
Mark menarik nafas panjang ketika dia menoleh kearah Alexander yang sekarang sedikitpun tak bergerak itu. Dia yakin jika anak bos besarnya itu saat ini sudah sangat tenang dan pulas. Kemudian mata Mark ikut meredup akibat obat yang tadi disuntikkan dokter ke jaringan kulitnya, perlahan dan pasti mata tajam bagai mata elang itu akhirnya tertutup dan yang terdengar hanya tarikan nafas teratur.
Sementara di kediaman mami Ajeng, Sania yang saat ini sudah berada di dalam kamarnya tak lantas bisa memicingkan matanya. Mami Ajeng dan para gadis penghuni rumah bordil ini ikut mengantarnya masuk kedalam kamar. Dan mereka sepertinya enggan meninggalkan gadis yang sangat terlihat rapuh itu
Tangis Sania kembali pecah ketika dia membuka lemari pakaian Junior dan mengambil baju yang biasa dikenakan oleh anaknya tersebut
“Dimana kamu nak…..?” isak Sania
Tangisnya semakin menyayat hati ketika dia meraih potret Junior yang ada di atas meja hiasnya. Beberapa gadis malam mendekat dan mendekap Sania, sebagian lagi mengusap-usap punggung Sania
“Junior tidak akan kenapa-napa San, yakinlah….” hibur mami Ajeng
Sania menarik nafas panjang, menoleh kearah mami Ajeng dengan wajah basah
“Ini hampir tiga hari mami, tapi sedikitpun belum ada kabar keberadaan Junior dimana”
Wajah para gadis malam itu kian menatap sedih kearah Sania ketika gadis itu berkata
“Kamu harus optimis Sania. Yakinlah jika semuanya akan baik-baik saja. Kamu istirahatlah, bahkan mami lihat bajumu masih baju yang kamu pakai ketika kejadian”
Sania menunduk melihat kearah baju yang dipakainya, kemudian dia tersenyum getir
“Aku akan mandi, dan aku istirahat. Aku sangat lelah mami, fisik dan pikiran aku sangat lelah”
Para gadis yang berdiri di dekat Sania menganggukkan kepala mereka dan mengusap lengan Sania. Dan mereka semua hanya bisa menatap kearah Sania yang keluar dari dalam kamar menuju ke kamar mandi yang ada di belakang
“Kalian silahkan kembali ke kamar kalian masing-masing. Biar mami yang menemani Sania malam ini”
Ketujuh gadis malam itu menganggukkan kepala mereka menuruti perintah mami Ajeng. Secara bersamaan mereka keluar dari dalam kamar Sania dan berjalan menuju ruang tamu. Berniat melanjutkan obrolan mereka yang sempat terputus tadi
“Aku akan menyiapkan mie instan untuk Sania. Aku yakin dia tidak akan menolak” ucap Helen yang memang mengetahui kesukaan Sania
Segera dia berjalan ke dapur, dan langsung mengambil sebungkus mie instan lengkap dengan sebuah telur, lalu dia mulai menyeduh mie rebus untuk sahabatnya itu
Helen berhenti di depan kamar Sania, satu tangannya memegang nampan berisi semangkuk mie rebus dan sebotol air putih, dan satu tangan lagi digunakannya untuk mengetuk pintu
Mami Ajeng yang saat itu memperhatikan Sania menyisir rambutnya menoleh kearah pintu ketika terdengar suara pintu di ketuk
__ADS_1
“Masuk…” ucap mami Ajeng
Sania menoleh dan kembali ada senyum terkembang di bibirnya ketika dia menoleh dan melihat Helen masuk dengan mengembangkan senyum manis kearahnya
“Aku yakin kamu belum makan, dan akan susah jika disuruh makan. Makanya aku buatkan kamu mie rebus”
Sania mendekat dan langsung menerima nampan yang dibawa Helen. Segera dia duduk di atas ranjang, bersebelahan dengan Helen dan langsung makan mie rebus tersebut dengan lahap
“Sekarang aku akan keluar, dan kamu tidur, ya?” ucap Helen sambil mengambil mangkuk kosong dari tangan Sania
Sania tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan perhatian Helen padanya. Kemudian Helen segera keluar dari dalam kamar Sania dan menutup rapat pintu
“Kalau aku tak salah dengar, Jason terlibat dalam hal ini mami” lirih Sania ketika beberapa menit diam
Mami yang duduk di kursi, menatap serius kearah Sania. Seakan tak percaya, jika Jason, bodyguard yang paling dekat dengan Junior terlibat dalam hilangnya Junior
“Kamu yakin?”
Sania mengangguk pelan.
“Aku dengar ketika tuan Anton menerima laporan dari anak buahnya. Dan anak buahnya itu tahu dari Alexander”
Dan dia juga tak lupa menceritakan rekaman yang memperlihatkan jika saat itu Junior bersama dengan tuan Anton, hingga sampai detik ini misteri tentang tuan Anton ada di saat itu belum bisa dipecahkan. Karena jelas-jelas Sania melihat jika tuan Anton datang bersama dengan Alexander. Jadi teka teki misteri tentang orang yang mirip tuan Anton yang mengajak Junior pergi masih diselidiki oleh Alexander yang sampai saat ini masih belum juga kembali sejak dia pergi
“Dan sekarang semakin pelik mi, tadi sempat ada ledakan di daerah luar. Dan aku semakin takut, apa sebenarnya tujuan mereka menculik anakku”
Mulut mami Ajeng ternganga ketika Sania mengatakan tentang adanya ledakan. Manusiawi jika dia bergidik ngeri, tapi dia berusaha tenang, tak ingin terlihat panik di depan anak asuhnya, dia tak ingin Sania semakin khawatir
“Tidurlah, ini sudah sangat larut, bukankah tadi tuan Anton berkata jika besok akan menjemputmu lagi?”
Sania mengangguk, dengan wajah yang masih diliputi rasa sedih, dia berbaring. Sementara mami Ajeng yang semula duduk di kursi, berpindah duduk di sebelah Sania, dan mengusap-usap kepala Sania dengan sayang
“Aku serasa sedang di belai oleh mama ku mi, aku kangen sekali sama mama…..” lirih Sania dengan suara getir menahan air mata
“St….., sudah. Jangan banyak pikiran. Kamu harus istirahat, ingat kamu butuh energi yang banyak untuk besok”
Sania menganggukkan kepalanya, kemudian meletakkan kepalanya di atas paha mami Ajeng. Secara perlahan air matanya mengalir, berbagai pikiran berkelebat dan menyerbu otaknya hingga membuatnya berkali-kali menarik nafas panjang
__ADS_1
“Berdoa, Cuma Tuhan satu-satunya penolong kita” lirih mami Ajeng sambil terus mengusap kepala Sania
Sekali lagi Sania menarik nafas panjang, memejamkan matanya dan berdoa di dalam hati untuk ketenangan pikiran dan keselamatan anaknya. Lambat laun matanya yang terpejam benar-benar terpejam dan diapun akhirnya nyenyak
Mami Ajeng hanya bisa menatap wajah Sania yang saat ini telah tertidur dengan tatapan sedih. Wajah tenangnya menyemburatkan kesedihan dan keletihan. Hingga mami Ajeng mengusap-usap alis Sania hingga akhirnya wajah tegang itu berubah tenang dan akhirnya mami Ajeng bisa menarik nafas lega
“Begitu berat beban yang harus kamu pikul nak. Entah apa tujuan Tuhan menguji mu dengan berbagai macam cobaan ini” batin mami Ajeng sedih
Jam delapan pagi tuan Anton keluar dari dalam hotel tempatnya bermalam malam ini, kemudian dia segera masuk kedalam sebuah mobil berwarna hitam yang telah siap membawanya menuju rumah sakit tempat Alexander dan Mark di rawat malam tadi
Nyaris satu jam barulah mobil yang membawa Tuan Anton masuk ke area rumah sakit, dan begitu mobil berhenti, tuan Anton segera turun. Dan bodyguard yang menjaga Alexander dan Mark semalam yang telah diberitahu jika tuan Anton telah tiba segera turun dan langsung mengawal tuan Anton menuju ruang perawatan tempat Alexander dan Mark berada
“Apa mereka masih tidur?” tanya tuan Anton sambil berjalan
“Masih tuan. Dan baru saja dokter keluar dari dalam ruangan memeriksa keadaan keduanya”
Tuan Anton tak lagi bertanya, dia meneruskan langkahnya menuju ruangan kedua anaknya, dan meminta pada salah satu bodyguard untuk memanggil dokter, karena tuan Anton ingin meminta keterangan dari dokter tentang keadaan kedua anaknya
“Mereka baik-baik saja tuan. Mungkin pengaruh obat tidur dan penenang yang saya berikan semalam masih bekerja, karena itulah keduanya sampai saat ini belum sadar”
Tuan Anton menganggukkan kepalanya ketika mendengar penjelasan dokter kemudian dia bertanya lagi tentang ahli IT yang juga ada bersama kedua anaknya malam tadi
“Dia sudah bangun tuan. Dan sekarang sedang bekerja” jawab bodyguard yang berdiri di belakang tuan Anton
Tuan Anton membalikkan badannya dan meminta pada bodyguard tersebut untuk mengantarnya ke ruang dimana ahli IT itu dirawat. Tuan Anton hanya menoleh sekilas kearah dokter ketika dia akan meninggalkan ruangan kedua anaknya, setelah itu tuan Anton berjalan bergegas pindah keruangan lain
Ahli IT mengangkat kepalanya ketika mendengar pintu ruangannya dibuka seseorang
“Oh, anda tuan Anton” ucap pria tersebut yang kembali fokus menatap layar laptop yang ada di depan wajahnya
“Ada perkembangan?”
Ahli IT tersebut tidak menjawab pertanyaan tuan Anton melain kembali fokus menatap layar laptop
“Apa anda kenal sama perempuan ini?” tanya ahli IT memutar laptopnya menghadap kearah tuan Anton
Tuan Anton terkesiap begitu dia melihat wajah perempuan yang ditunjukkan oleh ahli IT tersebut
__ADS_1
“Dari mana anda mendapatkan rekaman ini?” tanya tuan Anton dengan suara bergetar