
Mark yang berdiri di samping Alexander kian tegang dan panik. Sebelumnya dia tidak pernah sepanik dan setegang ini. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya dia merasa takut untuk bertemu dengan tuan Anton. Dia tahu dia bersalah, tapi dia tidak menyangka jika akan begini jadinya
_Dua Jam sebelum Alexander dan Mark tiba di kantor_
Mark menggerakkan badannya dan menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, dan betapa kaget dirinya ketika meraih handphone yang terletak di atas meja. Mode silent handphonenya semalam tidak diubahnya, sehingga panggilan yang masuk tidak didengarnya sama sekali
Segera Mark melompat dari tempat tidur ketika melihat jam sudah menunjukkan angka dua belas lebih, segera dia berteriak lantang membangunkan Alexander yang masih pulas di atas sofa. Sehingga membuat pria tampan tersebut langsung membuka matanya. Dan Alexander pun sama paniknya seperti Mark ketika melihat jam di handphonenya. Terlebih ketika melihat ada banyak panggilan masuk yang terabaikan
Keduanya berebut masuk kedalam kamar mandi, mencuci muka, lalu kembali terburu mengambil sepatu. Sambil berlari masuk kedalam lift, keduanya memakai sepatu di sana. Dan kembali Alexander harus mengumpat karena Mark lama mengambil mobil di basement
“Cepat….!!!” Ucap Alexander panik ketika keduanya sudah di dalam mobil
Wajah Mark tegang, begitu juga dengan Alexander. Keduanya tampak gelisah dan saling menyalahkan satu sama lain
“Ini semua gara-gara kamu. Coba kalau kamu tidak memintaku untuk begadang menunggumu, aku tentu tidak akan terlambat” rutuk Mark
“Yang menyuruhmu bergadang siapam, hah?. Bukankah kamu tidur lebih dulu dari aku” balas Alexander tak kalah sengitnya
“Kamu lupa apa, aku tidur jam berapa? Aku tidur itu nyaris jam tiga pagi Lex”
“Masih mending kamu tidur jam tiga, aku jam lima lewat”
Keduanya diam, dan kembali fokus menatap kejalan raya yang masih tampak macet. Berkali-kali Mark mengklakson dan menarik nafas panjang dengan wajah yang menyiratkan kepanikan.
“Mana hari ini ada meeting.....” keluh Mark sambil kembali menghembus nafas panjang
“Kenapa kamu tidak suruh cancel meetingnya” umpat Alexander lagi
“Cancel terus, kapan selesainya Lex. Dan ini semua gara-gara kamu aku tidak jadi meeting hari ini. Dan jika nanti tuan Anton marah, aku akan bilang jika ini semua salah kamu”
Bagai tersengat kalajengking, keduanya sama-sama mengambil hp dan melihat berapa kali tuan Anton menghubungi mereka
“Papi meneleponku tiga kali, kamu?”
“Sama” jawab Mark
“Ada pesan masuk?” tanya Alexander lagi
Mark menyerahkan handphone miliknya pada Alexander, meminta pria itu untuk memeriksa pesan yang masuk karena dia akan fokus kembali menyetir
“Gila, kepala divisi dan sekretarisku mengirimimu begitu banyak pesan”
Kembali Mark menghembus nafas panjang
“Mark, papi yang memimpin meeting” ucap Alexander tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar handphone milik Mark
Secepat kilat Mark mengambil hp nya yang masih digenggam oleh Alexander, dan membaca sendiri pesan yang dikirim oleh sekretaris Alexander yang mengatakan jika akhirnya dia menelepon tuan Anton dan tuan Anton yang akan memimpin meeting
“Mati aku Lex…. Tuan Anton pasti sangat marah sama aku” keluh Mark lagi sambil segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Keduanya tiba di kantor, dan suasana kantor tampak lengang. Tidak ada satupun karyawan di kantor tersebut, oleh karena itulah akhirnya Mark berinisiatif menelepon kolega yang sudah ada janji dengannya untuk meeting hari ini
__ADS_1
“Loh, tadi tuan Anton bilang ada dinas luar. Karena itulah makanya tuan Anton yang menghandle semuanya”
Mark tergagap, dan buru-buru meralat ucapannya
“Iya memang benar tuan, saya dan Alexander sedang ada di luar kota. Kami ada urusan bisnis juga, oleh karena itulah tuan Anton yang menggantikan kami hari ini. Terima kasih tuan karena telah hadir dalam meeting hari ini” setelah itu kembali Mark menghembus nafas panjang dan mendecak kesal kearah Alexander yang juga berwajah muram
“Terus kenapa kantor lengang?. Tidak mungkin kan semua karyawan dipulangkan oleh tuan Anton?” gumam Mark
Alexander mengangguk. Karena di luar, di parkiran dia jelas melihat jika mobil dan motor kendaraan karyawan masih terparkir dengan rapih. Bahkan mobil tuan Anton masih berada di tempatnya
“Biar aku telepon papi” ucap Alexander memutuskan. Setelah itu dengan cepat dia merogoh hp nya, dan langsung mendial nomor papinya. Tersambung tapi tidak diangkat, malah di reject. Dan Alexander semakin yakin jika papinya marah padanya, oleh karena itulah diulanginya kembali mendial nomor papinya dan langsung mengucapkan permintaan maaf ketika panggilan tersambung
Tapi yang mengangkat bukan papinya, melainkan kepala divisi yang semakin membuat ciut nyali Alexander.
“Terus kita harus bagaimana Mark?” gumam Alexander
“Keruangan kamu. Aku yakin selesai ini tuan Anton akan keruangan kamu. Kita terima saja nasib kita hari ini. Memang kita yang salah….”
Alexander mengangguk lemah sambil berjalan mendahului Mark ke ruangannya. Sampai di dalam ruangannya, dia segera menghenyakkan pantatnya di sofa, dan langsung menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dan memijit keningnya. Dan Mark tak ubahnya seperti Alexander, keduanya sama-sama seperti frustasi
Sementara di ruang aula, tuan Anton yang masih memberikan instruksi kepada seluruh karyawannya sengaja mengulur waktu untuk memberi pelajaran pada kedua anaknya. Dan seluruh karyawan yang memang sudah lama tidak bertemu dengan tuan Anton, ditambah lagi dengan banyaknya karyawan yang tidak pernah bertemu langsung apalagi bisa mendengarkan arahan dari beliau tentu saja memanfaatkan momen bersejarah ini dengan sebaik-baiknya. Apalagi arahan dari tuan Anton bersifat santai, tidak kaku sehingga karyawan banyak yang tersenyum bahkan tertawa ketika tuan Anton melemparkan joke pada karyawannya
Dan Alexander beserta Mark yang menunggu di dalam ruangan kian merasa tegang dan bosan. Untuk menelepon mereka tidak berani lagi. Terlebih Mark yang sama sekali tidak berani menelepon tuan Anton.
Wajah Alexander dan Mark kembali tegang ketika pintu ruangan Alexander di dorong dari luar. Keduanya sontak berdiri dan langsung menelan ludah dengan susah payah
“Pi…..” sapa Alexander dengan suara tercekat
Mark dan Alexander saling toleh, kemudian keduanya sama-sama duduk. Dan memandang tegang kearah tuan Anton yang masih memandang tajam kearah mereka
“Aku bisa jelaskan pi….” ucap Alexander akhirnya karena sang papi sejak tadi hanya diam
Tuan Anton masih bergeming, dan melipat kedua kakinya, tetapi pandangannya masih dingin dan menusuk. Sehingga membuat nyali Alexander dan Mark kembali ciut
“Aku mengaku salah pi. Tidak seharusnya aku pergi meninggalkan pekerjaan dan mengabaikan meeting penting hari ini. Tapi sumpah pi, ini tidak aku sengaja. Aku tidak tahu jika akan sesiang ini kami terjaga dari tidur”
Tuan Anton masih diam, dan masih tampak serius memandang wajah kedua anaknya. Jika Alexander berusaha menjelaskan alasan walau dengan mimik takut, maka Mark hanya bisa duduk gelisah dan sesekali memandang takut kearah tuan Anton
“Tapi papi kan tahu, selama ini kami berdua tidak pernah seteledor ini. Papi tahu sendiri bagaimana dedikasi kami pada perusahaan. Tapi untuk kali ini, tolong maafkan kesalahan kami berdua pi”
Tuan Anton masih diam, dan menarik nafas panjang.
“Sebenarnya ini bukan kesalahan kami berdua pi, ini murni kesalahan Alex” akhirnya Alexander menggunakan kalimat yang sejak tadi tak ingin dia ucapkan
“Kesalahan kamu sendiri, maksudnya?” tuan Anton akhirnya bersuara
Dengan menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya, akhirnya Alexander mulai menceritakan semuanya pada tuan Anton. Mengapa mereka berdua bisa bangun kesiangan
“Kamu yakin jika papi akan mempercayai cerita mu?”
Mulut Alexander ternganga. Jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Dia menyangka jika cerita panjang lebarnya tadi akan dipercaya oleh papinya, tapi ternyata tuan Anton masih bersikap seperti tadi
__ADS_1
“Benar tuan, Alexander tidak bohong, jika tuan tidak percaya. Saya akan menghubungi ahli IT yang semalam membantu pekerjaan kami” ucap Mark membela Alexander
Tuan Anton kembali menatap tajam kearah Mark yang membuat pria Prancis itu menunduk dan menghindari tatapan tajam tuan Anton padanya
Lalu mulailah tuan Anton memarahi keduanya, meluapkan rasa kecewanya karena keteledoran mereka berdua
“Mereka itu kolega lama papi Lex, Mark. Apa yang akan terjadi jika mereka akhirnya kecewa dan membuat reputasi perusahaan kita buruk, kalian mau tanggung jawab?”
“Kepercayaan itu modal utama, kalian pasti tahu itu. Papi tidak suka dengan orang yang tidak komitmen dengan pekerjaannya. Terutama kamu Alexander, jangan kamu jadikan cucuku dan Sania sebagai alasan. Papi memaklumi kamu pergi menemui anakmu karena ingin meminta Sania untuk fokus mengurusi anakmu, tapi dengan kamu teledor hari ini, membuat papi kecewa”
Alexander dan Mark tidak bisa berkata satu patah katapun. Keduanya hanya bisa diam dan menundukkan kepala mereka. Dan kembali tuan Anton menasehati keduanya, dan berharap jika ini adalah pertama dan terakhir
“Jika kalian berdua tidak sanggup lagi mengurusi perusahaan pusat ini, biar perusahaan ini papi ambil alih lagi. Biar kalian berdua papi kirim ke anak perusahan lain”
Mark dan Alexander sontak mengangkat kepala mereka dan menatap wajah tuan Anton dengan raut wajah sangat menyesal
Ucapan tuan Anton langsung terpending ketika hp nya berdering. Alexander dan Mark menarik nafas panjang karena tuan Anton berhenti dengan omelannya
Tuan Anton mengerutkan keningnya ketika melihat panggilan masuk. Dia melirik sekilas kearah Alexander yang juga saat ini menatap kearahnya
“Ya San?, ada apa?” jawab tuan Anton sambil matanya terus menatap kearah Alexander
“Maaf Tuan, Junior mengamuk…..”
Tatapan Alexander pada sang papi kian tegang dan sangat ingin tahu, terlebih ketika dia mendengar jika papinya tadi menyebut kata San. Dia yakin jika menelepon papinya saat ini adalah Sania
“Berikan hp kamu pada cucuku…..”
Alexander kembali menarik nafas panjang, dan ada sedikit lega di hatinya ketika papinya menyebut kata cucu
“Pi, tolong di loudspeaker” ucap Alexander. Dia sudah lupa, jika saat ini papinya sedang marah padanya
“Opa….. papa aku mana????”
Tuan Anton langsung mengembangkan senyumnya ketika mendengar teriakan cucunya
“Kok malah nyari papa, kan sekarang Junior sedang menelepon Opa. Apa Junior tidak kangen dengan Opa?”
Alexander dan Mark langsung saling toleh kembali, suara tinggi dengan nada dingin tuan Anton ketika memarahi dan menasehati keduanya tadi seketika hilang berganti dengan suara lembut penuh sayang
“Aku kangen sama opa, tapi saat aku bangun tidur, papa itu nggak ada, padahal papa sudah janji kalau papa akan tidur sama aku. Papa bohongin aku Opa. Aku mau opa marahin papa, karena papa pulang tanpa pamit sama aku”
Senyum mengembang di wajah tuan Anton. Dan ketegangan yang sejak tadi ada diwajahnya hilang seketika, berganti dengan senyuman hangat
“Pasti sayang, pasti opa akan memarahi papa kamu karena telah membohongi kamu. Tidak ada satu orangpun yang boleh membohongi cucu opa, iya kan?”
Kembali sennyum terkembang di wajah tuan Anton, terlebih ketika di seberang terdengar celotehan Junior
“Harus aku akui, mitos yang mengatakan segarang-garangnya seorang lelaki, dia akan berlaku lembut pada cucunya” bisik Mark kearah Alexander yang menyikut lengannya
“Siap-siap tahta yang selama ini kamu banggakan akan berpindah pada anakmu Alexander” kembali Mark berbisik, dan kali ini bukan hanya sikutan yang didapatkannya, melainkan juga pelototan kesal dari Alexander
__ADS_1
“Diam kamu Mark, harusnya kamu bersyukur, jika bukan karena anakku. Aku yakin papi masih akan memarahi kita berdua”