Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Harapan


__ADS_3

Setelah helicopter yang membawa anaknya pergi, Alexander segera memerintahkan anak buahnya untuk turun dan dengan segera mereka semua bergegas turun dari atas mercusuar tersebut


Dan kembali mereka harus melewati tangga rapuh yang berliku. Sementara tiga buah helicopter yang membawa bodyguard terluka dan yang tewas, juga telah pergi dari tempat tersebut. Tuan Anton yang dari bawah melihat jika helicopter sewaannya pergi dengan membawa Milena dan cucunya. Segera masuk kedalam salah sat helicopter yang sudah stand by sejak tadi


“Kita kejar helicopter tersebut. Dia membawa cucu saya” ucap tuan Anton dengan nada panik


Tak lama seluruh bodyguard dan Alexander yang telah turun melesat masuk kedalam helicopter yang langsung terbang begitu semuanya telah masuk


Di dalam helicopter, Alexander meringis karena merasakan jika bahunya perih. Dengan menahan sakit dengan cara mengeraskan rahangnya, Alexander menggeram. Seorang bodyguard segera melepas baju yang dikenakannya, kemudian merobek baju tersebut, kemudian mengikat luka Alexander dengan kencang


“Bertahanlah tuan. Kita akan segera ke rumah sakit”


Alexander tidak menjawab, dia terus saja mengerang menahan sakit. Sementara di helicopter yang membawa Milena dan Junior. Milena langsung berusaha menyelamatkan Alvin yang juga tampak terluka parah. Junior yang tak hentinya menangis terus dibentak oleh Milena karena dia sudah panik melihat luka Alvin yang terus mengeluarkan banyak darah


“Awas jika anda berkhianat. Cucu tuan Anton yang menjadi taruhannya” ancam Milena pada pilot yang tampak gelisah tersebut


Pilot helicopter yang membawanya hanya menganggukkan kepala dan kembali fokus menerbangkan helicopter. Sementara di belakangnya menyusul helicopter yang lain


Milena segera berdiri dan menarik tubuh Junior. Tuan Anton yang melihatnya segera ikut berdiri juga. Melalui pengeras suara yang ada di helicopter tersebut tuan Anton meminta pada Milena untuk tidak menyakiti cucunya. Dan beliau tidak akan membahayakan Milena dan Alvin dengan catatan Milena tidak membahayakan dan menyakiti cucunya


Milena mengarahkan jempol nya ke bawah kearah tuan Anton yang telah selesai dengan ucapannya. Maka setelah itu, kembali Milena mendudukkan Junior dengan kasar dan masih dengan panik dia mendekap tubuh Alvin


“Bertahanlah Alvin. Semuanya akan baik-baik saja”


Satu jam setelahnya, puluhan helicopter tersebut kembali menghiasi langit kota pariwisata. Dan kembali menjadi berita viral sore itu


Sesuai dengan instruksi helicopter yang membawa bodyguard yang terluka parah segera mencari tempat landing yang tak jauh dari rumah sakit agar memudahkan membawa para korban dan mereka segera ditangani.


Khusus helicopter yang membawa Alexander langsung mendarat diatas rumah sakit tempat Alexander pernah di rawat sebelumnya akibat insiden di rumah mami Ajeng.


Dan Sania yang tadi pagi telah diberitahu oleh Mark jika akan ada banyak helicopter di langit kota segera berdiri ketika dilihatnya memang banyak helicopter yang terbang sore ini. Dengan dada dipenuhi rasa panik yang luar biasa, Sania minta diantar oleh Dhea yang kebetulan hari itu baru bisa mengunjunginya karena dia baru pulang dari luar negeri, diajak oleh pacarnya untuk menemui keluarganya


“Cepat Dhe…..” ucap Sania dengan nada panik ketika mereka sudah di jalan raya


Dhea yang ikut gugup hanya bisa menjalankan motornya dengan perasaan campur aduk. Di jalan raya ternyata terjadi kemacetan karena banyak pengguna jalan berhenti hanya sekedar mengambil video atau gambar dari banyaknya helicopter yang terbang di udara saat itu


“Aku harus menghubungi Alexander!” ucap Sania dengan tangan gemetar sambil meletakan hp ke telinganya


Bodyguard yang saat ini sedang memangku tubuh Alexander segera mengambil hp tuannya dan begitu melihat jika di layar tertera nama Sania segera dia menjawab panggilan tersebut


“Alex, kalian dimana?”


“Ini saya bodyguard nya tuan Aexander nona. Saat ini kami menuju rumah sakit pusat karena tuan Alexander tertembak”

__ADS_1


Sania refleks menutup mulutnya. Sementara motor yang dikendarai Dhea kian berjalan merayap


“Hubungi saya begitu kalian sampai rumah sakit” ucap Sania lagi


“Ini kami sudah landing nona. Nona doakan yang terbaik untuk tuan Alexander”


Wajah Sania kian tegang ketika yang mengangkat panggilannya mengakhiri panggilan. Dengan menarik nafas panjang, Sania kembali berusaha fokus menatap ke depan, dan dengan tatapan gelisah dia menoleh ke kanan kiri


“Sania….!!!” Teriak sebuah suara


Karena ramainya jalan Sania tidak mendengar jika ada seorang perempuan yang memanggil namanya. Dan dia terus saja menatap ke depan dan menutupkan kaca helm ke wajahnya. Tetapi perempuan paruh baya yang tadi memanggil namanya terus saja berusaha meneriakkan namanya


“Bisa kita berhenti sebentar pak? Itu anak yang selama ini saya cari” ucap perempuan yang berada di dalam taksi tersebut yang ternyata adalah mama Liza, mama kandung Sania


“Jalanan sangat macet nyonya, kita tidak bisa berhenti di pemberhentian yang seharusnya. Jika nyonya ingin turun disini, nyonya bisa turun”


Mama Liza mengangguk, maka dengan cepat dia merogoh uang yang ada di dalam dompetnya, memberikannya dengan terburu pada sang supir, kemudian dia langsung turun dari dalam taksi tersebut. Suara klakson bersahutan-sahutan sehingga semakin menambah suasana kacau jalan sore tersebut yang tak biasanya macet


Ketika mama Liza sedang berusaha mencari jalan menyeberang agar sampai di tempat Sania hp nya berdering. Dengan setengah gugup, kembali mama Liza membuka dompetnya dan mengeluarkan hp dari dalam sana


“Ya Der?” jawabnya setengah berteriak


“Mama ada di mana? kenapa kedengarannya sangat berisik”


“Mama ada di kota. Mama penasaran, mama akan mencari Sania disini. Dan barusan mama seperti melihat Sania. Dan mama sangat yakin jika tadi wanita yang mama lihat adalah Sania”


Deri menarik nafas panjang mendengar nada penuh harap dari suara mama Liza


“Benar ma. Yang divideo yang mama lihat kemarin itu adalah Sania”


“Apa Der?. Suara kamu nggak jelas” ucap mama Liza lagi yang kembali mencari tempat agak sepi agar memudahkannya mendengar suara Deri


“Yang mama lihat kemarin itu memang benar Sania. Jadi yang ada di video itu memang benar Sania ma”


Mama Liza langsung membekap mulutnya dengan satu tangan, air matanya langsung lolos dan emngalir tanpa bisa dicegah ketika mendengar ucapan dokter Deri di seberang. Tubuh mama Liza mendadak limbung yang membuat wanita paruh baya tersebut setengah membungkuk. Orang yang lewat yang melihat mama Liza seperti akan jatuh segera membantu menahan tubuh mama Liza agar perempuan paruh baya tersebut bisa berdiri sempurna kembali


“Ibu baik-baik saja? Tanya orang-orang yang menolong mama Liza


“Ma? Mama kenapa ma?. Mama baik-baik saja kan?” tanya dokter Deri dengan panik ketika dia mendengar ada suara orang lain di seberang


Mama Liza mengusap wajahnya, kemudian dia mengatakan dengan orang yang menolongnya jika dia baik-baik saja. Begitu juga yang dikatakannya dengan dokter Deri


“Terima kasih atas bantuan kamu Deri. Sekarang mama semakin yakin jika yang mama lihat tadi beneran Sania”

__ADS_1


Dokter Deri kembali menarik nafas panjang. Kemudian dia berpesan agar mama Liza baik-baik saja ketika berada di kota. Dan dia berjanji jika dia ada waktu, dia juga akan datang ke kota untuk membantu beliau menemukan Sania


Setelah mendapatkan kabar yang akurat dari dokter Deri, mama Liza kembali berusaha menyebarangi jalan. Dan ketika dia sudah sampai di seberang, tempat dimana tadi dia melihat Sania, ternyata gadis itu sudah tidak ada lagi di sana.


Dengan memutar badannya dengan setengah kebingungan, mama Liza terus berlari kecil mencari motor yang tadi membawa Sania. Beberapa kali dia menabrak orang dan berkali-kali juga dia harus mengucapkan permintaan maaf nya


“Sania kamu dimana nak? Ini mama…..” lirih beliau dengan gugup bercampur kesedihan yang membuncah


Sementara Sania yang saat ini sudah sampai di rumah sakit utama kota segera mencari tempat dimana Alexander di rawat


“Sania!!” teriak sebuah suara


Dengan cepat Sania dan Dhea yang sedang berlari menoleh ke lain arah dan mendapati tuan Anton berdiri di depan sebuah ruang operasi


“Alexander mana tuan?”


Tuan Anton menarik nafas panjang kemudian menoleh kearah ruang operasi dimana lampu yang ada di atas pintu ruangan tersebut masih menyala merah


“Alexander sedang dioperasi, mengeluarkan peluru yang bersarang di pundak dan bahunya”


Nafas Sania langsung sesak mendengar jawaban tuan Anton. Dan kembali dia harus shock ketika melihat beberapa brankar yang didorong masuk rumah sakit. Semuanya berisi orang terluka


“Wanita ini?” ucap Sania tercekat ketika dia melihat sebuah brankar yang berisi tubuh Sandra yang tampak berdarah parah di lehernya. Baju wanita itu sampai berubah warna darah akibat banyaknya darah yang membanjiri tubuhnya


“Sandra. Kamu mungkin masih ingat dia” jawab tuan Anton yang membuat Sania terdiam


“Dia juga dalang dari ini semua. Dan akhirnya dia menerima akibatnya. Kemungkinan dia tewas karena luka di lehernya akibat gorokan anak buah saya melukainya sangat parah”


Dhea langsung mendekap mulutnya dengan ngeri ketika membayangkan jika brankar yang barusan lewat di depannya berisi mayat yang mati akibat digorok


“Terus bagaimana Junior?” tanya Sania dengan tatapan nanar


“Satu helicopter lain membawanya. Dan mereka berhenti bukan di rumah sakit ini, tapi kamu tenang saja, anak buah saya sudah mengejarnya”


Sania menarik nafas panjang dengan mengusap wajahnya berkali-kali mendengar jawaban tuan Anton


“Apakah dia baik-baik saja tuan?”


Tuan Anton mengangguk


“Iya, Junior baik-baik saja. Sudah saya katakan jika tidak akan terjadi apa-apa pada cucu saya. Dan yakinlah Sania jika sebentar lagi Junior akan kembali kepelukan kamu


Dhea merengkuh bahu Sania, mengusap-usapnya dengan sayang, memberikan kekuatan pada sahabatnya yang saat ini telah terisak pilu

__ADS_1


__ADS_2