Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Mulai Mencari Titik Terang


__ADS_3

Kembali Sania menggeleng cepat.


"Junior harus minta izin dulu sama mama, jika mama bilang Junior boleh ikut Opa, maka Opa akan membawa Junior. Tapi, jika mama tidak mengizinkan, maka Opa tidak berani" jawab tuan Anton pelan sambil menatap ke arah Sania yang wajahnya kembali tegang.


"Mama pasti akan menuruti semua permintaanku. Sama seperti Opa yang menuruti keinginanku" jawab Junior percaya diri.


Tuan Anton tersenyum getir mendengar jawaban polos Junior.


"Tidak semudah itu nak" batin Tuan Anton sambil mengusap kepala Junior.


Sementara di ibukota, lima Bodyguard berjaga di depan ruang ICU dan tiga orang lagi kembali ke rumah menjaga Nyonya Emma di istananya.


Keadaan Alexander yang kembali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, membuat Nyonya Emma kembali berwajah murung dan akhirnya menuruti permintaan dokter untuk beristirahat di rumahnya agar dia tidak kembali kolaps.


Sepanjang jalan menuju ke rumahnya, Nyonya Emma gelisah. Dia kembali memikirkan reaksi suaminya ketika mendengar suara teriakan anak kecil ketika mendapat telepon tadi.


"Aku harus mencari tahu siapa anak kecil tersebut" gumam Nyonya Emma.


Segera diambilnya handphone dan segera menghubungi Mark.


Tapi Nyonya Emma harus menelan kekecewaan karena nomor Mark tidak aktif. Itu dikarenakan Mark begitu tuan Anton pergi, dia langsung menuju kantor.


"Siapa anak kecil tadi?, Apa mungkin dia Anaknya Alexander?, wajahnya sangat mirip sama Alexander. Tapi, tidak mungkin Alexander punya anak. Kan Alexander belum menikah. Jika pun Alexander ada anak dari perempuan, mengapa dia menyembunyikannya dari kami?"


Begitu banyak pertanyaan berkelebat di kepala Nyonya Emma sehingga membuatnya menjadi semakin pusing.


"Segera jalankan mobilnya dengan cepat Pak, kepala saya makin pusing" ucap Nyonya Emma kepada sopir yang menganggukkan kepalanya.


Begitu mobil berhenti, nyonya Emma meminta kepada sopir untuk memanggil asisten rumah tangga untuk membantunya naik ke kamarnya.


Asisten rumah tangga yang mendengar teriakan dari sopir segera berlari tergopoh dan langsung membimbing Nyonya Emma naik ke kamarnya.


"Tolong siapkan saya susu Bi, Kepala saya sangat pusing" lirih Nyonya Emma sambil segera membaringkan tubuhnya.


Asisten rumah tangga tersebut menganggukkan kepalanya lalu segera keluar dari kamar nyonya Emma dan segera membuatkan susu untuk majikannya tersebut.


Sementara Mark yang kembali ke kantor langsung menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Terlebih karena beberapa karyawan masih melihat tanda biru lebam di wajah Mark.


Mark tidak memperdulikan bagaimana para karyawan Gio Group melihat heran ke arahnya. Dia terus saja berjalan ke arah ruangannya.


Dan ketika dia berpapasan dengan Sandra, sekretaris pribadinya Alexander, Mark langsung membalikkan badannya dan segera memanggil perempuan tersebut.


Sandra langsung menghentikan langkahnya dan wajahnya langsung sumringah ketika untuk pertama kalinya Mark memanggil dirinya dan menghentikan langkahnya.


Dengan cepat Sandra memutar badannya dan langsung menatap ke arah Mark dengan memasang senyum maut.


"Bisa kita bicara empat mata?" tanya Mark yang semakin membuat hati Sandra berbunga-bunga.


"Tentu saja Tuan, Why no, Kapan Tuan mau bicara sama saya?" tanya Sandra dengan nada suara genit.


Mark langsung memaki dalam hati begitu mendengar nada bicara Sandra yang sangat Dia benci.


"Sekarang juga, kamu silakan ikut ke ruangan saya!" jawab Mark dingin.


Tak perlu menunggu perintah dua kali, Sandra langsung berjalan cepat mengekor di belakang Mark yang segera masuk ke dalam ruangannya.


Mark senyum sinis ketika melihat Sandra membetulkan roknya.


"Saya ingin bertanya sama kamu tapi kamu harus jawab jujur" ucap Mark to the point pada Sandra dengan nada dingin.


Jantung Sandra langsung berdegup kencang ketika Mark berbicara demikian. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, dia berpikir bahwa Mark akan menyatakan cinta padanya.


"Tuan mau tanya apa?, silakan tanya apa saja. Dengan senang hati saya akan menjawab dengan jujur dari hati saya yang terdalam" kembali Sandra menjawab dengan nada genit yang dibuat-buat dan itu makin membuat Mark muak.


"Apa kamu kenal dengan seorang perempuan bernama Sania?" tanya Mak langsung yang membuat mata Sandra membulat.


Sania mengedip-ngedipkan matanya dengan pelan dengan mulut ternganga dia sama sekali tidak menyangka jika pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut Mark.


Mark segera menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya, kemudian dia melipat kedua tangannya dan menatap serius ke wajah Sandra yang masih menatap dengan tak percaya padanya.


"Hey Sandra, saya bertanya sama kamu. Kok kamu malah bengong?" tanya Mark setelah sekian menit Sandra hanya diam.


Sandra tergagap dan segera mengedipkan matanya

__ADS_1


"Ah, apa tuan?, tadi tuan tanya apa?" .


Mak langsung mendecak kesal mendengar pertanyaan balik dari Sandra.


"Saya yakin kamu mendengar jelas pertanyaan dari saya tadi, apa perlu saya ulangi kembali?" ucap Mark dengan nada dingin yang membuat Sandra langsung menelan ludahnya dan kesal.


"Sania?, Sania yang mana ya tuan?, saya tidak pernah mengenal wanita yang namanya Sania dan juga seluruh karyawan di perusahaan ini tidak ada yang bernama Sania" jawab Sandra yakin.


Mark langsung memajukan tubuhnya, dan meletakkan kedua tangannya di atas meja lalu menatap tajam ke wajah Sandra yang membuat perempuan cantik tersebut kembali harus menelan ludahnya dengan susah payah.


"Sekali lagi saya tanya sama kamu, Apakah kamu kenal dengan perempuan yang bernama Sania?".


Dan kali ini Sandra menggeleng dengan cepat


"Tidak Tuan, Saya tidak pernah mengenal orang yang bernama Sania dan saya yakin sekali bahwa saya tidak pernah mengenal perempuan itu" jawab Sandra pasti.


Mark makin tajam menatap ke wajah Sandra yang membuat perempuan itu langsung gelisah dan jantungnya berdegup makin kencang.


"Jika saya dapat bukti yang menyatakan bahwa kamu pernah mengetahui dan bertemu dengan Sania, tamat riwayat kamu!" geram Mark dengan kembali bernada dingin.


Kembali Sandra menelan ludahnya dengan susah payah dan mengangguk pelan


"Percaya sama saya tuan, saya tidak pernah mengenal orang yang bernama Sania"


Setelah itu Sandra menunduk menghindari tatapan tajam dari mata Mark.


Mark kembali memundurkan tubuhnya kemudian menarik nafas panjang


"Baiklah jika kamu memang tidak mengenal Sania, kamu boleh keluar dari ruangan ini".


Sandra langsung menarik nafas lega, bangkit dari kursinya kemudian menganggukkan sedikit kepalanya ke arah Mark. Kemudian dia langsung berjalan cepat keluar dari ruangan lelaki dingin tersebut.


"Haduh....,mimpi apa aku semalam, kupikir Tuan Mark memanggilku ingin bicara empat mata karena dia mau menyatakan cintanya. Ehh tau dia malah mau bertanya masalah perempuan yang gak jelas" gerutu Sandra.


Sepeninggal Sandra, Mark langsung mencari data tamu tujuh tahun yang lalu yang pernah datang ke kantor ini.


Karena begitu banyak tamu yang datang ke kantor ini membuatnya kesulitan mencari nama Sania diantara ribuan daftar nama yang tertera.

__ADS_1


__ADS_2