Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
MASIH TERUS BERUSAHA


__ADS_3

Mark kembali berusaha menarik tubuh Alexander yang terus berusaha melepaskan diri dari dekapan kencangnya


“Lepaskan aku Mark. Aku harus menyelamatkan anakku…!!!” teriak Alexander


Sementara tiga orang polisi yang ada dalam misi penyelamatan malam itu yang juga terpental jauh ke belakang berusaha bangkit dan menghubungi rekan mereka yang lain


“Kirimkan bantuan ke kilometer 15, disini terjadi ledakan”


Berita ledakan yang terjadi di kilometer 15 tersebut segera viral dan menyebar dengan cepat. Hingga sampai pulalah ke telinga tuan Anton beserta Sania


“Selamatkan anak saya” ucap tuan Anton di hp ketika dia menelepon salah satu bodyguard yang ikut dalam misi tersebut


Sania yang telah sangat khawatir tak bisa menyembunyikan kesedihan dan kepanikannya mendengar berita tentang ledakan bom pada mobil yang dikejar oleh rombongan Alexander


“Kirimkan dua helicopter kesini sekarang juga. Disini keadaannya kian gawat”kembali tuan Anton berbicara di hp


Dan Sania masih belum berani bertanya pada tuan Anton karena sejak tadi dilihatnya jika lelaki paruh baya yang masih terlihat sangat tampan itu sangat tegang dan panik


“Kirimkan lagi pasukan. Bila perlu pasukan elit dari luar negeri. Berapa pun mereka minta bayaran aku tidak peduli. Bagiku saat ini yang terpenting adalah nyawa anak cucuku. Cepat!!!!” tuan Anton berteriak


Sania kembali menciut ketika mendengar tuan Anton berteriak marah. Dia hanya bisa terisak dengan mulut tak berhentinya berdoa


Sementara di tempat kejadian mobil meledak, telah banyak mobil polisi dan juga wartawan yang turu hadir. Juga ada mobil ambulance yang siap membawa para korban. Walau tidak ada korban, tapi para polisi yang datang bersikeras agar para bodyguard beserta Mark, Alexander, ahli IT dan tiga orang polisi yang ada dalam rombongan tersebut segera di bawa ke rumah sakit terdekat


“Aku baik-baik saja. Aku tidak akan pergi kemanapun!” jawab Alexander menolak ketika dipaksa oleh Mark untuk ikut


Mark menarik nafas panjang sampai akhirnya, dia mengeluarkan sapu tangan yang sejak tadi telah dia siapkan. Dengan cepat dia menyergap tubuh Alexander dan langsung membekapkan sapu tangan tersebut ke hidung Alexander sehingga membuat pria tinggi itu memberontak. Tapi Alexander yang memang telah beberapa hari ini tenaganya terkuras, akhirnya hanya bisa pasrah hingga akhirnya tubuhnya lunglai


“Angkat dia ke ambulance!” perintah Mark pada para bodyguard yang baru tiba


Dengan sigap dua orang bodyguard menggotong tubuh besar Alexander dan langsung memasukkannya kedalam mobil ambulance. Setelah itu barulah yang lain juga ikut naik ke mobil ambulance yang lain. Dan Mark beserta ahli IT berada dalam satu mobil ambulance dengan Alexander


“Kami sudah di mobil ambulance dan sekarang akan menuju rumah sakit tuan. Alexander baik-baik saja, dan mohon maaf, Alexander terpaksa saya bius karena masih saja bersikeras ingin melanjutkan misi ini” ucap Mark di hp ketika dia menelepon tuan Anton


“Terima kasih Mark karena telah menjaga dan melindungi nyawa anak saya. Kirimkan terus update terbaru tentang Alexander. Bila perlu kamu perintahkan dokter rumah sakit untuk memberinya obat tidur dan bius banyak-banyak agar anak saya tersebut bisa istirahat”


“Baik tuan”


Setelah itu Mark menarik nafas panjang dan menatap wajah tenang Alexander. Sementara ahli IT yang duduk berseberangannya dengannya tampak memejamkan mata

__ADS_1


“Apa kamu ada yang terluka?” tanya Mark


Ahli IT tersebut langsung membuka matanya dan menggeleng kearah Mark


“Saya hanya lelah tuan. Dan sepertinya memang malam ini saya butuh istirahat”


Mark hanya mengangguk sekilas, dan menoleh kearah luar dimana dilihatnya jika di udara ada kerlipan cahaya dari helicopter


“Mereka sudah sampai” lirih Mark yang kembali menelepon tuan Anton


“Baguslah jika mereka sudah sampai. Dan itu bisa dipakai sebagai kendaraan untuk misi selanjutnya” b


Jawab tuan Anton


“Dan pasukan dari luar negeri, kemungkinan mereka akan tiba besok pagi” lanjut tuan Anton lagi


Mark menganggukkan kepalanya, kemudian dia kembali fokus menatap ke depan, dan sesekali menatap kearah Alexander dan juga ahli IT yang tampak telah memejamkan matanya


Dapat dirasakan oleh Mark jika mobil ambulance mulai berjalan melambat hingga akhirnya berhenti. Dengan cepat dua orang yang ada di depan membuka pintu bagian belakang, dan dengan dibantu Mark mereka menurunkan brankar berisi tubuh Alexander


“Tangani dia segera, dan diberikan dia dosis obat tidur di infusnya” ucap Mark pada dokter yang telah siap memeriksa Alexander


“Denyut jantungnya berdebat kencang dan tekanan darahnya lemah. Memang dia butuh banyak istirahat” ucap dokter tersebut pada Mark setelah dia selesai memeriksa Alexander


Kemudian dokter tersebut meminta pada perawat untuk memasang infuse sebagai cairan penambah untuk Alexander dan tak lupa dokter tersebut menyuntik obat tidur dan penenang yang tadi diminta oleh Mark


Selanjutnya dokter tersebut memeriksa Mark dan juga meminta pada Mark untuk beristirahat karena ternyata Mark sama hal nya dengan Alexander, mereka sama-sama lelah dan butuh istirahat


“Saya akan tidur disini. Kalian siapkan satu ranjang lagi untuk saya!” perintah Mark yang langsung dijawab anggukan kepala dari dokter dengan langsung memerintahkan perawat untuk membawa satu lagi ranjang pasien untuk Mark tidur di ruang perawatan Alexander


“Saya tidak bisa meninggalkan dia sendiri. Jika sesuatu hal buruk terjadi padanya, maka saya adalah orang pertama yang harus disalahkan” ucap Mark ketika memberitahu alasannya ingin satu ruangan dengan Alexander


Ketika ranjang pasien untuk Mark sampai, Mark langsung merebahkan tubuhnya dan meminta pada dokter untuk menyuntikkan obat penenang padanya


“Obat penenang dokter, bukan obat tidur” ucapnya ketika dokter tersebut telah siap menyuntiknya


Dan setelah cairan yang ada di dalam jarum suntik masuk kedalam tubuh Mark, secara perlahan Mark merasa tenang dan kepalanya tidak lagi dipenuhi dengan pikiran pelik yang menguras energinya


Sementara di mall, tuan Anton yang sudah diberitahu jika sekarang Alexander telah berada di rumah sakit dan juga tidur nyenyak segera menarik nafas lega dan duduk kembali di tempatnya

__ADS_1


“Bagaimana tuan?” tany Sania takut-takut ketika tuan Anton sudah tampak tenang


Tuan Anton menarik nafas panjang dan menoleh kearah Sania


“Sekarang Alexander dan Mark beserta yang lain sudah ada di rumah sakit. Mereka semua dalam pengawasan para bodyguard. Dan helicopter yang saya suruh datang juga sudah tiba. Menurut laporan yang saya terima, mobil yang meledak dalam keadaan kosong. Dan bisa dipastikan jika tidak ada korban di dalam mobil tersebut. Begitu juga dengan rombongan Alexander, mereka semua selamat tidak ada yang menjadi korban walau mereka semuanya terpental jauh”


Sania membekap mulutnya mendengar ucapan tuan Anton, dan dia kembali terhenyak ketika mengetahui jika telah terjadi pengeboman


“Apa salah saya tuan sehingga mereka melakukan tindakan brutal ini?” lirih Sania menahan tangis


Tuan Anton yang semula sudah tampak tenang kembali menarik nafas panjang


“Musuh mereka itu saya. Bukan kamu San, tapi yang saya heran dari mana mereka tahu tentang Junior sehingga mereka berhasil membuat anak buah saya berani berkhianat sama saya. Padahal anak buah saya tahu apa konsekuensi yang harus dia terima jika berani berkhianat padaku”


Sania menyeka air matanya, kembali dia merebahkan tubuhnya dan pikiran buruk mulai kembali berkelebat di kepalanya


“Kamu sebaiknya pulang ke rumah nyonya Ajeng, dan saya juga akan kehotel yang ada di dekat sini. Jujur saja, saya lelah secara fisik dan pikiran. Dan saya butuh istirahat, besok saya akan menghubungi kamu lagi, dan kita bahas rencana selanjutnya. Karena menurut Mark sudah ada titik terang siapa yang menculik Junior”


Sania bergeming, matanya masih menatap kosong ke langit-langit mall, sampai akhirnya dia tergagap ketika tangannya disentuh oleh tuan Anton


“Saya dan anak buah saya akan mengantarkan kamu pulang, baru setelah itu saya akan kembali ke hotel”


Sania mengangguk, dengan lemah dia bangkit dari kursinya dan segera berjalan keluar mengekor di belakang tuan Anton. Dan dua orang bodyguard yang sejak tadi berjaga di luar ruangan ruang pengawas, begitu tuan Anton dan Sania keluar segera berjalan di belakang mereka


Di dalam mobil menuju kediaman mami Ajeng, Sania hanya duduk diam, dan memandang keluar dengan perasaan campur aduk. Kembali penyesalan mendera batinnya sehingga kembali air matanya jatuh berderai


Tuan Anton yang mendengar tarikan nafas Sania ciri khas menangis segera menoleh ke belakang


“Percayakan semuanya sama kami San. Bahkan hingga keujung dunia sekalipun saya akan mencari Junior. Saya janji akan mengembalikan Junior ke pelukan kamu”


Tangis Sania kembali pecah ketika mendengar sekali lagi Tuan Anton berjanji padanya dan meyakinkan jika semuanya akan baik-baiknya. Sampai akhirnya ketika mobil berhenti di kediaman rumah mami Ajeng, seluruh penghuni rumah bordil yang sejak kejadian penculikan Junior memang libur masal segera berlari keluar ketika melihat sebuah mobil masuk ke halaman


Tangis mereka pecah ketika melihat Sania turun. Segera mereka merangkul Sania dengan erat, hingga mami Ajeng yang begitu emosional sampai menangis tersedu


“Kita akan cari sama-sama Junior. Anak buah mami juga begantian mencari Junior. Kamu tenang ya San, kita selalu ada untuk kamu” ucap para wanita malam yang membuat tangis Sania kembali pecah


Tuan Anton menyampaikan permintaan maafnya karena masih belum bisa membawa Junior pulang kerumah bordil ini, dan meminta kepada seluruh penghuni rumah bordil tersebut untuk mendoakan keselamatan Junior


“Saya titip Sania kembali nyonya Ajeng. Dan kemungkinan besar, besok dia akan dijemput oleh anak buah saya. Karena kami akan mengatur strategi baru untuk mengungkap dalang dibalik ini semua”

__ADS_1


__ADS_2