Kejahatan Alexander Louise

Kejahatan Alexander Louise
Bad Day


__ADS_3

Mark dan Alexander tertidur pulas. Planning Alexander yang semalam akan datang ke kantor sepertinya tidak akan terlaksana. Karena hingga jam Sembilan pagi, kedua pria bule itu masih saja belum bangun. Terlebih Alexander yang masih tampak terlelap tidur di sofa


Dengan melipat kedua tangannya di dada, dengan kaki yang ditumpuk menyatu, Alexander melanjutkan mimpinya. Sedangkan Mark yang tertidur di ranjang, tak ubahnya dengan Alexander. Tubuhnya tertutup selimut, hanya separuh wajahnya saja yang terlihat, lainnya tertutup selimut semua. Hanya nafas teratur dari mulut dan hidungnya serta gerakan perutnya saja yang menandakan jika pria itu masih bernyawa


Deringan suara panggilan dari handphone keduanya yang sejak tadi berdering tidak mereka dengar. Rupanya mereka berdua benar-benar sangat mengantuk dan lelah. Mark yang seharian kemarin bekerja, dan malamnya hingga tengah malam kembali harus bekerja menunggui ahli IT, benar-benar membuatnya lelah. Sedangkan Alexander yang kemarin hingga fajar tadi lebih lelah lagi. Bukan hanya fisiknya saja yang lelah tetapi juga psikisnya


Sekretaris pengganti Sandra yang sejak tadi menelepon kedua bos besarnya, dan tidak mendapatkan jawaban akhirnya dengan takut-takut menelepon tuan Anton


“Memangnya sampai jam segini mereka berdua belum berada di kantor?” tanya tuan Anton dengan nada sedikit marah ketika sekretaris tersebut memberi tahu jika kedua anaknya tidak ada di kantor dan panggilannya tidak di jawab


“Belum tuan, padahal hari ini ada meeting. Dan para kolega sudah di jalan menuju kantor. Saya khawatir jika tuan Alexander maupun tuan Mark tidak ada, reputasi baik mereka berdua bisa turun”


“Saya yang akan ke kantor sekarang. Pastikan jika para kolega tersebut datang, mereka merasa nyaman dan berikan pelayanan terbaik untuk mereka. Kalian satu kantor tentu tahu apa yang harus dilakukan. Saya berangkat sekarang”


Tuan Anton tidak berfikir dua kali untuk menunda datang ke kantor pusatnya. Segera dia masuk kedalam kamarnya, mengambil jas kerja yang sudah sangat lama tidak dikenakannya. Nyonya Emma yang melihat suaminya turun tangga dengan memakai jas tampak heran dan bertanya


“What’s wrong dad? You so panic?”


Sambil mengancingkan jas nya, tuan Anton hanya mengecup kening istrinya


“Ini karena anak kesayanganmu itu Mi. jam segini dia belum di kantor. Padahal malam tadi supir sendiri yang bilang jika dia akan ke kantor pagi ini, langsung dari apartemennya”


“Mark?” tanya nyonya Emma sambil ikut berjalan keluar rumah mengikuti langkah suaminya


“Entah kemana juga anak itu, aku sudah telepon keduanya tapi tidak juga diangkat”


Supir pribadi keluarga tuan Anton segera masuk kedalam mobil dan langsung menyalakan mesin mobil, dan setelah tuan Anton duduk, dengan segera pria paruh baya tersebut menjalankan mobil. Tuan Anton melambaikan tangan kearah istrinya, kemudian barulah dia menutup kaca jendela mobil


“Cepat pak. Saya sudah ditunggu!”


Supir tersebut hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap kearah tuan Anton melalui kaca spion. Dan segera mencari jalur alternative agar tuan besarnya tidak terlambat sesuai keinginannya


Di dalam mobil, kembali tuan Anton menghubungi kedua anaknya. Dan masih seperti tadi, panggilannya tidak juga mendapat jawaban


“Kemana mereka berdua…..” geramnya

__ADS_1


Karena kesal, tuan Anton memasukkan kembali hp kedalam jasnya, lalu fokus menatap ke depan. Fokus tuan Anton sedikit terganggu karena tiba-tiba hp nya berdering. Dengan cepat dirogohnya saku jas nya, dan mengambil hp. Berharap jika yang menelepon adalah kedua anaknya. Tetapi ternyata yang menelepon adalah sekretaris kantornya yang mengatakan jika para kolega sudah sampai, dan sudah sejak tadi menunggu


“Saya sudah di jalan. Layani dulu mereka. Ajak ngobrol dulu, sebentar lagi saya sampai!” perintah tuan Anton


Mulai beliau gelisah, karena beliau tidak pernah sekalipun terlambat jika akan bertemu dengan kolega perusahaannya, terlebih jika kolega tersebut berasal dari luar negeri. Dan kepala tuan Anton makin pusing karena dia tidak tahu materi apa yang akan dibahas nanti.


Tapi dia yakin, sekretaris dan bawahannya yang lain sudah menyiapkan semuanya. Dia yakin dengan keprofesionalan anak buahnya.


“Bisa cepat sedikit tidak pak? Kolega saya sudah sampai di kantor dan mereka tengah menunggu saya”


Kembali supir pribadi tersebut hanya bisa mengangguk, dan kembali ngegas mobil mencari jalan alternative lain agar bisa keluar dari padatnya mobil yang merayap


Berkali-kali tuan Anton menarik nafas panjang karena mobilnya masih berjalan lambat akibat terjebak macet. Hingga akhirnya setengah jam kemudian, barulah mobilnya bisa berjalan lancar dan langsung bisa berjalan lancar kearah kantor


Tuan Anton keluar dengan cepat dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam kantor. Seluruh karyawan yang melihat bos besar mereka masuk, berdiri dan membungkukkan sedikit kepala mereka, sambil menyapa


“Selamat pagi Pak…..”


Tuan Anton hanya mengangkat telapak tangan kanannya tanda menjawab sapa anak buahnya, kemudian beliau langsung melesat masuk kedalam lift. Dan sama cepatnya dia langsung berjalan kearah ruang meeting ketika pintu lift terbuka


Dengan cepat wanita berkaca mata jernih itu memberikan map kepada tuan Anton, dan wanita itu pun membukakan pintu ruang meeting, mempersilahkan tuan Anton untuk masuk


Seluruh orang yang ada di dalam ruangan tersebut langsung berdiri, dan memandang hormat kearah tuan Anton, terutama para pegawai kantornya yang akan menghadiri meeting hari ini. Mereka tampak menganggukkan kepala mereka dengan takzim kearah Tuan Anton. Sedangkan para kolega, tampak menganggukkan kepala mereka, dan mereka langsung saling berjabat tangan


“For long time not see you Mr. Anton. You look so great and charismatic” ucap para kolega tuan Anton ketika mereka berjabat tangan


Tuan Anton tersenyum ramah mendengar pujian kolega lamanya, lalu tuan Anton mempersilahkan semuanya duduk, tapi meeting belum dimulai karena mereka masih bernostalgia


“Lama sekali kita tidak bertemu tuan Anton, terlebih sejak GIO Group anda serahkan pada tuan Alexander”


Tuan Anton menganggukkan kepalanya


“Alexander anak saya satu-satunya, dan hanya dia yang bisa saya percaya untuk mengembangkan perusahaan saya. Dan ternyata keputusan saya tidak salah, anak saya itu memang bisa membawa perusahaan saya berkembang pesat, dan tentu saja semua ini tidak luput dari bantuan anak angkat saya Mark. Hingga akhirnya perusahaan saya menjadi salah satu perusahaan terbesar di negeri ini”


“Dan saya juga meminta maaf kepada bapak ibu semuanya, hari ini anak saya Alexander dan anak saya satunya lagi tidak bisa bergabung bersama kita dalam meeting ini, karena mereka sedang ada dinas luar. Dan sebagai gantinya sayalah yang memimpin meeting hari ini”

__ADS_1


Semua kolega dan karyawan yang ada di dalam ruang meeting tersebut menganggukkan kepala mereka mendengar penyampaian tuan Anton, dan memaklumi mengapa dua pentolan perusahaan ini tidak hadir seperti biasanya.


“Ayo, kita mulai” ucap tuan Anton ketika beliau merasa sudah siap untuk memulai meeting


Walau hanya sekilas membaca laporan yang tadi diberikan oleh sekretaris Alexander, tetapi begitu melihat wajah kolega lamanya, tuan Anton sudah tahu kemana arah tujuan meeting mereka hari ini akan berlabuh


Dua jam meeting berjalan lancar, performa Tuan Anton masih seperti dulu. Kharismatik beliau sebagai pemimpin perusahaan besar masih sangat menonjol. Para kolega yang mendengarkan penjelasan dan kalimat yang disampaikan oleh Tuan Anton masih merasa jika pria paruh baya tersebut masih sangat layak dijadikan CEO di kantor besar ini. Penguasaan materi dan cara berbicaranya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah


Menit ke lima belas lewat dari dua jam meeting, tuan Anton mengajak seluruh kolega dan anak buahnya pindah keruang sebelah, untuk makan siang. Dan kembali keakraban tercipta dari mereka ketika mereka bercengkrama saat makan siang


Wibawa dan kerendahan hati tuan Anton kepada anak buah dan koleganya masih tetap dijaganya, walaupun dia tidak aktif lagi di perusahaannya, tetapi seluruh anak buah dan koleganya masih sangat menghormati beliau


Selesai dengan makan siang, kembali mereka melanjutkan obrolan ringan hingga satu jam kemudian. Barulah setelah siang menjelang sore, para kolega menjabat tangan tuan Anton dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Ada yang akan melanjutkan meeting mereka di tempat lain, tapi ada juga yang akan pulang hotel, beristirahat. Tapi ada juga sebagian memilih untuk bersantai dengan jalan-jalan


“Kumpulkan semua karyawan!” ucap tuan Anton pada salah satu kepala bagian ketika hanya dirinya dan karyawannya saja yang tinggal di dalam ruangan meeting tersebut


Kepala divisi tersebut menganggukkan kepalanya, dan dengan segera lelaki itu pergi menuju bagian nya dan segera menginstruksikan kepada para bawahannya untuk segera berkumpul di aula besar perusahaan ini. Sementara yang lain, segera menyiapkan aula karena akan dipakai untuk pertemuan mendadak dengan bos besar mereka


Tuan Anton, dengan dikawal oleh beberapa kepala bagian di perusahaannya segera berjalan menuju aula, ketika diberitahu jika aula sudah siap. Dan ruangan besar tersebut seketika hening ketika Tuan Anton masuk bersama para petinggi yang lain


Tuan Anton diam sejenak, mengedarkan pandangannya pada seluruh karyawan yang berbaris rapih. Barulah setelah itu dia memberikan sambutan, hal pertama yang disampaikan oleh beliau adalah apresiasi seluruh karyawan yang telah bekerja keras demi kemajuan perusahaannya.


Yang kedua yang diharapkan oleh beliau adalah seluruh karyawan tetap solid dan tetap berjuang di perusahaannya. Di saat beliau memberikan arahan, handphone yang ada di dalam saku jas nya tiba-tiba berdering sehingga membuat beliau menghentikan sambutannya


Tuan Anton tersenyum menyeringai ketika melihat layar HP nya. Kemudian dengan santainya dia me reject panggilan tersebut


Tetapi kembali handphonenya berdering, dengan santai tuan Anton memberikan handphone yang ada di dalam genggamannya kepada anak buah yang berdiri di belakangnya. Dan kepala divisi tersebut langsung menerima handphone tuan Anton dan langsung berjalan menjauh dari tempatnya


“Papi, aku minta maaf, aku nggak tahu kalau papi nelepon. Sumpah pi aku minta maaf sekali sama papi” ucap suara di seberang yang sangat dikenal oleh kepala divisi tersebut sebagai Alexander


“Maaf tuan Alexander, ini saya pak Rahman. Tuan besar sedang member instruksi kepada kami semua di aula perusahaan”


Seketika Alexander langsung menoleh kearah Mark dengan membelalakkan matanya


“Mati kita Mark….” Desisnya sambil mematikan panggilan

__ADS_1


__ADS_2