Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Aku Memang Penjahat, Tapi Bukan Penipu


__ADS_3

Tawa masih terdengar berderai dari mulut Junior ketika jet ski mulai menepi dan berhenti. Begitu juga dengan tujuh jet ski yang lain. Wajah para bodyguard dan juga pengacara yang biasanya selalu serius, saat ini tampak mengendur dan rileks


“Tidak rugi kan aku melarangmu pulang?” ucap Alexander ketika dia menoleh kearah pengacaranya yang tersenyum sumringah


“Ayo, kita harus mengisi perut kita dulu” tambah Alexander lagi sambil turun duluan.


“Sayang, tetap tenang ya…..” ucapnya ketika Junior berteriak tertahan ketika jet ski bergoyang


“Papa akan membantu mama turun dulu, nanti baru kamu papa gendong”


Junior mengangguk, dan kembali Sania menyambut tangan Alexander yang terulur kearahnya. Dan kembali wajah mereka berjarak sangat dekat ketika Sania menerima uluran tangan Alexander. Sedetik keduanya saling tatap, lalu detik berikutnya dua-duanya sama-sama membuang wajah


Sania langsung berjalan ke pinggir, sedangkan Alexander langsung memegang erat ketiak anaknya. Lalu dengan sigap, dia membawa Junior turun, dan langsung menggendongnya


“Bagaimana? Suka?”


Junior mengangguk dan makin mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Alexander. Alexander tersenyum, dan segera melabuhkan ciuman sayang keseluruh wajah Junior yang tampak dingin.


Sania yang berjalan lebih dulu telah masuk kedalam salah satu kamar mandi untuk membilas tubuhnya, dan segera berganti pakaian disana. Begitu juga dengan bodyguard dan yang lainnya. Sementara Alexander masuk juga kedalam kamar mandi bersama dengan Junior. Dan kembali dengan telatennya dia membersihkan seluruh tubuh anaknya


“Restorannya disana tuan” ucap Arya


Alexander mengikuti tunjuk Arya yang mengarah kesebuah restoran yang memang tidak jauh dari sana, segera dia mengajak rombongannya berjalan kearah restoran tersebut, dan langsung mereka memesan makanan


Kembali Alexander menunjukkan sisi lain sikap arogan dan dinginnya. Dengan telaten dia menyuapi Junior makan, sedangkan Sania dipersilahkannya makan terlebih dahulu


Dan lagi-lagi Alexander tidak menyadari jika kamera video handphone pengacaranya merekam semua perbuatannya. Ada segaris senyum kembali terkembang di bibir sang pengacara ketika dia melihat perbuatan Alexander


“Seorang bad boy ternyata bisa juga menjadi ayah yang baik” batinnya


Sania memberikan tissue kearah Alexander ketika dilihatnya bibir Junior belepotan. Dan ketika dia sudah selesai makan, lalu dia meminta Alexander untuk makan dan mengambil tugas Alexander tadi. Sekarang giliran Sania yang menyuapi Junior


Hampir satu jam digunakan oleh mereka untuk istirahat dan makan di restoran tersebut. Jika Alexander berserta anaknya dan pengacara tetap duduk di tempat mereka semula, maka kelima bodyguard dan juga Arya memilih keluar karena mereka kembali menjalankan tugasnya untuk berjaga


Arya yang bertugas sebagai supir pribadi Alexander selama Alexander disana ikut berdiri seperti lima bodyguard yang lain. Sambil berdiri mereka tampak mengobrol santai, dan sesekali mereka tampak terlibat obrolan serius


“Kapan kalian akan melegalkan hubungan kalian, bos?” tanya sang pengacara yang mampu membuat Alexander tersedak


Kembali Sania memberikan tissue kearah Alexander, lalu setelah itu dia melengos. Menghindari tatapan tajam Alexander yang tiba-tiba menatap kearahnya


“Kamu ngomong apa, jangan ngaco” elak Alexander


Pengacara tampan tersebut tersenyum menyeringai dan meminta maaf atas kelancangannya. Dia tidak serius, hanya bercanda. Yang membuat Alexander kembali menoleh dan menatap kearah Sania yang sejak tadi terus membuang wajahnya


Alexander langsung melototkan matanya dengan rahang mengeras kearah pengacara pribadinya karena menyadari jika Sania merasa tak nyaman


“Sudah ini kita kemana?” Tanya Alexander mencoba mencairkan suasana


Sania menoleh dan mengangkat bahunya ketika mendengar Alexander bertanya padanya


“Kemana saja asal sama papa, aku mau”


Alexander langsung mengusap sayang kepala Junior sambil tersenyum


“Jika mau terus sama papa, ikut papa pulang saja” kembali pengacara pribadi Alexander nimbrung


“Nggak mau kalau tanpa mama. Junior mau ikut papa kalau mama juga ikut papa”


Sania tersenyum kaku kearah pengacara Alexander ketika pria itu mengerlingkan mata kearahnya


“Kita disini saja sayang. Kan disini rumah kita” jawab Sania sambil berusaha untuk tenang


Alexander menarik nafas panjang mendengar jawaban Sania, lalu kembali mengusap kepala anaknya


“Kita ke time zone?” usul Alexander


“Terserah” jawab Sania pelan


Lalu Alexander menempelkan hp ke telinganya, meminta pada para bodyguardnya untuk bersiap. Lalu setelah itu Alexander langsung berdiri dengan kembali menggendong Junior

__ADS_1


“Biarkan dia jalan Lex, aku bisa menggandengnya” lirih Sania karena dia kasihan melihat Alexander seperti tampak keberatan ketika menggendong tubuh besar Junior


Alexander menggeleng, dan membetulkan posisi Junior agar nyaman. Setelah sampai di luar restoran, kelima bodyguard kembali bersiaga, dan langsung berjalan di kanan kiri dan belakang Alexander


“Nona di depan saja” lirih sang pengacara ketika Sania mencoba berjalan bersamanya. Sania mengangguk pelan, lalu dengan agak canggung dia berjalan di sebelah Alexander kembali dengan memegangi kaki Junior


Sania segera merogoh hp yang ada dalam tas kecilnya, lalu membuka pesan masuk


Maaf San, aku lagi kerja. Jadi nggak bisa ikut gabung. Tapi kamu sudah ketemu kan sama pacar aku?


Sania tersenyum segaris saat membaca balasan dari Dhea, lalu sambil berjalan dia membalas pesan Dhea. Dan Alexander hanya melirik sekilas kearah Sania yang tersenyum menatap layar hp. Seketika hatinya langsung ingin tahu, siapa gerangan orang yang mengirimi Sania pesan, sehingga wanita itu tersenyum ketika membaca pesannya


“Saya langsung pulang tuan, jika tuan membutuhkan saya besok atau lusa saya akan kemari lagi” ucap pengacara Alexander ketika mereka akan naik ke dalam mobil


“Besok saya juga akan pulang, saya tidak bisa meninggalkan kantor terlalu lama. Papi bisa marah jika saya mengabaikan kantor hanya demi kepentingan pribadi saya”


Pengacara tampan itu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, lalu mengulurkan tangan menjabat hangat tangan Sania


“Segera hubungi saya jika ada yang berniat macam-macam dengan nona”


Sania mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas bantuan pengacara tersebut. Kemudian pengacara tersebut mengusap kepala Junior


“Paman akan pulang ke tempat tuan anton. Apa kamu mau ikut?”


“Opa?”


Pengacara tersebut mengangguk


“Iya, ketempat opa Anton” jawabnya


“Bilang sama opa, aku kangen sama opa. Kapan opa menemui aku”


Pengacara tersebut kembali mengangguk, lalu kembali mengusap kepala Junior


“Paman doakan semoga kamu bisa bertemu dengan opa Anton bersama mama dan papa mu”


Alexander tersenyum kecut mendengar ucapan pria tersebut. Lalu Alexander memintanya untuk segera pergi, karena Alexander tak ingin pria itu semakin ngelantur ngomongnya


Dan kembali Alexander harus berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuh Junior yang telah terlelap. Dan Sania membantu membukakan pintu mobil, dan kembali memegangi kaki Junior


“Junior kenapa San?” tanya Deno yang langsung berlari mendekat begitu melihat Alexander membawa Junior dalam gendongannya


Dia tidak memperdulikan jika disaat bersamaan keluar juga lima orang bodyguard dari mobil yang ada di belakang mobil yang tadi ditumpangi Alexander


Ada nada panik dalam nada suaranya, dan itu membuat Alexander yang tengah melangkah mengehentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Deno


“Anak saya tidur” jawab Alexander dengan nada dingin yang membuat Deno diam dan mundur selangkah memberikan jalan untuk Alexander melanjutkan langkahnya


“Maafkan Alexander, Den…..” ucap Sania sambil ikut berjalan masuk, mengejar Alexander yang sudah menaiki anak tangga menuju teras


“Ngapain kamu harus minta maaf sama lelaki itu, kamu tidak bersalah. Apa lelaki itu yang tadi mengirimimu pesan?” tanya Alexander sambil mendengus kesal


Sania melongo tak faham kemana arah ucapan Alexander, kemudian dia hanya bisa melanjutkan langkahnya lagi, karena kembali dia ditinggal oleh Alexander.


“Cucu saya tidur?” Tanya mami Ajeng ketika melihat Alexander masuk


Alexander mengangguk, lalu meneruskan langkahnya menuju kamar Sania. Dan Sania kembali berjalan cepat mendahului Alexander karena dia ingin membukakan pintu kamar agar memudahkan Alexander masuk


Dan ketika tiba di dalam kamar, dengan cepat Sania menarik bantal, lalu Alexander dengan segera meletakkan Junior, mengusap sebentar kepala anaknya, lalu mengecup keningnya dengan dalam


“Papa pulang nak, tapi papa janji secepatnya papa akan kesini kembali”


Setelah berkata begitu, Alexander segera turun dari atas ranjang, lalu memakaikan selimut ketubuh Junior.


“Apa kamar ini butuh pendingin udara?” Tanya Alexander karena dia melihat Sania menyalakan kipas angin ketika Alexander meletakkan Junior


Sania menggeleng


“Tidak usah, Junior tidak biasa di ruangan ber AC”

__ADS_1


Alexander tersenyum kecut, lalu dia berjalan mendekat kearah Sania yang masih berdiri di bawah kipas angin


“Bisa kita bicara serius San?”


Sania yang dadanya kembali berdegup kencang hanya bisa mendongakkan kepalanya menatap kewajah Alexander


“Jangan disini, tidak enak sama penilaian orang” sambung Alexander yang kembali membuat dada Sania makin tak karuan


Sania mengangguk, lalu mengikuti Alexander yang berjalan terlebih dulu keluar dari dalam kamar pribadinya. Sebelum benar-benar keluar, kembali Alexander menoleh kearah Junior yang tampak sangat pulas. Mungkin dia kelelahan karena seharian ini diajaknya bermain


“Jaga anak saya San…..” lirih Alexander dengan suara tercekat ketika dia akan meninggalkan kamar tersebut


Sania tidak menjawab melainkan hanya terus menatap lekat manik mata Alexander yang menyiratkan kesedihan ketika mengucapkan kalimat tersebut


“Nyonya, bisa kita bicara?” Tanya Alexander ketika dirinya dan Sania tiba di ruang tamu, dimana mami Ajeng tampak serius menatap layar tablet yang ada di tangannya


Mami Ajeng menurunkan tablet dari depan wajahnya, lalu menoleh dan menatap serius kearah Sania dan Alexander yang telah duduk di sofa di hadapannya


“Mau bicara masalah apa?”


Alexander langsung memasang wajah serius. Di tatapnya dengan berani mata mami Ajeng


“Saya menginginkan Sania berhenti dari pekerjaannya. Dan saya minta, nyonya jangan menghalangi niat saya”


Mami Ajeng langsung melirik kearah Sania yang saat ini menatap kaget kearah Alexander. Dia tidak menyangka, jika ini yang tadi dikatakan Alexander pembicaraan serius


Lalu Sania menoleh kearah mami Ajeng dan menggeleng


“Please San, apa yang membuat kamu sangat berat meninggalkan pekerjaanmu itu?” ucap Alexander cepat karena dia menangkap gerakan menggeleng dari Sania


“Hutang budi?, iya?” nada suara Alexander mulai meninggi. Sementara mami Ajeng masih saja diam tak bereaksi. Dia ingin melihat kelanjutan ucapan Alexander dan juga dia ingin melihat bagaimana reaksi Sania


“Jawab San. Apa kejadian hari ini belum bisa menyadarkan diri kamu. Kamu lihat sendirikan bagaimana orang-orang sangat rendah memandang kamu. Kamu lihat sendirikan akibat yang ditimbulkan dari pekerjaan kamu ini”


Mulut Sania sudah hendak menjawab ketika kembali dipotong oleh Alexander


“Oke, aku tahu alasan kamu. Karena kejahatan aku kan makanya kamu jadi wanita malam?. Karena kejahatan aku, karena kelakuan aku, semuanya salah aku. Oke San, aku akan tebus semua kesalahan aku sama kamu”


“Kamu stop dari pekerjaan kamu. Aku akan bayar semua yang telah nyonya Ajeng keluarkan untuk kamu dan juga anakku. Berapapun nominalnya, aku tidak perduli. Yang aku inginkan adalah kamu berhenti dari pekerjaan kamu. Kamu fokus menjaga anak aku, di rumah saja. Jangan kemana-mana. Karena aku tidak mau, ada lelaki yang kembali menghina dan melecehkan kamu”


Mata Mami Ajeng langsung mengerling cepat kearah Sania demi mendengar ucapan terakhir Alexander.


“Nyonya, saya mohon kerja sama dari anda. Saya tidak ingin tumbuh kembang anak saya terganggu karena terlalu sering ditinggalkan oleh Sania. Dan saya tak ingin, ketika anak saya besar nanti dia mengetahui masa lalu kelam ibunya”


“Cukuplah yang dia tahu bahwa dia buta, tapi dia mempunyai ibu yang baik, wonder woman dan wanita mandiri seperti yang dia katakan padaku”


Sania bergeming, tidak bisa berkata sepatah katapun untuk menjawab permintaan Alexander


“Sania??!” bentak Alexander karena Sania masih saja diam


“Aku masih banyak yang belum aku capai Lex. Aku masih belum menemukan pendonor kornea untuk Junior, aku masih belum bisa membawa Junior operasi. Kamu pikir mudah membawa Junior keluar negeri?. Bahkan untuk membawanya ke Singapura saja aku sudah puluhan kali berusaha tetapi selalu gagal”


“Sudah aku bilang, detik ini saja jika kamu mengizinkan aku membawa Junior keluar negeri, maka aku akan langsung membawanya keluar negeri, bukan Singapura. Tapi ke Amerika”


Air mata Sania langsung mengalir mendengar ucapan Alexander. Lalu dia menoleh kearah mami Ajeng. Begitu juga dengan Alexander


“Apa anda yang memaksa Sania untuk terus bekerja?”


Mami Ajeng langsung memundurkan kepalanya mendengar tuduhan Alexander


“Alex!!!” cegah Sania


Alexander mendengus kesal. Dan dengan segera dia mengeluarkan hp nya dan menunjukkan nomor rekening kearah mami Ajeng


“Nomor rekening anda belum berubah kan?” tanyanya masih dengan nada sinis


Mami Ajeng masih bergeming, lalu dengan wajah menahan marah Alexander tampak menekan-nekan layar hp nya


“Cek saldo anda nyonya, sudah saya transfer satu milyar untuk anda melepaskan Sania”

__ADS_1


Setelah itu Alexander menoleh kearah Sania


“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Sania. Aku memang penjahat, tapi aku bukan penipu”


__ADS_2