
Tuan Anton yang saat ini memegang bahu Junior tak kalah emosionalnya dengan sang istri
Dengan segera di dekap nya Junior sambil menangis terisak
Junior yang tidak faham dengan semua yang terjadi hanya membalas dekapan tuan Anton
"Opa kenapa menangis?, apa anak Opa sakit lagi?"
Tuan Anton tidak bisa menjawab pertanyaan Junior, beliau masih menenggelamkan haru biru di hatinya dengan terus mendekap penerusnya itu
Sementara Alexander yang sekarang telah membuka matanya dengan sempurna hanya bisa menatap ke atas, ke langit-langit kamar ruang ICU
Dan beberapa dokter masih terus memeriksa keadaanya dengan intens
Bahkan layar komputer yang semula menunjukkan angka lemah sekarang berangsur normal
Sania yang mengintip di luar turut meneteskan air mata ketika melihat bagaimana tuan Anton dan nyonya Emma menangis
"Aku turut senang Alexander mengetahui kamu sadar" batinnya dalam hati
Sania menghapus air mata yang mengalir di wajahnya dengan cepat ketika mendengar suara deheman bodyguard yang berdiri tak jauh darinya
"Nona duduk saja dulu, dari tadi saya lihat nona berdiri terus" ucap salah satu bodyguard
Sania tidak menjawab melainkan kembali memutar kepalanya mengintip kedalam lagi
Dokter yang telah selesai memeriksa keadaan Alexander saat ini tampak mengajak Alexander berbicara pelan
Bahkan seorang dokter mengangkat jari tangannya, menunjukkan pada Alexander berapa jari yang dia angkat
Dokter tersebut tersenyum ketika Alexander menyeringai
"Tuan Anton, kemari lah. Apakah anda tidak ingin melihat anak arogan anda yang marah pada saya?"
Tuan Anton dan Nyonya Emma langsung mendekat dengan wajah basah
Segera mereka berdua bergantian mendekap dan mencium kening Alexander
"Papi, mami...." lirih Alexander
Nyonya Emma hanya sanggup menganggukkan kepalanya karena air mata telah kembali mengalir deras di wajahnya
"Opa.....?"
Tuan Anton langsung menoleh kebelakang dimana Junior tampak mengulurkan tangannya ke tempat kosong
Tuan Anton langsung membalikkan badannya lalu kembali berjongkok di depan Junior
Sementara Alexander yang mendengar suara anak kecil segera memutar kepalanya ke arah Nyonya Emma
"Mami apa itu suara anakku?" tanya Alexander
__ADS_1
Nyonya Emma mengangguk yang membuat Alexander segera berusaha untuk bangun.
Tapi gerakannya langsung dihentikan oleh Nyonya Emma dengan menekan pelan bahunya.
"Papi bawa ke sini Junior, Alexander ingin melihatnya!"
Tuan Anton segera menganggukkan kepalanya, dan segera berdiri lalu membawa Junior mendekat ke arah Alexander.
Alexander segera menoleh ke arah Junior yang sekarang berdiri di sampingnya. Dengan cepat diulurkan nya tangannya ke arah tangan Junior .
Junior yang merasakan tangannya digenggam oleh seseorang, membalas genggaman tangan tersebut.
"Uncle, Apakah uncle sudah sembuh?".
Mata Alexander seketika panas ketika melihat darah dagingnya ada di depan matanya.
"Peluk papa nak, ini papa" ucap Alexander dengan suara tercekat.
Junior menuruti perintah Alexander. Dengan segera dia menempelkan kepalanya di dada Alexander. Dan Alexander yang merasakan pelukan dari Junior langsung menangis sejadinya.
Kembali Tuan Anton dan nyonya Emma tidak bisa menahan haru mereka ketika melihat Alexander yang menangis ketika dipeluk oleh Junior.
Begitu juga dengan Sania yang mengintip di luar. Dia kembali menangis sesenggukan hingga bahunya sampai berguncang.
Melihat keadaan Sania seperti itu, seorang bodyguard maju dan berdiri tepat di belakang Sania. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu hal buruk pada perempuan itu.
Sementara Junior yang tidak mengetahui Mengapa Alexander menangis sesenggukan hanya bisa mengusap-usap lengan Alexander.
"Ada apa uncle?, apa dada Uncle sakit karena kepala aku menempel di dada uncle?" tanya Junior.
"Opa, kepala aku pegal" lirih Junior yang membuat Tuan Anton segera mengangkat tubuhnya berdiri sempurna kembali.
"Tolong jangan Papi, Biarkan Junior terus memeluk aku" mohon Alexander.
Nyonya Ema mengambil alih dengan segera mengusap dan menghapus air mata yang membanjir di wajah Alexander.
"Nanti sayang ya, Kamu dengar sendirikan apa kata Junior tadi, kepalanya pegal"
"Dokter, Tolong periksa kembali kondisi anak saya. Saya tidak ingin kondisinya kembali drop karena dia habis menangis" ucap Nyonya Emma yang membuat dokter yang semula berdiri agak jauh dari mereka mendekat.
Seorang dokter spesialis yang selama ini merawat Alexander segera kembali memeriksa kondisi Alexander, kemudian dia tersenyum.
"Mengapa Anda tidak membawa anak kecil tersebut kesini sejal kemarin tuan Anton. Jika saja sejak kemarin anda membawa anak kecil tersebut ke sini, sudah bisa dipastikan jika Alexander sudah sadar dari kemarin-kemarin" .
Alexander berusaha tersenyum mendengar ucapan sang dokter.
"Mami, Bawa kembali ke sini Junior. Aku ingin kembali memeluknya" ucap Alexander bersikeras.
"Ini sudah malam Tuan Alexander, sudah seharusnya Anda beristirahat. Begitu juga dengan keluarga anda".
Alexander langsung mendecak begitu mendengar ucapan sang dokter.
__ADS_1
"Juga begitu, saya minta keluarga saya tidak pulang malam ini" ucap Alexander.
Tuan Anton kembali mendekat dengan membawa Junior yang membuat Alexander kembali mengambil tangan anaknya dan menggenggamnya dengan erat.
"Junior, Junior mau kan di sini sama papa?"
Junior diam, kemudian dia menggeleng.
"Aku nggak mau di sini, aku maunya sama mama"
Kembali mata Alexander nanar melihat ke arah maminya
"Mami, apa Sania ada di sini?, jika iya, mana dia?".
"Mama aku ada di sini, tapi mama aku nggak boleh masuk. Mama aku di luar, mungkin sekarang mama melihat kita" Junior yang menjawab pertanyaan Alexander.
Dan kali ini, niat Alexander untuk duduk tidak bisa dicegah lagi. Sehingga dokter membantunya untuk duduk.
Mata Alexander langsung menuju ke arah jendela, dimana dilihatnya siluet wajah Sania dari balik jendela.
Sania yang mengetahui jika Alexander melihat ke arahnya dengan cepat membalikkan badannya dan segera mundur dari depan jendela.
"Mami tolong bawa masuk Sania. Aku ingin bertemu dengan dia. Mami tolong. Tolong aku Mi".
Kembali dokter menggeleng, dan dokter tersebut segera memegang bahu Alexander
"Alexander, kamu baru saja sadar dari koma, Jadi kamu masih butuh banyak istirahat. Nanti ketika kamu sudah sehat, kamu bisa bertemu dengan siapapun".
"Tolong dokter, satu menit saja. Beri aku kesempatan untuk bertemu dengan perempuan yang sangat berjasa untuk hidupku" ucap Alexander dengan suara bergetar.
"Nak, benar apa yang dikatakan oleh dokter, sekarang kamu harus istirahat, ya?. Dan memang hari sudah malam, kasihan Junior. Dia malam inilah tiba dari kota tempat kelahirannya. Dia belum sama sekali istirahat, begitu juga dengan Sania. Kasihan jika mereka harus bergadang menunggui mu di rumah sakit ini. Kamu tidak inginkan jika Junior sakit?" bujuk nyonya Emma .
Alexander hanya bisa menarik nafas panjang ketika mendengar bujukan Maminya.
"Besok kami janji, kami akan ke sini lagi" lanjut Tuan Anton.
"Bilang sama Sania pi, aku sangat berterima kasih padanya" kembali Alexander bersuara lirih
"Kita pulang Opa?"
Tuan Anton menjawab sambil mengusap kepala Junior
"Peluk papa dulu sayang jika kamu mau pulang" ucap Alexander sambil mengulurkan tangannya kearah Junior
Junior menggeser badannya sampai tubuhnya menyentuh tangan Alexander
Dengan segera Alexander mendekap erat anaknya. Dan dokter yang melihat kembali saling lirik dan menatap lekat kearah Junior
"Bilang sama mama, papa minta maaf" bisik Alexander
Junior melepas dekapan Alexander, kemudian tangannya kembali menyentuh wajah Alexander, dan tak lama dia tersenyum
__ADS_1
"Papa itu apa?"
Seketika Alexander langsung menelan ludahnya dengan susah payah mendengar pertanyaan Junior, sementara dokter yang ada di dalam ruangan itu juga tampak terperanjat