
Hari sudah mulai Gelap, Melatih terduduk di bawa batang pohon yang besar, gadis itu tak bisa berjalan karena kaki nya yang tertusuk ranting kaya tajam tadi, gadis itu mulai menangis karena sendiri di hutan dengan hari yang sudah mulai gelap.
"Hikzz... ma, pa, Melatih takut hikzz" isak Melatih.
Suara burung-burung sudah mulai terdengar, dan gadis itu mulai takut memeluk tubuhnya sendiri.
Kaki yang tertusuk ranting kayu sudah tak lagi berdarah, hanya terasa sakit saja.
"Hikzz..." Melatih terus menangis, entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
Raffa terus berjalan mencari keberadaan gadis itu, hari sudah gelap membuat Raffa kuatir akan gadis itu di dalam hutan sendiri.
Raffa berjalan mendekati pohon besar, dan samar-samar Raffa mendengar suara tangis seorang wanita, Raffa mendengar isak tangis itu sangat dekat darinya berdiri.
Raffa yakin kalau itu adalah tangisan gadis itu, mungkin saja ia ketakutan sendiri di hutan yang sudah gelap ini.
Raffa terus mendekati suara isak tangis itu, dan Raffa melihat di balik pohon besar itu. Benar saja gadis itu sedang terduduk di bawa pohon besar sambil memeluk tubuh nya sendiri.
Dengan cepat Raffa mendekati gadis itu, membuat Melatih kaget dan ingin teriak, tapi ia urungkan karena melihat orang itu.
Keduanya terdiam cukup lama, lalu pandangan Raffa tertuju pada kaki yang luka itu, Raffa mengangkat kaki itu dan melihat lukanya.
"Akh, sakit" Melatih merigis sakit.
Raffa merobek kaos nya, lalu membungkus luka yang ada di kaki Melatih, keduanya saat ini hanya diam saja tak ada yang bersuara.
"Ayo berdiri" ajak Raffa.
Melatih pun memaksakan diri untuk berdiri, tapi ia kesusahan karena kakinya masi sakit, Raffa yang mengerti itu pun lalu berjongkok.
"Naik" ucap Raffa.
Tampa menunggu lama Melatih pun langsung naik ke atas punggung Raffa, Raffa mengendong Melatih lalu mereka pergi dari sana.
☘☘☘☘
Di Vila, Brian, Marvel, Rasya dan Ilham bingung mau mencari Raffa kemana, karena sedari tadi mereka tak menemukan Raffa di sana.
"Loh yakin Bri, Raffa gak keluar?" tanya Marvel.
"Gak lah, orang tadi dia berdiri di sini kok" ucap Brian.
"Kemana sih tuh anak" ucap Rasya.
Mereka sudah mencari ke semua tempat, tapi tak menemukan Raffa, Raffa hilang bak di telan bumi tak ada kata tiba-tiba langsung menghilang.
"Terus kita harus nyari dia ke mana men" tanya Ilham.
"Gue juga gak tau ni" ucap Marvel.
"Eh kok ada banyak orang di Vila sebelah, ada apa ya" ucap Marvel.
"Kita liat aja yuk" ajak Brian.
"Ayo siapa tau Raffa di sana" ucap Marvel.
Keempat pria itu pun pergi ke Vila sebelah mereka, Mereka melihat seorang wanita sedang menangis sambil di tenangkan oleh sang suami.
Brian lali bertanya pada salah satu petugas di sana.
"Pak, ini ada apa ya kok rame gini?" tanya Brian.
"Putri, ibu dan bapak ini hilang di hutan pak" ucap petugas itu.
"Hilang di hutan?" ucap Brian lagi.
"Iya pak, hilang dari tadi sore" ucap petugas itu.
"Teman kita juga hilang dari tadi sore pak" ucap Brian.
"Apa teman kalian juga hilang di hutan pak?" tanya petugas itu.
"Gak pak, dia tadi sore masi di dalam Vila kok" ucap Brian.
☘☘☘☘
Raffa menurunkan gadis itu di bawa pohon besar, lalu Raffa membantu Melatih duduk.
"Kita istirahat dulu ya" ucap Raffa melihat Melatih, dan Melatih hanya mengganggu.
"Kaki kamu masi sakit gak?" tanya Raffa.
__ADS_1
"Iya" ucap Melatih.
"Kamu kenapa sih bisa berada di hutan?" tanya Raffa.
"Aku tersesat" ucap Melatih.
"Kamu sendiri kok bisa ada di sini?" tanya Melatih.
"Aku gak sengaja liat kamu lari kemari tadi, jadi ku ikutin deh" ucap Raffa acuh.
Raffa lalu melihat ke arah melati, membaut Melatih salah tingkah karena di tatap oleh Raffa.
Sedangkan Raffa tersenyum melihat gadis yang saat ini ada di depannya malu-malu, Raffa menjadi gemes sendiri melihat tingkah gadis itu.
☘☘☘☘
Si kembar melihat mie yang barus saja selesai masak, mie itu adalah milik kak Dev.
"Kenapa, mau minta?" tanya kak Dev.
"Man oleh tat(emang boleh kak)" tanya Galih.
"Boleh lah, kaka nih gak kaya kalian pelit" ucap kak Dev.
Si kembar lalu turun dari atas kursi, berjalan mengambil piring bersi yanga ada di rak piring.
"Ni tat ilin ita(ni kak piring kita)" ucap si kembar.
"Siniin kita bagi tiga ya" ucap kak Dev.
"Ia tat, api ama atu ayatin itit ya(iya kak, tapi sama aku banyakin dikit ya)" ucap Galih.
"Gak, udah di bagi sama ini udah makan juga tadi" ucap kak Dev.
"Ish tat ini(ish kak ini)" ucap Galih.
Si kembar kembali duduk di kursi dekat kak Dev, kedua bocah kembar itu kembali memakan mie yang di bagi kak Dev barusan. Tapi mie kali ini gak ada telurnya, karena kak Dev gak suka telur.
Kak Dev melihat si kembar yang sedang asik memakan mie yang tadi mereka bagi, sesekali kedua bocah kembar itu berceloteh tak jelas, karena sambil mengunyah mie.
"Habisin cepat mie nya" ucap kak Dev.
"Galah liat deh tuh mie di bibirnya Galih" ucap kak Dev, menunjuk bibir Galih.
"Alih to abil ama amu di ulu atan ci(Galih kok bibir sama kamu di suruh makan sih)" ucap Galah.
"Ialin aja(biarin aja)" ucap Galih cuek.
"Hahaha,," kak Dev dan Galah menertawakan Galih yang mulutnya penuh dengan mie.
Galih kalau makan memang kaya gitu, suka belepotan.
"Du eyan anet ni elut(aduh kenyang banget nih perut)" ucap Galih.
"Gimana gak kenyang, kalian makan dua kali" ucap kak Dev.
"Bis enat ci mi olen ya(habis enak sih mie goreng nya)" ucap Galih.
"Ayo kita ke ruang tengah" ajak kak Dev.
Kedua bocah kembar itu pun mengikuti kak Dev ke ruang tengah, di sana masi ada papi Gilang, mami Ambar dan juga kakek Nicko dan eyang Nisa mengobrol.
"Sayang perut kamu besar banget" tanya mami Ambar.
"Gimana gak besar, nambah mie lagi" ucap kak Dev.
"Apa, kalian nambah mie lagi?" tanya mami Ambar.
"Ia ami, bis mi ya enat ci adi ita inta de ama tat Dep(iya mami, habis mie nya enak sih jadi kita minta deh sama kak Dev)" ucap Galah.
"Ya ampun, kalian ini" ucap eyang Nisa.
Kedua bocah kembar itu hanya terkekeh melihat eyang mereka, lalu Galah dan Galih mendekati kakek Nicko.
"Akek (kakek)" panggil si kembar.
"Iya boy, ada apa" ucap kakek Nicko.
"Ke ulan aun ita akek au aci diah apa(kek ulang tahun kita kakek mau kasih hadiah apa)" tanya Galah.
"Ada deh, rahasia dong" ucap kakek Nicko.
__ADS_1
"Akek to ake asia ci ama ita(kakek kok pake rahasia sih sama kita)" ucap Galih.
"Ia ni akek (iya nih kakek)" ucap Galah.
"Kalian mau minta apa, dari kakek?" tanya kakek Nicko.
"Ita inta tawat ebang tet(kita minta pesawat terbang kek)" ucap Galih.
"Jet pribadi?" tanya kakek Nicko.
"Ia akek(iya kakek)" ucap Galah.
"Nanti kakek belikan ya" ucap kakek Nicko.
"Yet, ita au unya et badi(yes, kita mau punya jet pribadi)" ucap si kembar.
Kakek Nicko mengusap kepala kedua cucu kembarnya itu, lalu melihat mami Ambar dan papi Gilang yang hanya menggeleng kepala.
"Api, akek au eli ita et badi(papi, kakek mau beli kita jet pribadi)" ucap Galih.
"Iya boy" ucap papi Gilang.
"Serius om mau beliin si kembar jet pribadi?" tanya kak Dev.
"Iya Dev" ucap kakek Nicko.
"Wihh, keren kalian" ucap kak Dev.
"Embal ditu lo(kembar gitu loh)" ucap kedua bocah kembar itu.
Semua yang ada di sana tertawa mendengar perkataan si kembar, ada-ada saja ni kedua bocil itu.
"Ke ucel lum ulan ya ali uncat(kek uncle belum pulang ya dari puncak)" tanya Galih.
"Belum boy, uncle kalian lagi senang-senang sama teman-temannya" ucap kakek Nicko.
"Ama om Laffa ya ke(sama om Raffa ya kek)" tanya Galih.
"Iya sama uncle Marvel juga" ucap kakek Nicko.
"Wa ga eluh ni ucel ga adat ita(wah gak seru nih uncle gak ngajak kita)" ucap Galah.
"Kalian kan masi kecil sayang" ucap eyang Nisa.
"Kalian itu cocoknya pergi ke wahana permainan" ucap kak Dev.
"Eman ita ga oleh te uncat ya tat(emang kita gak boleh ke puncak ya kak)" tanya Galih.
"Ya gak boleh lah, di puncak itu cuma khusus orang dewasa" ucap kak Dev.
"Ish asan aja ni tat Dep(ish alasan aja ni kak Dev)" ucap Galih.
"Di bilangin gak percaya, di puncak itu serem tau" ucap kak Dev.
"Da antu ya ya tat(ada hantu nya ya kak)" tanya si kembar.
"Ia ada, hantu nya suka culik orang" ucap kak Dev.
"Ih elem ya(ih serem ya)" ucap Galih, bergidik ngeri.
"Iya serem" ucap kak Dev.
"Alo ditu ita ga adi te auntat de ke, ita atut(kalau gitu kita gak jadi kepuncak deh kek, kita takut)" ucap Galah.
"Kenapa?" tanya kakek.
"Ita atut da antu anti ulit ita(kita takut ada hantu nanti culik kita)" ucap Galih.
"Ya terserah kalian saja lah boy" ucap kakek.
Sedangkan kak Dev hanya tersenyum melihat papi Gilang, rupanya si kembar percaya dengan apa yang di katakan oleh kak Dev.
Si kembar melihat kak Dev yang tertawa, membaut kedua bocah kecil itu menatap curiga.
"Tat Dep to etawa ci(kak Dev kok ketawa sih)" tanya Galih.
"Gak papa kok" ucap kak Dev.
Next...
Jangan lupa Like, komen sama Vote ya...
__ADS_1