Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Mendapatkan Nomor Sania


__ADS_3

Alexander yang sampai di rumah, segera turun dari dalam mobilnya dan langsung masuk kedalam rumah.


Hei boy, baju kamu kenapa?" tanya Tuan Anton ketika berpapasan dengan Alexander di tangga.


Alexander hanya menoleh sekilas kemudian menjawab singkat.


"Milena...."


Kemudian Alexander segera mempercepat langkahnya dengan setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan tuan Anton yang tampak kaget.


Ketika sampai di depan kamarnya, Alexander seperti teringat sesuatu sehingga dia kembali memutar badannya.


"Papi!!" teriak Alexander yang menghentikan langkah Tuan Anton yang sudah sampai di ujung tangga.


Tuan Anton menoleh dan sedikit mendongak ke arah Alexander yang sekarang berlari menuruni tangga.


"Kenapa?, Bukannya kamu tadi mau naik ke kamar kamu, kok sekarang turun lagi?"


Alexander tidak memperdulikan pertanyaan Papinya. Melainkan dia segera mengajak Papinya duduk di ruang keluarga


"Apa Sania ada menghubungi papi?" tanya Alexander ketika mereka sudah duduk.


Tuan Anton menarik nafas panjang, kemudian menggeleng.


"Papi yakin jika Sania tidak menghubungi Papi?" tanya Alexander dengan nada curiga.


"Maksud kamu apa Alexander, kamu pikir Papi kamu bohong, begitu?" jawab tuan Anton balik bertanya kepada Alexander.


Wajah Alexander langsung ditekuk mendengar jawaban papinya.


"Iya kan siapa tahu, selama ini yang punya nomor Sania kan cuman Papi".


Tuan Anton mengubah mimik wajahnya seperti kesal mendengar jawaban Alexander. Dia ingin mengetahui seberapa jauh anaknya itu cemburu.


"Ya jangan salahkan Papi dong. Kenapa selama Sania di sini kamu tidak minta nomor Sania?, kan harusnya kamu minta nomor dia. Karena Sania kan Ibu dari anakmu".


Wajah Alexander kian ditekuk mendengar jawaban Papinya.


"Apa papi pikir selama Sania di sini dia ada berbicara denganku? tidak pernah Pi. Dia selalu menghindari ku. Bahkan ketika pulang pun, Sania tidak berpamitan padaku".


Tuan Anton menarik nafas panjang mendengar jawaban sedih Alexander.


"Jika Papi tidak keberatan, mau tidak Papi menelpon Sania malam ini. Entah kenapa aku sangat ingin melihat wajah Junior dan juga mendengar suaranya"


Tuan Anton segera mengeluarkan HP dari saku celananya begitu dia mendengar permintaan Alexander. Dan Tuan Anton langsung mendial nomor Sania.


Tuan Anton menggeleng yang membuat wajah Alexander berubah mendung


"Pi, daerah kita dengan daerah Sania itu hanya beda satu jam. Dan sekarang di sana baru menunjukkan pukul 11.00 malam aku yakin Sania belum tidur"


Tuan Anton kembali mengulangi menempelkan HP ke telinganya.


Dan kali ini tersambung kembali dan dapat didengarnya jika panggilannya disambut oleh Sania.


"Maafkan saya Sania, jika malam-malam saya mengganggu waktumu" sapa Tuan Anton ketika mendengar jawaban dari seberang.


Wajah Tuan Anton langsung mengembangkan sebuah senyum ketika mendengar jawaban Sania.


"Sudah lama sekali sejak kalian pulang dari rumah ini saya tidak mendengar suara cucu saya" lanjut Tuan Anton.


"Apa Tuan ingin berbicara dengan Junior? Jika memang Tuan ingin berbicara dengan Junior, ini Junior sedang rebahan di pangkuan saya. Kami tadi sedang bercerita tentang Tuan. Kebetulan Junior memang menanyakan Tuan".


Dengan cepat Tuan Anton menganggukkan kepalanya ketika mendengar jawaban Sania yang mengatakan jika Junior merindukannya

__ADS_1


Dan Alexander yang duduk di sebelah Papinya memberi kode pada Papinya untuk menloudspeaker panggilan. Agar dia bisa mendengar obrolan antara Papinya dengan Sania.


"Opa?, apakah benar ini yang berbicara sama aku adalah opa?".


Tuan Anton langsung mengubah panggilan ke mode video.


Dan Sania yang melihat jika tuan Anton mengubah panggilan ke video segera menekan ikon warna biru ke atas.


Seketika tampil lah wajah Junior yang membuat Alexander segera mendekat ke arah Papinya.


"Halo anak Papa, apa kabar?" sapa Alexander begitu Dia melihat wajah Junior.


Junior langsung mengembangkan senyum di wajahnya begitu dia mendengar suara Alexander.


"Ini papa?, Papa, Aku kangen sama papa dan juga kangen sama Opa. Kapan papa sama Opa ke sini melihatku?".


Alexander mengembangkan senyumnya ketika mendengar jika anaknya juga merindukannya.


"Tanya sama mama, Kapan mama siap untuk papa jemput?" jawab Alexander yang membuat Sania terkesiap.


"Mama maunya di sini. Mama tidak mau pergi. Jika mama tidak pergi, aku juga tidak bisa pergi. Aku tidak mungkin meninggalkan Mama".


Sania berusaha membuang wajahnya ketika Alexander menatap dirinya.


"Jika begitu, adalah tugas Junior untuk membujuk mama" jawab Alexander sambil tak henti menatap ke arah Sania.


"Oke Papa jika begitu maunya Papa. Besok aku akan membujuk mama, biar mama mau pergi ke rumah opa. Hai Opa, Opa kangen tidak sama aku?. Aku sangat kangen sama Opa. Aku ingin main kuda-kudaan lagi sama Opa".


"Sangat kangen. Sangat kangen sayang. Opa sangat kangen sama cucu terganteng Opa. Rasanya detik ini juga, Opa ingin ke sana untuk memeluk kamu" jawab tuan Anton dengan mata berkaca-kaca.


"Peluk cium dari aku untuk Opa" jawab Junior sambil menempelkan keempat jarinya ke bibir berkali-kali layaknya sebuah ciuman.


Dan Sania yang melihat kelakuan Junior, hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.


"Sania, apakah boleh saya meminta nomor kamu ke Papi?" tanya Alexander dengan pelan.


"Boleh Papa. Papa boleh menyimpan nomor Mama. Nanti jika Papa kangen sama aku, Papa bisa langsung menelpon aku. Tanpa harus meminta sama Opa. ya Mah ya?, boleh kan Ma Papa minta nomor mama?".


Sania bergeming dan masih tidak menjawab permintaan Alexander.


Dan Junior terus memaksa hingga akhirnya Sania mengangguk dan menyetujui.


"Terima kasih Sania" lirih Alexander menjawab ketika Sania memperbolehkannya menyimpan nomornya.


Dan Tuan Anton segera mengambil hp yang sejak tadi digenggam oleh Alexander.


"Junior, Junior tidak nakal kan sayang?"


"Tidak Opa. Junior kan anak hebat. Jadi Junior tidak boleh nakal".


"Anak hebat. Cucu Opa memang hebat".


Lalu setelah itu, Tuan Anton mulai mengobrol akrab dengan Junior. Sehingga membuat rasa kangen di hatinya sedikit terobati. Junior yang mengobrol dengan Tuan Anton juga tampak sangat bahagia. Tak henti mulutnya tertawa, ketika mendengar Tuan Anton menggodanya.


"Sayang, Sepertinya kita sudah lama mengobrol nya. Sekarang waktunya Junior untuk tidur. Jangan lupa tidur sayang ya. Besok Opa pasti akan menelpon Junior lagi, oke?"


"Oke Opa. Terima kasih Opa karena sudah menelpon Junior. Dadah Opa, dadah Papa. I love you Papa".


"I love you too nak. I love you so much" jawab Alexander cepat.


Setelah itu Junior memberikan hp-nya kepada Sania.


"Terima kasih Sania, Karena kamu telah memberikan waktu untuk ku mengobrol dengan anakku. Sekali lagi, Aku mengucapkan terima kasih" ucap Alexander.

__ADS_1


Sania hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu berusaha untuk tersenyum kaku ke arah Alexander. Barulah setelah itu dia mengakhiri obrolan.


Alexander tampak tersenyum bahagia ketika menyerahkan HP ke papinya.


Begitu juga dengan tuan Anton. Beliau juga tampak tersenyum bahagia.


"Karena aku sudah mendapatkan izin dari Sania, maka tidak ada alasan lagi untuk papi tidak memberikan nomor Sania kepadaku" ucap Alexander dengan wajah dingin ke arah Papinya.


Tuan Anton mendecak kesal melihat perubahan spontan dari wajah anaknya.


"Apa kamu jealous, karena Sania lebih mempercayai Papi ketimbang kamu?".


Sekarang giliran Alexander yang mendecak kesal mendengar pertanyaan Papinya.


"Papi apaan sih, aku itu hanya ingin meminta nomor Sania, karena aku ingin dekat dengan anakku. Itu saja"


Tuan Anton hanya menarik sudut bibirnya ketika mendengar jawaban Alexander.


Lalu tanpa basa-basi beliau langsung menyebutkan nomor Sania yang membuat Alexander dengan cepat menekan tombol keypad di hp-nya.


Setelah mendapatkan nomor Sania, dengan cepat Alexander men-save nomor tersebut.


Lalu dia menaikkan alisnya berkali-kali dan tersenyum ke arah Papinya.


"Thanks ya Pi. Papi memang baik".


Sekali lagi Tuan Anton mendecak kesal mendengar pujian Alexander.


"Sekarang Papi baik. Tadi apa, hemm?".


Alexander mengembangkan senyum di bibirnya melihat wajah Papinya yang jadi jutek.


"Terima kasih ya Pi, karena Papi telah bersedia menerima Junior"


Tuan Anton menepuk-nepuk pundak Alexander.


"Bagaimana Papi tidak bisa menerima Junior. Wajah Junior itu benar-benar mirip wajahmu Alexander. Tidak ada satupun yang berbeda antara dirimu dan Junior"


Sekali lagi Alexander mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Papinya.


"Bahkan mamimu nyaris pingsan ketika dia pertama kali melihat wajah Junior"


"Oh ya?, apakah sampai sebegitu nya mami, Pi?" tanya Alexander kaget.


Teman Anton menganggukkan kepalanya.


"Akhirnya, setelah Papi bicara dengan mamimu dan mengatakan jika Junior itu adalah anakmu, barulah Mamimu sedikit sadar"


"Dan keesokan harinya, mamimu langsung memamerkan foto masa kecilmu kepada Sania. Dan Sania saat itu juga sangat kaget ketika melihat bahwa wajah Junior memang sangat mirip dengan dirimu ketika kamu masih kecil"


"Apalagi ketika mamimu mengatakan bahwa keras kepala Junior itu diwariskan dari keras kepalanya kamu".


Kalimat terakhir ini sukses membuat Alexander terkekeh


"Terus apa kata Sania Pi?".


"Sania hanya tersenyum. Dia tidak sama sekali berkomentar"


"Ya..... boleh jadi dia tidak berkomentar karena dia takut akan membuat Mami tersinggung" bela Alexander.


Teman Anton menganggukkan kepalanya setuju dengan jawaban Alexander.


"Perempuan itu memang perempuan cerdas. Kamu memang tidak salah memilihnya untuk menjadi ibu dari anakmu" puji Tuan Anton yang membuat Alexander tersenyum bangga.

__ADS_1


"Apa jika aku berniat menikahinya, papi sama mami setuju?".


Tuan Anton terdiam mendengar pertanyaan Alexander.


__ADS_2