Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Kembali Ketempat Mami Ajeng


__ADS_3

Sania turun dengan gugup. Dan Mami Ajeng dengan sayang membimbingnya masuk


Penghuni rumah bordil itu memandang heran ketika melihat mami Ajeng membawa masuk Sania


"Ini benar yang kabur kemaren mi?"


Mami mengangguk


"Ketemu dimana mi?" tanya yang lain


Mami Ajeng tidak menjawab melainkan terus membawa Sania duduk di ruang tamu


Beberapa wanita malam yang rata-rata memakai tank top dan hot pant mendekat dan melihat agak heran kearah Sania


"Kok kayanya dia bunting mi?"


Yang lain mengangguk setuju


"Diam, kalian nggak usah bawel. Pokoknya mulai sekarang kalian semua harus jagain dia, nanti ketika waktunya dia kerja seperti kalian, baru kalian bebas nggak ngurusin dia lagi"


Beberapa perempuan itu saling tatap dengan mulut ternganga


"Nggak salah mi?, masa kita jagain wanita bunting sih, kaya nggak ada kerja lain aja"


Mami Ajeng yang semula duduk di dekat Sania yang terus menunduk malu segera berdiri


"Siapa disini yang berani menentang perintah mami?"


Semuanya diam tak berani menjawab


"Ingat apa kata mami dulu, kalian disini itu bersaudara, walau kita wanita malam, wanita yang dianggap remeh dan dianggap sampah, tapi hati kita harus besar, harus saling jaga, ingat?"


"Iya mi" jawab mereka pelan sambil menundukkan kepalanya


"Kalian sudah dewasa semua, dan Sania ini masih kecil, jadi wajar jika dia tidak tahu cara main aman, nah tugas kalian lah nanti yang ngajarin nya, masih mau bantah?"


"Nggak mi..."


"Bagus, mana Helen?, kemarin Sania satu kamar sama Helen"


"Helen sudah dua hari ini belum pulang mi"


Mami Ajeng langsung menempelkan hp ke telinganya


"Helen kamu dimana?, kenapa belum juga kembali?"


"Masih di luar kota mi" jawaban dari seberang


"Bagus, jaga diri, hati-hati"


"Iya mi"


"Cepatlah pulang, ada Sania di sini"


"Sania?, udah ketemu mi?"


"Iya, sudah, makanya kamu cepat pulang"


"Iya mi, rencananya malam ini kami pulang"


Lalu mami Ajeng mematikan obrolan dan kembali menoleh kearah anak asuhnya


"Kalian belum siap?"


"Bentar lagi mi" jawab beberapa wanita

__ADS_1


Sementara yang lain menjawab jika mereka libur


"Nah, tolong kamu bawa Sania ke kamar kosong yang ada di bawah, dia nggak usah di kamar atas, bahaya untuknya"


Dua orang wanita yang berkata libur tadi menganggukkan kepalanya dan membawa masuk Sania dan kopernya ke kamar kosong yang tadi diminta mami Ajeng


"Nah, ini kamar kamu sekarang San. Betah-betah disini, jangan kabur-kabur lagi"


Sania mengangguk


"Kalau perlu apa-apa, kasih tahu kita jangan sungkan. Ntar kami lagi dimarah mami"


Sania kembali mengangguk. Baru setelahnya kedua wanita itu meninggalkan Sania


Sania mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tidak terlalu luas tersebut, menarik nafas panjang lalu naik keatas ranjang menselonjorkan kakinya


Sania mengambil handphonenya, membukanya dan melihat tidak ada satupun chat yang masuk karena memang nomor yang selama ini Sania pakai telah dipatahkannya dan menggantinya dengan nomor baru ketika dia tinggal di rumah dokter Anita, dia tidak mau mamanya, Deri maupun Dhea menghubunginya dan mencarinya


Yang mengetahui nomornya hanyalah dokter Anita dan suaminya, pak Danendra. Dan rasanya itupun tidak perlu lagi, karena Sania yakin mereka tidak akan pernah mau lagi menghubunginya, terlebih Dokter Anita


Dengan agak ragu, Sania membuka kontak dokter Anita, menimbang-nimbang sebentar untuk menghapusnya, tapi akhirnya niat itu diurungkannya.


Dia tak ingin jika suatu saat dokter Anita menyadari kekeliruannya dan berniat menghubunginya tapi tak bisa, bisa-bisa dokter Anita kembali salah sangka


"San...?"


Sania meletakkan hpnya dan menurunkan kakinya ketika salah satu dari wanita yang mengantarnya tadi masuk


"Kata mami kamu baru keluar dari rumah sakit, ya?"


"Iya kak"


"Yuk sini kakak antar kebelakang buat makan, atau kamu mau kakak ambilkan makanannya?"


Sania tersenyum


"Panggil kakak Yuna, ya?"


Sania mengangguk


"Yuk kita kebelakang sama-sama, kakak juga belum makan, ini sudah mulai malam loh"


Sania menurut dan mengikuti langkah Yuna kebelakang


Yuna mengambilkan Sania piring dan mulai mengisinya dengan berbagai macam menu


Berdua mereka makan dengan lahap, sementara gadis-gadis yang lain mulai turun dan sudah cantik semua


"Eh San, kakak mau keluar, kamu mau pesan apa?" tanya gadis berambut lurus dan berwajah cantik


Sania menggeleng


"Nanti kalau ada yang jual asinan kakak beliin deh, biasanya ada tuh asinan yang dijual dipinggir jalan"


"Yee ini kan malam, nggak ada kali ah.." timpal yang lain


"Kamu mau makanan yang manis apa yang gurih San?" tanya gadis yang lain


Sania tersenyum lebar


"Sebenarnya saya tuh pengen makan mie rebus yang pedes"


Semua gadis yang sejak tadi menunggu jawaban Sania tergelak


"Hadehh cuma mie doang?, kita udah nanyain yang aneh-aneh, ehhh ternyata dia cuma pengen makan mie, kalo mie mah tuh di kulkas banyak" jawab gadis yang tadi bertanya pada Sania

__ADS_1


Yuna segera berdiri dan membuka kulkas, dan dengan segera dia memasakkan mie untuk Sania


Kurang dari sepuluh menit telah terhidang mie rebus special di depan Sania


Sania dengan wajah sumringah langsung menyeruput kuahnya dengan dalam dan langsung melahap mie dengan rakus


Yuna yang melihat hanya tersenyum saja


...----------------...


Milena yang telah memperlajari proposal kerja sama dari perusahaan GIO Group hari ini sudah berencana untuk membahasnya dengan tuan Jeremy


Karena masih pagi dan kelihatannya tuan Jeremy sibuk, Milena menahan keinginannya. Diapun melanjutkan pekerjaannya dan fokus menggarap proyek yang dipercayakan tuan Jeremy padanya


Sementara di tempat lain, Mark sedang berada di ruangan Alexander dan sedang serius membahas proyek yang sedang ditangani Alexander


"Bagaimana perkembangan proyek baru kita?"


"Baik, ada apa?"


"Baguslah, saya hanya tak ingin proyek itu kacau karena anda kurang profesional"


Alexander yang sedang serius menatap layar laptopnya, berpindah menatap kearah Mark yang duduk di kursi dan juga tampak serius menatap laptop yang ada di pangkuannya


"Maksud kamu apa Mark?"


"Anda tahu maksud saya" jawab Mark tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop


Alexander melemparnya dengan pena sambil terkekeh


Mark yang wajahnya terkena lemparan pena dari Alexander segera menatap Alexander dengan kesal


"Berhentilah menebar pesona kepada semua wanita, kasihan mereka kau beri harapan palsu"


Kembali Alexander terkekeh


"Aku belum menemukan yang pas untukku, karena itulah aku masih terus menyeleksi"


Mark menggelengkan kepalanya


"Terus, apa putrinya tuan Jeremy kurang pas untukmu?"


Alexander diam, tampak berfikir sejenak lalu menggeleng


"Dia terlalu sempurna untukku, tapi tidak cocok untuk ku jadikan istri"


"Apa sekretaris itu yang cocok untukmu?"


Alexander bangkit dari kursinya lalu memukul bahu Mark sambil tergelak


"Come on Mark, jangan terlalu dingin pada perempuan, Sandra memberi sinyal padaku, jadi ya aku manfaatkan" sambungnya sambil masih tergelak


Mark tersenyum segaris sambil menggelengkan kepalanya


"Apa gadis seperti Sania yang cocok untuk kau jadikan istri?"


Alexander menghentikan tawanya dan menatap Mark dengan dingin. Mark pun tak kalah dingin menatap mata Alexander


"Maksudmu apa?, kenapa tiba-tiba kau menyebut nama Sania?"


Mark tersenyum penuh makna sambil menggelengkan kepalanya


Melihat Mark bersikap cuek dan santai membuat degup jantung Alexander menjadi tak karuan


"Apa Mark melihat wajah Sania di handphoneku?" batinnya

__ADS_1


__ADS_2