Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Sania Marah


__ADS_3

"Alexander!!"


Alexander langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar Sania memanggil namanya


Sania yang melihat Alexander berhenti, langsung menelan ludahnya. Dan tiba-tiba gugup langsung menyerang hatinya


Alexander dengan cepat memutar badannya dan langsung menatap kearah Sania yang masih berdiri di depan kamar tamu


"Ya Sania?"


"Ada yang ingin saya bicarakan"


Alexander mengangguk, kemudian dia langsung berjalan mendekat kearah Sania


"Disini?"


Sania bergeming.


"Ikut aku kalau begitu" tambah Alexander sambil menarik tangan Sania


Refleks Sania langsung menarik tangannya yang digenggam Alexander sehingga membuat lelaki tampan itu menghentikan langkahnya lalu tersenyum kaku


"Maaf...." lirih Alexander


Sania tidak menjawab melainkan menyembunyikan tangannya ke belakang


Alexander lalu mengulurkan tangannya ke depan meminta Sania berjalan duluan, tapi Sania menggeleng sehingga Alexander kembali berjalan di depan dan Sania di belakang


Ternyata Alexander mengajak Sania ke teras samping, dekat taman bunga milik maminya


"Hari ini kami akan pulang"


Alexander dengan cepat langsung menoleh kearah Sania yang menatap lurus ke depan


"Pulang?"


Sania mengangguk kemudian menatap kearah Alexander


"Saya rasa sudah cukup lama kami disini, dan kamu tahu sendiri tempat kami itu bukan disini, melainkan di rumah mami"


Alexander langsung menarik nafas panjang mendengar ucapan Sania dan dia juga ikut memandang kosong ke depan


"Tidak kah kamu dan Junior akan tinggal disini Sania?"


Sania tersenyum getir


"Seperti yang sudah saya katakan tadi Alexander, tempat kami itu bukan di sini. Dan saya lihat kamu semakin hari semakin sehat. Jadi karena itulah aku berinisiatif untuk pulang"


"Tapi San?"


Sania menggeleng


"Cukup waktu yang telah saya berikan pada kalian semua untuk bersama dengan Junior. Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih karena kalian telah mau menerima Junior dengan baik"


"Dan terima kasih juga karena kamu telah gentle mengakui bahwa Junior adalah anak kamu"


Jantung Alexander langsung berdegup kencang ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sania


Matanya langsung terasa panas. Sekuat tenaga dia menahan jangan sampai matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca mengalirkan buliran di depan Sania


Walau dia sendiri akui, bahwa Sania pernah melihatnya menangis ketika memeluk Junior di rumah sakit

__ADS_1


"Junior memang darah dagingku Sania, terlepas dari kamu yang pernah menolak itu" ucap Alexander dengan suara tercekat


Sania langsung menoleh cepat kearah Alexander


"Kamu tahu dengan jelas mengapa saya melakukan itu Alexander"


Kembali Alexander menarik nafas panjang


"Bisakah kamu memaafkan masa lalu dan berdamai dengan semuanya San?"


Sania menggeleng


"Tidak semudah itu Alexander. Kamu telah menghancurkan semua hidupku dan merebut masa depanku, dan kamu memintaku untuk berdamai dengan masa laluku?"


Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang menguping pembicaraan mereka


"Aku benar-benar tidak tahu San jika kamu mengandung anakku"


Sekarang giliran mata Sania yang terasa panas


"Saya pernah kekantor mu Alexander, meminta pada sekretaris mu untuk bisa bertemu dengan mu. Tapi apa yang kudapatkan?"


"Kamu malah meniduri sekretaris mu itu dan juga pacarmu. Saya sangat ingat bagaimana kaki saya yang lemas menyaksikan ayah biologis anakku gonta ganti meniduri perempuan"


Kembali Alexander menarik nafas panjang


"Pulang ke kota asal saya, malah saya di pecat, pulang ke rumah diusir mama, numpang di rumah dokter Anita malah tak lama saya diusir juga. Kamu tidak pernah merasakan beratnya jadi saya Alexander, karena kamu hidup enak dan bergelimang harta. Sedangkan saya dan Junior?"


Sania menghapus cepat air matanya yang lolos di pipi kemudian dia tersenyum getir


"Terserah bagaimana penilaian dunia tentang kehidupanku setelah itu dan sekarang, yang pastinya aku jauh lebih bahagia dan tenang tinggal di rumah mami. Karena hanya di rumah itulah kami lebih dimanusiakan"


"Karena itulah, aku memohon padamu Sania. Tinggallah disini dengan Junior. Jangan kembali lagi ke rumah itu. Tempat kalian disini, bukan di sana"


Sania menggeleng


"Tidak Alexander. Kamu orang terpandang dan kaya raya. Tidak pantas orang hina seperti kami tinggal disini. Oleh karena itulah saya telah memutuskan bahwa hari ini juga kami akan pulang"


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu membawa Junior pergi dari rumah ini"


Sania yang telah siap masuk kembali kedalam rumah langsung mengurungkan niatnya dan menoleh tajam kearah Alexander


"Terserah kamu mau melakukan apapun Alexander. Yang pastinya saya akan tetap membawa anak saya pergi dari sini!"


Selesai berkata seperti itu Sania langsung masuk dan tidak menoleh lagi kearah Alexander yang menatap sedih kearahnya


Sampai di ruang tengah, Sania celingukan karena suasana rumah sangat sepi. Kemudian Sania menoleh kearah atas dengan gelisah, karena sejak tadi Junior belum juga turun dari atas


Memang sejak datang ke istana ini, Junior tidak pernah tidur dengannya. Junior selalu tidur di kamar Alexander bersama dengan Alexander bahkan terkadang rebutan dengan tuan Anton karena tuan Anton dan Nyonya Emma juga ingin tidur bersama dengan Junior


"Aku harus menelepon tuan Anton" putus Sania karena dia tidak tahu harus dengan cara apa agar Junior bisa turun


"Ya San?" jawab tuan Anton


"Junior mana tuan?"


"Ini, sama saya. Oh iya, saya lupa meminta izin sama kamu"


Kening Sania berkerut mendengar ucapan tuan Anton


"Memangnya izin apa tuan?"

__ADS_1


"Ini, sekarang Junior sedang saya bawa ke rumah sakit. Menemui dokter spesialis mata. Dan kemungkinan besok Junior akan saya bawa terbang keluar negeri"


Lemas kaki Sania mendengar jawaban tuan Anton, tubuhnya yang mendadak limbung dengan cepat ditangkap oleh Alexander


Dengan cepat Alexander membawanya duduk di sofa dan berteriak memanggil nama asisten rumah tangga yang langsung datang tergopoh


"Cepat ambilkan air!" teriak Alexander pada asisten rumah tangganya yang menatap bingung kearahnya


Sania menarik nafas degan cepat sambil memegang dadanya. Dan Alexander yang melihatnya dengan cepat mengambil tangan Sania kemudian menggosok-gosoknya dengan cepat, seolah ingin mentransfer rasa hangat karena tangan Sania mendadak terasa sangat dingin


Sania berusaha menarik tangannya dari genggaman Alexander, tapi kembali Alexander menariknya dengan paksa


Sehingga genggaman Alexander lepas ketika asisten rumah tangga datang membawa air putih seperti yang diminta Alexander tadi


Kembali Alexander membantu Sania minum. Dan setelah mengatur nafas hingga tenang, Sania menoleh kearah Alexander


"Bawa aku ke rumah sakit tempat dimana tuan Anton membawa Junior"


Alexander diam dan mendongakkan kepalanya kearah atas


"Mereka tidak ada di atas, tuan Anton saat ini membawa Junior menemui dokter mata, dan tadi beliau juga bilang jika akan membawa Junior keluar negeri besok"


Alexander bergeming mendengar ucapan Sania. Hingga membuat Sania menarik kasar kerah bajunya


"Bawa aku ke rumah sakit itu sekarang!!!"


Alexander langsung mengangguk cepat yang membuat Sania melepaskan cengkeramannya


Dengan segera mereka berdua berdiri dan langsung berjalan cepat keluar dari dalam rumah


Sania sekarang tidak memperdulikan bagaimana benci dan marahnya dia pada Alexander, dia duduk di sebelah Alexander yang saat ini sedang mengemudikan mobil


"Apa masih jauh?" gumam Sania dengan nada khawatir


Alexander hanya menjawab singkat, tapi itu tidak membuat Sania tenang, dia masih tampak gelisah


Hingga akhirnya mobil berhenti di rumah sakit tempat Alexander di rawat kemarin, dan Sania langsung melesat turun


"Poli mata dimana?" tanyanya pada bagian depan dengan cepat


Perawat itu menunjukkan arah pada Sania yang mendengarkan dengan seksama


Selesai dengan perawat itu menunjukkan dimana poli mata, Sania langsung berlari cepat. Tidak memperdulikan Alexander yang juga berjalan cepat menyusul di belakangnya


BRAKKKK!!!!


Sania langsung mendorong keras pintu ruangan dokter spesialis mata


Dilihatnya jika Tuan Anton dan Nyonya Emma sedang mengobrol serius dengan seorang dokter


Ketiganya langsung menoleh kearah pintu dan tampak kaget ketika melihat Sania berdiri dengan dada turun naik


"Sania.....?!" lirih nyonya Emma tak percaya


Sania segera masuk dan langsung menarik kasar Junior yang saat ini duduk di pangkuan tuan Anton


"Mama?" lirih Junior


"Kita pulang nak, kita pulang ke rumah oma!"


Tuan Anton dan nyonya Emma tampak kaget mendengar ucapan Sania. Terlebih ketika mereka melihat bagaimana tatapan Sania begitu tajam kearah mereka

__ADS_1


__ADS_2