
Deno segera bangkit dari kursi ketika didengarnya bel berbunyi
Sania hanya menoleh kearah depan, dan membiarkan Deno membuka pintu
Deno langsung terdiam ketika di depannya saat ini berdiri kedua orang tuanya.
Sang mama langsung memeluk erat tubuh Deno dan menitikkan air mata.
Jika sang mama terharu memeluk Deno, berbeda halnya dengan sang papa, tuan Arifin, beliau memasang wajah datar
Deno hanya mengusap lengan sang mama ketika sang mama terus memeluknya
"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah nak?"
Deno diam dan membawa mamanya ke kursi
"Siapa Den?" teriak Sania
Tuan Arifin dan istri saling toleh
"Itu temannya kakak" ucap Deno sambil menoleh pada sang mama
Karena tak mendapat jawaban dari Deno, Sania berdiri dan keluar dari belakang
Sania memasang senyum kaku ketika dilihatnya wanita paruh baya menatap kearahnya
"Sania, kenalin ini mama papa saya"
Sania maju dan mengulurkan tangannya yang disambut oleh tuan Arifin dan istri dengan tatapan datar
"Kamu siapa?" tanya mama Deno
"Saya temannya dokter Anita"
Tuan Arifin memandang Sania dengan tajam, dan Sania segera kembali kebelakang karena khawatir dengan posisinya saat ini
"Bilang sama papa, kenapa kamu kabur dari tempat rehab?"
Deno mendecak dan membuang wajahnya karena tak suka dengan pertanyaan sang papa
Sementara Sania yang kembali ke dapur segera menyiapkan dua gelas teh dan membawanya ke depan, setelah itu dia kembali lagi ke belakang, membereskan dapur yang berantakan oleh Deno
Lamat-lamat Sania mendengar suara papanya Deno yang mulai meninggi. Dia yakin jika saat ini di depan sedang terjadi keributan
Sania yang tak berani kembali ke kamarnya, memilih berdiam diri di dapur dengan menyibukkan diri dengan beres-beres
...----------------...
Milena yang berada di ruangan tuan Jeremy segera membantu sang papa memeriksa laporan
Milena yang seorang lulusan sarjana bisnis dari universitas terkenal luar negeri tak membutuhkan waktu lama untuk segera memahami cara kerja yang papanya arahkan
Sambil memastikan kelengahan sang papa, Milena dengan cepat mengambil proposal kerja sama dari perusahaan GIO GROUP yang masih terletak di atas meja tuan Jeremy
Milena segera memasukkan proposal tersebut kedalam tasnya, untuk dia pelajari di rumah
Pak Jeremy memandang sambil tersenyum kearah putrinya yang tampak fokus bekerja
"Mil, jika kamu memang benar-benar ingin jadi wanita karir, kamu bisa bekerja di perusahaan ini"
"Yes, ini kesempatan untuk aku merayu papa biar mau bekerja sama dengan perusahaannya Alex" batin Milena
"Nanti Mil pikirkan lagi pa"
Tuan Jeremy mengangguk dan kembali fokus dengan pekerjaannya
Sementara dokter Anita yang diberitahu pak Arifin jika mereka akan kerumahnya segera pulang
__ADS_1
Lagian dia juga mengkhawatirkan keadaan Sania yang tak mengangkat panggilannya
Saat dokter Anita masuk kedalam rumah, didapatinya papanya sedang marah-marah pada Deno yang hanya menundukkan kepalanya
"Sudah dong pa, kasihan Deno" ucapnya ketika dia duduk di sebelah adiknya
Tuan Arifin mendengus
"Inilah yang menyebabkan kenapa Deno makin ngelunjak karena kalian terlalu memanjakannya"
"Pa, Deno kabur dari tempat rehab karena Deno nggak betah di sana"
Wajah dokter Anita berubah kaget, benar tebakannya jika adiknya itu kabur bukan karena masa rehabnya telah selesai dan dia dinyatakan sembuh
"Jadi benar kamu kabur dek?"
Deno melengos
"Jika papa dan kakak tidak bisa menerima keberadaan ku, lebih baik aku pergi dari sini"
Deno segera berdiri dan dengan cepat tangannya ditarik oleh mamanya
"Biarkan saja ma anak itu pergi, kita lihat akan jadi apa dia di jalanan"
Sania yang sejak tadi duduk di belakang, berdiri dan memberanikan diri untuk mengintip
Dilihatnya bagaimana tuan Arifin berdiri berhadap-hadapan dengan Deno
Dia menggidikkan bahunya melihat dus lelaki dewasa saling berhadap-hadapan
"Bilang sama papa kamu mau apa sekarang, mau pergi?, silahkan pergi"
Deno yang tersinggung dengan ucapan papanya tanpa pikir panjang lagi segera pergi
Mamanya dengan cepat mengejar, begitu juga dengan dokter Anita
"Biarkan Deno pergi ma, Deno akan buktikan sama papa, jika Deni jauh lebih baik di luar"
"Tapi dek?"
Deno melengos, dan segera melepas tangan mamanya dan segera pergi
Dokter Anita memeluk sang mama yang menangis. Sementara tuan Arifin yang wajahnya merah menahan marah hanya bisa terduduk
Sania kembali ketempat duduknya tak berani berkutik, niatnya ingin mengejar Deno diurungkannya karena dia takut jika akan kena marah pula dengan tuan Arifin
...----------------...
Sementara di tempat lain, tepatnya di desa terpencil tempat Deri sedang bertugas
Deri yang seorang dokter muda menjadi dokter idola semua warga. Semua warga sangat menyayangi dan menghormatinya
Karena daerahnya jauh dan terpencil, untuk menghubungi keluarganya dan Sania, dokter Deri harus pergi naik keatas bukit untuk mencari sinyal
Seperti siang ini, saat dokter Deri santai dan belum ada kegiatan, dia memutuskan untuk berjalan di desa dingin ini
Kabut menyelimuti perbukitan ketika dia berjalan naik ke bukit untuk mencari sinyal
Di jalan dia berpapasan dengan warga yang sedang bekerja di kebun mereka. Sapaan dan lambaian tangan dari warga tak berhenti ketika warga melihat dokter Deri
"Kabutnya tebal dokter, dokter mau kemana siang-siang begini?"
Deri melambaikan handphonenya memberi isyarat jika dia ingin mencari sinyal
Deri segera naik keatas batu tempat dimana dia biasa mendapatkan sinyal, duduk di sana dan mengangkat sebentar hp nya keatas guna memancing sinyal
Setelah mendapatkan sinyal, mulailah hpnya berbunyi tak berhenti.
__ADS_1
Begitu banyak pesan yang masuk, tapi tak satupun pesan yang masuk dari Sania
Dokter Deri menarik nafas kecewa karena Sania tak pernah lagi menghubunginya
Dengan segera dokter Deri mendial nomor Sania tetapi gagal. Dia memandang handphonenya dengan tercenung ketika tak ada lagi gambar di profil kontak Sania
"Kok Sania blokir aku" ucapnya khawatir
Sekali lagi dicobanya menelepon, tetapi tetap gagal
"Benar, Sania memblokir aku" ucapnya mengusap wajahnya tak mengerti
Dicarinya kontak mama Sania, bu Liza. Dengan segera dia mendial nomor tersebut
Tersambung dan diangkat. Bu Liza yang memang mengetahui jika Deri adalah teman spesialnya Sania begitu melihat siapa yang meneleponnya segera mengangkatnya
Awal percakapan mereka hanya basa-basi menanyai kabar, sampai akhirnya Deri menanyakan keberadaan Sania
Dengan menarik nafas panjang bu Liza menjawab
"Ibu juga nggak tahu dimana Sania sekarang"
Jantung dokter Deri berdetak cepat, khawatir mulai menyelimuti benaknya
"Ibu kan ibunya, tidak mungkin ibu tidak tahu dimana Sania. Tolong bu jangan tutupi Sania dari aku, ibu tahu bagaimana hubunganku dengan Sania selama ini"
Air mata bu Liza langsung mengalir. Dan isak tangisnya jelas didengar oleh dokter Deri
Dan makin membuat dokter Deri penasaran dan khawatir
"Apa Sania tidak pernah menghubungimu?"
"Tidak bu, sudah lama sekali Sania tidak menghubungiku"
Disela isak tangisnya, bu Liza menarik nafas panjang
"Sania ibu usir dari rumah"
Wajah dokter Deri terkesiap dan perasaannya makin tak enak
"Mengapa bu?, mengapa ibu mengusir Nia?"
Kembali didengarnya suara isakan bu Liza makin dalam
"Nia hamil, Der"
Degup jantung dokter Deri makin berdetak kencang dan kakinya lemas serasa tak bertulang
"Aaaa.. apa buk?, Nia hamil..?"
Tangis bu Liza makin pecah, luka hatinya karena kecewa pada Sania kembali menganga
Deri mengusap wajahnya frustasi, berkali-kali dia mengusap wajahnya untuk memastikan jika yang didengarnya salah
"Nggak mungkin buk, Nia sangat mencintaiku, tidak mungkin dia hamil"
Isakan bu Liza makin kencang ketika didengarnya suara shock Deri
"Tapi itulah yang terjadi Der"
Lalu sambil dengan terisak bu Liza menceritakan semuanya bagaimana dia tahu jika Sania hamil, dan tak lupa juga dia menceritakan bagaimana niat Sania yang aborsi, Sania yang dipecat dan penolakan Sania ketika beliau mengajaknya untuk aborsi lagi
Sepanjang bu Liza bercerita, tak terasa air mata dokter Deri mengalir, sakit sekali rasanya hatinya, mendapati gadis yang disayanginya hamil anak orang lain
Berkelebat di kepalanya bagaimana mereka dulu saling berjanji untuk setia, dan mereka pun sama-sama berjanji jika mereka akan bersatu selamanya
Deri mengusap kasar wajahnya, air matanya terus mengalir walau obrolan dengan bu Liza telah berakhir
__ADS_1
Kabut makin tebal, dan cuaca makin dingin. Tapi dokter Deri tak sedikitpun ingin beranjak pergi dari sana, dia benar-benar shock dan bingung harus melakukan apa saat ini