Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
9. Sania Menata Hidupnya


__ADS_3

Sejak pulang ke rumah, Sania jadi pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar


Bu Liza, mama Sania menjadi curiga dengan perubahan sifat sang anak. Apalagi tiap mandi, Sania akan berlama-lama di kamar mandi


Bukan tanpa alasan Sania berlama-lama di kamar mandi, Sania menggosok seluruh tubuhnya dengan kuat bahkan menyiramkan air sebanyak-banyaknya bahkan terkadang Sania menangis di sana.


"Aku sudah kotor, walau air se bak habis, tidak akan membersihkan tubuh kotorku ini"


Seperti siang ini, Sania hanya menekuk lututnya dan memandang jauh ke luar jendela kamarnya dengan tatapan kosong


Suara ketukan dari sang mama tak disadarinya, hingga sentuhan lembut di pundaknya membuatnya terperanjat


"Mama..."


Bu Liza tersenyum lalu duduk di sebelahnya


"Ada apa nak, sejak pulang kamu banyak diam dan sering mengurung diri di kamar"


Sania memaksakan senyum di wajahnya


"Aku baik-baik saja ma"


Sania memeluk mamanya dari samping, meletakkan dagunya di pundak sang mama


"Tidak mungkin aku menceritakan semuanya pada mama" batinnya


Dengan sayang bu Liza membelai rambut panjang Sania.


"Apa kamu ada masalah sama Deri?"


Sania menggeleng


"Sama pak Doni?"


Sania juga menggeleng. Tapi setelah mendengar mamanya menyebut nama pak Doni, dengan cepat Sania melepas dekapan pada mamanya dan segera mengambil handphone yang sejak beberapa hari ini dimatikannya


"Kenapa nak?"


"Sania lupa ijin sama pak Doni ma" jawab Sania panik


Handphonenya menyala, dan tak lama kemudian benda itu sudah berdentang denting tak henti menandakan banyaknya pesan masuk


Kamu masih menjadi tour guide tuan Alexander, San?


Kok sudah lebih seminggu nggak pulang-pulang


Bapak hubungi nomor kamu tidak aktif-aktif


Kamu jangan buat Bapak khawatir San


Sania menelan ludahnya demi membaca pesan singkat dari pak Doni


Tanpa pikir panjang lagi, Sania segera melakukan panggilan


Berdering


"Ya Alloh Sania, kamu hampir bikin bapak mati, kamu kemana, hah?"


Sania menggaruk kepalanya dan nyengir


"Maaf pak, lupa ngabarin"


"Kebiasaan, kamu dimana sekarang?"


"Rumah pak"


"Rumah siapa?"


"Rumah mama, saya pulang pak"


"Astaghfirullah, benar-benar kamu ya bapak di sini mengkhawatirkan kamu, ehh malah kamu enak-enakan di rumah"


"Maaf pak.."


"Kamu kenapa pulang, bukannya kembali ke kantor"


"Anu pak, itu, ehmm.."


"Anu itu, anu itu, besok kerja. Sudah lebih seminggu kami tidak nongol di kantor!"


"Iya pak siap, sore ini juga saya kembali ke mess"


"Bagus!"


Lalu Sania menghembus nafas panjang dan menoleh kearah mamanya


"Sania pulang ke kota lagi ya ma, pak Doni sudah marah"

__ADS_1


"Kamu nggak ijin?"


Sania menggeleng dan nyengir


"Jangan seperti itu lagi nak ya, jaman sekarang susah mencari bos sebaik pak Doni"


"Iya ma, kemarin karena suatu hal makanya Sania lupa pamit"


"Hal apa?"


Sania terdiam dan menatap wajah mamanya dengan tegang


"Anu ma, ehmm itu ada hal sedikit, tapi sudah clear kok"


Bu Liza menganggukkan kepalanya dan membantu Sania berkemas


"Nanti jika libur Sania pulang lagi"


"Iya, yang penting jaga diri baik-baik nak ya"


"Baik ma"


Lalu Sania mendekap mamanya baru setelahnya dia naik ke atas ojek yang sudah menunggunya


"Hati-hati nak, begitu sampai kabari mama"


"Baik ma" teriak Sania sambil melambaikan tangannya


...****************...


Sementara meeting Alexander di Amerika berjalan lancar, karena kepintaran dan kecakapannya dalam berkomunikasi sehingga para kolega menyukai dan bersedia menjadi investor di perusahaan yang dipimpinnya.


"Tak percuma pak Anton menjadikan anda sebagai penggantinya, ternyata anda memang hebat dan berbakat"


Alexander tersenyum dan menjabat tangan kolega barunya itu, Mr. Zack


"Senang bekerja sama dengan anda, saya bisa pastikan jika kita akan sukses bersama"


Mr. Zack mengangguk dan memberikan gelas minuman pada Alexander


Mereka bersantai sebentar, mengobrol ringan tanpa menyebut-nyebut bisnis mereka, yang mereka obrolkan ternyata tentang perempuan.


Rupanya baik Alexander, maupun Mr. Zack, isi otak mereka tak jauh-jauh soal perempuan dan ranjang


"Datanglah ketempat saya malam nanti, saya sudah menyiapkan banyak perempuan"


"See you soon"


Lalu Alexander keluar dari ruangan meeting tersebut dan berjalan kearah mobil mewah yang telah siap membawanya


Di dalam mobil Alexander terlihat tengah menghubungi seseorang


"Bagaimana kantor?"


"Oh, baik saja bos. Bos tidak usah khawatir"


"Bagus lah. Kau memang bisa diandalkan"


Terdengar suara tawa Mark


"Di kantor ada perempuan cantik, saya yakin dia telah menggoda mu"


Kembali terdengar suara tawa Mark


"Sandra?"


"Hemmm"


"Saya tahu dia sejak jadi ajudan pak Anton, jadi saya tidak begitu kaget melihat tingkahnya"


"Sikat Mark..."


Kembali Mark tertawa


"Cepatlah kembali pak, saya sepi tidak ada anda"


"Mungkin lusa saya kembali, malam ini saya mau bersenang-senang dulu"


"Dasar bad boy"


Alexander terkekeh


...****************...


Sania sudah berada di dalam bis yang akan membawanya ke kota. Butuh setidaknya empat jam perjalanan untuknya sampai di tujuan.


Sepanjang jalan Sania membaca pesan yang belum sempat di bacanya

__ADS_1


Rata-rata dari teman sekantornya bahkan ada dari temannya sewaktu kuliah


Cie cie yang jadi tour guide nya cowok ganteng, sampe sekarang nggak nongol-nongol, awas loh nanti kepincut


Sania tersenyum samar dan menarik nafas panjang


San, ada lowongan kerja nggak tempat kamu, aku pusing nih nganggur


Satu persatu pesan dibalas dengannya, lalu Sania menyandarkan kepalanya, menoleh keluar melalui kaca jendela, termenung


Tanpa Sania sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya.


Karena tak ingin tertidur, Sania membuka aplikasi youtube, memasangkan headphone ke telinganya lalu dengan fokus menonton drakor favoritnya


Mobil berhenti di terminal, Sania yang sejak tadi hanya menatap layar handphone segera menoleh keluar jendela. Sementara penumpang lain mulai berdiri dan antri turun


Sania ikut berdiri juga dan menjinjing tas kecil yang berisi beberapa lembar bajunya, ikut antri turun dari dalam bis


Sampai di bawah Sania celingukan mencari ojek yang bisa mengantarnya ke mess


Sebuah ojek tampak mendekat kearahnya, dengan cepat Sania melambaikan tangannya


"Ke jalan Seruni" ucap Sania


Tukang ojek itu mengangguk dan Sania segera naik ke boncengan


Sekitar dua puluh menit ojek telah masuk ke jalan Seruni


"Ke sana" tunjuk Sania kearah sebuah bangunan rumah model minimalis


Ojek berhenti, setelah membayar ongkos Sania segera membuka kunci pagar


Tiba di depan pintu, Sania mengetuk pintu berkali-kali. Barulah muncul temannya membukakan


"Ya ampun baru muncul ya..."


Sania cipika cipiki dengan temannya lalu masuk.


"Aku kena marah bos" ucap Sania sambil duduk di kursi


"Jelaslah, orang pergi kok nggak ngasih kabar. Bos kan khawatir"


Sania nyengir.


"Istirahatlah, sudah hampir maghrib. Nanti makan, aku sudah masak"


Sania mengangguk dan naik kelantai dua menuju kamarnya.


Sania merebahkan diri, kembali matanya menerawang menatap langit-langit kamar


"Aku harus terus bertahan, benar kata dokter Anita, aku harus bangkit, ada mama yang harus aku bahagiakan, ada harapan yang harus aku wujudkan" gumamnya lirih


Sania menarik nafas panjang, kenangan malam itu kembali terlintas. Sania duduk, nafasnya memburu cepat, tubuhnya kembali menggigil.


Ditekuk nya lutut dan dia menutup telinganya


"Tidak, tidak..." gumamnya dengan bibir bergetar


Berkali-kali dia mengucapkan istighfar dalam hati untuk membuatnya tenang.


"San..?, San..?"


Sania dengan cepat menoleh kearah pintu yang diketuk dari luar


"Iya...?"


"Kamu kenapa, kok sepertinya terjadi sesuatu sama kamu?"


"Aku nggak papa Dea, aku hanya ketiduran, ngelindur" teriak Sania


"Pamali tidur Maghrib, ayo keluar kita makan sama-sama"


Sania segera merapikan rambutnya lalu membukakan pintu


"Makan yuk"


Sania mengangguk dan mengikuti Dea berjalan turun kebawah


Di bawah semua temannya telah melingkari meja makan bahkan ada yang membawa piring ke ruang depan


"Sudah lama kita nggak makan bareng, ayuk kita rayakan momen langka ini" ucap seorang teman Sania yang langsung mengarahkan kamera ponsel untuk mengambil swafoto mereka


Sania menampilkan senyum termanisnya, dan mereka semua terbahak karena kekocakan pose mereka


"Nanti share ya..." teriak yang lain


Sania menyuapkan nasi kedalam mulutnya, menatap dalam seluruh temannya

__ADS_1


"Aku harus menjadi aku yang kemarin. Aku nggak boleh hancur, aku bisa. Dan kamu Alexander, aku tidak akan melupakan kejahatan kamu padaku" batinnya


__ADS_2