu adalah Aku menuntut tanggung jawab Alexander karena telah memperkosaku" ucapkan Sania dengan wajah sedih.
"Dan sekarang ketika dia datang dan ingin bertanggung jawab mengapa malah kamu tidak menerimanya San?" tanya Helen.
"Tidak semudah itu Kak bisa memaafkan seseorang yang telah menghancurkan hidup kita. Bahkan hingga detik ini aku masih belum bisa memaafkan kelakuan Alexander yang telah memporak-porandakan semua mimpiku".
Sania kemudian menatap lurus ke depan dengan tatapan sedih. Teringat semua olehnya bagaimana perjuangannya mempertahankan kehamilannya, hingga akhirnya dia diusir oleh mamanya dan diusir oleh dokter Anita. Sampai dia luntang lantung di jalan hingga akhirnya kembali ditemukan oleh Mami Ajeng.
"Tapi sekarang Alexander tidak sadarkan diri San, Apakah kamu masih belum mau memaafkannya?" lirih mami Ajeng.
Sania menggeleng lemah
"Tidak semudah itu aku memaafkan Alexander mi, enak sekali hidup dia jika aku memaafkannya. Dia sudah sangat bersalah sama aku, sudah menghancurkan hidupku, jadi tidak semudah itu aku memaafkannya".
Helen yang duduk di samping Sania segera merengkuh bahu wanita muda itu dan mengusap-usapnya.
"Maafkan kami jika kembali membuatmu membuka luka lama yang berusaha kamu lupakan San" lirih Helen .
Sania berusaha tersenyum getir mendengar ucapan Helen, kemudian dia menatap kepada seluruh wanita malam yang saat ini juga menatap sendu ke arahnya.
"Hanya di rumah inilah aku diterima, dan di sinilah aku mempunyai keluarga" ucap Sania sedih.
Sontak beberapa gadis malam yang tadi duduk segera berdiri, mendekati Sania lalu secara bersama-sama mereka saling berangkulan yang membuat Sania tak kuasa menahan tangisnya.
__ADS_1
"Terima kasih ya kak, mi.... Karena sudah menerima dan menyayangi aku dan Junior" isak Sania
Sementara Mark yang dibawa ke rumah sakit, keadaannya sudah mulai membaik. Begitupun dengan Arya.
Tapi karena mereka belum sembuh benar dokter belum mengizinkan keduanya untuk keluar dari rumah sakit ini.
Dan dari para Bodyguard yang menjaganya lah Mark mengetahui jika Alexander dibawa ke Jakarta oleh Tuan Anton.
"Apakah keadaan Alexander memburuk?" tanya Mark khawatir.
Para bodyguard itu menganggukkan kepala mereka yang semakin membuat khawatir Mark, sehingga dia ingin segera keluar dari rumah sakit ini dan kembali ke Jakarta untuk segera melihat keadaan Alexander.
3 hari setelahnya barulah Mark dan Arya keluar dari rumah sakit dan sebelum Mark pergi dari kota wisata tersebut dia kembali menghubungi Dhea untuk menanyakan bagaimana keadaan Sania dan Junior.
Dhea mengatakan jika beberapa hari yang lalu Sania meneleponnya dan mengatakan bahwa dia dan Junior baik-baik saja yang membuat hati Mark menjadi lega.
Tapi hal berbeda justru terjadi di rumah Mami Ajeng. Sejak pagi Junior terlihat gelisah karena dia menantikan kedatangan Opanya, tuan Anton.
Berkali-kali Junior berdiri di teras berharap jika ada suara mobil yang masuk dan ada seseorang yang memanggil namanya.
Dan Sania yang tidak mengetahui kegelisahan buah hatinya hanya menganggap jika Junior hanya ingin bermain di teras.
Sampai akhirnya ketika siang hari barulah Junior bertanya kepada Sania ke mana Opanya mengapa tidak datang menemuinya kembali padahal Opanya telah berjanji akan datang menemuinya lagi.
Sania hanya bisa menarik nafas panjang, bingung harus bagaimana menjelaskan pada Junior bahwa memang kemungkinan besar opanya tidak akan pernah datang lagi menemuinya.
Secara pribadi Sania senang karena akhirnya Tuan Anton tidak datang lagi untuk menemui Junior, tapi di sisi lain dia juga menjadi kasihan melihat bagaimana raut kecewa di wajah Junior karena orang yang dinantikannya tidak juga datang.
"Pokoknya mama harus telepon opa, suruh opa datang kemari, karena Opa sudah janji bahwa dia akan menemui Junior, Tolong mama, telepon opa...." rengek Junior .
Sania kembali berusaha meyakinkan Junior bahwa Opanya sibuk. Itulah sebabnya mengapa opanya tidak datang. Tapi Junior tidak percaya, karena dia sendiri yakin bahwa Opanya pasti datang oleh karena itulah dia terus memaksa mamanya untuk menelepon opa-nya.
Suara rengekan Junior sampai juga di telinga mami Ajeng sehingga beliau ikut juga membujuknya.
Tapi bukannya tenang malah rengekan Junior berubah menjadi tangisan kencang yang membuat Deno akhirnya berinisiatif untuk membawa Junior ke Rumah Sakit tempat di mana Alexander dirawat.
"Uncle akan bawa kamu menemui Opa. Jadi Junior jangan menangis lagi, Oke?" bujuk Deno yang sontak menghentikan tangisan Junior.
Sania menarik nafas lega sekaligus bingung melihat Junior yang berhenti menangis.
Dan Deno segera memberi pengertian pada Sania bahwa memang ada ikatan batin yang sulit untuk dijelaskan antara Junior dan Alexander yang semakin membuat Sania terhenyak.
"Ayo uncle kita berangkat!" kata Junior yang ternyata telah rapi yang membuat Sania dan Mami Ajeng saling toleh.
__ADS_1
Deno memasang senyum lebar dan segera menggandeng tangan Junior berjalan, membawa bocah tambun tersebut ke mobil. Dan Sania yang baru menyadari jika Deno tidak main-main dengan perkataannya segera berlari kecil menyusul mereka.