Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Menjemput Junior


__ADS_3

Saat Nyonya Emma kembali shock, kembali hp tuan Anton berdering


Secepatnya Tuan Anton mengangkat panggilan tersebut karena dilihatnya di layar tertera kembali nama Mami Ajeng.


Kembali terdengar oleh Tuan Anton suara teriakan anak kecil yang membuat tuan Anton kembali panik.


"Iya sayang, opa ke sana sekarang!, Tunggu ya, 2 jam lagi Opa pasti sampai di sana. Yang penting Junior jangan menangis lagi. Opa sekarang berangkat!" ucap Tuan Anton begitu mendengar suara teriakan di seberang.


Mark langsung mendekat ke arah Tuan Anton ketika didengarnya tuan Anton menyebut nama Junior. Sedangkan Nyonya Emma hanya bisa menatap bingung dan tak percaya ke arah suaminya yang saat ini sudah bersiap akan pergi.


"Junior kenapa tuan?" tanya Mark panik.


Tuan Anton tidak menjawab pertanyaan Mark melainkan dia segera menoleh ke arah 5 bodyguard yang menatap serius kearah wajahnya


"Ayo berangkat kita sekarang!!" bentaknya kepada 5 bodyguard yang segera berjalan di belakang beliau.


"Hanya dua orang, lainnya jaga disini!" Kembali tuan atau membentak.


Tiga orang Bodyguard yang tadi berjalan di belakang Tuhan Anton langsung menghentikan langkah mereka dan segera berbalik mendekat ke arah Nyonya Emma.


Sementara itu Tuan Anton segera berjalan dengan dua bodyguard yang lainnya.


"Tuan??!" kejar Mark.


Tuan Anton menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya berhadapan dengan Mark .


"Junior mengamuk dari tadi pagi itulah mengapa saya menelpon kamu dan juga Bodyguard yang lainnya. Tapi ternyata kalian sudah pulang"


"Dan sejak tadi hp saya berkali-kali dihubungi oleh nyonya Ajeng yang mengatakan cucu saya mengamuk".


"Saya ikut tuan!"


Tuan Anton menggeleng


"Tidak usah, kamu jaga istri dan anak saya di sini. Biar saya sendiri yang menemui Junior. Karena yang diharapkan kedatangannya oleh Junior adalah saya. Jadi saya yakin ketika saya sampai di sana Junior tidak akan mengamuk lagi. Dan saya akan membawa Junior ke sini dengan harapan ketika Junior ada di sini Alexander bisa segera sadar".


Mark mengangguk setuju lalu Tuan Anton menepuk bahu Mark


"Saya titip istri dan anak saya"


Lalu setelah berkata demikian Tuan Anton langsung membalikkan badannya, segera pergi meninggalkan depan ruang ICU diiringi oleh tatapan tak percaya dari Nyonya Emma.


"Bagaimana, apakah helikopter nya sudah siap?" tanya tuan Anton.


Dengan cepat ketiganya turun dari lantai tempat Alexander dirawat berjalan menuju mobil yang tak lama setelahnya sudah sampai di salah satu perusahaan milik Tuan Anton yang tersedia helipad nya.


Kembali salah satu manajer yang bertugas di perusahaan salah satu anak perusahaan Tuan Anton menyambut kedatangan Tuan Anton yang tiba di perusahaan tersebut.


"Bagaimana keadaan Tuan Alexander, Tuan?" tanya Manager tersebut


Tuan Anton menjawab sambil berjalan


"Dia baik-baik saja dan sekarang saya akan pergi kembali menggunakan helikopter, kalau kamu punya waktu silakan kamu lihat anak saya, besuk anak saya!".


Manager tersebut langsung mengangguk cepat dan wajahnya langsung berseri

__ADS_1


"Baik Tuan, tentu, tentu kami segenap karyawan akan membesuk Tuan Alexander hari ini juga, karena memang itu yang beberapa hari ini kami harapkan. Kami menunggu perintah dari tuan, dan kami mematuhi semua perintah tuan yang mengatakan untuk tidak membesuk tuan muda"


Tuan Anton langsung menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah manager tersebut


"Cukup kamu saya bilang, bukan seluruh karyawan!".


Manajer tersebut langsung menelan ludahnya dan wajahnya langsung berubah panik


"Ya Tuan, baiklah jika begitu. Terima kasih, karena Tuan telah mengizinkan saya membesuk tuan Alexander".


Tuan Anton tidak lagi menjawab perkataan manajer tersebut melainkan beliau langsung mempercepat langkahnya menuju helipad di mana helikopter sudah siap untuk terbang.


Tuan Anton beserta dua orang bodyguardnya segera masuk ke dalam helikopter yang tak lama setelahnya helikopter tersebut langsung mengudara.


Sementara di lain tempat Junior yang seharian ini mengamuk sekarang sudah tampak tenang dan tertidur pulas di kamarnya.


Sania menarik nafas panjang dan hanya bisa menatap wajah Junior dengan sedih.


"Apa yang terjadi sama kamu Nak?, Mengapa hari ini kamu bertingkah sangat aneh?" keluh Sania.


Sania kembali hanya bisa menatap dalam pada wajah Junior yang sekarang terlihat tenang.


Suara ketukan pintu di luar membuat Sania menoleh dan menjawab


"Iya?, masuk saja tidak dikunci".


Wajah Mami Ajeng muncul dan beliau tampak tersenyum dan Sania membalas senyuman beliau dengan tersenyum getir.


Mami Ajeng duduk di sebelah kepala Junior kemudian mengusap kepala Junior dengan sayang.


Sania hanya bisa menarik nafas panjang mendengar perkataan mami Ajeng, kemudian keduanya sama-sama tersenyum getir.


"Tuan Anton sudah menghubungi mami, dan bilang jika sekarang beliau sudah di jalan menuju kemari" ucap Mami Ajeng pelan yang membuat Sania kembali harus menarik napas panjang.


"Apa yang harus aku lakukan mami, jika nanti ketika Tuan Anton pulang dan kembali Junior mengamuk?".


Mami Ajeng juga menarik nafas panjang dan kembali mengusap-usap kepala Junior.


"Entahlah San, Mami juga bingung. Tapi bagaimana jika nanti tuan Anton bersikeras membawa Junior ke ibukota, Apa yang harus kita lakukan?".


Seketika mata Sania langsung berkaca-kaca mendengar ucapan Mami Ajeng.


"Jangan bilang begitu Mi, Mami tau sendiri jika aku tidak bisa jauh dari Junior" jawab Sania dengan suara tercekat.


Kembali keduanya menarik nafas panjang.


Dan kembali pintu kamar Sania diketuk dan muncul wajah Helen.


"Ada Tuan Anton di depan" ucap Helen dengan wajah yang tampak panik.


Segera Mami Ajeng berdiri lalu keluar dari kamar Sania di iringi oleh Helen.


"Maafkan saya Nyonya Ajeng, saya ke sini lagi dan itupun secara mendadak" ucap tuan Anton ketika disambut oleh Mami Ajeng.


Mami Ajeng berusaha untuk tersenyum ramah ke arah Tuan Anton yang saat ini berdiri bersama dua orang bodyguardnya.

__ADS_1


Sementara Helen takut-takut menatap ke arah Tuan Anton dan 2 bodyguard-nya.


"Kalian berdua, minta maaf sama perempuan itu!" ucap tuan Anton dingin ke arah bodyguard-nya.


Kedua Bodyguard tersebut tidak membantah perkataan Tuan Anton. Segera mereka mendekat ke arah Mami Ajeng dan Helen yang masih bersembunyi di belakang Mami Ajeng. Segera keduanya mengulurkan tangan mereka.


"Kami minta maaf nyonya, terutama pada anda nona. Atas kelakuan kasar kami kemarin"


Kembali mami Ajeng tersenyum kaku ke arah dua bodyguard tersebut. Sedangkan Helen yang masih tampak takut hanya bisa menarik baju mami Ajeng dari belakang.


Setelah berkata demikian kedua bodyguard tersebut kembali berdiri di belakang tuan Anton.


"Mari Tuan duduk di sana saja, dari pada berdiri di sini" ucap Mami Ajeng mengajak Tuan Anton dan juga dua Bodyguard untuk duduk di ruang tamu.


Tuan Anton mengangguk takzim, selalu berjalan mengiringi Mami Ajeng. Sementara Helen kembali lagi ke dalam.


Saat mereka berjalan menuju ruang tamu kembali terdengar suara teriakan Junior yang otomatis menghentikan langkah kaki Tuan Anton.


Tak memperdulikan bagaimana reaksi Mami Ajeng dan juga dua bodyguardnya, Tuan Anton langsung membalikkan badannya dan langsung masuk ke dalam menuju sumber suara.


Tuan Anton mengetuk sebentar di depan pintu kamar yang terdengar suara teriakan anak kecil yang diyakininya adalah suara Junior.


Setelah mengetuk pintu tersebut, Tuan Anton langsung mendorong dengan pelan pintu tersebut, dan benar dugaannya, di sana ternyata adalah kamar Junior di mana dilihatnya saat ini Sania tengah menenangkan Junior yang kembali berteriak histeris.


"Junior, ini opa datang" ucap Tuan Anton sambil berjalan cepat masuk ke dalam kamar.


Teriakan histeris Junior langsung terhenti dan dengan pelan ditepisnya tangan Sania.


Junior langsung turun dari atas ranjang kemudian berjalan ke arah Tuan Anton yang segera menangkap tubuhnya.


Didekapnya dengan erat tubuh Junior dan diusapnya dengan sayang kepala cucunya tersebut.


Serta diciuminya seluruh wajah hingga kepala Junior berkali-kali oleh Tuan Anton.


Rasa kerinduannya begitu menggunung pada anak kecil yang baru beberapa hari ini dikenalnya.


Junior lalu meraba wajah Tuan Anton kemudian dia tersenyum


"Iya, ini adalah Opa saya" ucap Junior sambil tersenyum sumringah.


Tuan Anton tersenyum haru mendengar ucapan Junior. Dan kembali didekapnya dengan erat tubuh Junior. Sania yang melihat hanya bisa menatap sendu ke arah mereka berdua.


"Opa jangan pernah tinggalkan Junior lagi" ucap Junior.


Tuan Anton mengangguk cepat mendengar ucapan Junior dan kembali Dia berjanji bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Junior lagi.


Lalu Tuan Anton menatap dalam ke arah Sania


"Sania, saya meninggalkan anak saya yang sedang koma demi menemui cucu saya. Tadi jari Alexander itu bergerak, dan itu membuat istri saya, maminya Alexander menjadi bahagia" .


"Alexander?, Siapa dia?" tanya Junior polos.


"Mengapa namanya seperti nama saya?" kembali Junior bersuara.


Sania menelan ludah dengan susah payah mendengar pertanyaan Junior. Sedangkan Tuan Anton kembali menatap dalam ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2