Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Bertemunya Sania Dengan Alexander


__ADS_3

Karena Alexander terus berjalan kearahnya, dan Sania yang terus berjalan mundur sekarang membentur pintu


Secepat kilat Sania menoleh ke belakang dan segera membalikkan badannya berniat untuk membuka pintu


"Kamu tidak bisa pergi San"


Sania kembali menoleh kearah Alexander yang masih berdiri di tempatnya


"Kenapa tidak bisa?, apa karena kamu telah membayarku?"


Alexander tak menjawab melainkan tetap menatap dalam pada mata Sania


Sania mendorong bahu Alexander sehingga Alexander terdorong kebelakang, lalu Sania berjalan kearah tas nya yang tergeletak di lantai


Dengan tangan gemetar Sania membuka tas nya, gerakan tangannya yang gugup menyulitkannya membuka tas, padahal tas tersebut biasanya sangat mudah dibukanya


"Tenangkan diri kamu San" lirih Alexander trenyuh melihat kegugupan pada diri Sania


Sania tidak memperdulikan ucapan Alexander, setelah tas nya terbuka, dengan cepat diambilnya hp, masih dengan tangan gemetar di bukanya hp dan terlihat tangannya bergerak cepat di atas layar hp, lalu meletakkan benda tersebut ke telinganya


"Angkat mi....." gumamnya panik


"Sania, aku tidak akan melakukan perbuatan tercela seperti yang dulu pernah aku lakukan padamu, jadi tenang saja, jangan panik"


Sania menoleh kearah Alexander dan matanya terus bergerak dengan gugup


"Mi, mami kembalikan uang yang telah ditransfer oleh orang yang booking aku sekarang juga"


Mami Ajeng di seberang kembali mengerutkan keningnya mendengar ucapan Sania, terlebih karena dia mendengar nada suara Sania yang terdengar sangat panik


"Kamu kenapa San?, ada apa dengan kamu?"


"Aku baik-baik saja mi, tolong mami kembalikan sekarang juga!"


Mami Ajeng tidak menjawab melainkan terus mencerna dan menerka nada suara Sania


"Iya, tapi kamu kenapa?"


"Aku baik-baik saja mi, tolong mami kembalikan sekarang, karena sekarang juga aku akan pulang"


Selesai berkata seperti itu Sania segera membalikkan badannya lalu menatap tajam kembali pada Alexander


"Kamu tidak boleh pergi San, kamu harus disini sampai aku yang menyuruhmu pergi"


Sania tersenyum sinis mendengar ucapan Alexander


"Aku cuma minta tolong kamu memaafkanku San, itu saja"


Sania kembali menggeleng dan matanya masih memandang penuh amarah pada Alexander


"Aku tidak tahu San jika perbuatanku malam itu membuatmu hamil" ucap Alexander dengan suara tercekat


"Kenapa kamu tidak memberi tahuku jika kamu hamil, jika aku tahu kamu hamil tentu aku akan bertanggung jawab"

__ADS_1


Sania mendengus dan tersenyum sinis mendengar ucapan Alexander


"Bertanggung jawab kamu bilang, iya?"


Alexander diam, setidaknya dia melihat jika Sania mulai merespon ucapannya


"Kamu tidak tahu Alexander bagaimana hancurnya hidup aku, aku harus menjalani kehamilan aku tanpa suami, diusir oleh mamaku, dituduh oleh orang yang kusayang mengkhianatinya, di pecat secara tidak hormat, luntang lantung hidup menumpang di rumah orang, dan akhirnya kembali terusir, dan kamu bilang kamu ingin meminta maaf untuk semua dosa yang kamu lakukan padaku?"


"Tidak semudah itu Alexander, dosamu terlalu banyak padaku dan Junior, dan sampai aku mati, aku tidak akan memaafkanmu"


Brugggh!!


Alexander menjatuhkan dirinya di lantai, melipat kedua tangannya di depan dada dengan mata merah menahan air mata yang siap tumpah


Sania yang melihat Alexander berlutut di depannya sedikitpun tidak tergerak hatinya, melainkan tersenyum mencemooh


"Tolong San, kamu boleh tidak memaaafkanku, aku terima. Memang itu salahku, tapi aku benar-benar tidak tahu jika kamu ke ibukota untuk menemuiku, aku benar-benar menyesal San"


"Bagaimana kamu akan tahu Alexander, ketika aku datang ke kantormu begitu banyak wanita yang mengelilingimu, bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu meniduri mereka, bahkan disaat aku berharap bisa bertemu denganmu di detik-detik terakhirku di kantor mu, kamu malah meniduri sekretarismu itu"


Alexander langsung menundukkan kepalanya, perasaan malu menyelimuti dirinya begitu menyadari jika kelakuan buruknya dilihat langsung oleh Sania


"Bahkan aku mengikutimu ke club malam, dan kembali aku harus menyaksikan bagaimana kamu meniduri dua wanita sekaligus di apartemen pribadi mu, dari sana aku sadar, siapa kamu sebenarnya, jadi wajar jika kamu memperkosaku tanpa belas kasihan"


Alexander menggeleng


"Tidak San, aku melakukan perbuatan terkutuk padamu malam itu karena ada orang yang memasukkan obat perangsang ke minumanku"


"Bohong!!!!" teriak Sania


"Percuma semua penyesalan yang kau katakan Alexander, karena itu tidak akan bisa mengembalikan hidup aku yang telah porak poranda akibat kau hancurkan"


Alexander tergugu, air matanya mengalir tanpa dapat dicegahnya


"Oleh karena itu tolong biarkan aku menebus semuanya San, tolong"


"Tidak, aku tidak akan pernah memberi maaf padamu Alexander, jadi kamu tidak usah repot-repot untuk memperbaiki kesalahan kamu, karena maafku sudah tidak ada untukmu"


Alexander tertunduk dalam dan bahunya berguncang akibat tangisnya


"Aku sudah meminta mami untuk mengembalikan uang kamu, jadi sekarang aku harus pergi!"


Dengan angkuh Sania berjalan menghindari Alexander yang masih menangis tertunduk


Secepat kilat tangan Alexander menangkap tangan Sania yang melewatinya, menggenggamnya dengan erat


"Lepas!!!" bentak Sania marah


Alexander bergeming, dia terus saja menggenggam erat tangan itu, tak perduli bagaiman Sania berusaha menarik tangannya


"Lepaskan tanganku Alexander!!!" kembali Sania berteriak keras


Alexander bangkit menatap wajah Sania dengan wajah basah

__ADS_1


"Tolong beri aku kesempatan untuk bertemu Junior, San. Aku mohon"


"Tidak!!!" sentak Sania keras sehingga genggaman Alexander terlepas


"Tidak akan aku biarkan sedetikpun kamu bertemu dengan anakku"


Alexander menggeleng


"Dia anakku San, darah dagingku"


PLAAAAKKKKK!!!!


Sebuah tamparan keras mendarat mulus di wajah tampan Alexander yang basah oleh air mata


Alexander memejamkan matanya menerima tamparan dari Sania, sedikitpun dia tidak merasakan sakit akibat tamparan keras dari tangan


Sania, dia tahu bahwa yang Sania rasakan jauh lebih sakit dari ini


"Anakmu kamu bilang?, iya?!" kembali Sania berteriak marah


"Junior anakku, bukan anakmu!!!"


"Seribu kali kau mau berkata Junior anakmu, tidak akan merubah bahwa ada darahku yang mengalir di tubuh Junior"


"Tutup mulutmu Alexander!!!!"


Alexander segera menarik kasar tangan Sania, mendekap paksa tubuh wanita yang saat ini telah menangis histeris


Sania berusaha kuat melepaskan dirinya dari dekapan erat Alexander, berkali-kali bahkan tak berhenti mendorong paksa dada Alexander


"Bajingan kamu Alexander, bajingan kamu!!!" Sania terus berteriak kalap


Alexander yang terus menahan pukulan bahkan cakaran dari Sania hanya bisa mendongakkan kepalanya, berusaha sekuat tenaga menahan laju air matanya yang mengalir deras


"Sakiti saja aku, aku akan terima, pukul semaumu San, bila perlu bunuh saja aku" lirih Alexander dengan suara tercekat


"Aku benar-benar akan membunuhmu Alexander, aku akan membunuhmu!!!!"


Alexander kian erat mendekap Sania yang semakin tak terkendali emosinya


"Aku rela mati di tanganmu San, asal kamu mau memaafkan dan membiarkanku bertemu dengan Junior"


"Tidak akan!!!!!" kembali Sania berteriak histeris dan memukul kuat wajah Alexander dengan kedua tangannya


Saat Sania menggigit kuat dadanya, dekapan erat Alexander sontak terlepas, dia menundukkan sedikit tubuhnya karena rasa sakit mendera dadanya


"Sampai matipun aku tidak akan mempertemukan kalian!" geram Sania dengan wajah basah dan mata yang masih menyorotkan kemarahan


"Aku berhak melihat anakku San, apalagi karena aku tahu jika anakku buta!" Alexander balik berteriak yang membuat Sania kaget mendengar kalimat terakhirnya


"Dari mana kamu tahu jika Junior buta, hah?, dari Dhea?"


Alexander menggeleng

__ADS_1


"Lelaki yang ada di play ground malam itu adalah aku"


Mulut Sania menganga dan air matanya yang jatuh menetes kian deras mengalir


__ADS_2