Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Alexander Sadar


__ADS_3

Sania menelan ludahnya mendengar pertanyaan Nyonya Emma. Sementara tuan Anton segera berdiri dan berjalan kearahnya


"Masuklah Sania, jangan takut"


Sania masih bergeming, lututnya kian terasa lemas ketika nyonya Emma juga berjalan mendekat kearahnya


Nyonya Emma melihat Sania dari atas hingga bawah, yang membuat dada Sania kian berdegup kencang


BRUGH!!!


Semua yang ada di depan pintu langsung menoleh cepat kearah dalam dimana Junior sudah jatuh terlentang di lantai


Dengan cepat tuan Anton berlari, disusul oleh Sania


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Tuan Anton sambil segera mengangkat tubuh besar Junior lalu mengusap-usap belakang kepalanya


"Sakit nak?" tanya Sania


Junior menggeleng, dengan dibantu tuan Anton dia berdiri dan langsung diambil oleh Sania


"Mama sudah sampai?" tanya Junior


"Iya" jawab Sania sambil mengusap kepala anaknya. Karena dia yakin kepala anaknya pasti sakit karena tadi terbentur sudut meja


"Yang mana saja yang sakit sayang?" tuan Anton bertanya sambil berjongkok di depan Junior


"Lututnya juga?" tambah tuan Anton yang sedang mengusap-usap lutut Junior


"Hufffff......, tolong adakah orang di dalam ruangan ini yang bisa menjelaskan padaku?" keluh nyonya Emma yang terhenyak kembali di sofa


Beliau menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, wajahnya tampak pucat


Asisten rumah tangga yang masih berada tak jauh dari mereka segera berlari kearah nyonya Emma. Dan langsung menggosok tangan nyonya Emma yang terasa dingin


Tuan Anton yang melihat keadaan istrinya kembali lemah langsung duduk di sebelah istrinya.


"Mama lebih baik istirahat di kamar saja ya?" saran tuan Anton


Nyonya Emma menggeleng mendengar saran dari suaminya. Kemudian dengan mata yang sayu, dia kembali menoleh kearah Sania dan Junior yang sekarang masih berdiri.


"Mami hanya ingin penjelasan. Tolong Papi jelaskan semuanya pada mami".


Tuan Anton lalu meminta kepada bodyguard dan juga asisten rumah tangga untuk meninggalkan mereka.


Setelah asisten dan Bodyguard keluar, Tuan Anton meminta Sania untuk duduk. Perlahan Sania duduk dengan membawa serta Junior duduk di sebelahnya.


Dengan menarik nafas panjang, sambil menggenggam erat tangan Nyonya Emma, tuan Anton melihat ke arah Junior.


"Papi tanya sama Mami, apa kesan pertama Mami begitu melihat Junior secara langsung?".


Nyonya Emma lalu ikut menatap dalam pada Junior, sambil menarik nafas panjang beliau menjawab.


"Dia begitu mirip dengan Alexander ketika kecil dulu"


Mata Sania langsung berkaca-kaca begitu mendengar jawaban Nyonya Emma, begitu juga dengan Tuan Anton, beliau tampak tersenyum getir mendengar jawaban istrinya.


"Benar Mi, Junior adalah anaknya Alexander. Cucu kita".


Air mata Sania langsung turun begitu mendengar jawaban Tuan Anton. Sedangkan Nyonya Emma langsung terbelalak.


"Bagaimana mungkin bisa Alexander punya anak dari perempuan ini?, kapan dia menikah?, kenapa kita tidak tahu jika kita punya cucu, kenapa Alexander menyembunyikan ini dari kita?" begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh nyonya Emma yang membuat tuan Anton mendekap erat istrinya sambil terus mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Mami yang tenang ya, papi tahu Mami shock. Tapi itulah kenyataannya. Alexander juga baru mengetahui jika dia mempunyai anak. Itulah sebabnya Alexander tidak mau pulang bersama Mark kemarin. Karena dia ingin mencari dan membawa cucu kita kepada kita".


Bahu Nyonya Emma berguncang mendengar penjelasan dari suaminya.


Sedangkan Sania sudah lebih dulu terisak sambil menggenggam erat tangan Junior.


"Apa karena ini orang-orang kemarin memukuli anak kita, sehingga sampai sekarang anak kita masih tidak juga sadar?" tanya nyonya Emma lagi.


"Salah satunya memang seperti itu Mi. Tapi orang-orang yang memukuli Alexander itu mempunyai alasan yang kuat, mengapa mereka melakukan ini kepada Alexander".


"Sejak di rumah Oma semuanya berbicara tentang Alexander. Alexander itu siapa sih ma?, Mama jawab pertanyaan aku, Alexander itu siapa?, Kenapa namanya sama seperti nama aku?" tanya Junior


Sania tidak bisa menjawab pertanyaan Junior melainkan terus terisak.


"Opa, aku tanya sama Opa, Mama nggak mau jawab. Opa pasti mau jawab kan?, Alexander itu siapa?, Opa bilang Alexander itu anaknya Opa, terus aku nanya Alexander itu siapanya aku, Kenapa namanya sama seperti nama aku?".


Nyonya Emma langsung meneteskan air matanya mendengar pertanyaan polos dari Junior.


"Berapa umurnya sekarang?" tanya Nyonya Emma lemah kepada Sania .


"Enam tahun Nyonya" jawab Sania pelan


"Enam tahun?, itu artinya hampir tujuh tahun kamu menyembunyikan rahasia ini dari kami?, Mengapa?, mengapa kamu melakukan ini?!".


Sania menarik nafas panjang, sedangkan Tuan Anton langsung mengusap kembali punggung istrinya


"Sabar mi, ini sudah malam. Besok kita tanya lagi sama Sania. Sania pasti punya alasan yang kuat, mengapa dia tidak memberi tahu kita bahwa Alexander mempunyai anak dari dia. Besok kita baru minta keterangan lagi dari dia, ya?, kasihan mereka Mi, mereka berdua pasti capek habis perjalanan jauh".


"Tapi aku harus mengetahuinya saat ini juga Pi. Karena perempuan inilah yang menyebabkan anak kita sampai saat ini masih di rumah sakit dan tidak sadarkan diri" ucap Nyonya Emma dengan nada tinggi.


"Jadi anak Opa yang namanya Alexander itu, saat ini di rumah sakit?" tanya Junior kembali.


"Iya Sayang, Anak Opa yang bernama Alexander itu saat ini berada di rumah sakit"


"Tidak bisa sekarang Sayang. Sekarang sudah malam, dan jam besuk rumah sakit juga sudah habis".


"Tapi aku maunya sekarang Opa. Aku nggak mau besok. Pokoknya sekarang. Sekarang ya Opa?, pokoknya sekarang!!, kalau Opa nggak mau sekarang, aku pulang!!".


Nyonya Emang langsung bangkit dari kursinya dan berpindah duduk di sebelah Junior. Dengan cepat di dekap nya dengan erat tubuh Junior sambil menangis terisak.


Dan Sania yang melihat perubahan mendadak pada Nyonya Emma hanya bisa menatap dengan keheranan.


"Tingkahnya mengingatkan mami pada Alexander ketika masih kecil dulu" ucap Nyonya Emma terputus-putus.


Dan Tuan Anton hanya tersenyum getir melihat bagaimana istrinya yang saat ini sedang mendekap Junior. Sedangkan Junior yang di dekap oleh oma nya, hanya menatap kosong.


"Apakah aku, mengingatkan Nyonya dengan anak Nyonya yang bernama Alexander?".


Nyonya Emma mengangguk cepat sambil mengusap kasar wajahnya.


"Opa pernah bilang bahwa aku begitu mirip dengan anak Opa. Apakah benar begitu Nyonya?".


Nyonya Emma menggenggam erat kedua tangan Junior.


"Jangan panggil saya Nyonya, panggil saya oma, ya? karena mulai hari ini, saya adalah Oma kamu"


Junior menggeleng


"Tidak, Nyonya bukan Oma saya. Oma saya ada di rumahnya".


Nyonya Ema hanya bisa tertawa kecut mendengar jawaban polos dari Junior.

__ADS_1


"Oh ya, kan tadi aku sudah bilang sama Opa. Kalau aku mau sekarang ketemu sama anak Opa. Pokoknya sekarang kita harus pergi, ya?"


"Nyonya tolong bilang sama Opa untuk bawa aku ke tempat anaknya Opa. Aku mau ketemu sama anak Opa".


"Kamu boleh pergi menemui anaknya Opa, tapi panggil Nyonya dengan Oma dulu. Setelah itu baru Oma yang akan membawa kamu ke rumah sakit" jawab nyonya Emma.


Junior tampak terdiam sebentar mendengar jawaban dari Nyonya Emma.


"Tapi aku sudah punya Oma, Nyonya. Aku tidak ingin Oma aku marah"


Sania akhirnya tersenyum simpul mendengar jawaban anaknya.


"Jika begitu kita tidak bisa menemui anak Opa" ucap Nyonya Emma lagi.


"Iya iya oke, Oma...., boleh kan suruh Opa mengantar aku menemui anaknya Opa yang bernama Alexander?" tanya Junior.


Kembali dengan refleks, nyonya Emma mendekap erat Junior.


"Jika memang begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ucap tuan Anton yang telah berdiri.


Tuan Anton langsung meraih tangan Junior, membawa Junior keluar dari dalam rumah. Sania dan nyonya Emma mengiring di belakang.


Melihat majikannya keluar dari dalam rumah, beberapa orang Bodyguard langsung berdiri.


"Cukup yang mengiring di belakang kami hanya tiga orang, pakai motor!" perintah Tuan Anton.


Tiga orang Bodyguard langsung menganggukkan kepala mereka. Kemudian berjalan ke arah motor dan langsung mengiringi mobil Tuan Anton yang dikemudikan oleh sopir pribadi.


Tak Butuh waktu lama, Tuan Anton dan rombongan sudah sampai di rumah sakit. Karena tuan Anton memang sudah dikenal oleh rumah sakit ini, jadi pihak rumah sakit begitu melihat Tuan Anton langsung mempersilahkan Tuan Anton untuk masuk ke dalam ruang ICU.


Sania yang mengintip keadaan Alexander melalui jendela, hanya bisa membekap mulutnya.


Sementara Tuan Anton beserta nyonya Emma, dan juga Junior saat ini sudah berada di dalam ruang ICU berdiri di sebelah tubuh Alexander.


"Alexander Sayang, ini Papi datang nak. Papi datang membawa Junior, anak kamu" ucap Tuan Anton terbata-bata.


Tuan Anton lalu mengarahkan tangan Junior untuk menyentuh tangan Alexander.


Junior lalu menggerakkan tangannya yang saat ini berada di atas tangan Alexander, tampak dia seperti meraba-raba.


Kemudian tangannya berpindah ke arah wajah Alexander.


Dan kembali Junior menggerakkan kedua tangannya.


Walaupun saat itu begitu banyak selang dan juga alat ventilator di wajah dan tubuh Alexander, tetapi Junior masih mengingat jika Alexander adalah orang yang pernah bertemu dengannya di playground.


"Ini adalah uncle yang pernah ketemu aku di playground" lirih Junior.


Nyonya Emma langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya mendengar jawaban Junior.


"Uncle, uncle bangun. Ini aku Junior. Teman yang pernah bertemu dengan uncle di playground. Uncle harus bangun, karena Uncle sudah berjanji bahwa Uncle akan main bersama aku lagi, iya kan?".


Belum ada reaksi dari Alexander, dan Junior terus berkata meminta Alexander untuk bangun.


Sampai akhirnya mulai terlihat tangan Alexander bergerak. Jari-jari Alexander mulai bergerak dan kepalanya pun bergerak yang membuat Tuan Anton dan nyonya Emma kaget bercampur haru.


Segera Tuan Anton menekan sebuah tombol yang terhubung dengan dokter. Yang tak lama berselang, beberapa orang dokter langsung masuk ke dalam ruang ICU.


Tuan Anton langsung menarik pelan bahu Junior untuk mengajaknya mundur ketika dokter akan memeriksa secara intensif Alexander.


"Junior....." lirih Alexander.

__ADS_1


Nyonya Emma yang mendengar lirih suara Alexander langsung bersimpuh di lantai dan langsung menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2