Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Frustasi


__ADS_3

Sekali lagi Alexander menarik nafas panjang melihat bagaimana kacaunya Milena.


Dan Milena yang berurai air mata berusaha untuk melihat dalamnya mata Alexander. Seolah mencari jawaban pasti.


"Katakan padaku Alexander bahwa ini semua yang bohong!?" ucap Milena.


Alexander menggeleng


"Tidak ada yang bohong disini Milena. Semuanya benar. Dan memang benar aku sudah mempunyai anak dan aku mencintai ibu dari anakku".


Secepat kilat Milena mengangkat gelas yang ada di hadapannya, lalu menyiramkan isinya ke wajah Alexander.


Alexander yang wajahnya basah disiram oleh Milena, hanya bisa memalingkan sedikit wajahnya. Dan tak lama setelah itu dia mengusap wajahnya


"Dasar lelaki kurang ajar, bertahun-tahun aku pacaran sama kamu. Bertahun-tahun aku mencintai kamu, tapi ternyata ini balasan mu untukku?"


Alexander kali ini tidak berusaha untuk menenangkan Milena. Dia hanya diam ketika Milena berteriak marah padanya.


Dan pengunjung lain segera menoleh, dan melihat Milena yang berdiri sambil berteriak marah kepada Alexander. Sehingga kedua pasang muda-mudi itu menjadi pusat perhatian orang yang ada di restoran ini.


Sepertinya tak cukup hanya dengan berteriak. Milena yang bangkit dari kursinya segera menarik kasar kerah baju Alexander.


"Apa kurangnya aku, sehingga kamu selama ini membohongiku?" tanya Milena dengan wajah sedih sambil masih menarik kerah baju Alexander.


Dan Alexander, yang kembali dipermalukan oleh Milena hanya bisa diam dan pasrah menghadapi kemarahan gadis itu.


"Jangan hanya diam Alexander. Katakan padaku, Apa kurangnya aku sampai kamu berpaling dariku??"


Dan Alexander yang tidak tahan karena Milena terus berteriak secara brutal di depan wajahnya, segera menangkap kedua tangan gadis itu dan melepaskannya dengan kasar dari kerah bajunya.


Lalu Alexander menatap tajam ke arah Milena.


Dan Milena berbalik menatap lebih tajam ke arah Alexander dengan dadanya yang turun naik.


Kemudian Alexander segera bangkit dari kursinya, tanpa berkata sepatah kata pun. Kemudian dia segera meninggalkan Milena yang terus berteriak dengan memaki-maki dirinya.


Alexander tidak memperdulikan berapa banyak pasang mata yang menatap ke arahnya ketika dia meninggalkan restoran tersebut.


Dengan baju yang sedikit basah akibat tadi disiram oleh Milena, Alexander segera berjalan ke arah mobilnya.


Segera masuk ke dalam mobil mewah tersebut, Lalu bergegas meninggalkan restoran tempat dimana dia dan Milena janjian bertemu.


Alexander tidak lagi mempedulikan bagaimana Milena yang terduduk kembali sambil menangis di tempat mereka makan tadi.


Alexander segera melajukan mobilnya menuju rumah, dan tidak memikirkan kejadian yang barusan terjadi.


Tetapi berbeda halnya dengan Milena, dia yang masih menangis di meja tempatnya makan bersama Alexander tadi, masih menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di restoran ini.

__ADS_1


Sampai akhirnya, pemilik restoran dengan berani menghampirinya. Menarik kursi, lalu duduk di hadapan Milena.


Milena yang menyadari jika ada orang lain di depannya, segera mengangkat kepalanya dan mengusap kasar wajahnya yang basah.


"Apa perlu saya menelpon keluarga anda, Milena?" tanya lelaki dewasa tersebut.


Milena menggeleng.


"Tidak perlu Uncle. Papi nggak perlu tahu masalah pribadi saya. Saya harap, Uncle tidak bercerita tentang insiden ini ke Papi".


Pria tersebut menganggukkan kepalanya, kemudian menatap dalam ke arah Milena yang masih nampak sangat sedih.


'Apa perlu Uncle antar kamu pulang?" kembali pria tersebut bertanya dan lagi-lagi Milena menggeleng.


"Tidak perlu Uncle, aku tidak mungkin pulang dalam keadaan kacau begini. Aku akan meminta temanku untuk menjemput ku di sini".


Pria tersebut mengangguk. Lalu kembali menatap ke arah Milena yang sekarang tengah menempelkan HP ke telinganya.


Setelah selesai berbicara di HP, Milena menatap pria, pemilik restoran mewah ini yang masih tampak betah duduk di tempatnya.


"Teman saya sudah di jalan Uncle untuk jemput saya"


Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum.


"Jika kamu memang butuh bantuan, segera beritahu Uncle. Uncle akan dengan senang hati membantu kamu".


Milena menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tersenyum. Walaupun dengan senyum yang sangat dipaksakan nya.


Dan dia segera berjalan menuju meja Milena, ketika Milena melambaikan tangan ke arahnya.


Karena teman yang dimaksud oleh Milena sudah datang, Milena segera berdiri dari kursinya. Lalu menganggukkan sedikit kepalanya ke arah pemilik restoran tersebut, kemudian dia berjalan keluar bersama lelaki tampan yang saat ini menggenggam erat tangannya.


Mobil kamu, biar teman saya yang bawa. Kamu naik mobil saya saja" ucap lelaki tampan tersebut ketika mereka sudah berada di luar restoran.


Milena tidak membantah. Melainkan segera mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikan kepada teman pria yang saat ini masih menggenggam tangannya.


Teman pria Milena segera melajukan mobilnya, lalu meninggalkan area restoran, dan berlalu menembus padatnya jalan kota.


Dan pria tersebut menghentikan mobilnya di sebuah klub malam. Ketika akan turun, kembali Dia mengulurkan tangannya yang disambut Milena dengan mengulurkan tangannya pula.


"Lupakan segala beban yang menghimpit hati kamu, saatnya kita happy" ucap pria itu berbisik di telinga Milena, ketika mereka akan masuk ke dalam klub malam yang tampak sangat hingar-bingar tersebut.


Milena hanya menganggukkan kepalanya. Tapi mata dan raut wajahnya tidak bisa berbohong, bahwa dia masih tampak sangat sedih.


Suara musik yang begitu berisik, tidak bisa mengalahkan kesedihan yang melanda hati Milena.


Pria yang tadi mengajaknya, segera membawanya ke salah satu bartender dan memesan minuman beralkohol.

__ADS_1


Tanpa ragu Milena segera menenggak minuman yang disuguhkan oleh Bartender tersebut, kemudian meminta tambah kembali.


Teman pria yang bersama dengan Milena hanya tersenyum ketika melihat Milena begitu banyak minum.


Dan ketika dilihatnya Milena hampir mabuk, segera diajaknya Milena turun ke lantai di mana sangat banyak orang sedang berjingkrak kan.


"Go to hell kamu Alexander, dasar kamu lelaki bejat!!!" ucap Milena dengan nada mabuk sambil memukul dada teman prianya.


Pria tersebut hanya tersenyum ketika Milena bergumam tak jelas sambil memaki-maki dirinya.


"Aku benci kamu Alexander!!, Aku benci kamu. Aku akan membuat hidupmu hancur seperti kamu yang telah menghancurkan hidupku" kembali Milena berkata sambil memukul dada pria yang saat ini menangkap tubuhnya.


Milena yang benar-benar sudah mabuk, hanya bisa berdiri lunglai di dekapan pria tersebut.


Hingga akhirnya teman pria tadi yang membawa mobil Milena menghampiri pria tersebut. Dan pria itu menganggukkan kepalanya ke arah temannya.


Dengan sedikit kesusahan pria tersebut membawa Milena keluar dari dalam klub malam itu . Lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya kembali.


Dan kembali dia melajukan mobilnya dengan ngebut menuju ke sebuah tempat yang memang sudah direncanakannya sejak awal.


Di sebuah kamar apartemen, Pria tersebut segera meletakkan dengan pelan tubuh Milena yang sudah tidak sadarkan diri.


"Perempuan ini sangat banyak minum tadi. Wajar jika dia mabuk berat dan tidak ingat apa-apa lagi" gumam pria tersebut


Ditatapnya dari atas hingga ke bawah tubuh Milena yang saat itu menggunakan dress berwarna hitam dengan belahan yang sangat tinggi.


Jakunnya langsung turun naik ketika melihat tubuh Milena yang sangat menantang dirinya.


Dan Milena yang memang sudah mabuk berat, hanya bisa memejamkan matanya. Tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


Sehingga pria tersebut semakin leluasa menjamah seluruh tubuh Milena.


Dan dia semakin kalap ketika menyingkap bagian atas tubuh Milena.


Dengan rakus di lahapnya dada Milena, sementara tangannya mulai bergerilya kebagian bawah.


Karena Milena tidak melakukan perlawanan, pria tersebut semakin leluasa melancarkan aksinya.


Sehingga tubuh Milena yang sekarang sudah menjadi polos, segera disantapnya.


Tubuh Milena sudah tidak karuan bentuknya akibat dibolak-balik kan oleh pria tersebut.


Dan pria tersebut semakin tidak terkendali ketika dia akan mencapai puncak.


Dengan teriakan tertahan, akhirnya pria tersebut ambruk di sebelah tubuh Milena.


Pria tersebut menoleh sebentar ke arah Milena yang masih tidak sadarkan diri dengan nafasnya yang memburu dan terengah-engah

__ADS_1


Akhirnya, aku kembali bisa menikmati tubuh perempuan ini" gumam pria tersebut sambil mengusap kepala Milena.


Dengan segera dikecupnya dengan dalam kening Milena. Setelah itu, pria tersebut menarik selimut lalu menutupi tubuh polos mereka berdua.


__ADS_2