
“Jika mama pergi kamu tidak sendiri nak. Ada oma Ajeng, ada aunty Helen, aunty Dhea dan aunty-aunty yang lain, ada uncle Deno, uncle penjaga dan juga Opa Anton. Mereka akan menyayangi kamu sama seperti mama menyayangi kamu. Dan tentu saja ada papa kamu Alexander Louise yang juga akan menyayangi kamu….”
Semuanya tersenyum dalam tangis ketika mendengar kelanjutan kalimat yang diucapkan Sania. Mama Liza hanya bisa menangis pilu ketika tidak ada namanya disebut oleh Sania. Dan mami Ajeng yang mendekap Junior hanya bisa mengusap kepala cucu kesayangannya dengan hati hancur. Dan Alexander yang mendengar pujian Sania pada dirinya hanya bisa tersenyum getir penuh derita
“Sebenarnya kamu punya oma kandung nak…..”
Mama Liza mengangkat kepalanya, dan wajah sedihnya berubah tegang ketika mendengar kalimat Sania
“Tapi mama pergi meninggalkan beliau. Hingga detik ini mama belum bertemu dan tak tahu kabar beliau seperti apa. Tapi di dalam hati mama, beliau masih terus bertahta. Mama……, Sania minta maaf ya ma karena tidak bisa jadi seperti yang mama harapkan. Maafkan Sania karena mengecewakan mama, maafkan Sania karena tidak bisa menjadi anak berbakti untuk mama”
“Mami Ajeng dan kakak-kakak yang ada di rumah. Aku minta maaf ya karena selalu merepotkan kalian. Terutama mami. Terima kasih mi karena telah baik sama aku, terima kasih karena telah mau menerima dan merawat aku dan Junior. Aku minta maaf karena sampai detik ini aku belum bisa balas jasa mami…..”
Mami Ajeng tersenyum getir, air matanya semakin deras mengalir. Begitu juga dengan mama Liza. Beliau sampai membekap mulutnya karena suara tangis yang sejak tadi ditahannya dirasanya akan meledak saking sakitnya hatinya mendapati kenyataan betapa pahit dan getirnya hidup yang dialami Sania sejak diusirnya dari rumah
“Terakhir untuk Alexander…..”
Alexander mengusap kasar wajahnya dan kian lekat menatap layar televisi yang menampilkan wajah Sania yang kembali berwajah murung
“Aku telah memaafkan semua kesalahan kamu sama aku Lex. Jika bukan karena kamu aku tidak akan memiliki anak setampan dan sehebat Junior” kemudian Sania tersenyum getir disaat dia mengakhiri kalimatnya
“Satu pesan aku sama kamu. jika kamu melihat video ini, entah itu kapan waktunya. Aku ingin kamu merawat dan membesarkan Junior dengan kasih sayang. Bawalah dia keluar negeri, buat matanya bisa melihat seperti janji kamu sama aku. Berikan Junior kebahagiaan yang selama ini tidak didapatnya dari aku. Dan kamu harus menepati janji kamu itu”
Kemudian tampak Sania menarik nafas panjang dan tersenyum getir
“Junior mama sangat sayang sama kamu nak…. Sangat menyayangimu…..”
Kemudian tampil banyak slide gambar Junior. Ketika dia bayi, ketika dia belajar tengkurap, ketika dia belajar berjalan, ketika di pusat permainan hingga ketika mereka bermain jet sky di laut. Kemudian bergantian dengan video Junior bermain bersama Sania di rumah bordil ini
Tawa renyah Sania dan Junior mengisi video tersebut. Tetapi semuanya berbanding terbalik dengan orang-orang yang menyaksikannya. Semuanya terisak dan kian hanyut dalam rasa kehilangan mereka akan sosok Sania yang dikenal baik hati dan ramah. Yang tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapapun, hanya sikap tegar dan kuat yang selalu ditunjukkannya sebagai wanita kuat di depan semua orang
Hingga akhirnya tayangan video tersebut habis dan hanya menyisakan tampilan biru pada layar televisi. Junior yang melihat jika wajah mamanya telah hilang langsung menangis kencang.
Alexander bangkit dari tempat duduknya, mendekap erat putra semata wayangnya dengan wajah basah. Kembali semua orang hanyut dengan tangisan ketika melihat Junior dan Alexander saling berpelukan dalam tangisan mereka
***
Mami Ajeng dan semua penghuni rumah bordil pagi ini kembali berwajah mendung ketika semuanya berkumpul di halaman. Sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah sejak tadi terparkir di sana. Alexander yang saat ini mengenakan kaca mata hitam, dengan setelah tuxedo berdiri di sebelah Junior yang tampak erat menggenggam tangan mami Ajeng
“Doakan Junior ya oma, Junior janji, suatu hari nanti Junior akan kembali lagi kesini. Karena di sini ada makam mama Junior, jadi Junior pasti kembali”
__ADS_1
Mami Ajeng hanya mampu menganggukkan kepalanya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menjawab ucapan Junior. kemudian secara bergantian seluruh gadis penghuni rumah bordil ini mendekap erat Junior sambil menangis
“Doakan aku juga aunty. Terima kasih karena selama ini telah menyayangi aku”
Sama hal nya dengan mami Ajeng, mereka juga hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bisa mengucapkan kalimat perpisahan. Pada Deno dan penjaga yang lain, Junior mendekap hangat mereka
“Terima kasih oma karena telah memberikan aku seorang mama yang cantik dan baik hati” ucap Junior pada mama Liza yang sejak tadi tak hentinya menangis
Mama Liza mendekap erat tubuh Junior dan terus mengusap kepala cucunya berkali-kali
“Jaga dan lindungi Junior. Pastikan jika kali ini tidak ada bahaya sedikitpun yang akan mengintainya” lirih mami Ajeng dan mama Liza ketika Alexander menjabat tangan mereka
Alexander menganggukkan kepalanya, kemudian dia menoleh kearah bodyguard yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Bodyguard tersebut cepat tanggal dengan gesture yang diberikan Alexander, sehingga dia segera membuka pintu mobil dan mengambil sebuah tas koper berwarna hitam. Segera diambilnya tas tersebut dan membukanya di hadapan Alexander
Setelah Alexander mengambil beberapa carik kertas dari dalam tas tersebut, sang bodyguard kembali menutup tas tersebut dan membawanya pergi dari hadapan Alexander
“Ini ada cek untuk kalian semua yang ada disini. Nominalnya sama, Cuma beda untuk mami Ajeng dan mama Liza, karena kalian berdua adalah mamanya Sania. Buat yang lain nilainya sama. Saya harap setelah kalian mencairkan cek ini di bank, kalian semua yang ada di rumah ini meninggalkan pekerjaan kalian. Buatlah usaha, jangan lakukan pekerjaan ini lagi”
Semua mata terbelalak ketika menerima cek yang diberikan Alexander pada mereka. Nominalnya tak main-main, hingga bekerja seumur hidup menjadi wanita malam pun rasanya mereka tidak akan sanggup mendapatkan uang sebanyak ini
“Uang Sania yang ada sama mami, mami berikan saja sama yang membutuhkan. Anggaplah itu sebagai sumbangan dari Sania”
Mami Ajeng kembali hanya bisa menganggukkan kepalanya ketika Alexander berkata demikian. Dan tangisnya kembali pecah ketika Junior mendekap tubuhnya
**
Tangis nyonya Emma pecah ketika melihat Alexander dan Junior turun dari mobil yang membawa mereka dari bandara. Sejak kejadian di apartemen tiga bulan yang lalu, dan setelah pemakaman Sania, Alexander membawa Junior keluar negeri. Membawa anaknya berobat di sana hingga sembuh dan dapat melihat seperti orang normal lainnya.
Tuan Anton merentangkan tangannya ketika melihat Junior masuk dengan digandeng oleh Alexander
“Itu opa kamu….” Ucap Alexander kearah Junior yang mendongakkan kepalanya kearahnya
Kemudian tanpa pikir panjang lagi, Junior segera berlari dan masuk kedalam dekapan opa nya. Tangis tuan Anton langsung pecah ketika cucunya telah berada di dalam dekapannya. Kemudian Junior tampak tertegun ketika berdiri di depan nyonya Emma. Dan Alexander juga bergeming melihat reaksi anaknya
Nyonya Emma tidak mempedulikan keheranan Junior, beliau segera mendekap erat Junior kemudian menangis tersedu-sedu
“Kami tidak lama pi…..”lirih Alexander ketika Junior melepas dekapannya pada nyonya Emma
Raut wajah tuan Anton berubah tegang ketika mendengar ucapan Alexander
__ADS_1
“Maksudnya apa Lex?” tanya beliau dengan degup jantung berdetak kencang
Alexander tersenyum getir
“Kami kesini hanya mampir pi”
Tuan Anton dan nyonya Emma saling toleh
“Aku tidak bisa tinggal di rumah dimana ada orang yang tidak bisa menerima keberadaan anakku”
Nyonya Emma menggeleng. Matanya yang basah kian mengalirkan air mata yang deras
“Mami minta maaf Lex. Harus berapa kali lagi meminta maaf sama kamu…..” mohon maminya
Alexander tersenyum getir
“Maaf mami tidak akan mengembalikan Sania sama kami”
Nyonya Emma tertunduk
“Sesuai janjiku. Jika anakku sudah sembuh dan bisa melihat normal, aku akan kembali, mengajaknya ke makam ibunya. Dan setelah itu kami akan pergi dari negara ini. Kami akan hidup di luar negeri, di negeri dimana tidak ada seorang pun yang mengenal kami. Di Sana aku sudah memikirkan akan menghabiskan sisa hidupku berdua dengan anakku. Aku tidak akan menikah, karena wanita yang ingin aku jadikan istri sudah meninggal”
Isak tangis nyonya Emma terdengar jelas begitu mendengar keputusan anaknya. Tuan Anton hanya bisa menarik nafas dalam dan kembali mendekap erat Junior
“Maafkan aku pi, mi, jika aku memilih jalan ini. Tapi ini adalah jalan terbaik untukku. Jika aku terus tinggal disini, maka dosa dan kejahatanku sama Sania akan selalu menghantui hidupku. Walau aku tahu, dimanapun aku berada rasa bersalah dan berdosa itu akan selalu menghantuiku”
Selesai berkata seperti itu, Alexander segera meraih tangan Junior dan membawanya berdiri di sebelahnya
“Aku pamit mi, pi. Doakan aku dan juga anakku”
Nyonya Emma mengejar langkah lebar Alexander yang tak mempedulikan teriakan tangisannya. Bodyguard yang berdiri di sebelah pintu segera membuka pintu mobil, dan dengan segera Alexander dan Junior masuk kedalam mobil dan mobil segera melaju meninggalkan istana tuan Anton yang selama ini menjadi rumah bagi Alexander
Nyonya Emma menjatuhkan dirinya kelantai melihat mobil yang membawa anaknya pergi, tuan Anton pun melakukan hal yang sama. Keduanya sama-sama menangis pilu ditinggal orang yang mereka sayang. Sementara di dalam mobil, Junior meletakkan kepalanya di pundak sang papa
“Kita mau kemana pa?”
Alexander tersenyum getir sambil menciumi puncak kepala Junior
“Ketempat dimana hanya ada kita berdua saja nak…..”
__ADS_1
Junior menggerakkan kepalanya kemudian tersenyum kearah papanya yang juga tersenyum kearahnya. Sementara mobil terus melaju membawa keduanya kearah bandara yang akan membawa mereka keluar negeri sesuai yang direncanakan Alexander
...TAMAT...