Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Ditolong Dokter Anita


__ADS_3

"Lepaskan saya!" ucap Sania menghindari tangan dua pria yang terus berusaha memegang bahunya


Kedua pria tersebut terkekeh melihat Sania yang marah


"Halah, gadis panggilan saja tidak mau kami pegang-pegang, sok suci kamu"


Sania membetulkan posisinya hingga berdiri tegak


"Jaga mulut anda, jika saya perempuan murah seperti yang kalian bilang, tidak mungkin saya lari dari tempat mami"


Keduanya diam dan saling pandang, tampak berfikir mengenai jawaban Sania


Tak lama keduanya makin lancang dan tersenyum penuh arti menatap Sania yang terus berusaha menghindari tangan kurang ajar kedua pria itu


Disaat Sania terus berusaha menghindari tangan kedua pria tersebut, sinar sebuah mobil tampak dari arah belakang.


Sania mempunyai sedikit harapan ketika dilihatnya mobil kian mendekat. Dengan sekuat tenaga Sania berusaha melepaskan tangannya yang saat itu telah dicengkeram kuat oleh seorang diantara mereka


"Tolong..." teriak Sania dengan harapan mobil yang lewat akan berhenti dan menolongnya


Tapi ternyata mobil yang diharapkannya akan berhenti ternyata terus saja


"Pa, berhenti sebentar" ucap seorang wanita yang duduk di sebelah supir


Dia menurunkan kaca mobil dan melongokkan kepalanya, melihat kearah Sania yang terus berusaha menarik tangannya


"Mundur pa, kita harus menolong gadis itu"


Pria yang mengemudikan mobil segera memundurkan mobilnya, melihat mobil tadi mundur, Sania kian berteriak kencang


"Tolong.. tolong..."


Melihat mobil yang tadi sudah pergi kembali lagi, kedua pria yang memegang tangan Sania langsung bersiaga


Mereka kian kencang memegangi kedua tangan Sania dan menatap dengan menyeringai kearah mobil yang berhenti


"Lepaskan gadis itu!"


Kedua pria yang tadi memegang kencang tangan Sania spontan melepaskan tangan Sania ketika dilihatnya jika yang turun adalah lelaki berseragam coklat yang langsung menodongkan pistol kearah mereka


"Kalian pilih pergi atau saya pecahkan kepala kalian?!"


Kedua pria tersebut langsung lari tunggang langgang, dan Sania segera menarik nafas lega


Melihat kedua pria tadi telah pergi, wanita yang ada di dalam mobil tadi segera keluar dan mendekati Sania yang langsung terduduk lemas di trotoar sambil memegang dadanya


"Kamu tidak apa-apa, kan?"


Sania dengan cepat mengangkat wajahnya melihat kearah wanita yang berjongkok memegang bahunya


"Dokter Anita?" ucap Sania lega


Wanita yang sedang memegang pundak Sania segera duduk dan memutar bahu Sania untuk menghadap kearahnya

__ADS_1


"Sania?, ini seriusan kamu?"


Sania dengan cepat memeluk dokter Anita dan langsung menangis tersedu, tangis yang sejak tadi ditahannya


Dokter Anita segera membalas pelukan Sania dan mengusap-usap pundaknya


"Kamu kenapa bisa ada disini malam-malam begini San?"


Dokter Anita segera membantu Sania bangkit, sedangkan suami dokter Anita segera mengambil tas milik Sania yang tergeletak di trotoar dan memasukkannya kedalam mobil


"Aku..." Sania tak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia masih tergugu


"Bawa dia masuk ma!" ucap suami dokter Anita yang telah membukakan pintu mobil


Dengan cepat dokter Anita membimbing Sania masuk kedalam mobil dan segera menutup pintu mobil, kemudian dokter Anita berputar, membuka pintu mobil di sebelah Sania dan duduk bersebelahan dengan Sania


Dokter Anita kembali mengusap pundak Sania karena gadis tersebut masih terus terisak


"Tenang, kamu sudah aman sekarang, nggak usah nangis lagi, ya?"


Sania masih saja terisak dan berusaha menahan air matanya


"Kasih minum ma, biar dia tenang"


Dokter Anita seperti tersadar dan segera memberikan botol air mineral yang ada dalam tasnya


Lalu diberikannya pada Sania dan Sania berusaha menenggaknya sedikit


Tak lama berselang akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah minimalis yang terkesan mewah dan berkelas


"Pa, tas nya Sania tolong ya..."


Suami dokter Anta mengangguk dan segera mengambil tas Sania dan membawanya masuk


Sementara dokter Anita yang telah lebih dulu membawa Sania masuk mengajaknya duduk


Dia masih duduk di sebelah Sania yang wajahnya masih tampak suram


"Berhubung ini sudah malam, kamu istirahat saja dulu, besok baru cerita semuanya, ya?"


Sania mengangguk


"Ma, tasnya papa letakkan di kamar tamu"


"Makasih pa"


Suami dokter Anita tersenyum lalu berjalan naik tangga


"Saya yakin kamu pasti belum makan" ucap dokter Anita ketika didengarnya perut Sania berbunyi


Sania memaksakan senyum karena malu ketahuan dokter Anita jika dia lapar


Dokter Anita segera ke dapur, mengisi piring dengan menu lengkap dan membawanya pada Sania

__ADS_1


"Habiskan, karena saya yakin seharian ini kamu belum makan nasi"


Sania mengangguk, memang benar yang dikatakan dokter Anita, seharian ini belum ada sebiji nasi pun masuk kedalam perutnya.


Sejak tadi dia hanya menangis, melamun dan bengong, hingga sebagai pengganjal perutnya dia hanya memakan siomay yang tadi dibelinya di terminal


Dokter Anita memperhatikan Sania dengan seksama, sebagai seorang dokter dia yakin jika Sania hamil, itu bisa dilihatnya dari perubahan fisik dan bentuk tubuh Sania yang agak lebih berisi, terutama di bagian dada


Sania segera melahap nasi hingga habis tak tersisa, dan segera menenggak air yang juga tadi dibawakan dokter Anita hingga tandas tak bersisa


"Ayo istirahat, saya antar ke kamar kamu"


"Maafkan saya ya dokter karena sudah merepotkan"


Dokter Anita tersenyum sambil menggeleng, dan dengan sayang dia kembali membimbing Sania berjalan kearah kamar


"Kalau mau ke kamar mandi, diujung sana ya" lanjut dokter Anita sambil menunjuk kearah dapur dimana tadi dia masuk


Sania mengangguk


Dokter Anita segera merapikan sprei sementara Sania menyusun bantal. Setelah selesai dokter Anita berpamitan pada Sania keluar dari kamar tamu, naik menyusul suaminya yang telah lebih dulu masuk


...----------------...


Alexander yang sedang lembur sampai lupa waktu dan tak menyadari jika malam telah larut


Dia segera meregangkan ototnya dan mematikan laptop, lalu meraih handphone yang sejak tadi tak disentuhnya


Ada banyak panggilan masuk yang terabaikan dan pesan dari Milena. Alexander hanya tersenyum sekilas membaca pesan dari gadis posesif tersebut


"Nih anak kalau tidak ketemu aku atau mendengar suaraku mati kali ya?" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya


Lalu dia mengunci layar handphonenya yang otomatis akan tampil wajah Sania.


Spontan Alexander tertegun dan kembali teringat Sania


"Apa kabar ya gadis itu?" desisnya yang segera mengaktifkan handphonenya dan membuka aplikasi WhatsApp


Langsung Alexander memeriksa status yang dibagikan isi kontaknya, berharap jika Sania memposting status juga


Tapi sebanyak isi kontak yang membuat status, tak ada satupun status Sania


Ada rasa kecewa dalam dada Alexander ketika mengetahui jika tak ada status yang dibagikan oleh Sania


Alexander segera keluar dari aplikasi WhatsApp dan membuka galeri handphonenya, membuka gambar-gambar Sania


"Sania..." desisnya


Entah ada perasaan aneh dalam dadanya ketika dia menatap gambar gadis tersebut


Kembali kenangan di cottage tiga bulan yang lalu melintas di kepalanya.


Dengan cepat Alexander mengusap wajahnya, mengusap rambutnya dan menarik nafas panjang

__ADS_1


"Kenangan malam itu tak pernah bisa hilang dari ingatanku, air matanya, ratapannya, arrghhh....." ucap Alexander sambil kembali meremas rambutnya dengan perasaan kacau


__ADS_2