Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Titik Terang


__ADS_3

Sandra yang begitu sampai ke dalam apartemen nya langsung melemparkan tas kerjanya dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Hatinya masih diliputi dengan kekesalan dan amarah akibat dipecat oleh Alexander.


"Kurang ajar. Dasar Bos tidak punya perasaan, sudah puas meniduri ku, sekarang malah aku dipecatnya"


"Lagian siapa sih perempuan yang tadi sebutkan oleh bos?. Kok aku nggak ingat ya...." kembali Sandra bergumam tak jelas dan berusaha untuk mengingat siapa sebenarnya Sania. Perempuan yang tujuh tahun lalu, yang pernah membuat janji padanya.


"Sania Sania Sania...." gumam Sandra berkali-kali berusaha untuk mengingat siapa sebenarnya Sania.


"Ya Tuhan, tadi aku lihat, perempuan yang bernama Sania itu berasal dari kota yang jauh dari sini. Berarti memang dia itu tamu penting, pantas bos marah sama aku?" kembali Sandra bergumam.


"Eh, tapi tunggu dulu, Jika memang dia tamu penting, kenapa aku tidak bilang sama bos ya?, ahhhhh, tau ahh....." Sandra kesal sendiri dengan mengacak-acak rambutnya karena dia masih juga tidak mengingat siapa itu Sania.


"Aku harus cari tahu siapa sebenarnya perempuan yang bernama Sania itu. Apa hubungannya dengan Tuan Alexander. Jika tidak ada hubungannya secara khusus, tidak mungkin tuan Alexander begitu marah sama aku" kembali Sandra bergumam tak jelas.


Cukup lama Sandra hanya bisa membolak-balikkan, badannya di atas ranjang, bahkan sampai tegak duduk, berusaha mengingat kembali. Dan terus berusaha mengingat, bahwa dia pernah bertemu dengan Sania. Tapi hingga lebih dari satu jam, belum juga dia menemukan jawaban yang pasti.


"Apa Sania itu pacarnya bos besar ya?" gumam Sandra lagi sambil menggigit-gigit kukunya.


"Aaahhh Bad Boy macam Alexander, memang banyak perempuan yang mengejarnya .Termasuk si wanita arogan Milena, tapi tidak ada yang datang ke kantor kecuali Si Milena itu. Ahhhh ya ampun, bisa gila aku memikirkan siapa itu Sania" kembali Sandra mengacak-acak rambut panjangnya dengan kesal.


"Apa ini ada hubungannya dengan tuan Alexander yang dirawat beberapa hari ini ya?!" .


"Ya ampun Sandra... Ayo..., kamu itu perempuan pintar. Masa sih kamu nggak ingat siapa itu Sania" kembali Sandra bergumam dengan kesal sambil memukul pahanya.


"Pokoknya aku harus mengetahui siapa itu Sania" putus Sandra dengan wajah yang kembali dipenuhi amarah.


...----------------...


Hari selanjutnya dilewati Alexander dengan penuh kegelisahan. Tak jauh berbeda hal nya dengan Tuan Anton, hari-hari yang dilewatinya terasa sepi karena dia tidak bisa lagi bermain dengan Junior.


Nyonya Emma yang mengetahui jika suasana hati suaminya sedang tidak baik-baik saja, berusaha mengajak suami untuk pergi berbelanja. Menghilangkan stres yang dalam beberapa hari ini memenuhi kepala suaminya.


"Mami pergi aja sendiri. Papi lagi nggak mood kemana-mana" tolak Tuan Anton ketika Nyonya Emma mengajaknya.


Nyonya Emma hanya bisa menarik nafas panjang ketika lagi-lagi suaminya menolak ajakannya.

__ADS_1


"Life must go on Papi. Tenang saja, Junior itu kan anaknya Alexander. Jadi suatu saat nanti, pasti dia akan kembali lagi sama kita. Yang penting kita harus optimis. Benar apa yang dibilang Alexander, kita biarkan dulu Sania bertahan dengan egonya. Sampai kapan sih Pi, dia akan bertahan?. Emang dia pikir gampang apa bawa Junior ke luar negeri?"


Tuan Anton hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan istrinya. Karena walaupun hanya sebentar bergabung dengan Sania, Tapi dia bisa menilai, bahwa Sania itu memiliki karakter yang kuat dan pendirian yang tidak bisa digoyahkan.


Tapi Tuan Anton tidak mungkin mengatakan itu kepada istrinya. Karena dia tahu dengan sifat dan watak istrinya yang tidak pernah mau mengalah.


Dan selama berhari-hari juga Tuan Anton menunggu panggilan dari Sania. Dia berharap bahwa Junior akan mengamuk seperti biasanya, dan Ingin bertemu dengannya. Sehingga membuat Sania kembali harus luluh dan menelpon dirinya dengan mengatakan bahwa Junior mengamuk dan ingin bertemu dengannya.


Tapi hingga nyaris seminggu kepergian Junior dari rumah, belum sekalipun Sania menghubunginya. Dan itu semakin membuat tuan Anton memendam kerinduan kepada Junior.


Kembali Nyonya Emma mengajak suaminya untuk menemaninya berbelanja. Tapi kembali dengan halus tuan Anton menolaknya. Hingga akhirnya membuat nyonya Emma pergi sendiri dengan ditemani asisten rumah tangga.


Sementara Sandra yang sudah tidak punya pekerjaan lagi sehari-harinya diisi dengan berbelanja dan kongkow.


Seperti siang ini, dia pergi berbelanja ke mall sendirian. Dan ketika dia berkeliling keliling di dalam, dia tak sengaja melihat Nyonya Emma.


Segera Sandra merapikan rambut dan juga pakaiannya sebelum akhirnya dia mendekati Nyonya Emma.


"Siang Nyonya, apa kabar....?" sapa Sandra dengan nada ramah.


Nyonya Emma yang sedang memilih-milih sepatu menghentikan gerakan tangannya. Lalu menoleh ke arah Sandra, dan menatap penuh selidik kepada gadis cantik itu.


Sandra lalu menurunkan tangannya yang tidak disambut oleh Nyonya Emma. Tapi Sandra terus tersenyum manis ke arah wanita cantik tersebut.


"Mungkin Nyonya lupa sama saya, tapi saya tidak pernah melupakan Nyonya, karena nyonya adalah istrinya Tuan besar, bos saya di kantor".


Nyonya Emma tersenyum kaku mendengar pujian Sandra.


"Saya Sandra, Nyonya. Saya pernah dua tahun menjadi asisten pribadinya Tuan Anton. Dan setelah itu saya menjadi asisten pribadinya tuan Alexander.


Nyonya Emma tampak menganggukkan kepalanya mendengar kelanjutan cerita dari Sandra.


"Jika kamu asisten pribadinya Alexander, kenapa sekarang kamu berada di luar?, Bukankah ini masih jam kantor?" tanya Nyoya Emma yang membuat tujuan Sandra disambut nyonya Emma.


"Saya dipecat oleh Tuan Alexander sejak beberapa hari yang lalu Nyonya" jawab Sandra dengan raut wajah sedih seketika


Sepatu yang sejak tadi dipegang oleh Nyonya Emma langsung dikembalikannya ke dalam etalase dan dia langsung menatap serius ke arah Sandra.

__ADS_1


Dan Sandra semakin membuat sedih wajahnya agar mendapatkan simpati dari Nyonya Emma.


"Saya juga tidak tahu apa alasan tuan Alexander memecat saya nyonya".


Nyonya Emma lalu melihat ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia berinisiatif untuk mengajak Sandra naik ke lantai atas, mencari tempat minum agar mereka bisa melanjutkan obrolan.


Dan lagi-lagi ini sangat menguntungkan buat Sandra.


Tanpa pikir dua kali Sandra langsung menyetujui ketika Nyonya Emma mengajaknya minum ke lantai atas dengan alasan ingin bertanya lebih lanjut.


Wajah Sandra masih dibuatnya sedih ketika mereka sudah duduk.


Lalu sambil minum, Nyonya Emma kembali menanyakan kenapa sampai dia dipecat oleh Alexander.


"Anak saya itu profesional, mana mungkin dia memecat karyawannya tanpa alasan" ucap nyonya Emma yakin.


Dengan menarik nafas panjang, Sandra mulai menceritakan kronologi kenapa dia dipecat.


"Jadi karena Sania kamu dipecat?" tanya nyonya Emma.


Sandra mengangguk dan wajah sedihnya semakin dibuatnya sedih sehingga membuat nyonya Emma kasihan.


"Lagi-lagi perempuan itu" ucap Nyonya Emma yang membuat mata Sandra yang semula sendu berubah berbinar.


"Nyonya tahu siapa Sania?" selidik Sandra.


Nyonya Emma mengangguk, yang membuat wajah Sandra semakin sumringah.


"Sania itu adalah perempuan yang mengandung anaknya Alexander" jawab Nyonya Emma santai yang membuat mata Sandra langsung terbelalak.


"Apa Nyonya?, Sania adalah perempuan yang mengandung anaknya tuan Alexander?" tanya Sandra dengan mata melotot saking kagetnya.


"Iya, coba kamu ingat lagi. Dulu ada seorang perempuan yang menemui kamu, yang mengatakan jika dia hamil anaknya Alexander" kembali Nyonya Emma berucap, memancing ingatan Sandra.


Sandra seketika langsung menepuk keningnya.


"Ya Tuhan, jadi yang dimaksud oleh Tuan Alexander adalah perempuan itu?" lirih Sandra dengan wajah tegang.

__ADS_1


Nyonya Emma yang melihat perubahan raut wajah Sandra semakin menatap gadis itu dengan curiga.


"Bagaimana, kamu sudah ingat kan?" tanya Nyonya Emma yang dijawab Sandra dengan anggukan pelan.


__ADS_2