Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Pikiran Alexander Kacau


__ADS_3

"San, anak kamu mau asi apa susu formula?" tanya Helen sambil mengusap kepalaku


"Asi lah kak, kan bagusan asi"


"Susu formula aja, nanti dada kamu kendor" jawab mami Ajeng cepat


"Nggak boleh bu, wajib asi eksklusif selama enam bulan, baru setelah itu jika mau ditunjang dengan susu formula tidak apa-apa"


Mami Ajeng mendecak kesal mendengar jawaban perawat yang sepertinya masih betah di ruangan ini


"Tuh dengar kan mi apa kata mbak susternya" jawabku menahan tawa


Kembali kudengar mami mendecak kesal


"Benar mi apa kata mbak susternya" timpal Helen


"Ah terserah, yang penting kamu istirahat dulu San, sepertinya sudah dua jam, jadi kamu boleh tidur"


Aku tersenyum pada mami, sedangkan Helen terus mengelus kepalaku


"Tidur ya?, biar anak kamu kakak sama mami yang jaga"


"Oh iya kak, pakaiannya kan belum dibawa, minta tolong ke Deno kak buat ambilkan"


Helen mengangguk, dan berjalan keluar dari ruangan menemui Deno yang tadi menunggu di luar


"Lah kemana tuh anak?" gumam Helen bingung ketika tak satupun ditemuinya di luar ruangan


Helen berjalan keluar tapi tak juga menemukan Deno lalu dia berjalan ke dekat mobil tapi batang hidung Deno tak juga nampak


"Apa dia di kantin?" gumam Helen yang kebingungan sendiri


Karena urgent dia sampai tidak membawa hp. Lalu Helen berjalan masuk kembali, melihat papan petunjuk arah, dimana kira-kira letak kantin


Diikutinya petunjuk hingga akhirnya dia bertemu dengan kantin. Dan benar dugaannya, Deno dan dua orang anak buah mami sedang minum kopi di sana


"Dicariin taunya disini" tepuk Helen pada punggung Deno yang menoleh kaget


"Apa sih Len?"


"Ini mau minta tolong kembali ke rumah, ambilkan pakaiannya anak Sania"


"Lah emang tadi kalian nggak bawa?"


"Ya mana sempat lah, kamu lihat sendirikan bagaimana tadi kita pergi?"


Deno mendecak kesal lalu bangkit dan membayar makanan yang dia dan kedua temannya makan


"Lah kok berdiri?, mau kemana?" tanya Helen yang baru mencomot gorengan


"Lah gimana sih, tadi katanya disuruh ambil baju bayi, lah ini kita mau pulang"


Helen terkekeh dan mengangkat ibu jarinya kearah tiga pria yang meninggalkan kantin


Tinggallah Helen menikmati teh hangat sambil makan gorengan, lalu dia membelikan juga teh hangat dan gorengan untuk mami dan Sania


Sampai di ruangan persalinan, dilihatnya Sania tertidur dengan nyenyak sedangkan mami masih saja menggendong bayi mungil


"Letakkan saja mi, mami minum dulu teh ini" ucap Helen sambil meletakkan makanan yang tadi dibelinya di atas meja dekat tempat tidur Sania


Mami menoleh sekilas lalu meletakkan bayi mungil itu kedalam box bayi, lalu berjalan meraih gelas teh hangat dan menyeruputnya


"Sekarang kita apakan Sania, mi?"


Mami Ajeng menoleh pada Helen dan menatap dengan heran

__ADS_1


"Maksud kamu?, ya kita bawa ke rumah lah"


"Apa mami nggak terganggu jika nanti anak Sania rewel?"


Mami diam seperti berpikir


"Terus jika nanti ada tamu yang curiga?"


"Itu biar mami pikir nanti, yang penting setelah pihak rumah sakit menyatakan Sania boleh pulang, kita bawa Sania dan anaknya ke rumah kita"


Helen mengangguk dan menatap sedih pada Sania yang terlelap


Sementara di tempat lain, Alexander yang pikirannya kacau segera keluar dari dalam ruangannya dan kembali berjalan menuju roof top


"******!" makinya sambil menendang angin


Dia berdiri dipinggir bangunan dengan menatap lurus ke depan. Angin yang berhembus meniupkan rambutnya. Alexander menarik nafas dalam dan sesekali menutup wajahnya dengan kacau


"Sania......" lirihnya tanpa sadar


Segera diambilnya hp yang ada di dalam saku celananya, lalu tanpa pikir panjang segera dihubunginya nomor Sania


Nomor yang selama ini hanya disimpannya dan tidak pernah sekalipun dihubunginya


Berkali-kali dicobanya tetapi Alexander hanya mendapatkan jawaban operator jika nomor yang ditujunya tidak aktif atau salah


Dengan kesal kembali Alexander menarik nafas panjang dan menatap hp


Ditatapnya lekat-lekat foto Sania yang menjadi wallpaper hpnya


"Sania, mengapa kamu mengacaukan pikiranku...." lirihnya dengan pikiran kacau


Alexander membungkukkan badannya dengan menopangkan kedua tangannya di pinggir bangunan, masih menatap lurus ke depan


Tangannya segera meraih hpnya yang berdering lalu dengan menggelengkan kepalanya diterimanya panggilan dari Milena


"Aku di ruangan kamu sekarang, kamu dimana?"


Alexander mendongakkan kepalanya sebentar dengan menarik nafas panjang


"Sayang, kamu dimana?"


"Iya sebentar lagi aku ke sana, tunggu saja. Ada Mark kan?, kamu ngobrol dulu sama dia"


Setelah berkata seperti itu, Alexander memutuskan panggilan lalu kembali menatap lurus ke depan


Sementara Milena yang menunggu di dalam ruangan Alexander memandang dingin pada Mark yang tak memperdulikannya


Milena sudah duduk dengan gelisah karena Alexander tak juga muncul, hingga sekali lagi dia menelepon Alexander dan mendecak kesal karena panggilannya diabaikan


Mark yang mendengar Milena menggerutu hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menatap layar laptop


Tak lama pintu terbuka dan Alexander masuk. Melihat Alexander masuk, Milena langsung berdiri dan menyambut dengan merentangkan tangannya berniat hendak memeluk sang pujaan hati


Tapi diluar dugaannya, Alexander mengabaikan dengan cara menepis tangan Milena yang terkembang dan dengan dingin Alexander berjalan menuju kursinya


"Silahkan duduk nona Milena, ada keperluan apa anda kesini?"


Milena yang kaget karena diabaikan Alexander kini makin kaget dengan sapaan formal dari Alexander padanya


"Sayang, apa aku nggak salah dengar?, ini maksudnya apa?"


Mark yang juga kaget menatap Alexander dari tempat duduknya


"Ini kantor dan anda adalah tamu saya, jadi sudah sepantasnya anda saya sapa seperti itu"

__ADS_1


Milena menggeleng tak percaya dan hanya bisa tersenyum getir


"Ada yang kami bantu?"


Milena diam dan menatap dalam pada mata Alexander


"Come on, ada apa?"


Alexander tersenyum segaris


"Anda datang kekantor saya, itu artinya berhubungan dengan pekerjaan, iya kan?"


Milena merasa tertohok dengan ucapan Alexander, tapi dia menahan diri untuk tak tersinggung apalagi marah


"Apa ada nona Milena Jeremy?"


Kembali Milena harus menarik nafas dalam dan masih menatap wajah Alexander dengan tatapan nanar


"Jika bukan hal bisnis, sebaiknya kita bicarakan setelah jam kantor selesai"


Milena mengangguk lalu berdiri dan mengulurkan tangannya, dan Alexander menyambut tangannya dengan hangat


Mark yang memperhatikan hanya meletakkan jari jempolnya di dagu dan jari telunjuk di mulutnya, dia menatap tajam kearah Alexander dan melirik sekilas pada Milena yang wajahnya tegang


Selesai saling jabat tangan, Milena segera keluar dari ruangan Alexander, begitu sampai di luar ruangan, wajahnya langsung berubah marah dan dengan tatapan sangat dia berjalan keluar dari gedung GIO GROUP


Sandra yang melihat perubahan wajah Milena tersenyum senang


......................


Sania yang telah terbangun kini dipindahkan keruang perawatan. Sedangkan bayi mungilnya dibawa perawat keruang khusus bayi


"Pulangnya kapan dokter?" tanya mami Ajeng ketika dokter memeriksa Sania


"Besok pagi jika ibunya sudah merasa baikan, sudah bisa dibawa pulang"


Mami Ajeng tersenyum


"Sekarang banyak-banyak istirahat karena pasti capek habis melahirkan"


Sania mengangguk, saat dia hendak memejamkan matanya kembali terdengar suara tangisan dari depan pintu


Seorang perawat masuk dan dokter langsung menoleh padanya


"Kenapa sus?"


"Bayinya nangis terus dokter"


"Bawa sini sus, mungkin dia haus"


Suster itu menurut dan mendekatkan bayi mungil itu pada Sania


Sania menyandarkan tubuhnya lalu meraih anaknya yang diberikan suster padanya


Wajah Sania tampak sumringah ketika bayi mungil tersebut ada di dalam dekapannya


Sania dengan malu dan canggung mengeluarkan dadanya dan langsung mengarahkan ke mulut bayi


"Asinya belum keluar dokter" lirih Sania


"Tak apa, nanti pasti keluar, yang penting rangsang terus, biarkan bayinya belajar menghisap


Sania menurut dan terus menatap dalam ke wajah bayi mungil yang ada dalam pangkuannya


Tak terasa air matanya mengalir saat memandangi wajah bayinya

__ADS_1


"Kasihan kamu nak, kamu bahkan tidak tahu siapa ayahmu" batinnya pilu


__ADS_2