
"Calon ist..." ucapan Sindi terhenti oleh perkataan Brian.
"Stop, kalau anda hanya ingin menganggu kami lebih baik pergi dari sini" ucap Brian mengusir Sindi dengan marah.
"Brian kok kamu gitu s..." lagi-lagi perkataan gadis itu terpotong oleh Brian.
"Cukup saya gak mau dengar apa pun dari anda, jadi saya minta anda pergi dari sini sebelum saya panggilkan petugas buat menyeret kamu pergi dari sini" ucap Brian lagi.
"Kak sabar" ucap Sheila berusaha membujuk Brian, karena saat ini Brian sedang terlihat begitu emosi.
"Pergi gak" bentak Brian, membuat pengunjung restoran yang lain melihat ke arah meja mereka, dan saling berbisik-bisik.
Dengan wajah kesalnya, Sindi beranjak dari duduk. Sindi pergi keluar dari restoran itu dengan sangat emosi dan malu.
"Sial, Brian berani-beraninya bentak gue di muka banyak orang, liat aja gue gak bakalan nyerah buat dapatin loh" ucap Sindi dalam hati sambil tersenyum licik.
Brian menatap Sheila dengan lembut, lalu memegang tangan gadis itu. Membuat Sheila melihat ke arah Brian yang sudah tidak se emosi tadi.
"Kak kenapa sih pake bentak dia sekolah, kan kasian" ucap Sheila melihat Brian.
"Aku gak suka calon istri aku di katakan sama dia" ucap Brian.
"Tapi kan malu kak di liat banyak orang" ucap Sheila dengan lembut.
"Udah gak usah ngomongin dia lagi, gak penting aku juga gak suka" ucap Brian masih kesal kalau mengingat wanita itu.
Sheila hanya menggeleng kepala melihat tingkah pria yang sedari kecil menyukai nya itu, tak lama kemudian pesanan yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya datang juga.
"Permisi kak, ini pesanannya" ucap pelayan itu, lalu meletakan pesanan di atas meja dengan pelan dan rapi.
"Makasih ya kak" ucap Sheila.
"Iya kak sama-sama, silahkan di nikmati menunya kak, semoga suka" ucap pelayan itu dengan sopan, lalu berlalu dari hadapan Sheila dan Brian.
"Ayo sayang kita makan" ajak Brian.
"Iya kak" jawab Sheila juga.
Brian dan Sheila menikmati makan malam mereka, sesekali Brian terlihat membersihkan bekas saus di bibir Sheila mengunakan tisu yang sudah di siapkan di sana.
"Sayang pulang ikut aku ke rumah kak Ambar ya, om Leo sama tante Sisi ada di sana" ucap Brian.
"Mama sama papa ada di rumah kak Ambar, kok gak bilang aku sih" tanya Sheila melihat Brian.
"Ia om Leo ke sana ketemu sama daddy" ucap Brian sambil melahap makanannya.
"Iya kak" ucap Sheila.
"Si kembar pasti bakalan menginterogasi kita deh kalau sampai sana kak" ucap Sheila.
"Nanti kita belikan oleh-oleh buat mereka biar gak banyak tanya tuh bocah dua" ucap Brian sambil tertawa.
"Kaka ini" ucap Sheila sambil tersenyum.
Selesai menghabiskan makan malam mereka, Brian dan Sheila pulang ke rumah si kembar, karena kedua orang gua mereka berada di sana.
Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil, bersiap akan pulang ke rumah si kembar.
"Sayang kita beli oleh-oleh apa buat si kembar" tanya Sheila.
"Gimana kalau kita belikan bakso aja sayang" ucap Brian.
"Boleh juga, mampir du warung bang Jago aja ya bakso nya enak-enak" ucap Sheila.
"Iya sayang" ucap Brian.
__ADS_1
Mobil yang di kendarai oleh Brian menuju bakso bang Joga, di jalan xx dekat perempatan.
☘☘☘☘
Si kembar sedang sibuk dengan robot-robotan mereka di ruang tamu, kedua bocah kecil itu sedang menunggu kedatangan uncle Brian dan kak Sheila, yang pergi jalan-jalan tidak mengajak mereka.
"Tata ela ama ucel Blian ama anet ci(kaka Sheila sama uncle Brian lama banget sih)" ucap Galih.
"Ia ni tan da am uju(iya ini kan udah jam tuju)" ucap Galah melihat jam besar yang ada di sudut ruangan.
"Was aja ni alo ucel da ampe uma(awas aja ini uncle kalau sudah sampai rumah)" ucap Galih, lalu mengambil robot miliknya dan meletakan di atas meja.
"Alih obot amu to anan ya atah ci(Galih robot kamu kok tangannya latah sih)" tanya Galah melihat tangan robot milik Galih.
"Ia atuh di antai adi(iya jatuh di lantai tadi)" ucap Galih, memutar tangan robotnya yang penyot.
Galah hendak menyentuh tangan robot milik Galih, tapi mendengar deru mobil yang barus saja sampai, kedua bocah kecil itu saling pandang dan berlari ke arah pintu utama.
Si kembar mengenali kalau itu adalah suara bunyi kenalpot milik uncle Brian.
"Yo Alih epat ucel ama tata ela da ateng(ayo Galih cepat uncle sama kaka Sheila udah datang)" ucap Galah berlari terlebih dahulu.
"Ia yo(iya ayo)" ucap Galih.
Galih membuka pintu utama, dan bertepatan uncle Brian sedang membukakan pintu untuk kak Sheila.
Sedangkan kedua bocah kecil itu sudah berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang, membuat Brian dan Sheila saling pandang habis melihat si kembar.
"Ayo" ajak Brian, menarik tangan Sheila dengan lembut.
"Hay boy, kalian kok di sini?" tanya Brian melihat kedua ponakan nakalnya.
"Ga uca so de ucel(gak usah sok deh uncle)" ucap Galih menatap uncle Brian dengan kesal.
"Ucel ama tata ela bis alan-alan tan ita ga di adat(uncle sama kaka Sheila habis jalan-jalan kan kita gak di ajak)" ucap Galah menatap uncle Brian.
"Hehehe,,, lain kali saja ya boy" ucap uncle Brian.
"Coba liat deh kaka Sheila bawa oleh-oleh apa buat kalian" ucap kak Sheila mengangkat tas berisi bakso.
Mendengar oleh-oleh mata kedua bocah kembar itu langsung berbinar senang, si kembar sing pandang lalu melihat ke arah tas berisi oleh-oleh.
"Ni oye-oye apa tat(ini oleh-oleh apa kak)" tanya Galih.
"Ini tuh bakso enak loh" ucap kak Sheila.
"Wah, ita au don tat(wah, kita mau dong kak)" ucap Galah.
"Ya udah ayo kita masuk" ajak kak Sheila pada si kembar.
"Yo tat, ucel usan ita lum esai ya(ayo kak, uncle urusan kita belum selesai ya)" ucap Galah, melihat uncle Brian.
Membuat uncle Brian menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, melihat si kembar dan kak Sheila sudah masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Sayang kok aku di tinggal sih" tanya uncle Brian.
"Ucel asut dili aja, da ga adat alan-alan agi(uncle masuk sendiri aja, udah gak ajak jalan-jalan lagi)" ucap Galih melihat uncle Brian dengan sewot.
Membuat uncle Brian melihat si kembar dengan terkekeh geli, dan hal itu membuat Galah dan Galih semakin kesal jadinya.
"Sayang kalian sudah sampai, Brian mana?" tanya eyang Nisa pada Sheila.
"Ucel da di epan eyan(uncle ada di depan eyang)" ucap Galih.
Eyang Nisa tau kalau saat ini sang cucu sedang kesal dengan uncle mereka, karena tidak mengajak mereka ikut jalan-jalan.
__ADS_1
"Kalian mau ke mana?" tanya eyang Sisi.
"Mau ke dapur ma, si kembar mau makan bakso" ucap Sheila melihat sang mama.
Sheila dan si kembar pergi ke dapur, sedangkan Brian baru saja memasuki ruang tengah di mana semaunya sedang berkumpul di sana.
"Boy, kau kenapa?" tanya daddy Nicko.
"Biasalah dad, di interogasi sama cucu mu" ucap uncle Brian duduk di salah satu sofa.
Semaunya tertawa melihat uncle Brian, mereka sudah menduga kalau si kembar pasti akang menginterogasi mereka.
Di meja makan kak Sheila menyalin bakso dari plastik ke mangkuk, kedua bocah kembar itu sudah duduk manis di kursi yang berdekatan.
"Wa aso ya anyat ya tat(wah baksonya banyak ya kak)" ucap Galih melihat bakso di dalam mangkuk.
"Iya dong, yang ini buat Galih dan yang ini buat Galah" ucap kak Sheila.
"Maaci ya tat, ita atan aso ya ulu(makasih ya kak, kita makan baksonya dulu)" ucap kedua bocah kembar itu.
"Iya, jangan lupa berdoa dulu ya" ucap kak Sheila.
"Iap tat ela(siap kak Sheila)" ucap kedua bocah kembar itu.
Galih menyendok pan kuah baksonya, lalu memakan nya, begitu pun dengan Galah.
"Enak gak?" tanya kak Sheila.
"Enat anet tat, ita uka(enak banget kak, kita suka)" ucap Galih.
"Ia tat(iya kak)" ucap Galah juga.
"Kalau gitu kalian makan ya, kaka mau ke depan dulu oke" ucap kak Sheila melihat kedua bocah kecil itu.
"Ia tat(iya kak)" ucap si kembar.
Kak Sheila kembali ke depan, meninggalkan si kembar di meja makan sambil melahap bakso mereka.
"Aso ya enat ya atu uka de(baksonya enak ya aku suka deh)" ucap Galih sambil mengunyah bakso miliknya.
Kak Dev yang hendak mengambil air di kulkas melihat kedua bocah kembar itu sedang asik memakan sesuatu di sana, dengan pan kak Dev mendekat dan melihat.
"Wah enak banget tuh baksonya, kak Dev minta dong" ucap kak Dev duduk di dekat Galih.
Galih melihat ke arah kak Dev, lalu kembali memakan baksonya tampa menghiraukan kak Dev.
"Hey kok kaka di cuekin sih, kan lagi minta ini" ucap kak Dev.
"Au inta apa tat(mau minta apa kak)" tanya Galah melihat kak Dev.
"Mau minta bakso lah" ucap kak Dev.
"Ga ada tat da abis(gak ada kak udah habis)" ucap Galih yang mendapat anggukan dari Galah.
"Udah habis gimana tuh masi ada di mangku" tunjuk kak Dev ke arah mangkuk kembar.
"Ga oleh ni unya ita(gak boleh ini punya kita)" ucap Galih.
"Bagi dikit kan boleh" ucap kak Dev.
"Tat Dep ni usa anet ci di ilan ya(kak Dev ini susah banget si di bilangnya)" ucap Galih.
"Ni atan atu aso aja ya(ini makan satu bakso aja ya)" ucap Galih memberikan sendok miliknya pada kak Dev.
Next...
__ADS_1