
Keempat bocah kecil itu saling padang lalu kembali melihat kak Dev yang sedang menanti jawaban.
"Kok diam, kaka lagi nanya loh" ucap kak Dev lagi.
"Alih tat yan bil ampo ya tat Dep(Galih kak yang ambil samponya kak Dev)" ucap Galah.
Kak Dev pun melihat ke arah bocah kecil yang duduk di kursi samping kemudi, bocah kecil yang sedang memakai topi kecil.
"Benar kamu yang ngambil?" tanya kak Dev menatap Galih.
Yang tatap hanya meyigir kuda, memperlihatkan deretan gigi kecil miliknya itu, membuat kak Dev mengernyit keningnya heran melihat Galih.
"Ia tat, bis ampo ya tat Dep alum ci atu uka(iya kak, habis samponya kak Dev harum sih aku suka)" ucap Galih masi meyingir.
"Kok gak bilang sih, itu namanya nyuri tau, nyuri itu kan dosa" ucap kak Dev.
"Tat alo di uma dili tu ama ya utan uli(kak kalau di rumah sendiri itu nama nya bukan nyuri)" ucap Galih melepaskan topi kecilnya, membuat bau sampo menyeruak dari rambut bocah kecil itu.
"Terus apa dong kalau bukan nyuri?" tanya kak Dev lagi.
"Injam tat injam oan to(pinjam kak pinjam doang kok)" ucap Galih kembali memakai topi nya.
Membaut kak Dev geleng kepala melihat tingkah bocah kecil itu, lalu kak Dev melihat ke arah Galah, Iqbal dan Kifli yang duduk di kursi belakang.
"Enapa tat to iat ita ditu ci(kenapa kak kok liat kita gitu sih)" tanya Galah.
__ADS_1
"Kalian juga makai samponya ya?" tanya kak Dev.
"Ia la tat, ampo alum adi ita ake uga, ia tan ais(iya lah, sampo harum jadi kita pakai juga, iya kan guys)" jawab Galah, yang mendapat anggukan dari Iqbal dan Kifli.
"Anan elit tat, anti ubulan ya empit lo(jangan pelit kak, nanti kuburannya sempit loh)" ucap Galih santai, membaut kak Dev melihat bocah kecil itu dengan kesal.
"Yo tat alan don, ita da apel ni enen atan iput(ayo kak jalan dong, kita udah laper nih pengen makan seafood)" ucap Galih lagi.
"Iya-iya" ucap kak Dev, lalu menjalankan mesin mobilnya keluar dari halaman rumah.
"Tat ita atan di es olan epan ya(kak kita makan di restoran jepang ya)" ucap Galih lagi.
"Iya, terserah kalian aja" ucap kak Dev fokus menyetir.
"Es, ais ita atan di es olan epan(yes, guys kita makan di restoran jepang)" ucap Galih.
Membaut kak Dev membuang nafas nya dengan kasar, mobil yang membawa keempat bocah kecil itu membela jalan ibu kota.
"Tat utal agu don, ga asit ni alo enin dini(kak putar lagu dong, gak asik nih kalau hening gini)" ucap Galih.
"Mau lagi apa?" tanya kak Dev.
"Andut aja tat, ial elu ambil dodet(dangdut aja kak, biar seru sambil joget)" ucap Galih.
Kak Dev pun memutar radio yang ada di dalam mobil, mencari lagu dangdut yang di minta oleh Galih. Sedangkan Galah, Iqbal dan Kifli asik melihat keluar jendela mobil.
__ADS_1
Galih terlihat ikut bernyanyi juga, karena saat ini lagu dangdut nya adalah, sakit nya tuh di sini.
"Atit ya tu di ini, di alam atitu(sakit nya tuh di sini, di dalam hati ku)" Galih bernyanyi dengan antusias.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh kak Dev memasuki parkiran restoran jepang, terlihat dari dalam mobil banyak pengunjung yang ramai nongkrong di sana.
"Wa ame ya ais(wah rame ya guys)" tanya Galih.
"Ia ame anet(iya rame banget)" timpal Galah juga.
"Ayo turun, pelan-pelan turunnya nanti jatuh" ucap kak Dev.
"Ote tat(oke kak)" ucap keempat bocah kecil itu.
"Ayo masuk" ajak kak Dev menuntun keempat bocah kecil itu masuk ke dalam restoran.
Kak Dev melihat meja yang masi kosong, lalu mengajak para bocah kecil itu duduk di sana.
Si kembar dan kedua sahabatnya engan untuk ikut duduk, karena ini gak seperti yang mereka mau.
"Ayo duduk, gak mau makan?" tanya kak Dev.
"Tat to ga ada ompol ya ci, tu yan isa saat dili(kak kok gak ada kompor nya sih, itu yang bisa masak sendiri)" ucap Galih, yang mendapat anggukan dari ketiga sohibnya.
Sekarang kak Dev mengerti kenapa mereka gak ikut duduk, ternyata pengen makan seafood dan daging dengan di masak sendiri oleh pembeli.
__ADS_1
"Ayo ikut kaka" ajak kak Dev ke ruang VVIP di dalam restoran itu.
Mata keempat bocah kecil itu berbinar melihat meja lengkap dengan peralatan masak di sana.