
Mark yang telah menyelesaikan segala macam pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit segera keluar dari rumah sakit bersama lima orang bodyguard dan juga Arya
Mereka segera berjalan ke arah parkiran dan segera masuk kedalam dua buah mobil yang telah siap membawa mereka.
Tujuan mereka kali ini adalah mengantarkan Arya pulang ke rumahnya dan setelahnya mereka langsung berangkat menuju bandara karena mereka juga akan pulang ke ibukota.
Di tengah jalan, tepatnya di Jalan Raya mereka berpapasan dengan mobil yang dikemudikan Deno, yang membawa Junior dan juga Sania yang berniat akan datang ke rumah sakit menemui Tuan Anton
Di dalam mobil tak hentinya Junior bertanya pada mamanya tentang apa saja yang saat itu mereka lewati dan Junior juga mengungkapkan kebahagiaannya karena akan bertemu dengan Opanya.
Sementara dua buah mobil yang membawa bodyguard, Mark dan Arya terus melaju. Hingga akhirnya berbelok ke arah rumah Arya. Dilain tempat mobil yang dikemudikan Deno juga berbelok masuk ke area parkir rumah sakit dan dengan segera ketiganya turun dari dalam mobil dan langsung berjalan menuju ke bagian administrasi untuk menanyakan di mana kamar Alexander.
Petugas bagian administrasi menanyakan kepada Sania, siapa nama lengkap Alexander karena di sana juga terdapat beberapa nama pasien yang sedang dirawat bernama Alexander.
"Nama lengkapnya Alexander, Alexander Louise, berasal dari Jakarta, dan masuk ke rumah sakit ini sekitar lima hari yang lalu" jawab Sania
"Alexander?, no Mama, aku ingin bertemu opa. Bukan dengan orang yang namanya barusan mama sebut" protes Junior.
Sania menoleh sekilas ke arah Junior kemudian mengusap pelan kepalanya lalu menoleh ke arah Deno yang segera membawa Junior duduk ke bangku yang tersedia tak jauh dari tempat Sania berdiri saat ini.
Petugas tersebut langsung mencari nama yang disebutkan oleh Sania tadi, lalu menggeleng
"Tidak ada nama pasien itu di sini nona, karena pasien dengan nama yang nona sebutkan barusan tiga hari yang lalu dibawa keluarganya pulang ke Jakarta" .
Mulut Sania membulat lalu menoleh ke arah Junior yang masih tampak antusias dengan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya sambil bersenandung lirih.
"Terima kasih" jawab Sania pelan dengan raut wajah sedih.
Lalu Sania berjalan ke arah tempat duduk Junior lalu dia duduk di sebelah Junior. Dan Deno menaikkan alisnya kearah Sania seakan bertanya apa hasilnya dan Sania menggelengkan kepalanya.
"Perawat itu bilang Alexander sudah dibawa pergi tiga hari yang lalu" ucap Sania pelan.
Lalu keduanya sama-sama menoleh ke arah Junior yangvterus saja bertepuk-tepuk tangan.
"Terus bagaimana?" tanya Deno dengan kode mulut kearah Sania yang menjawab dengan mengangkat kedua bahunya
"Ayo ma, mana Opa-nya?" tanya Junior sambil menggoyangkan paha Sania.
Sania menarik nafasnya untuk mengumpulkan keberanian menjelaskan yang sebenarnya pada Junior.
__ADS_1
"Opa-nya tidak ada sayang, opa-nya sudah pulang" jawab Sania pelan .
Wajah Junior berubah datar, dan tak lama kemudian dia langsung menangis kencang.
Sania dan Deno langsung terlonjak kaget mendengar teriakan kencang Junior begitu juga dengan beberapa perawat dan keluarga pasien di rumah sakit ini juga langsung menoleh karena mereka juga kaget.
Dengan cepat Sania dan Deno langsung membujuk Junior dan dengan sekuat tenaga Deno langsung menggendong tubuh besar Junior membawanya keluar dari ruangan rumah sakit tersebut.
Junior terus berteriak dan meronta, bahkan ketika dimasukkan secara paksa oleh Deno ke dalam mobil dia terus berteriak memanggil opa-nya dan tidak mau pergi sebelum bertemu dengan opa-nya
"Opa kamu sudah pergi, dan tidak akan pernah lagi menemui kamu!!" teriak Sania yang akhirnya tersulut emosinya karena Junior masih juga tidak bisa diam.
Sontak Junior terdiam dan langsung mendorong kasar tubuh Sania sambil berteriak
"Mama bohong, opa tidak mungkin pergi meninggalkan aku, karena opa sendiri sudah berjanji bahwa opa akan menemui aku!!!"
Sania menarik nafas panjang mendengar anaknya terus berteriak dan dia hanya membiarkan Junior memukuli badannya sedangkan Deno yang melihat Junior mengamuk hanya bisa membiarkan anak tersebut meluapkan amarahnya, dengan harapan bahwa setelah selesai anak tersebut mengamuk dia akan jauh lebih tenang.
Suara tangis Junior sudah berhenti menjadi sedu sedan dan dia hanya bisa menempelkan wajahnya ke jendela mobil. Sania yang melihat anaknya bersedih, hatinya ikut tersayat. Belum pernah dia melihat Junior sedih dan sekecewa ini sebelumnya.
"Kita pulang ya nak" lirih Sania sambil berusaha membeli kepala junior
Sania akhirnya meminta pada Deno untuk menjalankan mobil, dan akhirnya Deno mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir Rumah Sakit lalu berjalan kembali menuju rumah Mami Ajeng.
Sepanjang jalan menuju rumah, Junior masih terus menempelkan kepalanya di kaca jendela mobil dan tidak mau disentuh sedikitpun oleh Sania.
Bahkan ketika akhirnya mobil berhenti di halaman rumah mama Ajeng dengan cepat Junior turun dari dalam mobil dan segera berlari masuk kedalam rumah walaupun sempat beberapa kali terjatuh.
Sania segera berlari melihat Junior yang terjatuh tapi kembali tangannya dibuang kasar oleh Junior dan Junior kembali berlari masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Ketika sampai di kamarnya pun kembali Sania tidak bisa menemuinya karena kamar langsung dikunci oleh Junior dari dalam.
Dan kembali di dalam kamar terdengar Junior menangis kencang yang mengakibatkan seluruh penghuni rumah langsung berhamburan ke depan kamar Junior dan terlihat panik.
Terlebih wajah Sania, sangat jelas kepanikan diwajahnya, dia terus berusaha mengetuk bahkan menggedor kamar tersebut sambil terus berteriak memanggil nama Junior
"Apa yang terjadi pada Junior?" tanya Mama Ajeng dengan nada marah kepada Sania dan juga Deno
"Tadi ketika kalian pergi dari rumah ini dia tampak sangat bahagia, lalu mengapa ketika pulang dia jadi berubah seperti ini??!"
"Kami tidak bertemu dengan tuan Anton mi, tuan Anton sudah kembali ke Jakarta dengan membawa Alexander" jawab Sania pasrah.
__ADS_1
Sementara di kamar sudah terdengar benda-benda berjatuhan dan bahkan terdengar seperti ada benda yang pecah sehingga membuat seluruh yang ada di depan pintu semakin panik.
Kepanikan Sania sudah berubah menjadi sebuah tangisan ketika mendengar ada benda yang pecah. Dia takut terjadi sesuatu hal buruk pada Junior.
Dengan cepat Mami Ajeng mengambil alih, segera dia menggedor pintu dan berteriak memanggil Junior
"Sayang..., Sayang buka pintunya nak, ini Oma. Buka pintunya sayang ya...., Junior mau bicara sama Oppa kan?, ini Oma akan menelpon Opa kamu tapi dengan syarat Junior buka dulu pintunya ya nak...." bujuk Mami Ajeng.
"Tidak mau, aku tidak mau membuka pintunya sampai Opa sendiri yang datang ke sini...!!!" jawab Junior.
"Oma janji nak, Oma akan nelpon opa-mu, ya..." bujuk Mami Ajeng lagi.
Kembali terdengar suara benda pecah yang semakin membuat Sania menggedor pintu kamar dengan kencang.
Mami Ajeng segera menjauh dari depan pintu dan langsung naik ke atas untuk mengambil hp-nya. Segera mami Ajeng mengambil kartu nama yang kemarin ditinggalkan oleh Tuan Anton dan segera menekan nomor yang tertera pada kartu tersebut di hp-nya.
Tuan Anton yang saat ini sedang berada di Rumah Sakit segera mengambil hp yang ada di dalam saku jasnya ketika benda tersebut berdering.
"Nomor baru?" gumam beliau sambil mengernyitkan keningnya.
Nyonya Emma yang duduk di sebelahnya langsung menoleh dan menatap tajam pada suaminya.
Melihat tatapan tajam dari istrinya Tuan Anton mengabaikan panggilan masuk tersebut.
Dan Mami Ajeng yang menelepon, tersambung tapi tidak dijawab oleh Tuan Anton kembali mengulangi panggilannya kepada Tuan Anton dan beliau semakin bergerak gelisah sambil menggigit-gigit kukunya
"Ayo Tuan Anton jawab jawab jawab jawab......" gumamnya dengan nada panik.
Dan kembali Tuan Anton harus membalik HP yang ada di genggaman tangannya lalu kembali melihat jika nomor baru tadi kembali tertera di layar hp-nya dan kembali Dia melirik ke arah Nyonya Ema yang kembali menatap tajam ke arahnya
"Sebentar mi siapa tahu ini panggilan darurat" ucap Tuan Anton menjauh dari nyonya Emma.
Begitu panggilan tersambung Mami Ajeng langsung tanpa basa-basi mengutarakan tujuannya menghubungi Tuan Anton
"Tuan Anton, ini saya Ajeng. Saya ingin mengabarkan bahwa saat ini Junior sedang mengamuk dan ingin Tuan ada di sini saat ini juga!"
"Junior mengamuk?" tanya Tuan Anton sambil kembali mengernyitkan keningnya.
"Iya!" jawab mami Ajeng sambil menuruni tangga setengah berlari lalu berjalan cepat ke arah kamar Junior.
__ADS_1
Mami Ajeng langsung mengubah panggilan ke mode video dan menjauhkan hpnya, agar tuan Anton bisa melihat bagaimana kondisi di depan kamar Junior saat ini.