
Suara tangisan kencang bayi yang terdengar membuat mami Ajeng dan dua anak buah yang menunggu di luar menarik nafas lega
Bahkan mami Ajeng yang sejak tadi berjalan mondar mandir seketika menghentikan langkahnya dan langsung melompat kegirangan
"Alhamdulillah... akhirnya...." ucapnya kegirangan dan memukul-mukul badan kedua anak buahnya dengan gemas
Kedua anak buah mami hanya tersenyum menahan sakit akibat dipukuli oleh mami
Dan didalam, Sania begitu bayinya keluar langsung tergeletak lemas, Deno menarik nafas lega dan Helen refleks memeluk Sania sambil berlinang air mata
Deno mundur dari dekat kepala Sania dan tersenyum kearah wanita itu yang matanya telah berair
"Selamat ya San...." ucap Deno sambil tersenyum
Sania hanya mengangguk lemah dengan berlinangan air mata
"Terima kasih Den..." lirih Sania yang disambut dengan anggukan kepala Deno
Helen mengusap kepala Sania sambil menciumi pipi gadis itu
"Selamat ya dek"
Sania hanya mampu menggenggam erat tangan Helen dengan berlinangan air mata
Dan ketika perawat meletakkan bayi di atas dada Sania, Deno memilih untuk keluar
Melihat Deno keluar mami Ajeng langsung berdiri
"Gimana?, Sania baik-baik aja kan?"
Deno mengangguk dan duduk di dekat dua temannya
Karena merasa belum cukup puas dengan jawaban Deno mami Ajeng langsung duduk di sebelah pemuda tampan tersebut
"Cowok apa cewek?"
"Kalau aku nggak salah dengar tadi sih katanya cowok mi"
Mami Ajeng mengusap dadanya mendengar jawaban Deno
"Seperti apa tadi di dalam ketika kamu masuk?"
Deno menggeleng
"Ihh, kamu gimana sih?" jawab mami Ajeng sambil memukul kesal punggung Deno
"Semuanya baik-baik aja mi, dan sekarang mami resmi jadi nenek..."
Mami Ajeng langsung melotot kan matanya mendengar jawaban Deno dan kembali dia memukul keras punggung Deno berkali-kali
Kedua anak buah mami yang lain hanya tergelak
"Kalian kenapa ketawa-tawa?"
Refleks keduanya langsung menutup mulut mereka
"Sama kaya Deno ngatain mami jadi nenek juga?"
Keduanya kompak menggeleng, sedangkan Deno cekikikan yang makin membuat mami kesal padanya
"Mami nggak akan masuk lihat cucu mami?"
Deno meringis ketika mami Ajeng menjambak kuat rambutnya
"Anak kurang ajar!" geram mami
"Ampun mi, ampun mi" Deno terkekeh sambil terus berusaha melepaskan tangan mami yang menjambak rambutnya
__ADS_1
Sementara di dalam, selesai IMD, bayi Sania diambil perawat untuk dibersihkan
"Apa pakaian bayinya dibawa bu?"
Mata Helen dan Sania langsung membesar dan mulut mereka ternganga
"Ya Tuhan, kenapa kita tidak berpikir sampai kesana?" kembali Helen panik
"Kami lupa membawanya sus karena tadi urgent" kembali Helen bersuara
"Kalau begitu pakai baju yang sudah dipersiapkan rumah sakit saja"
Sania dan Helen menarik nafas lega mendengar jawaban dokter
Lalu keduanya saling toleh dan sama-sama tertawa
Helen terus mengajak Sania mengobrol ketika dokter dan perawat mengeluarkan ari-ari dan membersihkan jalan lahir Sania
Lalu setelahnya dokter menjahit robekan yang ditimbulkan akibat lahiran tadi
"Silahkan istirahat dulu disini, nanti tiga jam lagi kita pindah ke kamar perawatan"
Helen dan Sania mengangguk kearah dokter yang berpamitan keluar dari ruang persalinan
Karena Sania tak diperbolehkan tidur dan bergerak dalam dua jam ke depan, jadilah Helen menungguinya dan terus mengajaknya ngobrol
Melihat dokter keluar, mami Ajeng segera berdiri dan langsung menghentikan langkah dokter tersebut
"Bagaimana anak dan cucu saya dokter?"
Deno dan dua temannya langsung menahan tawa mendengar ucapan mami Ajeng
Mami Ajeng yang mendengar jika ketiga anak buahnya akan tertawa segera menoleh dan melotot kan matanya
"Oh, semuanya baik-baik saja bu, jika ibu mau masuk sekarang juga sudah bisa"
"Ahhh... selamat ya sayang...." ucap mami Ajeng sambil memeluk dan mengecup kening Sania
Air mata Sania langsung mengalir deras ketika mami Ajeng memeluknya
Mami Ajeng menggelengkan kepalanya demi dilihatnya air mata Sania mengalir deras
"Jangan menangis, mami tahu kamu saat ini sangat sedih, tapi seperti yang telah mami bilang, kalian semua anak mami"
Sania yang terisak kian sesenggukan, dan kembali mami Ajeng harus membungkuk memeluknya
Mami Ajeng terus mengusap kepala Sania yang terbaring, lalu menghapus air mata Sania dengan pelan
"Mi, mau gendong nggak?"
Sania dan mami Ajeng langsung menoleh kearah Helen yang sekarang sedang menggendong bayi mungil yang telah di bedong
Mami Ajeng dengan wajah sumringah langsung mendekat dan dengan cepat mengambil bayi mungil yang berada di dekapan Helen
"Astaga, tampannya anakmu Sania"
Sania yang menoleh kearah mami Ajeng tersenyum getir sambil menghapus air matanya
"Nih lihat, tampan kan?" ucap mami Ajeng memamerkan bayi mungil yang saat ini didekapnya
Jantung Sania langsung berdesir ketika menatap buah hatinya
"Alexander kamu dimana?" batinnya pilu
Kembali air mata deras mengalir dari kedua matanya. Sementara Mami Ajeng dan Helen saling berebut mencium dan menoel pipi bayi merah tersebut
"San, anak kamu panggil kakak, aunty ya...?"
__ADS_1
Sania menghapus air matanya sebelum menjawab permintaan Helen
"Terserah kakak, mana yang baik menurut kakak"
Helen yang kegirangan kembali menciumi pipi bayi mungil tersebut
"Dan mami ingin dipanggil apa mi?"
Sania juga melirik kearah mami ketika Helen berkata seperti itu
Mami Ajeng langsung menyeringai mendengar pertanyaan Helen
"Jangan kurang ajar kamu ya?"
Helen bengong dan menatap bingung kearah mami Ajeng
"Kok kurang ajar mi, kan aku serius nanya"
Mami Ajeng mendecak
"Itu sih Deno dan dua temannya tadi mengolok mami, masa kata mereka mami jadi nenek"
Helen menahan tawanya dengan menutup rapat mulutnya, sedangkan Sania tersenyum
"Kamu kenapa?, mengolok mami juga?"
Helen menggeleng kuat
"Kan memang ibu neneknya?, kok tidak mau dipanggil nenek?" tanya seorang perawat yang masih berjaga di ruangan tersebut
Meledak lah tawa dari mulut Helen, dan dia segera menjauh takut dipukul mami
"Iya saya neneknya, tapi saya kan masih cantik, masa saya dipanggil nenek?" protes Mami Ajeng
Perawat itu tersenyum mendengar jawaban mami
"Panggil oma saja, atau panggilnya dengan sebutan gaul lainnya, kan bisa bu"
Mami Ajeng diam tak memperdulikan ide yang diberikan perawat itu.
Mami kembali menciumi pipi bayi mungil yang saat ini masih terpejam di pelukannya
Sementara di ibu kota Alexander yang sedang berada di kantor sejak malam tadi terus merasakan gelisah yang tak dia tahu sebab musabab nya.
Mark yang berada di ruangannya sepertinya tersadar dengan kegelisahan Alexander
"Are you okay?"
Alexander menarik nafas panjang dan menggeleng gelisah mendengar pertanyaan Mark
Mark menatap serius wajah tegang Alexander, segera dia berjalan kearah meja Alexander dan duduk di kursi yang ada di hadapan Alexander
"Apa ini ada hubungannya dengan hasil meeting di Singapore minggu kemarin?
Kembali Alexander menggeleng
"Aku tidak tahu Mark, sejak semalam aku gelisah. Aku tak tahu apa sebabnya"
"Apa perlu saya panggilkan dokter?"
Kembali Alexander menggeleng, dan kembali dia menghembus nafas panjang
"Wajah anda tegang sekali, apa anda perlu istirahat?, mungkin anda kurang sehat"
Alexander mengendurkan dasinya lalu memundurkan kursinya kebelakang lalu memutarnya membelakangi Mark yang terus menatap khawatir padanya
Mark masih ditempatnya, hanya dipandanginya saja Alexander yang membelakanginya
__ADS_1
Suara nafas panjang yang keluar dari mulut Alexander terdengar jelas oleh telinganya