Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Bawa Cucuku Kemari!!


__ADS_3

Tuan Anton hanya bisa menarik nafas panjang mendengar pertanyaan istrinya.


Sementara Nyonya Emma terus menatap wajah suaminya dengan dalam dan menuntut jawaban.


"Mami jangan banyak pikiran dulu, Mami harus banyak istirahat karena tadi Dokter bilang bahwa darah Mami drop, papi tak ingin mami tambah sakit" jawab Tuan Anton mengalihkan topik.


Nyonya Emma menggelengkan kepalanya dan terus bertanya kepada tuan Anton siapa anak kecil yang tadi memanggilnya dengan sebutan Opa.


Kembali Tuan Anton menarik nafas panjang dan menundukkan wajahnya


"Nanti mi, ketika Mami sudah sehat, sudah pulih Papi akan ceritakan siapa anak kecil tadi" jawab Tuan Anton pelan.


"Anak kecil tadi bilang bahwa dia anaknya Sania, dan dia cucunya opa. Apa yang dia maksud?" kembali Nyonya Emma bertanya .


Kembali Tuan Anton menarik nafas panjang lalu meraih tangan istrinya dan menggenggam jari tangan tersebut.


"Cepatlah sembuh jika Mami memang ingin mengetahui siapa anak kecil tadi" jawab Tuan Anton masih dengan berteka-teki.


"Tapi wajahnya seperti wajah Alexander Pi" lirih nyonya Emma kembali dengan mata menerawang.


Lalu perempuan cantik tersebut memalingkan wajahnya dan menatap kosong dengan kembali berlinang air mata.


"Entah masalah apa lagi ini yang timbul pi, anak kesayanganku saja hingga saat ini belum juga sadar dan sekarang muncul anak kecil yang mengaku cucunya kamu, stress aku kalau begini pi....." keluh Nyonya Emma dengan suara yang semakin sedih.


"Semuanya akan baik-baik saja Mi, percaya sama papi. Asalkan Mami positif thinking dan tidak banyak pikiran buruk, papi yakin mami akan cepat sehat, dan ketika mami sudah pulih papi akan ceritakan semuanya".


Kembali terdengar suara nyonya Emma menarik nafas panjang


"Aku tidak sakit, aku sehat. Aku tadi hanya pingsan saja. Jadi papi nggak usah mengkhawatir kesehatanku" .


Tuan Anton berusaha untuk tersenyum mendengar jawaban istrinya yang keras kepala.


Selagi dua orang tersebut bicara serius, masuklah seorang dokter yang kembali memeriksa kondisi Nyonya Emma.


"Bagaimana Nyonya?, Apa anda mau Di opname di sini?"


"Sebenarnya anda hanya butuh istirahat, dan akan lebih baik jika nyonya pulang, dan istirahat di rumah"


"Tapi jika nyonya ingin di sini, dirawat dulu di rumah sakit ini, tidak apa-apa juga. Jadi jika terjadi sesuatu pada Nyonya kami akan langsung cepat menanganinya"


Nyonya Emma menarik nafas panjang lalu dengan bantuan dokter dia duduk. Ditatapnya dokter dengan dalam


"Saya sehat kan dokter?, jadi saya boleh keluar dari ruangan ini kan?,

__ADS_1


Dokter diam, tak menjawab pertanyaan beliau.


"Saya ingin ke ruang ICU, Saya ingin menemui anak saya Alexander." sambung nyonya Emma dengan suara tercekat.


Dokter langsung menoleh ke arah Tuan Anton. Dan tuan Anton menganggukkan kepalanya


"Yaa... Jika itu memang keinginan Nyonya, tidak apa-apa. Tapi dengan pengawasan saya. Saya yang akan membawa Nyonya masuk ke ruang ICU"


Nyonya Emma mengangguk setuju.


Lalu dengan dibantu oleh Tuan Anton, Nyonya Emma langsung menurunkan kakinya dari tempat tidur rumah sakit dan berjalan pelan menuju ruang ICU.


Setelah memakai baju khusus untuk masuk ke ruangan ICU, Nyonya Emma langsung masuk dengan ditemani oleh dokter tadi yang memeriksanya.


Diciumnya dengan dalam kening Alexander sambil berlinang air mata.


"Sadar lah nak, jangan seperti ini terus. Kamu membuat Mami khawatir" lirih Nyonya Emma dengan berderai air mata.


Nyonya Emma menggenggam dan mencium tangan Alexander sambil terisak.


"Papi mu sudah membalas perlakuan pada orang yang telah menyakitimu, jadi kamu harus sadar, kamu harus kuat. Kamu harus sembuh seperti sedia kala".


Sedikitpun Alexander tidak merespon ucapan maminya yang semakin membuat Nyonya Emma menangis pilu.


"Tuan Alexander masih koma nyonya, kita tidak tahu berapa lama dia akan koma, bisa satu minggu bisa satu bulan dan bisa juga sampai setahun"


Nyonya Emma menggeleng keras sambil membekap mulutnya mendengar jawaban dokter.


"Bilang sama saya dokter, jika memang rumah sakit ini tidak sanggup menyembuhkan anak saya, maka anak saya akan saya bawa ke luar negeri" ucap Nyonya Emma bernada marah .


Dokter tersebut langsung menundukkan kepalanya


"Tidak terjadi apa-apa pada Tuan Alexander Nyonya. Beliau hanya koma, dan bila terjadi hal yang buruk pada tuan Alexander maka secepatnya kami akan memberitahu pihak keluarga".


Nyonya Emma tidak merespon jawaban dokter Tapi beliau terus mengusap kepala Alexander dengan sayang.


Sementara di luar ruang ICU, sudah menghadap Mark beserta 5 orang bodyguard yang baru tiba di ibukota.


"Mengapa kalian pulang?, kan saya sudah bilang kalian awasi cucuku!!" bentak Tuan Anton pada 5 Bodyguard tersebut.


Kelima bodyguard tersebut hanya bisa menundukkan kepala mereka. Lalu Tuan Anton menoleh ke arah Mark


"Bagaimana keadaan mu Mark?, Apakah kamu sudah sehat betul?"

__ADS_1


Mark menganggukkan kepalanya


"Iya tuan saya sudah sembuh, karena itulah saya pulang. Selain itu juga karena saya mengkhawatirkan keadaan Alexander".


Tuan Anton menarik nafas panjang


"Hingga detik ini Alexander belum juga sadar. Dan itu semakin membuat saya dan maminya Alexander sangat khawatir" Jawab Tuan Anton dengan nada sedih.


Mark segera berlalu dari hadapan Tuan Anton, lalu mengintip melalui jendela ruang ICU melihat keadaan Alexander yang memang masih terbaring dengan Nyonya Emma yang ada di sampingnya.


"Sadarlah Alexander, tuan Anton sudah mengetahui jika Junior adalah anakmu" lirih Mark.


Secara tak sadar jari tangan Alexander bergerak, dan nyonya Emma yang sejak tadi menggenggam jarinya sontak kaget.


Dokter, dokter jari anak saya tadi bergerak. Tolong dokter periksa anak saya kembali dokter. Anak saya sudah sadar dokter" ucap Nyonya Emma dengan nada bahagia bercampur panik.


Dokter segera mendekat lalu memeriksa Alexander secara intensif.


"Kita biarkan Alexander istirahat dulu ya nyonya, dan ini adalah perkembangan yang baik. Karena memang Alexander sudah bisa menggerakkan jarinya. Dan nyonya sendiri yang merasakannya. Jadi mulai sekarang Nyonya tidak usah khawatir lagi. Itu artinya perkembangan kesehatan Alexander sudah menunjukkan perubahan yang signifikan"


Nyonya Emma mengangguk cepat dengan raut wajah berseri. Lalu kembali digenggamnya erat jari Alexander sambil diciumnya berkali-kali.


Sebelum beliau keluar dari dalam ruang ICU kembali kening Alexander diciumnya dengan dalam


"Mami sama papi tunggu di luar ya sayang. Kamu cepatlah sadar. Mami sama papi tidak pernah meninggalkan kamu" lirih nyonya Emma di depan wajah Alexander yang terpejam.


Nyonya Ema berjalan keluar dari ruang ICU lalu segera memeluk erat suaminya


"Alexander kita sudah sadar pi, tadi Mami sendiri yang merasakan jari Alexander bergerak" Nyonya Emma berkata dengan antusias.


Wajah Tuan Anton sama sumringahnya seperti wajah Nyonya Emma ketika mendengar kabar baik tersebut.


Lalu kembali Dia melirik ke arah 5 Bodyguard yang saat ini masih berdiri dengan siaga.


"Cepat kalian kembali ke kota tadi, bawa cucuku ke sini!" ucap tuan Anton yang kembali membuat mulut Nyonya Emma ternganga.


"Apa Pi?, papi ngomong apa?!".


Tuan Anton menggelengkan kepalanya


"Papi akan jelaskan semuanya nanti Mi, yang penting sekarang papi akan kembali mengirim 5 Bodyguard ini kembali ke kota tempat di mana Alexander kemarin masuk rumah sakit dan membawa anak kecil yang tadi mengaku sebagai cucu Papi".


Nyonya Emma menggeleng kebingungan dan terduduk lemas di kursi yang ada di depan ruang ICU.

__ADS_1


__ADS_2