Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Terusir


__ADS_3

Di pagi hari Sania telah bangun, tapi sang mama sampai Sania selesai beraktifitas masih juga belum keluar dari kamarnya


Dengan ragu, Sania mengetuk pintu kamar sang mama


"Ma?, mama sudah bangun belum?, sudah siang loh ma..."


Tak ada sahutan, kembali Sania mengetuk


"Ma?, mama sehat kan?"


Masih tak ada sahutan, sedangkan di dalam kamar, sang mama kembali menelungkupkan wajahnya ke dalam bantal, menangis sekuat-kuatnya


Karena tak mendapat jawaban, Sania kembali lagi kebelakang, beraktifitas lain


Selagi dia memotong sayur untuk di masak, tiba giliran dia membuka toples bawang goreng, perutnya mulai bergejolak


Sekuat tenaga Sania menahan jangan sampai dia muntah, tapi usahanya sia-sia


Dengan cepat Sania berlari masuk ke kamar mandi, mengeluarkan semua isi perutnya


Mama Liza yang ada di dalam kamar mendengar dengan jelas suara Sania yang muntah, tangisnya semakin pecah dan dia semakin yakin jika apa yang dikatakan pak Doni benar, jika Sania hamil


Dengan perasaan hancur Mama Liza berjalan keluar dari dalam kamar, dan berjalan kearah kamar mandi. Berdiri tepat di depan pintu kamar mandi


Sementara di dalam, Sania yang terus mengeluarkan isi perutnya sudah merasa lemas dan air matanya telah mengalir akibat dia muntah


Setelah dirasanya mualnya telah reda, Sania segera membasuh muka dan mengusap kasar wajahnya


Betapa terkejutnya Sania ketika dia membuka pintu kamar mandi, ternyata sang mama telah berdiri menatapnya dengan mata tajam


"Mama? bikin Nia kaget aja"


Mama Liza tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi sedangkan Sania memaksakan sebuah senyum kaku agar mamanya tidak curiga


"Kamu muntah?"


Sania menelan ludahnya dengan perasaan takut sebelum dia mengangguk


"Hamil?"


Sania menggeleng cepat. Mama Liza menarik nafas panjang dan langsung menangis meraung


"Jangan bohong Nia, mama sudah tahu semuanya"


Degup jantung Sania kian berdetak kencang dan dia tak berani bergerak sedikitpun melihat mamanya menangis pilu


"Mengapa Nia?, mengapa kamu mengkhianati pesan mama, mengapa kamu tidak bisa menjaga diri kamu?"


"Kamu tahu Nia, kamu adalah satu-satunya anak mama, harapan mama, tapi harapan itu kamu hancurkan" tangis mama Liza pilu


Sania yang sejak melihat mamanya menangis telah terisak semakin menunduk dalam


"Sini kamu, jelaskan pada mama" lanjut mama Liza sambil menarik kasar tangan Sania.


Lalu membawanya duduk di kursi dan kembali menginterogasinya


"Katakan, apa benar yang dikatakan pak Doni jika kamu hamil dan berniat aborsi?, benar Nia??!"


Sania tak berani menjawab, dia hanya bisa terus terisak


"Tega kamu Nia, tega kamu sama mama. Apa kurang didikan mama sama kamu sampai kamu melakukan hubungan terlarang?, kurang apa nasehat mama sama kamu Nia, iya?"


Mama Liza menutup wajahnya dengan frustasi dan terus terisak


"Kelewatan kamu Nia. Bunuh saja mama Nia, dari pada kamu mempermalukan mama seperti ini!!!"


Sania mengangkat wajahnya dan segera memeluk mamanya yang kian histeris


"Maafkan Nia, ma. Sumpah ini tidak seperti yang orang bilang dan tidak seperti yang mama pikirkan"


"Apa?, apa yang tidak seperti mama pikirkan, hah?, ya Tuhan Nia, kamu harapan mama, harapan terakhir mama malah kamu yang membuat mama sakit Nia"

__ADS_1


Sania terus memeluk mamanya berusaha menenangkannya


"Sejak kapan kamu hamil dan siapa ayah dari janin mu itu?"


Sania diam tak menjawab, dia tak ingin mamanya makin shock jika mengetahui kebenaran siapa Alexander


Mama Liza menarik tubuh Sania yang memeluknya, menatapnya dengan penuh harap


"Katakan Nia, apa dia mau tanggung jawab?"


Sania bergeming


"Mama lupa, jika lelaki itu mau bertanggung jawab mana mungkin kamu ingin menggugurkannya" sambung mama Liza frustasi


"Apa yang harus mama katakan pada mendiang papamu Nia, apa yang harus mama jawab jika nanti kami bertemu di akhirat??"


"Mama gagal, mama telah gagal menjadi orang tua" lanjut beliau yang kembali mengusap kasar wajahnya yang berlinang air mata


"Katakan sama mama siapa lelaki yang telah menghamili mu, katakan Nia, siapa dia??!"


"Apa Deri, dokter muda itu?"


Karena selama ini mama Liza hanya mengetahui hanya Deri lah lelaki yang dekat dengan Sania


Sania menggeleng


"Jadi siapa dia?, katakan sama mama, mama yang akan mendatanginya dan mama yang memintanya bertanggung jawab"


Sania kembali diam


"Apa mama harus menelpon pak Doni, bertanya pada beliau?"


"Pak Doni juga tidak tahu ma"


"Lalu siapa lelaki yang menghamili mu, kamu tidak mungkin dihamili oleh setan!!"


"Jawab mama Nia, jika tidak mama akan bunuh diri!!"


"Jangan ma, jangan lakukan apapun lagi untuk Nia, Nia terlalu mengecewakan mama, Nia minta maaf ma, tapi Nia mohon mama jangan melakukan perbuatan yang akan membuat Nia menyesal seumur hidup"


"Jika begitu katakan sama mama, mengapa bisa sampai kamu hamil? apa benar yang mama dengar jika gadis-gadis di kota besar memang biasa kumpul kebo??"


Sania kembali menggeleng cepat


"Jika begitu jawab pertanyaan mama Nia, siapa lelaki itu???" teriak mama Liza frustasi


"Alexander, ma"


Mama Liza terdiam, nama itu tak sekalipun pernah didengarnya dari Sania


"Siapa dia?"


Sania menggeleng


"Kamu tidak mengenalnya??"


Sania mengangguk pelan. Mama Liza menutup wajahnya


"Bodohnya kamu Sania, jika kamu tidak mengenal lelaki itu mengapa bisa kamu menyerahkan mahkota berharga yang kamu miliki padanya??"


"Dasar bodoh, ceroboh!!!" berkali-kali mama Liza memukul badan Sania dengan geram


"Kalau sudah begini apa yang harus kamu lakukan, hah?, kamu sudah temui lelaki itu?, minta pertanggungjawabannya?


Sania mengangguk


"Apa katanya?"


Sania diam. Kediaman Sania makin membuatnya sedih, marah dan kecewa mama Liza kian menggunung


"Dia tidak mau tanggung jawab? iya??!"

__ADS_1


"Itulah makanya Nia, pikir-pikir dulu sebelum melakukan perbuatan terlarang tersebut, jangan hanya mementingkan hawa nafsu!!"


Sania terus terisak mendengarkan kemarahan mamanya


"Nia diperkosa Alexander ma, ini bukan kemauan Nia"


Mata mama Liza yang penuh air mata terbelalak kaget


"Diperkosa?" ucapnya dengan bibir bergetar


Nia mengangguk


"Jika begitu, ayo kamu ikut mama, kita gugurkan janin itu, mama tidak mau punya cucu yang tidak jelas asal-usulnya, mama malu Nia dengan tetangga, apa kata tetangga jika mereka tahu kamu hamil tanpa ada suami"


Sania menggeleng dan menyentuh perutnya


"Tidak ma, Nia tidak mau menggugurkan janin ini, ini anak Nia ma. Walau nanti Nia tidak bersuami Nia rela, asal anak ini selamat dan terus sama Nia"


Mama Liza tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari Sania, dia berfikir jika Sania akan setuju dengan usulnya untuk menggugurkan janin tersebut, toh janin itu masih kecil masih mudah untuk digugurkan


"Jadi kamu mau mempertahankan janin itu?" tanyanya tak percaya


Dengan air mata yang berlinang Sania mengangguk. Mama Liza menyandarkan kepalanya ke kursi dengan frustasi dengan linangan air mata yang kian deras


"Jika begitu keputusan kamu, kamu harus bisa memilih antara mama dan janin mu!"


Sania langsung menoleh kearah mamanya


"Pilih mama atau janin itu, jika kamu pilih mama, kamu gugurkan janin itu, jika kamu pilih janin itu kamu pergi dari rumah ini, mama tidak mau satu atap dengan anak yang berzina"


Sania spontan bersujud di kaki mamanya sambil menangis terisak


"Tolong mama jangan kasih Nia pilihan berat ma, mama tahu Nia sangat mencintai dan menyayangi mama, tapi Nia juga tidak bisa ma menggugurkan janin ini, Nia tidak mau menambah dosa ma, Nia ingin dia tetap hidup, walau bagaimanapun dia anak Nia, ma"


Mama Liza menarik kakinya, dan Sania masih terus berusaha memeluk kaki itu


"Jika itu pilihan kamu, kamu harus rela kehilangan mama!"


"Tidak ma, Nia tidak mau menghilangkan mama, tolong ma jangan katakan itu" ratap Sania sambil masih terus memeluk kaki mamanya


"Pergi kamu dari sini Nia, anggaplah mamamu telah mati" ucap mama Liza dingin


Sania kian mengeratkan pelukannya di kaki sang mama yang air matanya telah mengering


"Nia mohon jangan usir Nia ma, Nia mau pergi kemana ma, Nia tidak punya tempat lain selain rumah ini"


Mama Liza mendongakkan matanya menahan air mata yang telah siap kembali tumpah


"Pergilah kamu Nia, pergilah kemanapun kamu mau, jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Rumah ini mulai detik ini juga tertutup untuk kamu!"


Nia mendongakkan wajahnya menatap ke arah mamanya tak percaya


"Pergi kamu Nia, mulai hari ini kamu bukan anak mama lagi, mama tidak mau punya anak yang hamil di luar nikah dan tidak mengetahui siapa ayah dari janinnya"


"Pergilah, dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini, seperti yang mama katakan, anggap mama telah mati"


Setelah berkata begitu mama Liza menarik kakinya dengan kasar dan masuk kembali kedalam kamar dan menguncinya dari dalam


Sania mengejar dan terus menggedor pintu kamar mamanya, terus meratap dan memohon maaf berharap mamanya mau mengerti dan memaafkannya


Hampir setengah jam Sania terduduk meratap di depan kamar mamanya, tapi mamanya terus memintanya untuk segera meninggalkan rumah


Dengan hati yang hancur, Sania masuk ke kamarnya, mengambil pakaiannya yang hanya ada beberapa lembar di dalam lemari, karena seluruh pakaiannya tertinggal semua di rumah mami Ajeng


Setelah memasukkan pakaian kedalam tas, Sania kembali berdiri di depan pintu kamar mamanya


"Ma, Nia pergi yaa ma, mama jaga kesehatan ya Ma.." ucapnya sambil terisak


"Maafkan Nia ma, maaf karena telah mengecewakan mama"


Setelah itu Sania berlari keluar rumah sambil berurai air mata. Hatinya sangat hancur, kembali dia harus merasakan sakitnya berpisah dengan orang yang dia sayangi

__ADS_1


Sementara di kamar, mama Liza menangis meraung panjang dengan membekapkan wajahnya kedalam bantal


__ADS_2