
Tuan Anton tersenyum tipis mendengar pertanyaan polisi tersebut
“Sebelum pukul tiga berarti sebelum jam dua di tempat saya. Karena kita beda satu jam. Saat itu saya masih di rumah. Dan sedang bersantai di ruang keluarga, sendirian”
Polisi tersebut langsung menoleh kearah polisi yang ada di sebelahnya
“Tuan Anton tiba disini pukul lima lewat, hampir pukul enam” jawab polisi tersebut
Polisi yang menanyai tuan Anton tadi menganggukkan kepalanya
“Apa bukti yang menguatkan jika saat itu anda ada di rumah?” kembali polisi tersebut berbicara
Tuan Anton memutar sebentar kepalanya, lalu menarik nafas panjang
“Telepon istri saya atau anda bisa bertanya dengan Alexander. Karena Alexander menelepon saya bertepatan dengan saya berada di rumah”
Salah seorang tampak mencatatat dan merekam melalui handphonenya setiap pernyataan yang diucapkan oleh tuan Anton
“Dari mana anda mengetahui jika cucu anda hilang, dan itu pukul berapa?”
Tuan Anton masih berusaha bersabar menghadapi setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya, kemudian dia mengeluarkan handphone miliknya yang sejak tadi berada di dalam saku jas nya. Kemudian diberikannya benda tersebut pada polisi yang tadi bertanya padanya
“Silahkan anda cek handphone saya. Seluruhnya. Dari panggilan masuk sampai pesan masuk, seluruhnya. Jangan ada yang terlewatkan, disana akan anda lihat jam berapa Alexander menelepon saya. Dan disana juga akan anda lihat siapa saja yang saya telepon dan siapa saja juga yang menelepon saya”
Polisi tersebut tidak menjawab melainkan segera mengambil hp yang diberikan oleh tuan Anton. Segera dia memeriksa semua panggilan masuk dan juga panggilan keluar
“Siapa Mark?”
“Anak angkat saya. Lebih tepatnya tangan kanan saya. Dia bertugas membimbing dan mengawasi Alexander. Dia orang kepercayaan saya. Saat kami pergi, maka kendali seluruh perusahaan saya ada dibawah kuasanya”
Polisi tersebut tampak mengangakt alisnya mendengar jawaban tuan Anton. Lalu dia berpindah melihat panggilan lainnya. Tak ada panggilan keluar hari itu kecuali pada Mark dan juga Alexander. Itupun panggilannya dalam jarak waktu yang tidak berselang lama.
Kemudian polisi berpindah ke pesan masuk, dan sama tak ada pesan penting di sana kecuali pesan dari teman lama dan juga pesan dari kolega tuan Anton. Dan itupun pesan yang tadi pagi, jauh sebelum kejadian Junior hilang
“Bagaimana?” tanya Tuan Anton
Tiga orang polisi tersebut saling toleh, kemudian salah satu dari mereka mengambil keputusan
“Maaf tuan, dengan terpaksa handphone anda kami sita dulu, dan anda tidak kami perkenankan pergi dari sini. Dua anak buah saya akan menjaga anda sampai batas waktu yang tidak bisa saya tentukan. Kami harap anda kooperatif, ini semua demi kebaikan kita semua. Kami masih butuh kerja keras untuk mengungkap ini semua. Kami bukan tidak mempercayai keterangan yang anda berikan, tapi kami hanya menjalankan tugas. Dan kami harap tuan mengerti”
Tuan Anton mengangguk, kemudian menarik nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi plastik yang saat ini didudukinya
Setelah berkata seperti itu, polisi tadi langsung meninggalkan tuan Anton beserta dua anak buahnya.
“Anda tetap disini. Atau jika anda tidak keberatan anda bisa bergabung dengan yang lain” ucap polisi tadi pada bodyguard yang berdiri tak jauh dari tempat tuan Anton
__ADS_1
Tampak lelaki tinggi besar itu hendak berjalan kearah tuan Anton. Tapi karena langkahnya dihentikan oleh polisi yang memegang dadanya, dengan wajah dingin bodyguard tersebut menatap kearah polisi tadi
“Hargai keputusan kami. Ini demi kebaikan kita semua”
Wajah pria itu masih dingin, dan tampak dia menarik kasar tangan polisi yang masih menekan dadanya
“I’m okay. Kamu disana saja” teriak tuan Anton memerintahkan anak buahnya ketika dilihatnya gelagat anak buahnya yang tampak marah
Karena mendengar teriakan perintah dari tuan Anton pria tinggi besar itu menurut, dia mundur selangkah, lalu kembali ke posisinya tadi, sigap siaga. Tapi sekarang dia menghadap kearah tuan Anton. Memastikan jika dua polisi yang saat ini bersama tuan besarnya tidak melakukan tindakan buruk pada bos nya tersebut
Sementara di ruang pengawas, Sania yang sudah tampak mengantuk akhirnya tertidur dengan posisi kepala miring di sofa. Sedu sedan seperti cegukan sesekali terdengar dari tarikan nafasnya, owner mall dan petugas yang ada di dalam ruangan itu saling toleh dan menatap iba pada Sania
“Kita harus bagaimana sekarang? Ini sudah tengah malam. Tapi setitikpun kabar belum kita dapatkan. Dan jika sampai besok rekaman masih juga belum kita dapatkan, maka tamatlah riwayat kita semua. Siap-siap kita jadi gembel” ucap owner tersebut sambil menarik nafas dalam
Sementara Alexander yang saat ini telah berjalan jauh masih juga tidak mendapatkan petunjuk. Ratusan anak buahnya telah menyebar sampai ke seluruh daerah, tapi satu pun dari mereka belum ada yang melaporkan perkembangan
“Sania……” desis Alexander yang tiba-tiba teringat dengan perempuan yang tadi ditinggalkannya di mall bersama papinya
Dengan cepat Alexander merogoh hp nya dan langsung mendial nomor Sania. Penjaga ruang pengawas dan owner mall saling lirik ketika mendengar hp Sania berdering. Tapi keduanya tak berani mendekati meja apalagi mengangkat panggilan tersebut
Dua kali panggilan masuk barulah Sania terjaga, dengan cepat diangkatnya panggilan dari Alexander tersebut
“Bagaimana? Ada kabar tentang Junior?”
Alexander menarik nafas panjang begitu mendengar suara antusias penuh harap dari Sania
Sania menarik nafas panjang, dan kembali matanya penuh dengan air mata. Dan tak lama terdengarlah isak tangisnya
“Tolong temukan Junior, Alexander. Aku mohon. Aku tidak bisa hidup tanpa Junior. Kamu tahu sendiri kondisinya. Dia tidak bisa melihat, aku takut orang yang menculiknya akan melakukan hal buruk padanya, aku takut jika Junior..…..” Sania tak bisa lagi melanjutkan kalimatnya, karena dia takut dengan kalimatnya sendiri
“Tidak akan terjadi apapun dengan Junior, San. Saya janji sama kamu, saya akan membawa Junior pulang dalam keadaan selamat tak kurang suatu apapun”
Sania kian terisak dalam mendengar jawaban Alexander.
“Tapi ini sudah hampir dua belas jam Junior hilang Lex. Dan belum ada satupun titik terang. Aku harus bagaimana lagi Lex?. Aku bisa mati jika terjadi hal buruk pada Junior. Aku lebih baik mati asal anakku selamat”
Hati Alexander trenyuh mendengar ucapan sedih Sania
“Baik kamu dan anak kita tidak akan ada yang celaka. Itu janjiku, kamu yang tenang ya. Terus lah berdoa. Aku saat ini telah jauh berjalan, dan seluruh pihak keamanan juga sudah menyebar, kamu harus optimis”
Sania menarik nafas panjang, kemudian dia kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan hp yang masih menempel di telinganya
“Papi mana? Apa dia ada sama kamu?”
Sania mengangkat kepalanya, kemudian tampak dia mengedarkan pandangannya pada ruangan yang tak seberapa luas itu. Yang tampak olehnya hanya dua orang pengawas yang sejak tadi memang ada di dalam ruangan ini dan lelaki paruh baya berwajah oriental yang saat ini menoleh kearahnya
__ADS_1
“Tuan Anton keluar” ucap lelaki itu pada Sania. Dia yakin saat ini Sania mencari sosok tuan Anton
“Tuan Anton nggak ada. Kata pemilik mall ini beliau keluar”
Alexander menganggukkan kepalanya, kemudian dia menoleh sekilas kearah luar jendela yang menampilkan lampu jalan dan jalanan yang mulai lengang
“Baiklah San. Aku harap kamu istirahat, jangan berfikir aneh-aneh. Doakan keselamatan untuk anak kita dan semoga usaha kami membuahkan hasil”
Sania menganggukkan kepalanya, kemudian dengan pelan dia meletakkan hp dan menoleh kearah tiga lelaki yang ada di dalam ruangan ini
“Tuan Anton kemana?” tanyanya
“Beliau keluar tadi. Mungkin saat ini ikut interogasi. Karena seluruh pengunjung mall satupun tak ada yang diperbolehkannya pulang”
Mata Sania sedikit membesar mendengar ucapan lelaki oriental itu, kemudian dia bangkit dan berniat keluar juga dari ruangan tersebut. Tapi langkahnya dihentikan oleh lelaki oriental itu, dengan memintanya untuk istirahat dan memikirkan kesehatannya
“Bagaimana aku bisa tidur nyenyak tuan, sementara aku tidak tahu bagaimana keadaan anakku di luar sana” jawab Sania sendu
Akhirnya owner mall itu hanya bisa menarik nafas panjang, kemudian membiarkan Sania keluar dari ruangan tersebut
“Apa ada diantara kalian yang mengenal perempuan itu?” tanya owner mall ketika Sania tak kelihatan lagi
Dua orang anak buahnya menggeleng
“Dia orang sini. Tidak tinggal dengan tuan Anton maupun Alexander, karena dua orang itu stay di ibukota. Saya puluhan tahun menjadi kolega tuan Anton, tapi saya tidak pernah mendengar jika tuan Anton sudah menikahkan putra tunggalnya. Dan jikapun tuan Anton menikahkan anaknya, tak mungkin kami koleganya tidak diundang. Jikapun memang kami tidak diundang, barang mustahil saya tidak mendengar kabar dari kolega yang lain” gumam lelaki seakan padanya dirinya sendiri dengan nada setengah heran
Sementara Sania yang terus berjalan keluar, memandang berkeliling pada mall yang lengang. Tampak olehnya beberapa polisi yang berjaga juga ikut duduk di lantai. Sementara pengunjung yang lain sudah tak karuan bentuknya. Ada yang tidur dalam posisi bersandar pada manekin, ada pula yang tidur dengan posisi melengkung di lantai
Sania meneruskan langkahnya, dan pandangannya tertumbuk pada salah satu sudut ruangan, dimana dilihatnya tuan Anton duduk di lantai dengan menyandarkan tubuhnya pada tembok
“Tuan Anton?” gumam Sania dengan mempercepat langkahnya
“Anda tidak bisa mendekati tuan Anton” ucap polisi yang menjaga tuan Anton ketika dilihatnya Sania berjalan tergesa kearah tuan Anton
Sania menoleh dengan wajah kaget kearah polisi tersebut
“Kenapa tidak boleh? Anda tentu tahu siapa dia. Dia adalah opa nya anak saya yang hilang”
Polisi tersebut tersenyum segaris mendengar jawaban Sania
“Tuan Anton untuk sementara tidak bisa ditemui oleh siapapun. Dia dalam pengawasan kami, karena ada saksi yang melihat jika tuan Anton lah orang terakhir bersama dengan anak anda sebelum anak anda tersebut hilang”
Mulut Sania kian ternganga, dan dia menggeleng cepat
“Nggak, nggak mungkin. Anda jangan ngaco. Saya tahu bagaimana tuan Anton. Dia sangat menyayangi anak saya. Jadi tak mungkin jika dia yang menculik anak saya”
__ADS_1
Tubuh tuan Anton yang bersandar pada tembok tampak bergerak ketika dia mendengar ada suara tak jauh dari tempatnya
“Sania……” desisnya