
Alexander menarik nafas panjang ketika melihat Papinya hanya diam mendapati pertanyaannya.
Kemudian Alexander berusaha untuk tersenyum getir, dan kembali menarik nafas panjang.
"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Tuan Anton setelah beliau cukup lama diam.
Alexander kembali tersenyum getir kemudian mengangguk pelan.
"Entah kapan aku menyadarinya Pi, tapi yang pastinya aku butuh seorang wanita seperti Sania untuk membimbing hidupku".
"Apakah itu artinya kamu mencintai Sania?" tanya tuan Anton kembali dengan penuh selidik.
"Aku tidak tahu Pi, Apakah aku mencintainya atau tidak. Tapi yang pastinya aku sangat membutuhkan dia. Karena Sania adalah tipe wanita yang selama ini aku cari. Aku sudah bertemu dengan ribuan wanita dari seluruh dunia ini, tapi tidak ada yang seperti Sania. Dia bisa menggetarkan hatiku" jawab Alexander jujur.
Tuan Anton tersenyum segaris mendengar jawaban Alexander. Dan di dalam hati dia bersyukur jika akhirnya Alexander memilih Sania untuk menjadi pendamping hidupnya. Tuan Anton juga mempunyai feeling yang sama seperti Alexander, dia tahu jika Sania adalah perempuan yang baik. Hanya terjebak dengan kehidupan kelam karena perbuatan terkutuk anaknya.
"Papi tidak mempermasalahkan Bagaimana kisah Sania. Karena Papi sudah mendengar sendiri dari Sania begitu juga dari mulutmu, bahwa kamu adalah biang keladi dari semua permasalahan ini kenapa Sania menjadi wanita malam"
Alexander menarik nafas panjang mendengar jawaban dari Papinya.
"Apakah ini hanya perasaan kasihan ku ya Pi?".
Tuan Anton mengangkat bahunya
"Papi tidak tahu apa yang kamu rasakan. Yang tahu perasaanmu itu adalah diri kamu sendiri Alexander. Kamu bisa merasakan apa sesungguhnya yang kamu rasakan terhadap diri Sania. Apakah kamu kasihan padanya, merasa bersalah atau kamu memang mencintainya"
Alexander tertunduk mendengar ucapan Tuan Anton. Kemudian tuan Anton kembali menepuk-nepuk pundak Alexander
"Kamu masih punya waktu yang panjang untuk memikirkan perkataan Papi. Renungkan"
Alexander tidak menjawab perkataan Papinya melainkan dia kembali menarik nafas panjang.
"Saat ini yang paling aku inginkan adalah bagaimana caranya membuat anakku bisa melihat seperti orang normal. Dan itu sepertinya sangat sulit. Karena Papi tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Sania. Dia tidak memberikan sedikitpun padaku untuk bertanggung jawab membawa Junior ke luar negeri untuk operasi"
"Kita akan terus berusaha meyakinkan Sania, Alexander. Jangan patah semangat".
Alexander menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Papinya.
"Harus optimis, Karena Papi selalu mengajarkan pada kamu untuk optimis, bukan pesimis. Sama halnya seperti kita berbisnis, kita harus optimis dan fokus. Dan kali ini pun kita harus optimis jika kita bisa menaklukkan kerasnya hati Sania".
__ADS_1
Kali ini Alexander menganggukkan kepalanya mendengar semangat yang diberikan oleh papinya. Kemudian setelah itu Alexander menatap dalam ke arah Papinya, sambil berjanji Jika dia akan melakukan seperti yang Papinya bilang.
...----------------...
Milena membuka pelan matanya. Kemudian tak lama setelah itu kembali Dia menutup matanya karena merasakan pusing yang teramat sangat.
Setelah itu Milena memijit-mijit keningnya dan berusaha kembali untuk membuka matanya.
"Ya Tuhan, sakitnya kepalaku. Apa yang terjadi padaku sebenarnya?" lirih Milena.
Karena masih juga tak bisa membuka matanya, Milena mulai meraba-raba di sekitar menggunakan tangannya.
Milena menghentikan gerakan tangannya ketika tangannya menyentuh benda aneh.
Lalu kembali dia berusaha sekuat tenaga untuk membuka matanya.
Di sela pusing yang melanda dan juga penglihatannya yang belum sempurna, Milena menggerakkan tubuh seseorang yang terpejam di sampingnya.
Pria yang terpejam di sebelah Milena membuka matanya. Kemudian berusaha untuk tersenyum.
"Kamu sudah bangun?" tanya pria tersebut yang membuat mata Milena terbuka sempurna.
"Ya Tuhan, jadi aku bukan bermimpi?" lirih Milena dengan nada kaget. Pria yang masih tidur dengan memiringkan tubuhnya ke arah Milena, kembali tersenyum kemudian menggeleng.
Milena kembali memejamkan matanya karena pusing kembali melanda kepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Alvin? kenapa kamu bisa tidur di sebelahku?" tanya Milena dengan mata terpejam.
Pria yang tadi disebut namanya dengan nama Alvin oleh Milena tidak menjawab, melainkan segera melingkarkan tangannya keatas perut Milena.
"Semuanya terjadi sesuai dengan keinginan kita"
Milena dengan kasar membuang tangan pria tersebut dari atas perutnya. Kemudian kembali Dia mencoba membuka matanya. Dan Alvin yang diperlakukan kasar oleh Milena hanya tertawa lirih.
"Maksud kamu apa?" tanya Milena dengan nada tak suka.
Alvin berusaha untuk duduk, kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Sementara satu tangannya digunakannya untuk memijat-mijit kening Milena.
"Kamu mabok berat, oleh karena itulah aku membawamu ke apartemen ku"
__ADS_1
Milena mendecak kesal mendengar jawaban Alvin. Terlebih ketika tangannya meraba ke bagian bawah tubuhnya, dan dia merasakan jika saat itu tubuhnya dalam keadaan polos.
"Kurang ajar kamu Alvin, kamu telah memanfaatkan ketidaksadaran ku untuk menipuku".
Kembali Alvin tersenyum sinis mendengar jawaban Milena.
"Di sini tidak ada yang memanfaatkan, tapi di sini kita melakukan atas dasar suka sama suka".
Kembali Milena mendecak kesal mendengar jawaban Alvin.
"Sudahlah Milena, aku bosan menjadi selingkuhanmu. Kamu hanya membutuhkanku ketika kamu diabaikan oleh Alexander. Tapi ketika kamu dekat dengan Alexander, kamu sama sekali tidak pernah mengingatku"
Milena yang semula kesal sekarang jadi terdiam mendengar ucapan Alvin.
Dan kembali dia berusaha membuka matanya.
Lalu dia teringat, bagaimana sebelum dia bertemu dengan Alvin. Kemudian Milena langsung mendecak kesal.
"Alexander, lagi-lagi pria itu membuatku patah hati" geram Milena.
Alvin tersenyum sinis kembali dan tampak mendengus ketika mendengar Milena menyebut nama Alexander.
"Apa yang dilakukan oleh pria itu sehingga kamu menelpon ku dan memintaku untuk menjemputmu?"
Milena diam, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Alvin. Karena sesungguhnya, kenangan semalam itu adalah yang paling menyakitkan untuk dirinya.
"Jangan kamu sebut nama pria itu lagi di depanku, karena aku sangat membencinya".
Kembali Alvin tersenyum sinis mendengar jawabannya Milena.
"Baguslah jika kamu sadar siapa sebenarnya yang selalu ada untuk kamu. Aku apa Alexander"
Milena, yang kepalanya mulai bisa diajak kompromi mulai menyandarkan tubuhnya seperti Alvin, sambil menarik selimut sampai ke dadanya.
"Aku memang bodoh, tidak bisa melihat siapa yang tulus dan siapa yang modus, aku dibutakan oleh perasaanku. Aku selama ini berfikir jika Alexander mencintaiku, tapi ternyata kenyataan pahit yang harus aku terima"
Alvin menoleh kearah Milena, kemudian menatap dalam mata gadis cantik yang saat ini telah mengalirkan air mata
"Aku benar-benar butuh waktu Vin, dan aku butuh dukungan dari kamu"
__ADS_1
Alvin mengangguk, kemudian dia merengkuh bahu Milena, sehingga gadis cantik tersebut menempelkan kepalanya ke dada Alvin
Kembali Milena terisak, sakit di hatinya akibat perkataan jujur Alexander semalam benar-benar membuat hancur hatinya